
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "ISTRI YANG TERABAIKAN" dan "PERTEMUAN"....
.............
.......
.......
.......
Adel perlahan berbalik dan melihat air mata itu tumpah membanjiri pipi William. Dengan sangat deras air mata itu jatuh begitu saja.
"Kenapa malah kamu yang menangis? Harus nya aku sebagai orang yang sakit, yang harus menangis kan?" Ucap Adel sambil bercanda.
"Aku terlalu malu untuk meminta mu bersama ku, semua kesalahanku aku tak mampu menceritakan nya padamu, Aku selalu ingin jadi pria terbaik bagimu"
"Will...." Nada lembut Adel menyapu telinga William.
Adel memegang wajah William dengan kedua tangan nya. Adel mengarah kan pandangan mata William untuk menatap wajah nya.
"Apa kamu sayang dengan ku dan Justin?"
William mengangguk dengan cepat.
"Apa kamu sungguh ingin Aku menjauh dari mu?"
William hanya menggeleng dengan cepat.
"Apa kamu sungguh tidak menjalin hubungan dengan Lianna, dan anak nya sungguh bukan anak mu? Kamu berani bersumpah?" Tanya Adel dengan serius.
"Aku bersumpah Adel, itu semua tidak benar"
"Apa kamu membunuh orang? Menyelundupkan narkoba? mungkin?"
"Haha tidak" Ada senyum kecil di wajah tampan itu.
"Lalu begitu cukup, kamu tidak perlu menceritakan nya jika tidak mau, jika semua yang kamu katakan benar maka semua nya sudah cukup"
William kembali menangis dan menyembunyikan tangisan nya dalam pelukan Adel. Tubuh nya gemetar dan merindukan Adel dengan sangat - sangat dalam.
"Adel jangan tinggal kan aku sayang, Aku bersalah tapi jangan tinggal kan aku, Aku tidak mampu hidup tanpa dirimu "
Adel membalas pelukan itu dengan erat dan mengatakan hal yang sama.
"Sejak dulu kan aku selalu mengatakan nya padamu, Hanya kamu satu - satu nya bagiku"
William melepaskan diri dari Adel dan mencoba menghapus air mata nya. Meski wajah nya kini kacau namun ada satu hal yang sudah lama ia tahan. Ia tahan cukup lama.
__ADS_1
"Boleh kah aku mencium mu?" Tanya William dengan lembut.
Satu anggukan dari Adel mendekat kan diri mereka. William menarik Adel mendekat ke arah nya. Ia memegang wajah Adel dengan lembut dan menarik nya mendekat ke arah bibir nya.
Perlahan dengan lembut dan pelan. Pertama ke area pipi nya, dagu, hidung nya lalu terakhir ke bibir nya. Ciuman itu begitu malu - malu dan lembut seringai bulu. Ada rasa cinta dan rindu yang menjadi satu dalam buaian itu.
.
.
.
Pagi nya....
Collin datang bersama Justin untuk menemani Adel. Sambil membawa makanan di kedua tangan nya dan gendongan yang melilitkan tubuh nya dengan Justin semua mata tertuju kepada nya.
"Wah anak anda lucu sekali" Ucap beberapa orang yang lewat.
"Ini keponakan ku tahu!!" Jawab Collin dengan kesal.
Pemikiran masyarakat memang aneh, Seolah setiap orang yang membawa anak kecil pasti di katakan anak nya. Padahal bisa saja itu adik nya, keponakan nya ataupun anak orang lain.
"Haaaah menyebalkan!"
Collin membuka pintu kamar Adel dengan cukup kuat dan melihat pemandangan yang luar biasa. Kakak nya tidur dalam pelukan William. Dan Collin bisa menduga bahwa mereka sudah berbaikan. Collin sudah mendengar semua nya dari papa nya tadi malam. Collin ingin memberikan satu kali saja kesempatan untuk William.
Collin meletakkan Justin dan memfoto kemesraan Adel dan William yang masih asik tidur.
