
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah, dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel author yang lain dengan judul "Istri Yang Terabaikan"....
...Selamat Membaca....
...*...
...*...
...*...
Kebiasaan buruk dari William adalah ia selalu memikirkan Adel dan tak pernah membiarkan dirinya tenang akan masalah hal yang menyangkut Adel. Pelacakan yang ia gunakan ke Handphone Adel adalah juga kerjaan nya dan Collin. Selama Adel pergi dari Paris, Collin dan William sangat dekat, bisa dibilang seperti Abang dan Adik yang sangat akrab.
.
.
.
Di rumah.....
"Collin!! Collin Silver!!" Adel langsung berteriak ketika masuk ke dalam rumah.
"Adel !! Nggak sopan masuk ke rumah main teriak - teriak begitu!" Tegur Nissa kepada Adel.
Adel begitu kesal dan ingin mendamprat William karena ia tahu bahwa William dan Collin merencanakan ide gila nya untuk memasang alat pelacak di Handphone nya.
"Di mana Collin? di mana anak itu?!"
"Mungkin dia di kamar nya, masih capek karena membersihkan istal kuda tadi malam" Jawab Nissa.
Adel segera berlari ke arah kamar Collin dengan sangat marah. Nissa bisa mendengar hentakan sepatu Adel dan bantingan pintu yang kuat dari Adel, hingga tak lama kemudian teriakan keras dan bunyi baku hantam.
"Mama~~~~ Kak Adel gila nih!! Papa!!!" Suara Collin berteriak minta tolong.
Nissa pun segera menuju ke kamar Collin begitu juga dengan Ben.
"Ada apa ini?! Kalian sudah besar kan? Bisa dibicarakan dulu, kenapa main pukul - pukulan begini?!!" Ben memarahi keduanya ketika melihat pemandangan itu.
Saat Ben masuk ke kamar Collin, Ben melihat Adel yang sudah menjambak rambut Collin begitu pula dengan Collin yang menjambak rambut panjang Adel.
"Dia duluan Pa!!" Ucap Adel.
"Enak aja! Kakak duluan yang masuk main ngelempar Aku pakai barang!!" Collin pun tak mau kalah.
"Silent!!!!" Ketika Ben sudah marah, anak - anak nya pasti akan takut karena Ben terkenal jarang memarahi anak nya, tapi ketika marah, semua nya akan langsung takut.
Adel dan Collin segera melepaskan tangan mereka satu sama lain dan berdiri tegap layak nya seorang tentara. Disiplin seperti itulah yang sering Ben berikan pada anak - anak nya ketika ingin memarahi anak - anak nya.
"Adel turun ke bawah! Dan Collin, kamu pakai baju mu dan segera turun ke bawah!! Kita bicarakan semua nya bersama!!" Ucap Ben.
Adel mendesah dengan kesal, namun akhirnya ia turun juga ke ruang keluarga. Collin mengomel dengan suara pelan.
__ADS_1
"Papa selalu saja belaiin kak Adel !!" Ucap Collin, namun ucapan itu terdengar oleh Ben.
"Collin, kalian berdua penting untuk papa, nggak mungkin papa pilih kasih, karena papa ingin kalian saling menyayangi satu sama lain makanya papa melakukan hal ini, ayo kita diskusikan masalah ini, cepat lah ganti baju"
.
.
.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya Collin dengan wajah masam nya pun turun ke ruang keluarga. Mama, papa nya serta Adel sudah menunggu nya. Collin pun duduk jauh sekali dari ketiga nya.
"Jadi siapa yang ingin bicara duluan?" Tanya Ben.
"Aku pa!! Aku punya banyak pertanyaan kepada kakak!!" Collin segera menunjuk tangan nya.
Adel memandang Collin dengan kesal tapi Ben tetap mengizinkan Collin berbicara duluan.
"Tapi pa...."
"Adel, satu - satu! Habis ini giliran kamu!!"
