
"Collin, katakan yang sebenarnya, kenapa kakak kamu pulang dalam keadaan begitu?" Tanya Ben dengan serius.
"Papa kan tahu, kak Adel kesana untuk bertemu William....jadi......"
Ben tahu hal itu, Ben jugalah yang memberikan izin kepada Collin untuk berani menemui Adel. Hanya sebatas itu saja yang Ben ketahui. Melihat perubahan tubuh Adel dan reaksi mual itu, Ben menduga bahwa Adel telah melakukan hal yang diluar batas.
"Collin....papa tidak tahu bagaimana reaksi mama kamu nanti nya, tapi yang pasti mama kamu tidak akan membiarkan hal ini".
Collin bergidik ngeri akan hal yang akan ia alami kedepannya. Membayangkan mama nya marah dengan sangat hebat itu sangat menakutkan. Lebih menakutkan daripada dipotong uang saku yang ia dapat.
"Adel katakan, kamu kenapa sayang?" Tanya Nissa khawatir.
Saat Adel menyambut tangan mama nya dan berusaha berjalan, tiba - tiba tubuhnya hilang kendali dan pingsan.
Duaaarr........
Suara ribut yang terdengar dan teriakan penuh permintaan tolong yang orang - orang ucapkan terdengar keras di telinga Adel.
"Kak Will !!!!"
Adel menyusuri jalanan di rumah sakit tanpa alas kaki. Adel terus mencari keberadaan William yang pergi tanpa dirinya. Tapi Ada yang aneh, Rumah Sakit itu tidak seperti rumah sakit. Lebih tepatnya tempat itu seperti daerah yang terkena gempa bumi. Banyak reruntuhan bangunan serta orang yang terluka sepanjang Adel lewat.
"Kak Will !!! Adel mulai takut disini.....Kak Will dimana?!!!" Teriak Adel lagi.
Hingga Akhirnya Adel sampai di depan pilar besar yang menghubungkan pintu rumah sakit dengan bangunan utama. Adel melihat William disana.
"Kak Will !!" Adel memeluk William seerat yang ia bisa.
Adel takut jika pelukan itu lepas, William akan hilang dari hadapannya. William tak membalas pelukan itu. Adel tak masalah asalkan William ada bersama nya.
"Lepaskan Aku Adel, Lepaskan lah aku" Ucap William.
Adel tak mengerti dan mengerutkan wajahnya. Adel tak ingin melepaskan William meski sedetik pun. William melepaskan tangan Adel yang memeluknya dengan erat. Dengan tangan dingin nya, William menghapus air mata Adel.
"Jangan terlalu lama bersedih, mulai sekarang aku tidak ada yang akan menghapus air mata ini, karena aku tidak bisa lagi menghapus nya"
"Tidak!! Tidak boleh!!! Aku tidak ingin melepaskan mu, ku mohon kak Will jangan lepaskan tangan mu dariku"
__ADS_1
William tersenyum sedih dan menggelengkan kepala nya.
"Maaf kan aku Adel, kau lah segala nya dalam hidup ku, maafkan aku telah mengingkari janji kita"
William perlahan - lahan menjauh dari Adel dan kabut tebal mulai memisahkan mereka.
"Lalu bagaimana aku bisa hidup????!!" Teriak Adel.
"Setidaknya tegar lah demi anak kita, demi aku yang akan selalu berdoa untukmu"
"Nyonya, nona muda baik - baik saja...."
Nissa marah sekali dan merasa bahwa dokter itu berkata tidak masuk akal. Sudah jelas - jelas Adel begitu menderita hingga pingsan bahkan sekarang mengigau dalam ketidak sasarannya.
"Mana nya yang baik - baik saja?!!! Kau sudah memeriksa anak ku dengan benar?!! Dia begitu kesakitan dan sedih seperti ini, mana nya yang baik - baik saja?"
"Tentu saja reaksi nona muda akan begini, di awal kehamilan pasti setiap ibu yang mengandung janin anak nya akan bereaksi seperti ini" Jawab sang dokter.
