
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....
.............
.......
.......
.......
Adel sedang menikmati Latte milik nya. Pemandangan cafe yang berada tepat di tepi jalan membuat nya terbuai akan pemandangan itu. Butuh waktu berapa hari baginya untuk berhenti khawatir melepaskan kepergian William dan yang lainnya. Kini masih belum ada kabar sama sekali, namun Ibu nya terus berkata bahwa semua akan baik - baik saja. Bahkan jaman dulu, Ibu nya pernah di tinggal selama sebulan lama nya karena papa nya yang punya misi penting itu.
Adel memperhatikan kembali kaki nya, tanpa kursi roda, dirinya akan sangat sulit untuk berjalan. Syukurlah jarak cafe dan rumah nya tidak jauh jadi Adel bisa dengan leluasa pergi sendiri.
Sambil menunggu seseorang, Adel kembali mengecek Cake buatan nya. Cake Orange kesukaan orang itu. Hati nya berdebar menunggu kedatangan nya. Setelah lama menunggu akhirnya orang itu datang di hadapan Adel.
Tuk....tuk....tuk..... Kaca jendela di hadapan Adel diketuk nya dengan pelan. Dengan senyum nya yang paling cerah ia menghampiri Adel dengan senang.
"Sudah lama menunggu?"
"Tidak...Leon duduk lah" Jawab Adel dengan senyum.
Butuh banyak keberanian bagi Adel, dan kini Adel pun telah berusaha untuk bicara baik - baik agar tak melukai hati orang yang penting bagi nya.
"Mau minum apa? Ku kira hari ini kamu akan minum yang biasa nya kamu minum mungkin"
"Apa ya? Coba kamu yang pesan aja" Ucap Leon pasrah.
Adel pun memencet tombol di meja dan pelayan pun datang di hadapan mereka.
"Silahkan pesanan nya Nyonya" Ucap Pelayan itu.
__ADS_1
"Satu gelas, Capuccino Ice dengan toping Cheese Cream, Kamu udah makan?" Tanya Adel ke Leon.
"Belum, dari pagi jadwal ku penuh, pesan aja yang bisa mudah ku cerna"
Adel pun kembali menaruh perhatian nya kepada Pelayan itu dan melihat kembali menu nya.
"Kalau begitu dua porsi Beef steak Almond nya dan multi vitamin Jus nya dua gelas"
Pelayan itu mencatat dengan cepat. "Baiklah silahkan ditunggu pesanannya Nyonya! Tuan!"
Kedua nya langsung salah tingkah mendengar sebutan itu dari pelayan tersebut.
"Ehm....ini Cake buatan ku, Kamu bilang kepingin sekali makan cake ini kan?" Adel pun menyerahkan cake buatan nya kepada Leon.
Leon menerima nya dengan senyuman tapi ia tahu maksud kedatangan Adel kali ini bukan lah hanya sebatas ini saja. Dengan berat hati nya yang tahu bahwa kini perjuangan nya pasti harus berakhir, Leon pun memberanikan diri agar Adel tak merasa terbeban kan.
"Katakan saja Del, Aku kenal sekali dirimu, Jika sudah begini, Aku tahu kamu ingin bicarakan sesuatu kepada ku kan?"
Rasanya hati Adel sakit mendengar nada pasrah dari suara Leon, ia telah menghancurkan hati pria di hadapan nya ini.
"Kepala mu! Kenapa bisa di balut seperti itu?" Adel nampak sangat khawatir.
"Aku baru sadar setelah teman ku mengobati luka ku, ternyata sebesar ini, jahitan nya masih belum boleh di buka karena luka nya cukup dalam" Leon berusaha tertawa untuk mengurangi kecanggungan mereka.
"Kenapa kamu tidak bilang apa - apa? Kamu tahu kan aku khawatir sekali mengenai luka mu?"
Sesaat....sesaat saja Leon merasa bahwa dirinya sangat penting bagi Adel. Tapi ia tahu semua hanya ilusi belaka, Adel hanya mencintai pria itu dan selama nya akan seperti itu. Karena kebaikan Adel itu lah ia selalu salah paham dan terbuai akan ilusi yang ia rasakan.
"Tidak masalah, ini bukan luka yang parah"
"Tidak parah?! Tapi di perban seperti ini? Aku menunggu kabar mu sejak aku pulang dari rumah sakit, bahkan kamu tak mengantar kepulangan ku"
__ADS_1
Kadang Leon suka dengan sifat Adel namun terkadang ia juga muak akan hal itu. Adel membuat nya semakin berharap akan cinta dari wanita itu. Seolah Adel tak ingin ia menjauh dari nya.
"Aku berterima kasih kamu mengkhawatirkan ku, tapi itu tidak perlu" Jawab Leon dengan dingin.
Adel terlihat Syok dan ada raut sedih di wajah perempuan itu. Leon tak tega, demi Tuhan ia tak tega dan tak ingin membuat Adel sedih, namun ini harus ia lakukan agar cinta sepihak nya segera berakhir.
"Leon...jangan seperti ini padaku, Aku sungguh mencemaskan mu"
"Sebenarnya kenapa kamu mencemaskan ku? Buat Apa?! Toh kau tidak mencintai ku! Lepas kan aku ku mohon Adel.....biarkan aku mengatur perasaan ku"
Tiba - tiba saja Air mata Adel sembab di ujung mata nya. Leon melihat setitik air mata wajah wanita yang ia cintai itu.
"Leon....Aku memang jahat terhadap mu, Aku tidak tahu kenapa tapi Aku tak bisa melepaskan mu"
Leon terkejut mendengar ucapan Adel....
"Apa maksudnya itu?"
"Entah lah, Mungkin Aku sudah gila, Mungkin aku hanya terbiasa bersama mu, Aku bersumpah sudah membulatkan tekad ku untuk setia pada Will dan jadi Ibu yang baik bagi Justin, tapi...."
"Tapi apa?! Apa maksud ucapan mu ini?!"
"Tapi aku tidak mau kehilangan mu, Mungkin aku terbiasa akan kebaikan mu, cinta mu tapi sungguh aku sangat egois....Aku berfikir terus sejak Keluar nya aku dari rumah sakit....Aku...."
Adel dalam rasa bimbang yang luar biasa, di satu sisi ia masih mencintai Will dan ingin jadi wanita sekaligus ibu yang setia namun disisi lain setengah hati nya sudah diisi oleh Leon. Ia tahu akan menyakiti banyak pihak atas ego nya. Dan sungguh bukan maksud Adel untuk berbicara begini di hadapan Leon. Ia ingin mengakhiri semua nya dengan Leon. Namun ketika Adel melihat wajah sedih Leon, rasa sakit hati di mata nya, semua usaha Leon yang ingin menjauh dari nya. Hati Adel bimbang.
"Kau tahu sekarang aku sangat tidak mengerti dirimu, bagaimana bisa kamu membagi hati mu? Kamu seperti bukan Adel yang ku kenal"
Adel semakin menyakiti hati Leon.
"Aku tahu....Aku memang menyedihkan....Rasa ini ada begitu saja, karena aku terbiasa dengan semua perhatian mu padaku, Aku wanita yang sangat buruk"
__ADS_1
Air mata Adel tumpah, dirinya begitu malu di hadapan Leon dan juga rasa bersalah nya terhadap Will dan Justin.
-bersambung-