
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....
.............
.......
.......
.......
"Apakah Justin punya sakit berbahaya?" Tanya William khawatir.
"Tidak, tapi ku rasa karena kita bertiga punya tubuh yang lemah, Aku ingin kita sekeluarga rutin olahraga. Aku dari dulu memang benci olahraga tapi kurasa sekarang kita perlu berolahraga demi Justin juga"
"Jadi mau olahraga apa kita?"
"Kata dokter sih bagus nya untuk umur Justin ini....berenang, lari atau pun panjat tebing anak"
"Boleh, kita akan lakukan semua nya jika kita sudah sehat semua ya"
Adel sangat antusias menanti kan rencana olahraga keluarga nya.
"Mama dan Papa sudah mengizinkan kita kembali ke rumah, sekarang pikir kan lah kamu mau menghiasi rumah dengan apa, Aku akan mengambil alih kembali perusahaan Ayah ku"
Adel mengangguk mengerti.
.
.
.
Beberapa hari kemudian....
"Hanya ini saja barang kamu dan Justin?" Tanya William sambil mengangkat kotak terakhir.
"Hanya ini saja? Barang ku dan Justin sudah 3 mobil lho, ini malah banyak banget, terutama mainan Justin, Papa suka banget manjaiin Justin jadi sering dibelikan banyak mainan deh"
"Itu artinya papa perduli sama Justin, Lalu apa aja yang sudah kamu pesan untuk menghiasi rumah kita?"
Adel menarik tangan William dan memandu nya ke arah ruang tamu. Segala sofa, cat dinding, dan lukisan sudah di ganti dengan warna netral dan segar seperti Cream dan Vanilla. Bahkan Adel juga menunjukkan ruang anak untuk Justin bermain.
__ADS_1
"Bagus, selera mu sangat bagus"
"Sekarang tinggal kamar tidur" Ucap Adel.
Adel pun menarik William ke kamar tidur mereka yang dulu nya itu adalah kamar utama di mana William memakai nya untuk ia sendiri.
"Semenjak kak Will pergi, Aku sudah lama ingin mengubah nya tapi karena sekarang baru bisa jadi ini hasil nya"
Kamar mereka terlihat begitu ramai dan cerah dengan banyak nya foto mereka berdua tergantung di dinding. Namun foto mereka secara formal belum ada sama sekali dan William sadar akan hal itu. William akan menyusun rencana untuk foto formal keluarga.
"Kita akan pakai satu kamar kan?" Tanya William dengan nakal.
"Tapi kalau kak Will mau pisah aku nggak masalah"
William langsung memeluk Adel dengan erat dan berbisik pada Adel.
"Tentu saja aku suka jika bersama kamu"
Mereka pun akhirnya sibuk memindahkan barang - barang pindahan mereka dan beberapa perabotan lain yang baru mereka beli. Para pelayan juga sama sibuk nya dengan mereka berdua.
"Kak Will mana hadiah mu untuk rumah kita?"
"Aku membeli kan tumbuhan dan bunga yang bakal kita tanam bersama serta pembangunan kolam renang di halaman depan untuk kita"
"Maka nya aku bangun sekarang, dan paviliun akan ku bangun untuk kita bisa istirahat selama musim panas juga akan selesai dalam beberapa waktu"
"Waaah aku tidak sabar menanti kan nya"
Tapi dalam banyak nya kebahagiaan itu, Adel pun memutuskan sesuatu....
"Kak Will Ibu akan berkunjung ke sini" Ucap Adel tiba - tiba.
"Hah?! Ibu siapa?"
"Ibu kak Will"
"Kenapa dia kesini? dan juga tahu dari mana kamu?!"
"Aku sebenarnya nggak boleh memberitahu kan hal ini sama ibu kak Will tapi tadi malam dia menelepon ku dan mengatakan akan menemui kita malam ini di sini"
Adel hendak merahasiakan nya sampai Ros datang namun Adel memutuskan lebih baik William tahu lebih awal untuk menghindari keributan lain.
__ADS_1
"Kenapa dia mau kesini?! Mau apa lagi sih dia?! Dan sejak kapan kamu berhubungan dengan orang itu?!"
"Kami selalu berhubungan, bahkan Ibu selalu mengirimkan pesan kepada ku, terkadang menanya kan kabar kak Will"
"Adel bisakah mulai sekarang kamu blokir saja nomor orang itu?! Tolong jangan tanya kenapa tapi aku akan menceritakan semua nya setelah malam ini, Setelah kamu mendengar nya kamu bebas mau memblokir nomor orang itu atau tidak"
"Tapi kak Will sungguh akan menceritakan nya pada ku kan?"
William pun mengangguk tapi Adel masih tak percaya karena William selalu begitu terhadap nya. Mengangguk tapi tak menceritakan apapun.
"Kak Will pasti tahu kan, jika dalam suatu hubungan komunikasi itu sangat di perlukan?"
"Aku tahu"
"Kak Will harus cerita agar aku tidak salah paham! Aku bisa saja berfikir macam - macam jika kak Will tidak menceritakan nya!"
"Aku janji kali ini akan menceritakan nya, tapi kamu juga jangan melewati batas dengan menanyakan apapun pada ibu ku! Adel aku tahu kamu sangat susah di bilang tapi ini semua demi kamu, Aku tahu sekali sifat mu yang suka berfikir macam - macam"
"Baik kali ini aku akan ikuti kak Will"
"Bagus"
Belum lama di bicarakan Ros pun datang lebih awal ke kediaman William. Dengan sepatu hak tinggi nya, dandanan mewah dan wajah nya yang semakin tua itu ia memasuki rumah William dengan sangat angkuh.
"Mana menantu ku?!" Teriak Ros kepada para pelayan.
"Nyonya Adel sedang memasang lukisan dengan tuan"
"Panggil dia sekarang!!"
Bukan nya Adel yang turun melain kan William yang turun menghadap Ros.
"Memang nya Anda pikir anda siapa berani bersikap kurang ajar pada pelayan saya?!" Ucap William dengan bengis.
"Oh anak ku sudah kembali? Lama banget kamu tidak kelihatan, keuangan ibu jadi sulit karena kamu tidak disini, tapi syukurlah menantu ku orang yang bijak, dia memberikan aku banyak sekali uang, Aku bisa berlibur dan bersama teman - teman ku lagi"
"Hentikan! Cukup sampai disini perbuatan egois mu! Jangan pernah injakan kaki mu disini lagi! dan jangan pernah mendekati istri dan anak ku lagi!"
"Hei! Kamu kira, tanpa persetujuan ku....anak mu itu bisa masuk ke dalam kartu keluarga? Tidak bisa! Bahkan saat itu tidak ada yang percaya anak itu anak mu atau bukan! Hanya John saja yang bersikeras! Aku yang sudah membantu istri mu! Tapi kamu tidak tahu terimakasih!"
"Justin memang anak ku!!"
__ADS_1
"Tapi para petinggi dan para tetua di keluarga ini akan percaya? Bahkan mereka tidak tahu kau telah menikah! Karena kebodohan mu itu istri mu di katakan wanita hina dan anak mu tidak di akui !! Kau tidak tahu kan?! Aku yang membantu nya!! Bantuan kecil itu tidak sepadan dengan uang yang ku terima dari istri mu!! Sadar lah! Dunia tidak bekerja tanpa uang!!"
-bersambung-