
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa kunjungi novel Author yang lain dengan judul "Istri Yang Terabaikan" dan "Pertemuan"....
...*...
...*...
...*...
Hal itu tak pernah William pikirkan sebelumnya. Perasaan tercekat yang tak tau sebab nya terus mengganjal hati nya lebih dalam. Bayang - bayang yang tak ingin ia lihat mengitari kepala nya tanpa henti. Dadanya terus terbakar membayangkan apa yang John katakan padanya.
"Adel tak akan menikah paman"
"Kenapa tidak? Adel sudah dewasa dan cukup umur untuk menikah, wajar saja jika ia menikah"
"Tidak bisa! Aku yang akan menyeleksi pria yang cocok dengan Adel, sebelum ada datangnya pria seperti itu, Adel tidak akan bisa menikah"
Keposesifan dan rasa haus akan Adel, itulah yang John liat dari tatapan William saat berbicara.
Kamu menyukai nya Will, sampai kapan kamu akan mengelak hal itu? Waktu hanya sebentar....jangan sia - siakan waktu mu yang hanya sedikit itu......
"Will, mama mu....Lagi - lagi membuat masalah, Dalam seminggu ini sudah banyak dana kamu yang digunakan nya, jika begini.....mama kamu tidak akan pernah berubah" Ucap John.
William selalu menyerahkan pengurusan keuangan nya di atur oleh paman nya. Baginya paman nya itu adalah orang yang sangat ia percaya, karena paman nya lah satu - satunya orang yang langsung mengakui kehadiran nya di rumah Norma.
"Apa yang ibu lakukan?" Tanya William dengan nada dingin, William seperti bisa menebak apa yang ibunya lakukan.
"Dia membeli kapal pesiar di manapun ia singgah, sekarang sudah Habis sekitar lima puluh ribu dollar, pengeluaran kita selama sebulan saja masih di bawah itu"
William segera mengambil handphone nya dan menghubungi ibu nya. Ros, setelah berhasil keluar dari penjara, karena ia mendapat pengurangan masa tahanan, segera mencari keberadaan William. Baru dua tahun ia keluar dari penjara dan tinggal bersama anak nya, dia sudah menghabiskan banyak uang untuk keperluan yang tidak berguna.
"Hallo? Ibu?"
"Oh!! Will, anak mama? Kenapa menelfon? Kamu mau ikut mama liburan? Lumayan, disini banyak sekali gadis berbikini untuk menemani mu"
William benci mendengar nada sok akrab dari ibu nya. Karena baginya hal itu menjijikkan.
"Apa ibu masih lama Berlibur di sana?" Tanya William.
__ADS_1
"Iya lah, mama kan butuh liburan, kamu tahu mama baru keluar dari penjara"
"Sudah dua tahun keluar dari penjara ternyata dianggap masih baru ya" Celetuk John dengan nada menyindir.
"Oh ada John juga, Terimakasih telah menjaga Will dengan baik, lalu Will ada perlu apa kamu menelfon?"
"Kalau begitu aku akan blokir kartu yang kuberikan pada ibu, nikmatilah waktu ibu disana"
"Tunggu!! Jangan matikan telfon nya!! Lalu mama harus bagaimana pulang nya? Ini pulau loh Will, Bagaimana mama mau pulang kalau nggak ada uang?"
"Kalau mau pulang, telfon saja aku, aku akan mengirimkan pesawat pribadi dan orang untuk menjemput mu, Jika tidak ada uang jual saja semua yang kau beli dengan uang ku disana, Jika tidak mau menjual nya, tidak pulang pun tak masalah"
William langsung mematikan Telfon itu dan kembali rebahan di atas sofa.
"Mama mu memang menyusahkan, tapi sepertinya kamu sudah mulai menjinakkan nya perlahan ya"
"Yah harus begitu, Aku akan menjauhkan ibu dari Adel, jika ibu ku tahu Adel ada disini, dia pasti akan menemui Adel"
"Apa mama mu masih ingin menyakiti keluarga mereka?"
