CINTA KU MAFIA KU

CINTA KU MAFIA KU
EPISODE 34 - SEBUAH HADIAH


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....


.......


.......


.......


......3 Tahun Kemudian......


.......


.......


.......


Bunga mulai berjatuhan, dedaunan dan ranting mulai berubah warna menuju musim gugur. Kecoklatan dan terlihat rapuh, Adel benci melihat warna itu, seolah warna itu berusaha menunjukkan warna hati nya yang rapuh layaknya ranting kering, Adel begitu membenci musim gugur.


Selama lima tahun telah berlalu, tak ada satupun pencarian William yang membuahkan hasil, belum lagi... Paman John yang tiba - tiba menghilang sejak setahun yang lalu tanpa kabar. Semua orang yakin bahwa William masih hidup, namun tak ada satupun orang yang tahu dimana keberadaan William.


Semua lokasi bekas ledakan sudah di telusuri bahkan serpihan tulang ataupun identitas mayat yang cocok dengan William, sehingga semua orang masih percaya bahwa William masih hidup.


"Kak!! Anak mu nangis lagi nih!! Haaah Aku mau gila dari tadi !!, seperti nya aku akan punya trauma untuk memiliki anak" Teriak Collin sambil menggendong anak Adel.


"Oh Justin! Mana anak mama? Cup....cup sayang....nggak usah nangis ya mama disini"


Justin Franois, itulah nama yang Adel berikan untuk anak nya dan William. Meski banyak hal yang telah terjadi selama Tiga tahun terakhir tapi Adel bersyukur bahwa sisi nya selalu ada Justin dan keluarga nya.


Mama nya sudah mulai bisa membuka hati kepada Adel dan melupakan kesalahan Adel. sedangkan Papa dan Daddy Adel selalu bertengkar memperebutkan Justin.


"Ben biarkan Justin ke negara ku!! Kau bisa melihat nya setiap saat karena tinggal di satu negara!!"


"Tidak bisa Andhika! Justin harus menghabiskan musim panas bersama ku"


"Dia cucu ku!!"


"Dia juga cucu ku!!"

__ADS_1


Kedua pria tua itu tak pernah mau mengalah terhadap Justin. Sedangkan istri mereka hanya bisa menutup wajah karena malu.


"Kak, ada kado lagi yang datang ke rumah" Ucap Collin sambil membawa sebuah kotak hadiah.


"Apa isi nya?" Tanya Adel takut - takut.


"Sebuah boneka, sudah ku pastikan aman tidak ada hal yang mencurigakan"


"Aneh....."


Sudah Lima bulan terakhir menjelang, ulang tahun Justin yang ke empat, setiap Minggu nya selalu terkirim banyak hadiah di rumah keluarga Franois. Hal itu cukup membuat Adel takut.


"Jangan - jangan itu ulah si nenek lampir"


"Collin !! Tidak baik berbicara begitu"


Menjadi seorang ibu, membuat Adel sedikit dewasa dan bijak. Collin selalu menyebut Ros dengan sebutan nenek lampir.


"Tapi memang dia seperti nenek lampir, tiada hari tanpa dia mengganggu kakak dan Justin, bahkan sampai sekarang dia masih belum mencabut tuntutan nya"


Ros mati - matian, menuntut hak warisan nya terhadap keluarga Franois, namun karena ada Justin, dan surat wasiat dari William, harta keluarga Franois tidak bisa jatuh ke Ros bahkan Ros tidak mendapatkan sepeserpun. Berkali - kali Ros membuat keributan dan mempermalukan Adel, tapi syukurlah keluarga nya selalu ada di pihak nya.


"Biar bagaimanapun dia mertua kakak, kamu nggak boleh begitu, Ros juga nenek dari Justin, paham?"


