CINTA KU MAFIA KU

CINTA KU MAFIA KU
EPISODE 39 - PULPEN


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....


.......


.......


.......


Duaaaarrrrr......


"Adel !!!!"


Pria itu segera melompat dengan meneriakkan nama Adel dan memeluk Adel ketika tembakan mengarah kepada nya. Tembakan tadi mengenai bahu pria itu.


Barusan dia menyebutkan nama ku....Aku yakin sekali.....


"Cepat sembunyi ke dalam!" Perintah pria itu.


Adel segera masuk ke salah satu bangunan kumuh yang pria itu maksud dan bersembunyi di belakang pintu sambil mengintip apa yang sedang terjadi. Dengan menahan darah di bahu nya, pria itu masih menembak ke arah tembakan yang mengarah ke arah mereka tadi. Bunyi tembakan terus saling bersahutan. Tak lama kemudian bantuan datang dari teman pria itu.


"Masuk lah! Aku akan membereskan nya" Ucap teman pria itu.


Pria itu pun masuk dan ketika melihat Adel berdiri di depan pintu. Wajah nya hanya pasrah dan menghela nafas dengan lelah.


"Darah kamu terus keluar" Ucap Adel pelan.


Pria itu menarik tangan Adel dan membimbing nya naik tangga hingga berada dalam sebuah kamar kecil yang bisa Adel lihat bahwa tempat itu seperti tempat tinggal. Kost kecil, yang dapur dan kamar tidur nya jadi satu ruangan.


Pria itu mengunci rapat pintu kamar nya dan memperhatikan jendela kembali, kemudian menutup nya rapat - rapat. Adel bisa melihat meski bangunan itu kumuh tapi di dalam nya tidak, dinding besi menyelimuti kamar itu bahkan untuk jendela begitu juga.


Pria itu duduk sambil menggulung lengan baju nya yang berdarah, karena kesulitan menggunakan sebelah tangan, Adel pun menawarkan bantuan nya.


"Biar aku yang lakukan" Ucap Adel.


Adel membantu pria itu membuka baju nya dan darah terus mengalir di bahu pria itu.


"Bagaimana ini, luka nya..."

__ADS_1


"Ambil kan kotak obat di sana" Tunjuk nya ke arah TV.


Adel segera mengambil nya tanpa bertanya.


"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit? Bagaimana dengan peluru nya? Apa kah masuk ke dalam? seberapa sakit itu? Kenapa banyak sekali darah nya?"


"Bisakah kau diam?! Aku sedang konsentrasi menutup luka nya!" Teriak pria itu. "Tidak ada peluru hanya saja harus dihentikan darah nya" Lanjut pria itu lagi.


Adel kemudian merampas kapas yang sudah di bubuhkan sebuah cairan itu. Adel memandang wajah pria itu dengan masam dan sangat serius. Jika begini, kharisma Adel begitu nyata seperti seorang ratu yang sangat berwibawa.


"Biar aku yang lakukan"


Adel menghentikan pendarahan luka dengan cepat setelah itu luka pun berhasil di tutup dan diperban. Karena luka nya tidak cukup dalam dan besar, tidak diperlukan penanganan medis yang berlebihan.


Sudah cukup lama Adel berada di ruangan itu, entah sampai kapan ia harus berada di sana. Bunyi dentingan gelas yang beradu dengan sendok mengisi kekosongan suara di antara mereka. Adel menatap dinding ruangan itu yang penuh dengan tempelan beberapa informasi dan foto dari hal yang tak ia mengerti.


Apakah ini yang ia lakukan selama pergi dariku? Tapi kenapa dia tidak mau jujur? Apa aku segitu tidak berguna nya? Apa aku masih saja Nona Muda Kaya yang Manja di hadapan mu? Atau anak kecil berusia lima tahun? Atau kau memang tak pernah memandang ku sebagai istri mu sama sekali


Pria yang mengaku bernama Sky itu menyodorkan sebuah minuman kepada Adel. Coklat panas untuk Adel dan Cola untuk nya. Siapapun tahu bahwa minuman kesukaan Adel adalah coklat panas dan minuman bersoda adalah pantangan buat Adel. Sudah jelas bahwa pria ini tahu bahwa Adel alergi cola dan menyukai coklat panas.