"Apa? Hamil? Siapa yang hamil?"
Nissa seperti mendengar kata hamil dari ucapan sang dokter. Nissa takut apa yang ia dengar salah dan begitu keliru untuk membedakan kata hamil dan Alim.
"Nona muda, anak anda telah hamil, janin nya kira - kira baru memasuki usia lima Minggu"
Ben dan Collin menutup mata mereka. Mereka tahu bahwa akan ada keributan besar nanti nya.
"Hamil? Adel hamil? Kau!! Pasti kau dokter gadungan!!" Nissa menarik kerah dokter itu dengan keras.
"Nyonya anda tidak sopan meragukan dokter seperti saya yang memiliki lisensi yang diakui dunia dengan perkataan itu!!"
Ben segera melerai Nissa dan menyuruh Nissa untuk tenang. Nissa melepaskan tangan Ben dengan keras dan menggoyang - goyangkan tubuh Adel agar Adel bangun.
"Bangun!! Adel bangun sekarang juga!! Jelaskan pada mama!! Apa maksudnya ini"
Dengan meminta maaf dan penuh kesopanan, Collin meminta sang dokter untuk pergi. Collin merasa akan terjadi perang besar setelah ini.
__ADS_1
"Nissa, jangan begini.....biarkan Adel istirahat dulu, kita dengarkan dulu penjelasan dari Adel"
"Ben!! Kamu tidak dengar apa yang dokter itu katakan?! Adel hamil !! Anak siapa yang ia kandung?!! Kenapa dia bisa hamil?? Kenapa ku bisa tenang saja??"
"Aku juga khawatir dan ingin tahu, tapi....kita harus mendengarkan dulu penjelasan dari Adel...Adel juga pasti sama menderita nya bahkan mungkin dia lebih merasakan sedih dibandingkan apa yang kita rasakan"
Nissa tak bisa membayangkan apa yang telah terjadi kepada Adel. Nissa merasa telah gagal jadi seorang ibu.
"Ben....Adel lahir tanpa seorang Ayah di hidup nya, tapi bersyukurlah dia memiliki kamu, tapi anak nya? Adel tahu bagaimana rasanya seorang anak tanpa ayah, bagaimana bisa ia melakukan hal ini padahal ia tahu bahwa anak akan jadi korban nya!!"
"Nissa....jangan berprasangka dulu, kamu tahu Adel keras kepala tapi dia tidak akan membuat keputusan tanpa memikirkan nya, pasti ada alasan kenapa dia melakukan hal ini"
"Entahlah, Aku hanya bisa kecewa...."
Nissa menangis dengan keras hingga tangisan nya itu berubah menjadi tangisan tanpa suara dan kini giliran Nissa yang tumbang. Dengan cepat Ben segera menangkap tubuh Nissa.
"Collin tolong ambilkan kotak obat dan kompres air hangat" Teriak Ben kepada Collin.
Dengan cepat Collin menyiapkan hal itu dan menuju ke kamar orang tuanya.
"Mama pasti syok sekali ya, kak Adel bagaimana pa?" Tanya Collin.
Ben meletakkan kompres di kepala Nissa.
"Kakak kamu masih belum sadarkan diri, Mama kamu....Haaahhh, dia sangat kecewa dengan semua ini"
"Ini semua salah ku, harusnya aku langsung membawa kak Adel pulang"
Ben mengelus kepala Collin dengan lembut. Ben tak menyangka bahwa anak nya sudah sedewasa ini. Collin begitu perhatian terhadap keluar nya.
"Ini bukan salah kamu Collin, semuanya berjalan semestinya jika memang itu pilihan yang ditakdirkan untuk kakak mu, Meski kakak mu memilih jalan yang salah"
"Tapi pa.... bagaimana dengan mama?"
"Kita akan membujuk mama dengan pelan, kamu tahu kan bagaimana mama kamu? Kita seperti nya butuh banyak tenaga untuk meluluhkan hati mama kamu"
-bersambung-
__ADS_1