
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....
.......
.......
.......
"Menantu?"
Dengan wajah polos dan gembira nya, Leon terlihat begitu bangga dan berharap banyak dari ucapan Ben kepada nya.
"Kamu harus banyak melatih otot mu, masa kamu bisa terkena ledakan seperti ini, lihat saja wajah mu yang hitam itu"
"Hahaha....tapi ini sedikit menghibur, Cemas ku sedikit hilang ketika melihat wajah mu Leon"
Nissa baru bisa tersenyum dan sedikit rileks dengan kedatangan Leon yang heboh itu.
"Saya senang jika bisa menghibur nyonya" jawab Leon sopan.
Sejak tadi William begitu terpukul dan terkejut dengan ucapan Nissa dan Ben yang begitu menerima Leon dengan hangat.
Aku yang seorang pendosa ini mana bisa dibandingkan dengan Leon, Kurasa wajar saja Nyonya dan Tuan membenci ku yang seperti ini, begitu juga dengan Adel.....
"Oh! Ada kau rupanya! Sejak kapan kau pulang? Kenapa Adel tidak cerita..... Apakah....."
Leon yang sejak tadi tak melihat ada William sedikit terkejut ketika melihat seorang pria yang wajah nya mirip William itu. Tapi apapun alasan nya Leon yakin sekali bahwa itu adalah William. Mengingat William yang tiba - tiba muncul, Leon jadi teringat ketika Adel menangis di tengah jalan dan pindah dari rumah keluarga Leon tiba - tiba.
Entah kenapa Leon merasa bahwa Adel sudah tau keberadaan William dan lalu kenapa Adel begitu bersedih jika William sudah kembali?
"Apa barusan kau bilang Bom? Dimana Bom itu berasal?" Tanya William kepada Leon yang sejak tadi terus menatap nya dengan penuh tanya.
"Emmm saya...."
"Tidak perlu kamu jawab Leon" Ucap Ben dengan tegas. "Kamu tidak perlu menjawab pertanyaan orang itu"
"Apa?! Kenapa tidak boleh? Bukan kah orang ini adalah orang yang selalu Adel tunggu?"
Lagi - lagi Nissa tertawa melihat pertanyaan polos dari Leon.
"Kamu lebih baik membersihkan wajah mu dulu, bagaimana jika Adel melihat mu nanti, masa kamu mau memperlihatkan wajah ini kepada Adel?" Nissa berusaha mengalihkan perhatian Leon.
"Tidak bisa! Saya sangat khawatir, saya akan menunggu sampai teman saya selesai memeriksa Adel"
"Jadi dokter yang di dalam teman kamu?" Tanya Ben.
"Iya, dia dokter terbaik, karena itu nyonya dan tuan tidak perlu khawatir, Adel akan baik - baik saja, saya yakin"
__ADS_1
Ucapan Leon yang penuh dengan harapan itu, mengecilkan sedikit rasa kekhawatiran Nissa dana Ben. Bagaikan secercah harapan, mereka seperti menemukan kembali bahwa semua pasti akan baik - baik saja.
"Tuan, saya ingin bertanya....tapi mungkin ini akan sangat sensitif" Ucap Leon.
"Ya silahkan"
"Apa Adel pernah menyinggung seseorang? Atau Adel punya musuh barang kali?"
"Kami tidak tahu yang pasti, Aku punya banyak musuh, tetapi mereka tak akan mungkin berani melukai keluarga ku"
Leon semakin bingung, Apalagi Bom merek terbaru, dengan harga yang begitu tinggi dan kualitas yang bagus. Leon yakin bahwa semuanya dilakukan oleh orang yang punya kekuasaan tinggi ataupun orang yang punya uang sangat banyak.
Mafia?!!
Entah kenapa ketika Leon melihat wajah William, Leon teringat kata itu.
"Bisakah kau perlihatkan bentuk bom itu? Aku tidak akan mengganggu lebih lama, ku mohon biarkan aku melakukan sesuatu untuk melindungi Adel"
"Melindungi....!!!!"
Ben yang hampir emosi ditahan oleh Nissa untuk diam karena ini di rumah sakit. Tidak etis bertengkar disaat Adel masih dalam pemeriksaan.
Leon kemudian memeriksa handphone milik nya dan mencari sesuatu disana kemudian menyerahkan kepada William. Ben pun segera ikut bergabung.
"Ini foto yang saya ambil sebelum meledak nya mobil, yang pasti bukti sudah beres, kemungkinan saya harus mencari buatan mana Bom tersebut, saya akan meminta bantuan saudara kembar saya untuk menangani ini, karena dia ahli nya"
"Anda tahu?" Tanya Leon.
