
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa untuk memberikan dukungan ke karya author yang lain nya dengan judul "Istri Yang Terabaikan" Dan "Pertemuan". Terimakasih....
...*...
...*...
...*...
Adel menangis dengan keras dalam pelukan William, William pun ikut menangis dengan melihat air mata terus mengalir dari pipi kecil wanita itu.
"Jangan menangis Adel, aku juga sedih melihat mu begini" Ucap William.
"Karena siapa aku jadi begini hah?!!"
Adel cukup lama menangis, setelah Adel mulai tenang, John menjelaskan kepada Adel apa yang telah terjadi. William harus melakukan operasi besar, Di kepala William tertanam sebuah peluru besar yang belum sempat di operasi. Sejak tahun lalu, William sedang menjalankan tugas nya, dia harus memusnahkan geng Jacksonville yang telah mengganggu bisnis nya.
Dalam misi itu, William tertembak cukup parah, karena ini operasi besar, butuh waktu lama agar peluru itu mudah di ambil dari bagian kepala nya. Setelah beberapa bulan berlalu William terus melakukan check up rutin ke rumah sakit untuk melihat perkembangannya arah peluru itu. Saat ini peluru sudah berada dalam posisi yang mudah di ambil, sehingga harus di lakukan operasi saat ini juga.
"Kalau begitu kenapa kamu bohong??" Tanya Adel.
"Aku tak ingin kamu tahu masalah operasi ini, aku tak ingin membuatmu khawatir" Jawab William.
"Tapi dengan menyakiti ku, itu lebih baik? Begitu? Kamu tega menyakiti ku dari pada membuat ku khawatir? Kamu tahu betapa hancur nya hatiku saat mendengar kamu akan menikah?!!"
"Adel maaf" Hanya itu yang bisa William katakan.
"Lalu kenapa beberapa tahun yang lalu kamu menolak ku juga?"
Itu karena ibu ku Adel....saat kamu datang menyatakan perasaan mu, aku sangat bahagia, tapi saat itu.....Kamu mengatakan akan menjadi keluarga ku dan bersikap baik pada ibu ku....kamu bukan orang yang harus bersikap baik pada ibu ku....
Adel tak pernah tahu ibu William seperti apa, bahkan Adel tak begitu ingat kenangan waktu ia kecil, bagaimana ia diculik, bagaimana ia bisa mengalami semu kejadian pedih itu, Adel tak mengingat nya. Meski Adel tak mengingat nya, William tahu semua, William mengingat semua nya dengan jelas dan menghantui tidur nya setiap malam. Ia tak ingin Adel tahu kebenaran mengenai ibu nya.
"Saat itu William sangat bodoh Adel, tolong maafkan lah dia, dia tidak mau memberitahu mu juga karena resiko dari operasi ini sendiri" Ucap John kepada Adel.
"Resiko?"
"Ya, Operasi ini hanya punya keberhasilan sebesar 15% meskipun berhasil William bisa lupa ingatan atau lumpuh selama nya, sebab itu lah William tidak ingin memberitahu kan hal ini kepada kamu, Bahkan paman saja tidak boleh menjenguk nya, tapi paman tetap nekat untuk menemani nya sampai akhir"
"Tapi dia memberitahukan hal ini pada Collin! Menyebalkan!!" Jawab Adel dengan kesal.
__ADS_1
"Collin tahu dari paman! Paman ember banget sih main kasih tau sembarangan" protes William.
Adel menatap William dengan pandangan yang sangat dalam dan berkata....
"Will, Aku akan ikut dengan mu ke Swiss, Aku akan menemani mu sampai akhir dan bersama mu hingga kamu bangun nanti" Ucap Adel dengan serius.
"Adel, tidak bisa...."
"Tolong jangan berkata tidak lagi, sudah berapa banyak kamu menyakiti Adel dengan kata tidak? Adel ingin bersama mu, Adel tak ingin membuang waktu dengan kita saling berjauhan begini, William Aku mencintaimu, Aku cinta padamu"
Rasanya bahagia bercampur pedih, kata yang selalu ia rindukan dari Adel, terucap di hadapan nya oleh wanita yang berharga baginya. Benar....tanpa disadari mungkin bukan Adel lah yang jatuh cinta duluan pada William, tapi William lah yang jatuh cinta pada Adel, karena William lah yang tahu lebih dulu keberadaan gadis cantik itu dan terpesona pada kejujuran gadis kecil itu.
"Aku juga mencintai mu Adelaide" Ucap William.
Adel tersenyum dengan bahagia dan kesenangan yang terpancar jelas di wajah nya.
Dengan cepat Adel pun segera menelfon Collin. Adel akan ikut William ke Swiss saat ini juga. Adel tak ingin membuang waktu nya untuk jauh dari William.
"Collin, bisakah kamu kirimkan koper kakak yang ada di dalam kamar kakak?"
"Koper yang mana?" Tanya Collin.
"Koper biru laut itu, di dalam nya udah ada barang - barang kakak, untuk kakak shooting"
"Iya, kakak akan shooting ke Swiss, tolong kirimkan koper itu ke alamat yang kakak kirim ya" Adel segera mengirim kan pesan teks kepada Collin.
"Ini bukan kebetulan kan? Kok kakak juga mau ke Swiss?"
"Collin, kirimkan saja ya kakak sibuk"
Dengan cepat Adel menutup telfon itu. Adel merasa bersalah harus berbohong, tapi melihat reaksi mama dan papa nya kemarin, jika mereka tahu Adel dan William masih berhubungan, pasti akan ada keributan.
"Apa tidak apa? Aku tidak mau kamu dapat masalah karena hal ini" Ucap William.
"Tidak masalah, ini kan pilihan Adel, jika Adel dapat masalah pun, ini bukan hal yang buruk, karena adel berhasil mendapatkan orang yang Adel cintai".
Setelah itu selama perjalan ke Swiss, Adel sibuk menelfon mulai dari papa, mama nya hingga kepada manager nya. Adel meminta kepada manager nya untuk memindahkan acara shooting yang berada di Swiss atau sebuah acara show yang ada perjalanan ke Swiss, jika tidak pun Adel ingin menolak semua tawaran yang ada sampai beberapa waktu kedepannya.
.
__ADS_1
.
.
Sesampainya di Swiss.....
Mereka sampai di sebuah rumah besar yang mereka sewa sampai operasi William selesai. William harus rutin ke rumah sakit sampai beberapa hari kedepan untuk menjalankan tes - tes sebelum operasi nya siap.
Menjaga kondisi tubuh juga adalah hal yang sangat penting dilakukan untuk William.
"Ayo kita cari penginapan untuk kamu di sekitar sini" William hendak mencari penginapan untuk Adel.
"Nggak usah, aku disini saja" Jawab Adel.
"Kamu gila?! Aku bisa dibunuh Papa dan mama mu kalau mereka tahu hal ini!!"
Adel pun menarik tangan William agar mendekat ke arah nya.
.
.
.
.
.
.
"Paman John, tolong biarkan kami tinggal berdua disini, Rumah ini terlalu luas untuk William, Adel dengar dari tadi paman dapat telfon terus, kembali lah, Adel akan mengurus William dengan baik di sini" Ucap Adel.
"Tapi Adel, jika papa dan mama kamu tahu...."
"Adel akan bertanggung jawab akan hal itu"
"Adel, aku ini lelaki, di mana harga diriku jika kamu yang bertanggung jawab!!" William memprotes gagasan itu.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu saja yang bertanggung jawab beres kan?"
-bersambung-