
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote,...
...hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel...
...ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan...
...judul...
..."PERTEMUAN"...
..."TAKDIR"...
..."ISTRI YANG TERABAIKAN"...
..."AKHIRNYA ISTRI KU PERGI"...
..."TANGISAN RANIA"...
...Tolong hargai penulis dengan menunjukan dukungan kalian....
.............
William dan Adel pun telah sampai di Hotel. Karena yang memesan kamar adalah William, ia perlu memeriksa data dan lain nya sehingga Justin pun berada dalam pelukan Adel.
"Sayang, Justin seperti nya lapar... apa masih lama? "
Adel mulai khawatir dan sedikit sakit kepala melihat Justin yang rewel karena lapar. William pun terlihat kebingungan dan menanyakan kepada Receptionist berapa lama pengecekan kamar mereka.
"Kata mereka sekitar setengah jam lagi, ku rasa Justin tidak bisa menunggu lebih lama lagi" ujar William.
Saat itulah, William melihat ruangan anak - anak yang memang disediakan Hotel untuk tempat bermain anak - anak yang menginap di hotel tersebut.
"Kamu istirahat dulu sama Justin disana, Aku akan menyusul kalau sudah selesai" William pun mengantar Adel ke arah ruangan anak - anak disusul oleh Lotte dan Collin.
"Papa pergi dulu ya sayang" William mengecup pipi Justin lalu ke pipi Adel.
Saat menunggu pemeriksaan kamar William melihat seorang wanita yang melirik ke arah nya dengan terang - terangan. Ia merasa tidak nyaman tapi pandangan wanita itu terus mengusik nya lantaran tak ada rasa malu dari wanita itu untuk terus menatap nya.
"Boleh saya cek lagi, apa benar anda memesan 3 kamar? " Tanya Receptionist itu.
"Benar" Jawab William.
"Bahasa Inggris yang bagus" Ucap wanita di sebelah nya itu dengan aksen british.
"Thanks" Jawab William singkat.
William hanya ingin mengakhiri percakapan mereka dengan segera.
"Saya minta maaf nona, kami tidak bisa memberikan informasi kamar pengunjung lain" Receptionist di meja sebelah berbicara pada wanita itu.
"Apa?! Aku juga menginap disini! dan lagian dia saudara ku!! Bagaimana mungkin aku tidak boleh tahu di kamar berapa dia menginap?!! "
Wanita itu meninggikan suara nya dan terlihat sangat marah.
"Kalau begitu anda bisa menelfon saudara anda"
"Sudah ku katakan aku tidak bisa menghubungi nya dan sekarang barang ku ada bersama nya!! "
__ADS_1
Suasana pun memanas dan hal itu menjadi pusat perhatian orang - orang yang berada di Lobby hotel.
"Maaf apa yang terjadi? " Tanya William kepada receptionist.
Receptionist itu pun menjelaskan bahwa wanita itu dan saudara nya berlibur dan menginap di hotel tersebut namun dengan kamar yang berbeda. Lalu sejak malam, saudara nya tidak bisa dihubungi padahal wanita tersebut memerlukan dompet nya yang dibawa oleh saudara nya itu.
"Maaf tuan gara - gara hal ini mungkin pengecekan anda akan tertunda" ujar receptionist itu dengan rasa bersalah.
"Berapa yang Anda perlukan? " Tanya William kepada wanita itu.
William tak bisa membuat Adel dan Justin menunggu lebih lama.
"Apa?! " Wanita itu terkejut.
"Berapa yang anda butuhkan? Kalau hanya uang akan saya berikan, saya tidak mau membuat orang lain semakin lelah mengantri termasuk saya"
William menunjuk ke arah antrian yang cukup panjang karena olah wanita itu.
"Saya butuh 1800 euro, ah tapi jika saudara saya kembali akan saya kembalikan"
William mengeluarkan uang nya dan memberikan uang itu kepada wanita itu.
