
Hari telah berganti. Pagi yang sejuk dan dingin di hari libur perkuliahan tak membuat gadis jelita bermalas-malasan di atas tempat tidurnya yang mewah.
Apa lagi hari ini sang kekasih berencana untuk menjemputnya sebelum besok kembali ke negeri Paman Sam untuk menimba ilmu di semester terakhir.
Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Di luar jendela tampak masih gelap untuk wilayah Ibukota. Langit pun hanya nampak, namun tak terlihat terang, karena cahaya Matahari belum sampai di Bumi pertiwi sebelah sana.
Menggeliat dengan mata yang masih terpejam, Cla meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dengan di sertai aliran darah yang seperti baru saja berhenti.
Cla membuka matanya cepat, ketika teringat akan sesuatu yang mana sejak kemarin membuat jantungnya berdebar sepanjang hari, dan bibir yang tak henti mendulang senyum.
Tapi teringat saat bangun tidur begini, membuatnya bertanya-tanya apakah debaran di hari kemarin hanyalah mimpi?
"No! Aku bisa mati berdiri kalau apa yang terjadi kemarin hanyalah mimpi!" gerutunya dengan tatapan mata lurus ke atas dan terbuka lebar.
Cepat sang gadis menoleh ke sisi kanan, mencari benda pipih yang ia letakkan sebelum ia terlelap semalam. Dan jantung yang panik seketika merasa lega, ketika ia melihat sebuah ponsel dengan case berwarna hitam benar-benar ada di atas meja nakasnya.
Itu jelas bukan ponsel miliknya. Karena sang gadis tidak pernah menggunakan case warna khas laki-laki untuk semua ponsel yang pernah ia miliki.
Tersenyum lebar, bibir merah alami itu tersenyum penuh keceriaan begitu kembali mengingat apa yang sudah terjadi di hari kemarin adalah nyata. Kejutan demi kejutan dan hal-hal yang baru terjadi di dalam hidupnya.
Jemari lentik kembali menyentuh bibirnya yang kemarin untuk pertama kali di kecup oleh seorang pemuda dengan sangat singkat namun penuh penegasan, jika tidak ada yang boleh mencium bagian itu lagi setelahnya, selain pemuda itu.
Ah, rasanya Cla ingin kembali duduk berdua di dalam mobil Arsen, untuk mengulang apa yang kemarin terjadi.
Dan jika benar itu terjadi, Cla berharap waktu berjalan lebih lambat. Agar adegan itu berlangsung lebih lama, dan lebih mendebarkan.
Cla meraih ponsel milik lelaki kesayangannya, menyalakan benda itu. Dan jantung kembali berdebar hebat ketika menatap foto mereka berdua yang menjadi wallpaper ponsel Arsen.
Melihat ada pesan yang masuk, Cla langsung membuka aplikasi chatting milik Arsen. Berharap itu adalah pesan dari Arsen dan bukan dari si pirang di seberang sana.
Dan benar! Salah satu dari pesan yang belum terbaca olehnya ada sebuah pesan yang berasal dari -e. Tentu bar itu yang pertama kali menarik perhatiannya. Bukan pada pesan lain yang datang dari nomor yang berbeda.
*Good morning, my Baby!*
Sebuah emoticon cium terbit di akhir kalimat pembuka.
__ADS_1
*Aku akan menjemputmu jam 8 pagi. Kita habiskan hari ini untuk pergi jalan-jalan kemanapun yang kamu mau! Sebelum aku kembali ke New York!*
*Love you, Baby! You mean so much to me!*
Kalimat terakhir mendulang senyum di bibir sang gadis manis dan jelita. Untuk pertama kali ia mendapat ucapan selamat pagi semaNIs ini. Sungguh Ia tak ingin melewatkan sedikitpun momen manis yang di ciptakan Arsen.
Pesan Arsen masuk pukul 04.10 WIB, di mana ia masih tertidur dengan nyenyak. Karena ia selalu bangun ketika jarum kecil jam dinding sampai di angka 5.
Jemari lentik mengetik di layar ponsel Arsen tanpa mengubah posisi baringnya saat ini.
