CINTA KU MAFIA KU

CINTA KU MAFIA KU
EPISODE 54 - INI KAN?!


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....


.......


.......


.......


Semua terpana, dilihat lembar demi lembar foto yang berserakan di lantai. Meski malam telah datang, cahaya lampu yang terang membuat gambar di foto terlihat jelas bahkan sangat jelas.


"Will kenapa....?" Ben terpana dan terpaku cukup dalam, keadaan ini membuat nya bingung.


"Aku...Aku...." Lidah William kelu di tengah tekanan yang kini ia dapatkan.


"Katakan lah Will, kenapa bisa ada banyak foto seperti ini?" Kini Andhika yang mulai bertanya kepada William.


Semua tak ada gunanya untuk alasan yang mungkin akan dikeluarkan oleh mulut nya, itulah yang William pikirkan. Kini William yang terdesak hanya bisa mengatakan semua nya.


"Aku merindukan nya, tiada hari tanpa aku merindukan nya....." Mata William mulai sedikit sembab namun terus ia tahan.


Jika ia harus mendapatkan julukan sebagai pria cengeng ia tak merasa itu sebagai masalah, selama Adel tak melihat nya begitu lemah seperti ini.


"Tapi jumlah foto ini....ratusan bahkan ada Justin juga"


Ben takjub melihat koleksi foto Adel dan Justin yang begitu banyak William kumpulkan. Bahkan foto Adel dan William masih tersimpan baik tanpa kotor sedikitpun. Belum lagi Album lain nya yang belum terbuka.


"Setelah Aku sembuh dan kaki ku bisa berjalan, meski hanya dengan tongkat aku selalu melihat Adel dari Jauh bahkan semua yang Adel lakukan aku memotretnya agar bisa ku ingat" Jawab William.


"Jadi selama ini kau selalu bersama Adel meski dari Jauh dan juga kau tahu bahwa Justin telah lahir?" Tanya Andhika.


"Jujur Aku tidak tahu ketika Justin lahir karena aku selalu berusaha untuk sembuh dan tak bisa keluar, Aku baru bertemu Adel saat Justin sudah besar, Sejak itulah aku selalu mengirimkan hadiah ulang tahun kepada Justin meski tanpa nama".


William tahu hanya itulah perasaan yang bisa mengurangi kesalahan dan kepengecutan dirinya. Memori yang ingin ia kumpulkan dari sebuah foto membuatnya berharap bisa di ampuni tapi ternyata ia salah karena semua itu membuang - buang waktu.

__ADS_1


Ketika semua sudah lebih jelas dan tidak ada lagi kesalahpahaman, semuanya mulai menggabungkan kekuatan untuk menyatukan rencana. Rey si Ahli strategi bersama Ben menyusun rencana hebat yang diyakini bahwa Andhika hanya bisa mengikuti nya saja bersama Edison.


"Sayang! Makanan sudah siap!!" Lyra meneriakkan suami nya.


"Sebentar lagi, kami masih rapat" Jawab Ed.


"Nanti makanan nya keburu dingin"


"Iya sebentar lagi"


"Aku bilang nanti makanan nya dingin!!!!" Teriak Lyra dengan keras.


Edison paling kesal melihat Lyra yang seperti ini, tapi.... mengingat sikap nya dulu kepada Lyra, semua kekesalan itu hilang lalu yang ada hanya lah rasa sayang yang ingin menuruti istrinya lebih baik lagi.


"Baiklah kami akan kesana"


Edison pun membawa semua nya untuk menuju ke ruang makan. Wangi dari masakan Lyra tercium ke seluruh ruangan. Sedangkan Collin dan Charlotte beserta adik - adik nya masih sibuk di dapur untuk menghancurkan Berry yang akan dibuat Pie. Hidangan penutup di malam hari adalah Pie berry yang manis.