"Jadi aku nggak ngerti kenapa waktu tidur ku harus diganggu seperti ini, Aku capek dan sedang tidur, tau - tau aja kakak melemparku dengan tas nya! Banyangin aja tas dia isi nya banyak banget, Yah wajar aku marah kan, terus kak Adel ngejambak aku duluan, yah ku balas, Aku bahkan nggak sempat tau salah ku apaan!"
Ben dan Nissa pun mengerti situasi nya, dan hanya mengangguk mengerti.
"Baik, kali ini kita dengar dari Kakak kamu ya, kenapa dia berbuat begitu kepada kamu, silahkan Adel, bicara lah"
Nissa segera menjewer telinga Adel, "Jangan pake nyindir, bicara saja ada apa!!"
"Nissa! Jangan pakai tangan!! Memukul anak itu tidak akan menyelesaikan masalah!! Kita bicarakan baik - baik" Tegur Ben kepada Nissa.
"Baik" Jawab Nissa.
Adel menggosok - gosok telinga nya yang terasa panas. "Setiap mama menjewer ku, rasanya telinga ku selalu saja mati rasa!! Mama sadis banget sih!!"
"Udah Adel! Katakan ada apa ini?! Kenapa kamu begitu kepada adik kamu?!!"
"Jadi pa, dia udah masang pelacak ke Handphone Adel, gara - gara dia!! Kak Will jadi sering ikut campur masalah Adel, kak Will jadi sering nemuin Adel"
"Collin apa itu benar?!!" Tanya Nissa tak percaya.
"I...iya ma, kak aku minta maaf, awalnya itu kupasang supaya bisa tahu keberadaan kakak aja, karena kakak suka pergi nggak bilang - bilang, selama di London, tapi setelah kakak pulang, William meminta alat itu, kata nya kakak dalam bahaya jadi yah ku kasih aja, Aku minta maaf...."
Adel hanya mendesah dengan keras, seharusnya ia tahu bahwa Collin bukan seorang pengkhianat. Adel pun berjalan mendekati Collin dan mengecek pipi Collin yang merah karena ia lempar dengan tas.
"Sakit ya? Maafkan kakak ya, kakak kira kamu sengaja melakukan itu, maaf kakak nggak bertanya dulu kepada mu yang sebenarnya"
Ben pun tersenyum, akhirnya masalah itu bisa selesai dengan cara yang damai, kunci permasalahan itu adalah komunikasi yang baik.
"Lihat kan? Mendidik itu nggak perlu harus memukul mereka" Ucap Ben kepada Nissa.
__ADS_1
"Aku tahu!! Iya maaf"
"Kamu masih berhubungan sama William ya Adel?" Tanya Ben.
Wajah Adel sudah menunjukkan raut yang berbeda. Bisa dilihat jika Adel tak ingin menjawab pertanyaan itu.
"Masih berani dia mendekati Adel setelah semua yang di lakukan kepada Adel, Aku nggak bisa lagi mengerti sebenarnya apa mau dia?!!!" Nissa masih merasa kesal dengan perlakuan William saat itu.
"Sudahlah Nissa, itu urusan mereka, selagi Adel nggak kenapa - napa, kita biarkan saja Adel yang mengurus itu semua"
.
.
.
.
Esoknya.....
Internet dan media sosial dikejutkan oleh pemberitaan masal mengenai Adel yang memiliki seorang pacar. Foto Adel dan William yang sedang bersama keluar dari Restoran pun terfoto dan dibicarakan sebagai buah bibir yang sedang hangat - hangat nya.
Adel merasa bahwa ini pasti ulah William pun segera menemui William di kastil nya. Adel melaju membawa mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di kastil milik keluarga Franois, Adel masih selalu merasa bahwa kastil itu menyeramkan dan selalu terisi oleh bodyguard yang sangat menyeramkan bahkan dari segi fisik nya.
"Silahkan Nona, Tuan muda sudah menunggu"
Adel masuk tanpa basa - basi dan segera menyudutkan William ke arah dinding yang ada.
"Ini pasti ulah mu kan?!!!"
.
.
.
.
.
.
"Apa maksudnya?" Tanya William kembali.
"Ini...."
-bersambung-
__ADS_1