"Akan saya kembali kan"
"Tidak perlu"
"Tapi saya tidak enak, anda bisa berikan no handphone anda atau no rekening anda? "
"Saya bilang tidak perlu"
William pun menghela nafas nya karena wanita itu tak gentar akan penolakan.
"Kalau gitu titip saja uang nya ke receptionist, untuk Mr. W, jika anda mengembalikan nya biar receptionist yang menghubungi saya"
Wanita itu terdiam dan mulai melangkah lebih jauh untuk membiarkan antrian di belakang nya maju. William pun mendapatkan kunci kamar nya lalu melewati wanita itu.
"Apa anda sungguh tidak bisa memberikan nomor kontak anda? " Tanya wanita itu.
"Maaf saya rasa kita tidak cukup mengenal untuk saling memberikan kontak satu sama lain"
Setelah William pergi, tanpa ia sadari Sapu tangan buatan Adel yang selalu ia bawa terjatuh di hadapan wanita itu. Sapu tangan dengan inisial rajutan berhuruf W.
"Aku akan mengembalikan ini untuk mu" Ucap wanita itu.
.
.
.
"Justin tertidur" Ucap Adel.
"Kalau gitu kita istirahat aja dulu, kalau Justin sudah bangun kita bisa jalan - jalan"
"Ah kak! Aku dan Lotte akan pergi jalan - jalan ya"ul ujar Collin.
Adel memasang wajah khawatir.
__ADS_1
"Apa kalian yakin bisa?"
"Tenang aja, uang ada handphone pun ada, apa yang mau di khawatir kan? "
"Kalau gitu pastikan handphone kalian aktif terus ya dan kabari kalau ada apa - apa"
Collin dan Lotte pun saling tersenyum karena tidak sabar untuk keliling kota.
"Collin! ini kunci kamar kamu dan Lotte, lebih baik kalian taruh koper dulu ke kamar baru pergi, dan ingat sebelum matahari tenggelam kalian harus pulang, kadang tempat begini suka nggak aman kalau malam" William memperingati kedua nya.
"Kak Will sekarang bawel nya sama kayak mama! Aku selalu diperlakukan kayak anak kecil tapi kalau di suruh - suruh baru dianggap udah besar"
William pun memeluk Collin sambil mengacaukan bentuk rambut nya.
"Kamu ini!! "
"Kak Will!! "
.
.
.
Di Kamar....
"Kak Will, tadi di lobby kayak nya ada keributan... emang ada masalah apa? "
"Orang nggak ada uang karena saudara nya yang pegang dompet dia, minta kasih tau nomor kamar tapi receptionist nggak mau kasih tau"
"Wah kasian tu orang bisa kelaparan malam ini dia"
"Aku udah kasih uang ke dia kok 1800 euro"
"Apa?! Banyak banget!! "
"Yah anggap aja sedekah"
"Tapi banyak banget lho nominal nya? Terus dia nggak mau balikin uang nya? "
William bingung dengan pertanyaan itu.
"Dia mau balikin terus minta no HP sama no rekening tapi nggak ku kasih biar aja dia titip ke Receptionist".
" Kenapa?! "
William pun mencubit pipi Adel dengan gemes dan hal itu membuat pipi putih Adel memerah karena bekas cubitan itu.
"Orang asing! Kita nggak boleh percaya sama orang asing begitu aja!! Lagian bukan kah lebih baik kalau lewat receptionist paling nggak orang itu nggak akan ganggu kita, kalau dia bayar kita dikabarin kalau nggak kita juga nggak ambil pusing"
"Bener tapi jumlah segitu banyak banget lho sayang.... "
"Nggak apa aku bawa uang yang cukup untuk kamu dan Justin, kamu dan Justin bisa makan dan belanja sepuas nya, kamu lupa kalau aku ini kaya?"
Adel hanya tertawa, Adel merasa bahwa tingkah William semakin hari makin mirip dengan Papa nya.
-bersambung-
__ADS_1