"Ini Pa?" Tanya Justin dengan suara nya.
"Kamu tahu ini papa mu?"
Justin mengangguk.
Mungkin Adel sering menunjukkan foto William kepada Justin dan mengatakan ini papa mu. Itulah yang Collin pikirkan.
Justin meminta Collin untuk menaikkan nya di atas tempat tidur dan Collin pun melakukan nya.
"Cup" Kecupan singkat dari Collin untuk Adel.
"Moning Mama (Morning Mama)"
Karena Adel tak kunjung bangun maka Justin pun menghujani Adel dengan ciuman yang banyak.
"Hahaha Geli sayang, Justin!!" Adel pun langsung tahu bahwa itu ulah Justin meski kesadaran nya masih setengah saja.
"Papa too!" kini Justin menghujani William dengan ciuman pagi yang cerah.
__ADS_1
William pun langsung bangun dan melihat wajah kecil yang mirip dirinya itu di hadapan nya sambil tersenyum cerah.
"Moning Papa!"Ucap Justin.
"Artinya Morning Papa" Adel membantu menterjemahkan.
"Adel, dia kenal dengan ku? Adel dia menyebut ku papa! Ya Tuhan! Adel !! Justin kenal dengan ku"
Rasanya seolah hati nya penuh akan kebahagiaan ia langsung memeluk Justin dengan erat.
"Para pelayan di rumah sering menunjukkan foto kamu kepada Justin. Biasanya aku juga kerja para pelayan sering mengajarkan Justin kalau ketemu orang seperti yang di foto, Justin harus memanggil nya papa, Aku tidak bisa mencegah nya, karena aku sendiri sulit untuk menunjukkan foto mu kepada Justin"
William pun memandang wajah itu dengan seksama. Wajah yang mirip saat ia kecil dulu. Dari rambut hingga wajah nya, semua nya mirip dengan dirinya. Seperti cetakan asli dari dirinya.
"Justin!"
"Ya?" Jawab Justin dengan bingung.
"Justin"
"Ya?"
"Justin kan? Namamu Justin"
William kembali memeluk Justin dengan erat. Baru kali ini ia melihat dengan jelas dalam genggaman nya sendiri. Anak yang selalu ia perhatikan dari jauh tanpa pernah bisa menyentuh nya kini dapat ia peluk. William bisa mencium aroma bayi dan harum nya tubuh Justin.
"Justin sangat mirip dengan ku, Ya tuhan, terimakasih" William tak bisa berhenti bersyukur.
"Papa sangat senang bertemu Justin jadi sampai sedih begitu, kalau ada orang yang sedih kamu harus bagaimana?" Ucap Adel sambil bertanya kepada Justin.
Justin lalu memeluk kembali William dan menepuk - nepuk punggung William persis seperti yang kakek nya sering ajarkan kepada nya.
"Cup....Cup.....Okey....Okeyy....."
Meski sulit di mengerti tapi mereka semua tahu bahwa Justin sedang menghibur William yang sedih. Tepukan lembut dari Tangan kecil Justin membuat hati William menjadi hangat seolah sedang berjemur di tepian pantai.
"Apa kau baik - baik saja? Ku dengar kaki mu masih sulit digerakkan karena kecelakaan waktu itu?" Tanya Collin tiba - tiba.
"Benarkan? Kaki mu bermasalah? Apa sakit?" Tanya Adel panik.
"Tidak, hanya sulit untuk berlari dan jika terkena benturan. Biasa nya jika hujan akan lebih nyeri, maka nya aku selalu membawa tongkat ku kemana - mana untuk berjalan"
"Aku akan bergabung dalam misi itu" Ucap Collin.
"Apa? No! Collin kamu masih muda dan..."
"Misi ku disini melindungi kakak dan keponakan ku, Dengan cara dan kemampuan ku, Aku yakin menyerang markas mereka tidak akan semudah itu karena mereka pasti sudah menyiapkan semua nya lebih awal dari pada kita"
__ADS_1
-bersambung-