CINTA KU MAFIA KU

CINTA KU MAFIA KU
EPISODE 36 - TOLONG


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....


.......


.......


.......


"Jangan Berharap"


Ucapan Leon itu membuat Adel berfikir bahwa bisa saja ia hanya berhalusinasi sesaat. Mungkin kerinduan nya yang membuat ia berhalusinasi dan berfikir bahwa itu mungkin saja William.


"Leon....ku mohon.....bantu aku menemukan nya, Aku sangat lelah menunggu nya tanpa ada harapan"


"Baiklah, tapi sekarang ayo kita pulang dulu, hujan nya semakin lebat"


"Leon!!" Adel menarik sedikit baju Leon dan mengepal nya dengan kuat dalam genggaman tangan nya.


Tubuh Adel bergetar menahan gejolak rasa yang terus ia tutupi dari orang lain.


"Ku mohon bantu aku menemukan nya, dia segala - gala nya bagiku....Aku tidak tahu bagaimana lagi harus bertahan" Isak Adel dengan tangisan nya.


"Papa mu saja tidak bisa menemukan nya bagaimana aku yang seorang dokter ini..... sudahlah! Kita bicarakan ini nanti"


"Aku sudah menunggu nya hampir empat tahun lama nya, tapi tak ada satupun berita atau informasi mengenai nya, Bagaimana aku harus mencari nya jika aku tidak tahu di mana dia berada....Aku...."


"Adel !! Kamu itu orang yang tegar!! bertahanlah sebentar lagi !! Dan pikirkan Justin, orang tua mu, adik - adik mu! Mereka pasti sedih melihat mu seperti ini"


Seolah dihantam tiba - tiba, Adel mulai jatuh dan tak sadar kan diri namun dengan cepat Leon segera menangkap tubuh Adel.


"Adel !! Adelaide !!"


.


.


.


"Tuan!! Nona Adel baru saja pulang" Teriak Bentley dengan buru - buru.


Seisi rumah segera ribut dan panik ketika melihat Adel yang di gendong Leon karena pingsan.


"Maaf tuan silver, saya membawa nya kesini tiba - tiba, karena saya tahu Justin disini makanya saya segera bawa Adel ke sini tanpa ke rumah sakit"


"Baiklah terimakasih" ucap Ben.

__ADS_1


Nissa kemudian memandangi Adel dengan khawatir dan beralih ke arah Leon.


"Leon, kenapa Adel bisa begini?" Tanya Nissa.


"Nyonya....saya tidak tahu apa boleh saya bicara begini, Adel tadi mendengar seseorang yang suaranya mirip dengan William"


"Apa?!!"


"Iya, dia meminta saya mencari orang itu, tapi kami tidak bisa menemukan nya karena disana ramai orang, mungkin karena gejolak perasaan nya, Adel jadi pingsan seperti ini"


"Kakak paling suka banget buat orang khawatir! Paman John aja hilang karena berusaha menemukan William sekarang kakak mau ikut - ikutan juga kayak paman John?!!"


Collin begitu kesal dengan kakak nya, karena terus saja berusaha berharap pada hal yang sia - sia, meski Collin berbicara begitu, Collin lah yang paling berusaha keras mencari William demi kakak nya.


"Jangan bicara begitu, kakak mu sedang sakit" tegur Ben.


"Tuan, Nyonya....kalau begitu saya pamit dulu, saya akan menemui kalian lagi nanti"


Leon berpamitan dengan sopan kemudian pergi.


"Aku tidak menyangka anak itu akan jadi sangat hebat seperti sekarang, dokter yang begitu terkenal dan menawan" Ucap Nissa kepada Ben.


"Iya, padahal dulu anak itulah yang membuat Adel berani berkelahi di sekolah"


"Dan sepertinya dia sangat menyukai Adel"


Nissa memandangi Ben dengan heran, sangat jarang Ben berkata hal seperti itu.