"Cihh!! Aku nggak bakal menganggap nya nenek Justin! Liat saja jika anak mu besar nanti, aku berani bertaruh dia akan melakukan hal yang sama seperti yang si kembar lakukan"


Adel hanya menggeleng kan kepala nya saja melihat tingkah Collin.


"Oh iya bagaimana apa kamu sudah menemukan keberadaan paman John?" Tanya Adel.


"Belum, tapi menurut ku ledakan itu ada hubungannya dengan kecelakaan William"


"Pelaku ledakan sudah ditemukan?"


"Iya, baru sebulan yang lalu, pelaku nya adalah geng mafia, tapi ini aneh sekali...."


"Kenapa?" Tanya Adel penasaran.

__ADS_1


"Geng mafia yang meledakan rumah sakit tidak berhasil polisi tangkap tapi berhasil di musnahkan sebulan yang lalu dan pelaku utama nya berhasil ditangkap, seolah sudah di rencanakan"


Collin sudah banyak menganalisa geng mafia itu, beberapa salah satu geng mafia yang cukup terkenal dan dikenal sebagai musuh keluarga Franois. Namun aneh nya, geng yang memiliki sekutu besar itu berhasil dilenyapkan dalam waktu sebulan oleh seseorang.


Collin ingin mengatakan bahwa keluarga Franois adalah geng mafia besar, dan salah satu penyebab kenapa terjadi ledakan itu terjadi adalah karena aksi balas dendam. Collin segera mengurungkan niat itu dan menyimpan nya untuk ia diskusikan dulu kepada papa nya.


"Jadi Berapa banyak yang Daddy mu kirim untuk Justin tahun ini?"


Andhika selalu mengirim hadiah untuk ulang tahun Justin setiap tahun nya bahkan kado - kado lain juga tak luput Andhika kirim kan. Yang bikin Collin mual adalah saat Kakak nya melahirkan, yang nangis dengan heboh adalah papa dan Daddy Adel. Mereka membuat rumah sakit heboh dengan tangisan mereka.


"Entahlah, tahun kemarin ada tujuh kado, mungkin tahun ini delapan, Daddy selalu menambah kan kado setiap tahun nya"


"Papa dan Daddy selalu bikin malu kalau ngurusin tentang kak Adel, nggak ada keren - keren nya"


"Kamu jangan begitu, kamu aja yang nggak tahu betapa keren nya papa kamu, Kakak aja selalu menganggap Papa Benedict sangat keren, dia bisa menyayangi kakak meski kakak bukan anak nya"


Collin memandang sedih ke arah Adel....


"Jangan begitu, Aku selalu menganggap kakak sebagai kakak ku, jangan membuat jarak seperti itu".


"Baiklah, maaf...."


"Apa kakak masih merindukan William?"


Sontak Kenyataan datang menjadi duri yang menyayat hati nya dengan pelan.


"Aku tidak tahu, rasanya terlalu lama....seolah keberadaan William itu tak terasa nyata bagi ku, jika Justin tidak ada, mungkin selama nya William seperti mimpi bagi ku"


"Aku akan menemukan nya untuk kakak, pasti"


"Terimakasih banyak adik ku, tapi ku harap kamu selesaikan saja sekolah kamu dulu, kakak lebih bangga jika kamu selesai dengan cepat"


"Kakak tidak tahu ya? Aku kan lompat kelas, sekarang aku sudah jadi mahasiswa tahu!!"


"Baiklah dek Mahasiswa!!"


Hari - hari nya sederhana, ia lalui bersama Justin, Collin, dan keluarga besar nya. Namun ada beberapa bagian di sisi hati Adel yang terasa kosong karena merindukan William. Seolah William bukan lah seseorang yang nyata rasanya amat rindu namun tak tahu harus ia berikan kemana rindu itu, William tak ditemukan maupun dikatakan tiada. Seolah keberadaan nya hanya rotasi semu yang mampir dalam kisah cinta nya, keberadaan orang itu masih belum diketahui.

__ADS_1


-bersambung-


__ADS_2