
...Sebelum membaca novel ini, jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga kunjungi karya author yang lain dengan judul "Pertemuan" dan "Istri Yang Terabaikan"....
...*...
...*...
...*...
"Lepaskan tangan mu dari nya!!!"
Suara teriakan yang sangat besar dan menggema perpustakaan, membuat semua nya menoleh ke arah itu dan.....
Buaaaakkkkk......Tendangan kuat menghantam tubuh belakang William dengan keras. William bisa merasakan betapa kuat kaki yang menendang nya itu.
"Jauhkan tangan mu dari Kakak ku!! Dasar Bejat!!"
"Sialan, siapa yang......"
William segera berbalik dan melihat....
"Collin !!!" William dan Adel berseru dengan bersamaan.
"William?"
"Collin !! Kakak nggak pernah ngajarin kamu berbuat nggak sopan begini !!" Ucap Adel dengan tegas.
"Maaf.....ku kira siapa, rupanya William, aku hanya liat dari belakang aja, ku kira ada cowok aneh yang mau godaiin kakak, habis kakak kan nggak bisa milih cowok dengan benar"
Adel merasa sangat malu di depan para staf dan kru televisi yang sedang merekam adegan itu dengan lengkap.
"Kami izin sebentar ya, Mohon maaf semuanya!!" Adel pun meminta maaf kepada semua nya.
Dengan cepat Adel menarik William dan Collin ke luar dari perpustakaan untuk menuju ke cafe yang ada di sebelah perpustakaan.
"Kakak!! Apa - apaan ini?!! Kenapa kakak mesra sekali sama William?!!" Collin meminta penjelasan dari sang kakak.
"Kamu juga! Kenapa ada di sini sih?!!"
"Hello!! Ini perpustakaan umum, siapapun boleh datang, Aku ini pelajar yang sedang meminjam literatur untuk proyek esai ku, wajar kan aku ke perpustakaan? Lah kakak sama William kan udah nggak kuliah, ngapain di perpustakaan?!!"
"Ini tempat umum Collin, siapapun bebas berkunjung kan?" Jawab William dengan tenang.
Kadang Collin merasa sangat merinding dengan ketenangan William.
"Lalu kenapa kalian bisa semesra itu?" Tanya Collin lagi.
__ADS_1
"Kami sedang melakukan pengambilan video shooting"
Jawaban lugas dari William membuat Collin memasang wajah heran nya. Adel bisa yakin bahwa Collin mengambil semua gen milik papa nya di saat - saat seperti ini.
"Shooting? Jangan gila deh, William sudah kaya buat apaan shooting? Kak Adel iya karena dia publik figur, lah William apaan?!!"
"Kan kamu tahu skandal yang waktu itu....Kakak dan William sengaja pura - pura pacaran buat nutupin skandal dan supaya nggak bayar denda kontrak, sampe acara ini selesai aja kok" Adel berbisik pada Collin karena takut ada yang mendengar percakapan mereka.
"Skandal yang mana?" Tanya Collin.
"Skandal pacaran kakak, karir kakak bisa jatuh jika dikatakan tukang selingkuh, kan saat itu kakak udah taken kontrak jadi pasangan Justin"
"Tabloid itu sudah ku tuntut atas pencemaran nama baik, web nya bahkan sudah ku hapus" Jawab Collin dengan santai.
"Apa?!!" Adel dan William benar - benar dibuat nya terkejut.
William pernah mengajarkan cara hacker kepada Collin, tapi William yang paling tahu bahwa bakat Collin masih jauh dari William.
"Tenang aja, Aku pakai uang pribadiku kok, jadi nggak ketauan papa"
"Uang? Kenapa pakai uang?" Tanya Adel.
"Aku menuntut mereka pakai pengacara ya pakai uang lah, terus menyewa hacker buat hapus portal web, ya pakai uang juga"
Adel tahu bahwa Collin punya uang pribadi dan itu atas izin papa nya, tapi sebanyak apa yang Collin punya sampai bisa membayar hal seperti itu?