"Yang pasti Leon itu keluarga nya jelas dan punya silsilah yang bagus, bukan dari keluarga mafia, dan juga Adel nggak akan terlalu kesulitan mempunya mertua seperti orang tua Leon, karena yang kulihat kedua orang tua anak itu sudah sangat berubah banyak"


"Aku mengerti Ben, tapi semua tidak bisa kita kontrol, keluarga kamu juga bukan nya mafia ya?"


"Tapi keluarga ku kan mafia yang baik"


Mereka hanya bisa saling tertawa karena percakapan itu begitu lucu bagi mereka.


.


.


.


Esok nya......


"Ughhhh....."

__ADS_1


Adel membuka mata nya dan melihat sekeliling ruangan dan ia tahu di mana itu, sekarang dia berada di kamar nya, di kediaman silver. Selama ini Adel tinggal di kediaman Franois, namun setiap Adel kerja, Justin akan dikirim ke rumah Silver karena disana banyak yang akan menemani Justin.


"Kamu sudah sadar?" Tanya Nissa.


"Mama, kenapa Adel disini? Bagaimana Adel bisa disini? Pakaian ini kenapa bisa berganti"


"Semalam, Leon yang membawa mu pulang dan mengantarkan kamu ke sini, pakaian kamu mama yang ganti karena basah kena hujan"


"Oh....Justin! Dimana Justin??"


"Justin lagi bermain bersama Papa, kamu makan dulu sarapan ini, lihat wajah mu yang pucat itu! Kalau kamu nggak mau muka kamu jelek, habiskan makanan nya oke?"


"Baik"


Tak lama Adel makan, serangan lain datang dari Collin.


"Kak, kamu itu bodoh ya?" Ucap Collin saat membuka pintu kamar Adel.


"Apaan sih?"


"Udah tahu hujan tapi masih berusaha keras mencari orang yang belum tentu itu William"


"Diam! Kamu nggak tahu apa - apa!"


"Dimana kakak melihat nya?"


"Kenapa? mau marahin kakak lagi?"


"Bilang aja di mana Kakak melihat nya!!" Bentak Collin.


Adel yang terkejut dengan respon William segera memasang wajah serius.


"Di arah luar restoran, dia menuju ke stasiun bawah tanah"


Collin mengangguk dan pergi dari kamar Adel tanpa mengatakan sepatah kata pun. Adel tak mengerti sikap Collin sama sekali.


Adel kemudian memandangi beberapa hadiah, yang selalu ia pajang dalam lemari kamar nya. hadiah yang setiap tahun nya selalu William berikan padanya sejak ia kecil. Adel mulai merindukan aroma William dan kehangatan orang itu. Aroma dari hadiah - hadiah itu begitu mirip dengan William, namun Adel perlahan mulai lupa aroma William yang sebenarnya.


Aroma mu semakin pudar, yang ada di hadiah ini sekarang hanya lah aroma barang lama dan barang antik.....Will.....Aku begitu kesepian dan sangat merindukan mu, tidak kah kamu ingin melihat Justin tumbuh dewasa? Bukan kah kamu ingin menghabiskan banyak waktu bersama ku? Tapi kenapa kamu tidak kembali kepada ku?


Paman John yang menjadi satu - satu nya harapan bagi Adel, telah hilang cukup lama. Adel semakin tak tahu harus mencari William kemana, pikiran nya buntu sedangkan hati nya begitu merindukan William. Bahkan dalam tidur nya pun mimpi ia bertemu William menjadi sosok samar yang tak bisa ia lihat lagi wajah nya.


Untuk sekedar mengingatkan nya bahwa William pernah ada di sisi nya, Adel selalu memandangi foto mereka berdua dan menatap foto itu begitu lama, hingga akhirnya air mata Adel menetes ketika rasa rindu itu semakin besar dengan melihat foto yang ada.


Yang paling membuat Adel sedih adalah,wajah Justin yang sangat mirip dengan William, membuat nya semakin rindu akan keberadaan William.

__ADS_1


-bersambung-


__ADS_2