*Morning too, my Prince!*
*Aku akan bersiap menunggu sampai kamu datang!*
*Thank you for loving me...*
Emoticon love dan cium di sematkan oleh sang gadis untuk sang pujaan hati. Berharap hari ini akan menjadi hari kedua untuknya bisa merasakan indahnya dunia percintaan yang belum pernah ia alami.
Dan untuk selanjutnya, biarlah cinta mereka kembali terperangkap dalam rindu yang tak berkesudahan, hingga hari pertemuan kembali tiba.
Setidaknya mereka kembali berpisah dalam keadaan cinta yang sudah mulai di kembangkan.
"Dear, God!" pekik Cla dengan mata yang terbelalak lebar. "Untuk apa dia menelpon saat aku baru bangun pagi begini???" gerutunya gemas.
"Ini akan sangat memalukan! Aku belum mandi! Wajah ini??? oh my God!" cerocos Clarice kebingungan hingga ia terduduk cepat setelah menyikap selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
"Apa yang harus aku lakukan? pura-pura tidak tau atau bagaimana?" celoteh Clarice kebingungan, pandangan mata menyapu ruang kamarnya, namun tidak menemukan fokus mata.
Sementara ponsel di tangannya masih terus bergetar dengan nama -e muncul di sana. Foto dirinya pun nampak jelas di dalam lingkaran foto profil.
"Haaaah!" menghela nafas panjang. "Arsen bisa saja akan muak melihat wajah ku seperti ini!"
"Wujud ini tidak layak untuk di lihat Arsen!"
Cla bangkit dari ranjangnya, berlari dengan kaki menghentak lantai ke kamar mandi, mencoba untuk mencuci muka atau membersihkan wajahnya dari sisa-sisa muka bantal.
__ADS_1
"Tetap saja tidak ada waktu untuk ber make up! Aaakhh!" gerutunya membuka pintu kamar mandi dengan tergopoh-gopoh.
Cla cepat mencuci muka di wastafel kamar mandi setelah meletakkan ponsel Arsen yang masih bergetar di atas meja wastafel. Cepat pula ia menggosok giginya, kemudian menyisir rambut dengan menghadap cermin besar di atas meja wastafel.
Belum selesai ia menyisir rambut, tiba-tiba ponsel Arsen berhenti bergetar. Reflek Cla menoleh dan memastikan sudah tidak ada panggilan dari kekasihnya di ponsel itu.
"Huuufff...." Cla membuang nafas lega melalui mulutnya. "Benar-benar menegangkan..." lirihnya mengusap dada yang berdebar.
Bukan tak ingin menerima video call dari sang kekasih, hanya saja keadaannya ketika bangun tidur sungguh di rasa sangat tidak layak untu di lihat oleh sang kekasih. Apa lagi melalui video call.
Maklum. baru pertama kali berpacaran, dan ia belum pernah muncul di hadapan Arsen dengan muka bantal pasca bangun tidur. Tentu saja ia masih belum percaya diri.
Drrtt!
Sontak Cla kembali menatap layar ponsel yang bergetar, dan pesan dari nomornya kembali muncul.
*Kenapa tidak di terima?*
Cla reflek tersenyum kaku dan salah tingkah ketika membaca pesan itu dari atas layar yang muncul.
*Malu?* Pesan selanjutnya masuk, dan masih di baca dari atas layar.
"What!" pekik Cla. "Apa sungguh dia tau apa yang aku alami?" gerutunya berfikir.
"Yaa Tuhan.... Aku harus jawab apa?" gumamnya dengan nada seolah ingin menangis sembari meletakkan ponsel di atas meja wastafel yang berlapis marmer itu, kemudian menatap dirinya yang masih setengah acak-acakan dari pantulan cermin.
Hubungan ini sungguh terasa begitu kaku untuk Cla yang belum berpengalaman dalam dunia percintaan.
"Sepertinya aku harus banyak belajar pada Gwen!" gumamnya. "Apa Naufal ilfil kalau melihat Gwen baru bangun tidur?"
Dan ponsel Arsen kembali bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang sama kembali muncul dengan kalimat ...
*Aku yakin kamu tetap cantik walau bangun tidur... Jadi untuk apa malu?*
DEG!
__ADS_1
"Arsen terlalu jenius untuk menebak diriku..." rintihnya sungguh ingin menangis sekaligus berteriak sekencang mungkin saking malunya.
...🪴 Bersambung ... 🪴...