"Tentu saja, Ibu ku sendiri yang bilang, ibu tidak bisa memaafkan Tante Nissa dan Adel yang telah menggagalkan rencana nya, sebelum ibu berubah pikiran, aku akan menjauhkan ibu dari Adel dan menjinakkan nya agar dia tidak bisa berbuat ulah"
"Paman!! Aku mengerti, Terimakasih karena selalu ada bersama ku"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
"Hai Sweety!! Maaf lama menunggu" Ucap William.
William dan Adel sudah janjian akan berkencan, Mereka janjian untuk bertemu di depan menara Eiffel. Adel datang lebih awal dan telah menunggu selama kurang lebih sepuluh menit.
"Willy!!" Seru Adel dengan gembira ketika melihat William yang datang.
"Oke Cut!! Bravo!! Bagus sekali !! Kita lanjut ke Take selanjutnya"
Hari ini pun keduanya sedang syuting untuk acara reality show itu. Tema dari syuting hari ini adalah kencan romantis bersama sang pacar. Sejujurnya keduanya belum merencanakan agenda apapun, tapi William berkata bahwa mereka lebih baik bersikap seperti biasanya saja, dengan begitu kedekatan mereka lebih terasa.
"Lalu agenda kalian untuk kencan hari ini, bagaimana?" Tanya Produser.
"Aku sih lebih suka berada di dalam kamar dan bersantai" Jawab Adel dengan lantang.
Adel mengatakan itu tanpa maksud apapun, karena jadwal nya yang padat sebagai publik figur Adel hanya ingin istirahat dan berbaring dengan nyaman. Adel tidak sadar bahwa perkataan nya mengundang arti lain nya bagi yang mendengar.
"Bagaimana jika kita pergi ke Perpustakaan? Aku ingin beristirahat sampai matahari terbenam, baru kita melihat matahari terbenam dari atas Eiffel"
"Tapi, kan masih dua jam lagi, matahari terbenam" Protes Adel.
"Tidak masalah kan dimanapun, asal bersama kamu semua nya menyenangkan"
Hampir saja, jantung Adel akan melompat keluar. Jantung nya berdebar seolah William benar - benar mengatakan hal itu karena ada rasa yang dalam kepadanya. Adel lelah berharap.
"Iya deh, ayo kita ke perpustakaan saja"
Akhirnya keduanya pun pergi menuju ke perpustakaan bersama tim kru dan staf untuk syuting. Mereka banyak mengambil video dan gambar untuk acara itu. Kedekatan yang intens membuat keduanya harus terus menempel sepanjang hari.
"Ayo Adel, senyum kamu harus lebih natural dan keluarkan tatapan cinta kamu!!" Ucap Produser.
"William tolong tarik Adel lebih dekat dan rasakan suasana di antara kalian yang mulai bersatu"
Adel dan William benar - benar lelah harus di atur begini dan begitu. Mereka akan lari dan pulang jika bukan demi syuting ini. Adegan terakhir pun diambil di pojokan perpustakaan. Disana sangat sepi dan pemandangan dari sudut yang sangat bagus membuat tampilan di kamera juga memukau.
Mereka duduk saling berdekatan, Adel menyandarkan kepala nya di bahu kekar milik William, dan William merangkul pundak Adel dengan sangat natural. Keduanya terus tersenyum. Adel menutup mata nya dan menikmati waktu yang ia habiskan bersama William, dan William pun merangkul tubuh Adel sambil terus membaca. Dirinya mampu mengontrol kedua otaknya antara membaca dan Adel secara bersamaan.
Produser pun melihat ada kejanggalan dari layar monitor di kamera dan tiba - tiba saja....
__ADS_1
"Jauhkan tangan mu dari nya!!!!!"
-bersambung-