"Nggak banyak kok"
"Berapa banyak?!!" Adel sedikit memaksa Collin untuk bicara.
"Hanya Lima ratus Dollar saja, itu pun baru sepuluh persen dari aset ku, ini juga demi mama dan papa, kakak tahu kan kalau mama dan papa lihat berita ini mereka bakal pingsan? Sama orang lain boleh tapi nggak sama William"
"Kakak tahu...."
Suasana jadi hening, karena mereka tahu apa yang akan terjadi jika mama dan papa Adel tahu hal ini.
"Kamu kan masih di bawah umur nama siapa yang kamu pakai untuk menyewa pengacara?"
"Ya, nama kakak lah"
"Kok bisa? Kan nggak ada tanda tangan kakak?"
"Ada, Aku menyuruh kakak untuk tanda tangan kan waktu itu"
Adel ingat bahwa tanda tangan itu adalah kontrak majalah yang sedang hot di Paris, kata Collin, itu adalah perusahaan teman nya yang meminta Adel jadi model Icon majalah, Adel dengan mudah nya menandatangani itu tanpa membaca kontrak.
__ADS_1
"Dasar penipu!!" Ucap Adel ke Collin.
"Siapa suruh jadi bodoh? Kakak selalu menarik penipu sih" Goda Collin.
"Jadi yang kita lakuin sia - sia dong?" Tanya William kepada mereka.
"Nggak dong, aku harus mempromosikan diri ku lebih banyak, ini lah kesempatan" Ucap Adel dengan semangat.
Collin hanya menghela nafas nya, kakak nya sangat bodoh dan sangat tidak dewasa. Padahal dari keluarga kaya, tapi kakak nya tak sedikit pun mau menggunakan uang mama dan papa nya.
"Yah terserah kakak deh, Aku hanya membatu sebisa ku, itu juga demi mama dan papa, tapi kalau ketahuan jangan libatkan aku, kakak yang berbuat, kakak yang harus tanggung jawab!!"
Biarpun masih kecil, kadang Adel sangat kagum pada Collin, adiknya itu begitu penyayang, baik hati, dan bijaksana. Collin begitu dewasa dan seringkali membereskan kecerobohan yang Adel perbuat. Collin lebih seperti Abang ketimbang adik nya.
Tapi satu hal yang tidak bisa Collin toleransi adalah kebohongan, itulah yang sering orang tua mereka ajarkan. Dan Collin tak pernah mau mengurus tanggung jawab yang seharusnya milik orang lain jadi milik nya. Bagi Collin siapa yang berbuat, dia yang menuai.
"Baik! Adik ku sayang! Terimakasih ya" Ucap Adel.
.
.
.
Beberapa hari kemudian......
William sedang berada di rumah sakit, dengan paksaan John, William berada disana. William harus memeriksakan kesehatan nya setiap sebulan sekali, tapi karena William sering menolak, sudah tiga bulan ini, William tidak memeriksakan kesehatan nya.
John menunggu di ruang tunggu pasien sambil mondar - mandir. Jantungnya tak bisa berhenti tenang, William sedang di periksa di dalam. John selalu merasa bahwa William adalah satu - satunya keluarga yang ia punya, sebab itu John sangat sayang padanya. Dulu ia pernah punya keluarga, tapi anak dan istrinya harus meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat, sejak itu hidupnya menderita, tapi sejak ada William dunia nya kembali hidup, ia bisa bernafas lega dan memaafkan dirinya sendiri.
William pun akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan.....
"Willy, Bagaimana? Apa hasil nya? Bagaimana?" John khawatir.
.
.
.
"Paman, jangan berharap yang tak mungkin...." William menangis dengan tersegu - segu.
"Willy, cerita kan apa hasil nya?"
__ADS_1
"Paman, Terimakasih selalu ada bersama ku, Ku rasa ini sudah saat nya, paman tak perlu berusaha lebih banyak lagi"
-bersambung-