
Bunyi bel kamar langsung mengganggu pagi mereka. Adel pun segera bertanya - tanya siapa kah gerangan.
"Kamu pesan room service? " Tanya Adel kepada William.
"Aku kira malah kamu yang pesan"
"Tidak... sebentar biar aku cek"
Adel berjalan ke arah pintu dan mengintip dari lubang pintu. Tapi karena tinggi nya, ia tak mampu melihat dengan jelas ke arah luar. Dan William hanya bisa tertawa keras akan hal itu.
"Ya siapa ini? " Tanya Adel dari balik pintu tanpa mau membuka pintu nya.
"Oh Adel!! Hai ini Hellen"
"Ya Hellen? "
Adel sendiri bingung kenapa wanita itu ada di depan pintu kamar mereka sepagi ini. Adel tetap menunggu Hellen bicara dari balik pintu tanpa sedikit pun niat untuk membuka nya.
"Oh Adel aku ingin sarapan bersama mu di restoran hotel, ku dengar makanan disini enak - enak"
"Aku hargai itu tapi kami akan turun nanti, anak kami masih sulit untuk keluar"
" Ehmm Adel bisakah buka pintu nya sebentar? Agak sedikit aneh berbicara seperti ini, Ada yang ingin ku berikan padamu"
Dengan enggan Adel membuka sedikit pintu kamar nya namun Hellen berusaha melihat ke dalam kamar dan dengan cepat Adel halangi dengan tubuh nya.
"Mau memberikan apa? " Tanya Adel dengan nada dingin.
Hellen tak merespon namun Adel bisa melihat wajah Hellen berseri memerah melihat ke arah dalam dan Adel pun segera mengetuk pintu dengan jari nya untuk membuat Hellen sadar.
"Hellen!! "
"Ah.. oh... iya... "
"Ada perlu apa?!! " Tanya Adel dengan tegas.
"Aku memberikan ini karena kalian sudah membantu ku, ini hanya sebuah cake saja bisa kalian makan dengan Justin juga"
Adel tanpa basa - basi segera mengambil kotak di tangan Hellen dan mengatakan...
"Terimakasih" dengan wajah datar.
"Aku ingin menanyakan kapan kalian akan turun sarapan dan.... "
__ADS_1
"Kami tidak akan sarapan, terimakasih"
Adel segera menutup pintu tanpa memberi kesempatan nya untuk berbicara. Adel terus memandangi kotak kue itu dan menghampiri William.
"Kamu kasih tahu nomor kamar kita? " Tanya Adel pada William.
"Tidak mungkin lah! " William merasa marah dituduh begitu.
"Lalu saat check in kamar apa petugas mengatakan nomor kamar nya ke kamu? "
"Tidak karena petugas langsung menunjukkan nomor kamar lewat kartu tapi tidak diucapkan"
"Berarti dia sengaja mencari nomor kamar kita"
"Siapa? Hellen? masa sih? "
"Mencurigakan kan? dia membawa Cake ini, dia bilang Justin bisa memakan nya"
Adel dan William sama - sama merasa tidak nyaman dengan sikap Hellen saat ini.
"Aku belajar dari papa jika ada yang membawa makanan pada saat - saat begini, aku boleh membuang nya"
Tanpa berfikir dua kali, Adel segera menghempaskan Cake itu ke dalam tong sampah di samping nya.
Setelah melihat Justin yang sudah cukup rapi meski wajah nya penuh dengan bedak. Adel pun tertawa dan segera merapikan wajah Justin.
"Kamu lapar sayang? " Tanya Adel kepada Justin.
"Mama!! Lapar!! " Justin mulai semangat.
"Tapi bagaimana ini ya, kita harus menunggu papa siap - siap dulu baru bisa makan"
Adel mengambil handuk untuk mengering rambut William dan mengeringkan nya dengan lembut.
"Kali ini kak Will yang berantakan"
"Benar... sepertinya aku harus mulai bersiap - siap"
Setelah menunggu William selesai kurang lebih dia puluh menit, Mereka bertiga pun keluar dari kamar. Namun siapa yang tidak terkejut bila di depan pintu mereka, Hellen masih menunggu mereka keluar dari kamar.
William segera menggendong Justin dengan waspada. Adel hanya acuh tak acuh melihat tingkah gila Hellen. Mereka memasuki Elevator bersama dengan terus mengabaikan ucapan Hellen. Terutama William yang bahkan sama sekali tidak tertarik akan ucapan wanita itu. Ada kekecewaan di hati Hellen melihat William yang tidak tertarik pada nya.
Saat memilih meja makan di restoran, hanya ada meja makan untuk ber lima, namun Justin tentu saja tidak memakai kursi dewasa dan William segera meminta pelayan menyediakan kursi untuk anak - anak. Hellen segera mengambil kursi di samping Justin karena ia kira William akan duduk di samping Justin, namun dengan cepat William menggeser Justin dan membiarkan Adel duduk disana.
__ADS_1
Di sebelah kanan Justin Ada Adel dan di sebelah kiri Justin Ada William. Hellen merasa terhina dengan sikap William. Hellen terus bertanya pada William namun tidak ada satupun pertanyaan yang dijawab dengan William. William merasa lelah dan meletakkan pisau makan nya.
"Apa kah dirimu tidak pernah di ajarkan manner dalam makan? bisakah kau berhenti berbuat keributan saat makan?! Aku bahkan tidak bisa mendengar anak ku bicara karena kau terlalu ribut!! "
Adel hampir tertawa mendengar hal itu, sedangkan Hellen merasa sangat malu. Hellen pun diam sesaat dan tiba - tiba William melihat piano di restoran itu beserta mic nya. William memikirkan apakah Adel akan kembali bernyanyi atau masih ingin bernyanyi.
"Istri ku.... " Ucap William.
Adel agak terkejut karena William jarang memanggilnya begitu.
"Ya? "
"Disana ada piano dan mic, apa kamu mau bernyanyi satu lagu untuk ku? " Pinta William.
"Tapi Justin? Lagian aku sudah lama tidak bernyanyi"
"Kumohon satu lagu saja, tidak habis juga tidak masalah, aku hanya ingin mendengar kamu bernyanyi"
Adel dengan wajah sedikit malu pun mulai berada di dekat piano dan meminta izin pada pelayan restoran. Pelayan dengan senang hati mengizinkan karena mereka mendapat pertunjukan gratis. Mereka semua sejak tadi sudah mengetahui Adel adalah mantan penyanyi terkenal.
"Pagi semua nya, Meski mendadak aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk anak dan suami ku tercinta, Judul lagu nya adalah Never Enough dari Loren Allred"
Lagu yang cukup sulit di nyanyikan namun suara dan melodi yang Adel mainkan dengan piano nya sangat selaras dan menenangkan hati. Semua pengunjung menyukai lagu itu dan menikmati sarapan mereka dengan lagu itu.
Hellen terus menatap William dengan penuh arti namun di mata William hanya ada Adel. Dia melihat Adel dengan mata penuh cinta.
"Lihat itu Justin, mama bernyanyi dengan sangat baik bukan? "
"Yes! Good Singer" jawab Justin dengan lucu.
"Adel bernyanyi dengan sangat indah" Ucap Hellen bersungguh - sungguh.
"Dia memang indah" ujar William.
William tak merespon satu pun ucapan Hellen namun ia merespon ketika Istri nya dipuji. Bukan lagu itu yang dipuja oleh William namun Istri nya lah yang dipuja oleh lelaki itu. Semua yang dilakukan oleh istri nya akan terlihat indah di mata pria itu.
.
.
.
#Bersambung
__ADS_1