Charlotte yang melihat wajah kesal dari Collin mengeluarkan sapu tangan milik nya dan mengusap butir keringat di bagian kepala Collin. Sapu tangan itu memiliki motif bunga yang aneh nya wangi nya juga seperti bunga.


"Jika kerja tanpa ketulusan, semua nya akan terasa pahit lho! Mama yang mengajarkan begitu"


"Haaaah! Kamu tidak mengerti!!"


"Aku tahu, Kak Collin merasa terasingkan oleh mereka dan dianggap sebagai anak kecil, tapi aku tahu kakak bukan anak kecil, karena itu ayo kita kerja dulu setelah itu bicaralah lagi kepada Paman Ben, pasti dia mau mendengarkan kakak"


"Terkadang....kamu bisa bijak juga ya Lotte"


Tawa Charlotte yang khas membuat hati Collin jadi hangat.


.


.

__ADS_1


.


"Aku dan Ben Akan mengurus masalah pasukan dan persenjataan" Ucap Rey.


Ben mengangguk dengan mantap, melihat tatapan mata Ben yang terlihat percaya diri itu, Andhika merasa ngeri. Andhika pernah merasakan nya sendiri ketika Ben begitu marah dan mengeluarkan tatapan seperti yang ia lihat kini. Yang pasti orang yang membuat Ben mengeluarkan tatapan seperti itu, tidak akan pernah selamat.


"Kalau begitu Aku akan mengumpulkan data dan mencari dengan koneksi yang kupunya" Ucap Edison.


"Kalau aku mungkin hanya akan memberikan support, kalian sendiri tahu perusahaan ku tak lagi sebesar dulu" Ucap Andhika dengan santai.


"Dia selalu saja menyebalkan" Ucap Edison sambil menyindir.


Teng....teng....teng....


Lyra memukul gelas nya dengan sebuah sendok. Suara gelas yang cukup kuat itu mampu membuat semua nya menoleh.


"Hello Gentleman! Disini tempat makan bukan tempat untuk rapat! Yang pasti ingin dari rapat kita sudah ada dan untuk pasukan dan rencana yang akan di buat aku juga akan turun tangan" Lyra mengatakan nya dengan mantap.


"Tidak! Lyr! untuk yang ini Aku tidak setuju! Kamu sedang hamil !! Sedang hamil dua bulan! Aku hanya bisa menyerah melarang mu menggunakan sepatu hak tinggi itu tapi tidak dengan ini !!" Edison mengatakan nya dengan tegas.


"Aku hanya mengatakan untuk ikut dalam perencanaan nya tapi tidak dengan turun langsung ke Medan nya"


"Lyr! Tidak! Aku bilang tidak!"


Melihat suasana yang memanas, William pun mengambil alih suasana dengan berdiri dan memasang wajah serius milik nya.


"Terimakasih semuanya, Tante Lyra dan Om - om semuanya, Aku ingin berusaha kuat dan melindungi Lyra dan Justin. Karena mereka adalah keluarga ku, Yang pasti dalam beberapa hari lagi, Aku ingin semua nya bisa beres, Aku ingin kembali di hadapan Adel sambil membawa kemenangan untuk nya dan membuktikan pada Adel bahwa aku bukan pria yang gagal"


Ucapan tulus yang William miliki mampu membuat semua orang bertepuk tangan. Meski hanya Collin saja yang masih saja terus menganggap William sangat mencurigakan.


Ucapan itu benar adanya, ia tak ingin kembali dengan Cap Pecundang di hadapan Adel. Meski sudah terlalu lama, tapi sekali lagi masih ada jalan baginya untuk memulai kembali. Kali ini tak akan pernah lagi ia lepaskan meski nyawa nya harus ia pertaruhkan. Satu hal yang menjadi penghambat nya adalah kaki yang ia miliki sekarang akan susah untuk membuat nya bergerak dengan lincah. Tapi William percaya akan ada cara untuk mengatasi semua itu....


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2