
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....
.............
.......
.......
.......
Luca pulang ke rumah nya setelah sekian lama ia tak pulang. Mengingat keluarga nya yang hancur itu, bukan hal biasa bila tak ada rasa kekeluargaan di dalam rumah nya. Ia terkadang kembali hanya ingin melihat wajah saudara kembar nya itu. Di antara banyak orang di rumah nya hanya Leon lah yang paling ia perhatikan.
"Kamu sudah pulang Luca?" Tanya Ibu nya dengan nada lembut.
"Hentikan sikap pura - pura itu, Aku tahu Ibu bukan orang yang tulus sampai harus perhatian seperti ini"
Terkadang Luca sangat mirip dengan sang Ibu, ia bisa mengatakan banyak kata jahat dengan wajah senyum nya yang seperti malaikat itu.
"Di sini ada teman - teman Ibu, perhatian sikap mu"
Luca pun mendesah dengan pelan dan berbalik untuk menyapa tamu ibu nya.
"Selamat malam Nyonya - Nyonya sekalian, Jika tidak keberatan saya ingin melewatkan sesi pertemuan ini, Saya terlalu lelah untuk menyambut kalian dengan basa - basi"
Luca pun segera berjalan menuju lantai atas untuk segera istirahat.
"Anak anda itu, masih lajang kan? Apa dia masih belum mau menikah? Jika mau saya bisa menjodohkan anak saya kepada anak anda" Ucap Nyonya - nyonya disana.
"Saya akan tanya kan kepada anak saya ya" Jawab Ibu Luca dengan basa - basi milik nya.
"Cih! Dasar sampah!" Ucap Luca dengan pelan. Ia mendengar semua percakapan memuakkan itu.
Luca pun melewati kamar Leon. Dilihatnya Leon tertunduk lesu sambil memegang sesuatu di tangan nya.
Tuk...tuk....Ketuk nya dengan pelan.
"Boleh aku Masuk?"
"Ah! Luca!"
__ADS_1
Leon segera menyembunyikan benda yang ia pegang itu lalu memperbolehkan Luca masuk ke kamar nya. Luca pun masuk dan menutup pintu kamar Leon agar mereka mendapatkan privasi.
"Sedang apa kau?" Tanya Luca.
"Tidak..." Terdengar lesu dari nada suara Leon.
Luca tahu pasti ini ada hal nya dengan Adel, karena hanya Adel yang bisa membuat wajah Leon seperti itu.
"Bagaimana kau dengan Adel? Terakhir kali kau bilang Adel akan bercerai? Bukan kah ini kesempatan mu?"
Bukan nya merespon dengan bahagia, namun Leon terlihat semakin sedih.
"Dia bilang menyukai ku"
"Apa? Bukan kah itu bagus? Adel akhirnya menerima diri mu"
"Tapi dia juga mencintai Will, Dia bingung memilih antara aku dan Will"
Luca baru mengerti kenapa Leon terus terlihat sedih dan murung sejak tadi. Luca tak menyangka bahwa Adel yang menyukai Leon akan membuat Leon kecewa seperti ini.
"Lalu apa yang akan kau lakukan brother?" Tanya Luca.
Luca pun segera memeluk saudara nya itu.
"Kalau begitu sudah seharusnya kau mengakhiri cinta pertama mu kan? Kau harus mengakhiri nya secepat mungkin"
"Apa aku tidak berhak bahagia? Kenapa cinta ku harus berlabuh pada seseorang yang tak akan pernah mencintaiku dengan rasa yang tulus?"
Luca merasakan kesedihan dari saudara kembar nya itu, namun ia sendiri yang belum pernah merasakan apa itu cinta hanya bisa meminta saudara nya itu sabar karena mungkin....mungkin saja suatu saat nanti, Leon akan menemukan pengganti yang lebih baik dari Adel. Yang pasti nya akan mencintai Leon dengan sepenuh hati.
"Leon....suatu saat nanti wanita yang lebih baik dari Adel akan kau temui, yang penting sekarang coba lah untuk menata hati mu, Aku tahu kau pasti ingin menata hati mu itu"
"Tolong sadar kan aku, jika aku lupa bahwa Adel istri orang....berat rasanya menahan perasaan ku sendiri"
"Pasti, Jika kau ingin bertemu Adel, Aku akan menemani mu"
.
.
__ADS_1
.
.
Seminggu telah berlalu sejak Adel menemui Leon. Adel berusaha menata hati dan pikiran nya lebih dalam. Ia tak menghubungi Leon sama sekali. Adel hanya memfokuskan diri terhadap kesembuhan nya serta kebahagiaan nya bersama Justin.
"Aku Wanita yang buruk" Terkadang Adel sering mengatakan itu kepada diri nya sendiri.
William dan yang lainnya telah berhasil menemukan keberadaan Lianna. Menurut telfon yang terakhir kali ia dapat, William dan yang lain nya akan kembali sekitar berapa hari lagi. Saat itu Adel akan menceritakan semua nya, Apa yang terjadi dan apa yang ia rasa. Ia tak berhak menyembunyikan semua nya terhadap William. Dan kini Adel sudah punya jawaban nya. Jawaban yang akan ia berikan.
"Kenapa akhir - akhir ini kamu murung sekali Adel?" Tanya Nissa sambil merajut baju untuk anak - anak nya.
"Tidak ada apa - apa ma, Adel hanya banyak fikiran saja"
"Jika kamu mau, kamu bisa cerita kepada mama, mama akan berusaha jadi teman curhat yang baik untuk kamu"
Adel lama berfikir untuk menceritakan atau tidak masalah yang ia punya, namun melihat mama nya yang antusias Adel pun akhirnya bercerita kepada mama nya...
"Ma, kenapa dulu mama bisa menikah dengan papa?"
Nissa terkejut dan terlihat wajah mama nya yang bersemu merah muda dengan perasaan malu.
"Tentu saja karena kami saling cinta" Jawab Nissa dengan mantap.
"Tapi kan sebelumnya mama punya Daddy, mengapa mama lebih memilih Papa tapi bukan nya Daddy?"
Nissa Akhirnya paham kenapa Adel punya banyak sekali fikiran, Nissa sudah mulai mengerti permasalahan Adel. Namun Nissa belum bisa menceritakan semua nya sebab Adel belum tahu alasan kenapa ia dulu lari dari Daddy nya.
"Mama bersama Papa karena Papa adalah orang yang paling bisa menjaga dan menghargai mama dan kamu, kamu juga tahu kan hal itu?"
"Tapi kenapa bisa? Harus nya saat itu mama masih berstatus istri Daddy, Yang aku ingat aku lahir disini, besar di sini aku bahkan tidak ingat pernah berada di tempat Daddy sebelum pernikahan mama"
Nissa terlihat bingung dan ketakutan, ada raut panik di wajah nya....
"Mama....mama....sudah bercerai dari Daddy ketika mama hamil kamu, waktu itu kamu masih di dalam perut mama, lalu mama pergi ke Paris, papa kamu lah yang membawa mama ke Paris dan menampung mama"
"Ini Aneh, kenapa Daddy bisa - bisa nya menceraikan mama padahal mama lagi mengandung ku, bahkan mama juga dari mana kenal papa?
-bersambung-
__ADS_1