CINTA KU MAFIA KU

CINTA KU MAFIA KU
EPISODE 56 - LARI LEBIH CEPAT


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....


.............


.......


.......


Entah sejak kapan kaki nya berlari lebih cepat dari debaran hatinya. Apa ini karena ia sedang bahagia atau rasa penuh syukur yang menyelimuti dadanya. Leon berjalan secepat yang ia bisa. Ia berusaha untuk tidak berlari karena kode etik nya sebagai dokter yang harus mematuhi tata tertib di rumah sakit namun ia ingin segera sampai menuju dokter yang memeriksa Adel.


Brakkk.....dengan kasar Leon membuka pintu ruang kerja Dr. Freed....


"Fredd Ayo ikut aku sekarang!!"


Leon segera menarik tangan Dr. Freed


"Hey! mau kemana sih?!"


"Sudah ikut aja! Ini darurat!!"


"Kau tidak lihat aku sedang makan?!!"


Leon akhirnya melihat dengan jelas ke arah Dr. Freed, akhirnya ia tahu bahwa orang yang ia tarik tangannya sejak tadi masih memegang sendok di tangan kanan nya.


"Adel sudah bangun! Ku mohon periksa lah dia dulu" Ucap Leon dengan putus asa.


Dr. Freed menelan makanan nya dan meminum seteguk air dengan cepat.


"Adel wanita mu? Dia sudah bangun? Syukurlah sudah bangun, dosis obat yang diberikan kemarin sangat besar jika dia lebih lama lagi bangun nya bisa - bisa kita harus melihat kemungkinan terburuk nya"


"Karena itu lah Freed ku mohon, ayo ikut lah, kita periksa dulu Adel, aku tidak bisa memeriksa sembarangan pasien mu"


Sesama dokter harus bisa saling menghormati terutama masalah pasien yang mereka tangani. Dr. Freed pun melihat ke arah Leon dan memasang wajah yang begitu aneh.


"Aku akan memeriksa Adel mu tapi kau harus merapikan wajah dan rambut mu itu! Bagaimana kau bisa bertemu pasien dengan tampang seperti itu?!!"


"Aku sangat sibuk, Aku akan segera merapikan diri, kau segera periksa Adel ya!!"


Leon pun pergi untuk merapikan wajah dan rambut milik nya. Saat berada di toilet, Leon menyeka wajah nya dan memperhatikan noda hitam yang masih sedikit menempel di pipi nya. Kemudian Leon teringat ketika beberapa saat yang lalu jantung nya hampir berhenti berdetak karena melihat kondisi Adel. Karena ia seorang dokter, ia tahu apa yang terjadi jika Adel lebih lama lagi tidak bangun. Namun usahanya untuk berpura - pura tenang agar keluarga Adel tidak khawatir merupakan usaha yang layak karena Adel akhirnya bangun.


"Ya Tuhan Syukurlah...."

__ADS_1


Seolah bicara pada dirinya sendiri melalui cermin wastafel Leon terus mengucapkan banyak kalimat syukur.


"Aku hampir berdoa untuk menukar nyawaku demi wanita itu, Syukurlah dia bisa selamat, Aku.....tidak yakin apakah bisa melanjutkan hidupku tanpa nya"


.


.


.


"Adelaide?"


Dr. Freed pun masuk ke dalam ruang perawatan Adel.


"Dr."


"Silahkan baring saja dengan nyaman, Saya periksa sebentar ya" Ucap Dr. Freed.


"Semuanya normal meski terlihat masih sangat lemah, jika Anda sudah lebih pulih kita akan lanjutkan pemeriksaan lebih jauh ya, sekarang anda hanya perlu Istirahat dengan baik"


"Terimakasih dokter" Ucap Nissa sambil membungkuk.


"Pemeriksaan Apa?" Tanya Adel dengan suara lemah nya.


"Anda tidak tahu? Dr. Leon terkena ledakan dari mobil anda yang meledak itu, meskipun ia berhasil mengelak tubuhnya memar dan ada luka juga kemungkinan kepala nya terbentur jalan, jika luka di kepala nya sebesar itu harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut"


"Kenapa dia tidak mau diperiksa?! Apakah dia tahu itu sangat bahaya sekali untuk nya?!!!" nada dari suara Adel terdengar sangat marah meski sedikit lemah.


"Dr. Leon bilang akan memeriksa kan dirinya setelah anda bangun"


"Tapi dokter dimana letak luka nya? barusan Leon kesini tapi kami tidak melihatnya" Tanya Nissa kepada Dr. Freed.


"luka nya berada di kepala belakang tertutup daerah rambut jadi tidak bisa kita lihat dari depan"


Adel terlihat sangat marah meski harus menahan tubuh nya yang lemah dan terasa tidak nyaman itu.


"Saya akan pastikan dia memeriksa kan tubuh nya" Ucap Adel dengan pasti.


"Terimakasih banyak jika anda bisa melakukan nya, tapi anda tahu sendiri kan bahwa Leon sangat sulit untuk dibujuk"


Suara yang Adel tahu itu memanggil nama nya dengan keras.

__ADS_1


"Adell aku membawakan mu buah - buahan" Ucap Leon dengan senang.


"Dia belum boleh makan itu dulu, biarkan dia istirahat dulu lah! Kau ikut aku buat memeriksa kan tubuh mu"


Dr. Freed menarik tubuh Leon yang besar dengan satu tangan nya namun Leon berusaha melepaskan diri dari tarikan Dr.Freed


"Aku masih mau lihat Adel disini" Ucap Leon.


"Leon pergilah" ucap Adel


"Tapi...."


"Kesehatan mu lebih penting daripada aku"


"Tapi bagiku kamu lebih penting daripada diriku sendiri kenapa sulit sekali mengerti hal itu?!"


Karena kesal, Leon pun keluar dari ruangan perawatan Adel dan berjalan sambil menggerutu. Dr. Freed mengejar Leon dengan cepat.


"Kau kan yang bilang ke dia" Leon menatap dengan tajam ke arah Dr Freed.


"Aku hanya merasa kasihan padamu makanya cerita kondisi mu ke dia dan aku ingin kau juga istirahat, jika kondisimu baik dan sehat kau kan bisa menjaga nya lebih baik lagi"


Tidak ada jawaban dari Leon tapi dalam mata nya terdapat rasa kecewa yang besar karena keinginan nya itu adalah ingin menemani Adel dan memastikan wanita itu baik - baik saja dengan mata nya. Belum lagi muncul nya William yang tiba - tiba semakin membuat Leon khawatir bahwa ia akan dapat banyak cobaan kedepannya.


"Leon! Ayo periksa dulu luka mu itu!!"


Leon pun menuruti Dr. Freed meski kepala nya berisi banyak macam hal yang tak ingin ia bayangkan. Kemungkinan munculnya William adalah ingin kembali kepada Adel. Leon merasa bahwa kesempatan nya untuk bersama Adel akan semakin jauh karena hati wanita itu selalu milik William.


Dr. Freed membuka perban di bagian kepala belakang Leon. Darahnya masih keluar dan area luka nya masih terlihat lunak dan basah. melihat ukuran luka yang besar itu, mustahil orang normal tidak merasakan sakit sama sekali. Mungkin otak Leon tidak bekerja dengan normal karena terluka dengan parah.


"Apa sakit?"


"Tidak" Jawab Leon dengan singkat.


"Kau gila jika menahan nya! Jangan katakan kau cuma pura - pura tidak merasa sakit?! Kau gengsi kan?!"


"Tidak! sungguh tidak sakit kok"


"Aneh! luka besar begini mana mungkin tidak sakit !!"


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2