Adel tidak menuruti nya dan tetap memasang wajah acuh tak acuh.


"Aku bilang minum lah"


"Kenapa? Biar kau bisa cepat membunuh ku?"


"Apa?! Kau sinting!!"


"Aku memang sinting!! sudah dua jam!! Sampai kapan aku harus disini?!!" Bentak Adel.


Pria itu menarik Adel dan menyuruh nya melihat ke arah jendela dengan teropong. Jendela itu sengaja hanya dibuka dengan sedikit celah saja. Ketika melihat dengan teropong, Adel bisa melihat betapa banyak nya pria bersenjata tajam sedang memantau mereka.


"Menyeramkan sekali...."


Tubuh Adel bergetar, ia sudah lama tak merasakan hal ini. Menurut cerita Daddy nya, Adel pernah diculik dan mengalami kejadian yang kurang menyenangkan, tapi entah kenapa dirinya tak bisa mengingat hal itu. Bahkan sepotong ingatan itu tidak ada. Menurut dokter nya, kemungkinan ia terkena hilang ingatan sementara.


Otak nya memblokir memori yang buruk dan trauma baginya sehingga ia tidak bisa mengingat hal itu sama sekali.

__ADS_1


"Selama masih ada orang disana kau tidak bisa keluar, aku akan mengeluarkan mu jika suasana sudah aman"


"Siapa mereka? dan kenapa kau terlibat dalam hal ini?!" Tanya Adel.


"Kau tidak perlu tahu, tunggu saja supaya kau bisa keluar aku akan memastikan supaya kau bisa keluar!!"


"Aku perlu tahu!! Setelah semua yang terjadi hari ini aku perlu tahu!! Apa karena ini semua kau bertingkah begini?!!"


Sky hanya memalingkan wajah nya dan diam. Adel tahu bahwa pria itu tidak berniat bicara sedikit pun.


"Aku tidak tahu apa masalah mu, kenapa sampai begini tapi aku perlu tahu, Aku perlu tahu apa yang terjadi dengan mu, kemana saja kamu selama ini dan kenapa bisa hal ini terjadi, aku perlu tahu"


"Tidak ada yang perlu kau tahu" Jawab pria itu lirih.


"Kau William! Karena kau suami ku, Aku perlu tahu semua tentang mu"


"Sudah ku bilang aku bukan...."


"Jangan bohong!" Potong Adel...."Jangan bohong karena aku tahu kau memang William, sudah terlambat bagimu berbohong"


Adel kemudian mendatangi sebuah rak dan mengambil sebuah pulpen yang berada dalam kontak transparan itu.


"Ini hadiah dariku, saat kau berumur tujuh belas tahun, ini saja sudah jadi bukti kuat belum yang lain lagi, Aku berani mengajak mu tes DNA untuk membuktikan kau William atau bukan"


"Pen itu bisa di beli dimana pun jangan bercanda..."


Adel yang memandang nya dengan marah tapi wajah Adel penuh dengan kemenangan.


"Selama ini kau tidak mengenali hadiah mu dengan baik, bukan nya menyangkal tapi kau malah memberikan alasan yang semakin menguatkan argumen ku"


"Hah?! Apa maksudnya coba?"


Adel mendekat ke arah nya dan terus menatap pria itu....


"Aku yang bodoh....bisa tertipu dengan akting murahan mu!! Dengar dan ingat ini baik - baik! Pulpen ini hanya ada satu di dunia, karena aku menyuruh pengrajin pulpen terkenal untuk membuatkan hadiah ini, paham?"


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2