Semua mata tertuju kepada William dan menunggu jawaban dari William.
Karena perjanjian dan demi keselamatan banyak orang, Aku tidak bisa bicara banyak tapi aku yakin pemilik Bom itu adalah mereka.....namun siapa yang sudah berani memasang nya??
Raut emosi di wajah William terlihat jelas. Sedangkan semua orang menunggu jawaban dari William.
"Apa anda tidak akan berbagi informasi?" Tanya Leon kepada William.
"Ini....Saya tidak bisa menambah korban lebih banyak, tapi saya pastikan hal seperti ini tidak akan terulang lagi, Saya pamit dulu.....Tuan dan Nyonya saya akan kembali lagi ketika Adel sadar....Maafkan perbuatan saya selama ini, Saya pasti akan membalas orang yang melukai Adel"
"Jadi kau tahu sesuatu tapi tidak mau berbicara? Sebenarnya apa yang kau takutkan sampai tidak ingin membagi nya bersama kami?"
"Karena ini belum waktu nya, Saya permisi dulu"
Dengan memantapkan langkah nya, William berjalan dengan keyakinan dan amarah nya. William akan membalas mereka yang telah melukai wanita yang ia cintai melebihi nyawa nya sendiri itu.
Saat berjalan keluar William melihat Justin anak nya berjalan sambil terus terjatuh. Ketika Justin berdiri kembali dan hendak jatuh, William segera menangkap tubuh kecil Justin dengan sigap.
"Syukurlah"
__ADS_1
"Waaa...who are you?"
William terkejut ketika anak nya begitu fasih berbicara bahasa Inggris bukan nya bahasa Prancis.
"Hello Justin.....Kamu sangat mirip sekali ya dengan ku, Jauh dari di foto, Kamu lebih manis dan imut"
William memeluk anak nya yang selama ini tak boleh ia temui sama sekali. Air mata William jatuh dengan hangat sambil memeluk Justin.
"You craaay (Cry)?"
"No...I'm Fine"
Justin yang begitu lembut hatinya memeluk kembali William dan menepuk - nepuk kepala William dengan tangan nya yang kecil.
"Don't Craaay (Cry)"
"Yeaah I Don't Cry, See...."
William yang segera menghapus air mata nya menyuruh Justin melihat wajah nya dan Justin pun tertawa karena senyum William.
"Justin!! Justin!!"
Suara Collin yang memanggil Justin dengan khawatir terdengar keras.
"Aduhh Justin! Baru ditinggalkan sebentar langsung pergi begini, nggak bisa lengah banget deh"
Justin yang mendengar suara Collin segera bersembunyi di belakang William.
"Shuuuttt" Justin meminta William untuk tidak mengatakan keberadaan nya.
Melihat wajah anak nya itu rasa sakit di dada nya bertambah kuat.
Semuanya karena diriku? Anak ku tidak bisa hidup dengan keberadaan Ayah nya, kenapa? Apa benar semua salah ku? Keegoisan dan kebahagiaan yang ingi kuraih apa karena diriku? Jika keegoisan ku akan terus melukai Adel dan anak ku kedepannya aku harus bagaimana?
"Ketemu!! Dasar Justin!!! Aku lelah mencari mu sejak tadi"
Collin menatap William dengan sinis namun sebelum itu Collin menutup telinga Justin terlebih dahulu.
"Kenapa tidak ada penjelasan apapun darimu, jika selama ini kau baik - baik saja?" Tanya Collin.
"Aku tidak baik - baik saja!! Hidup ku seperti neraka!! Aku tidak ingin berbagi hal mengerikan itu bersama Adel dan anak ku!!"
"Aku tidak tahu seperti apa kondisi mu sampai kau begini, tapi yang pasti....Kakak ku bukan orang yang lemah. Setiap hari dan setiap saat dia selalu melindungi keluarga kami dan Justin dengan kemampuan nya"
"Aku mencintai Adel dan Justin makanya aku tidak baik - baik saja jika mereka harus menderita"
"Kakak ku telah banyak berlatih, bahkan menggunakan pistol dengan baik, karena kakak ku yakin kau akan pulang, dan saat kau pulang dalam keadaan yang butuh banyak bantuan, kakak ku ingin jadi istri yang siap dan bisa melindungi suami nya, Hanya satu yang kakak ku ingin kan, Yaitu berbagi bersama dan saling mencintai"
__ADS_1
-bersambung-