
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Terimakasih....
...*...
...*...
...*...
"Harta? Saat ini William belum ditemukan tubuhnya, jadi kita belum tahu keadaan William bagaimana!!" Jawab Adel dengan emosi.
"Siapa perempuan ini?! Berani sekali kau menjawab omongan ku?!! Dasar tidak tahu diri!!"
"Anda ibu nya kan? Sebagai ibu bagaimana bisa anda berkata begitu disaat kita belum tahu keberadaan William bagaimana!!"
Ros menatap tajam ke arah Adel bahkan menatap nya dengan tatapan mengejek.
"John siapa wanita ini? Kenapa berani sekali dia menjawab ku seperti ini?"
John hanya menutup mata nya dan menahan emosi nya untuk tidak turut andil dalam hal ini. Salah nya membiarkan Ros tahu keberadaan nya saat ini.
"Dia istri Willy, Adelaide Wijaya, dan harta itu....aku tidak bisa memberikan nya kepada mu, meski William meninggal pun, harta itu akan jatuh ke tangan Adel, karena ia sudah mengubah isi wasiat nya sebelum melakukan operasi"
Adelaide Wijaya.....Entah kenapa nama itu begitu tidak asing....Wijaya.... Wijaya.....Andhika Wijaya?
"Oh jadi kau anak nya Andhika? Melihat wajahmu ini, pasti kau anak Andhika dari Wanita itu, Anissa Dharma, hmmm menarik"
Senyuman mengejek dan tatapan tajam Ros membuat Collin merasa tidak nyaman.
"Aku tidak perduli bagaimana keadaan anak itu, jika kau tidak bisa memberikan warisan Will kepadaku, maka kembalikan kartu ku yang ditangguhkan!! Aku ingin ke kasino dengan teman - teman ku"
John semakin kesal namun ia masih bisa menahan emosi nya sedikit lagi.
"Itu juga tidak bisa, William menangguhkan kartu mu supaya kau bisa lebih baik menjalani hidup mu, Kau juga perlu persetujuan ahli waris William yang merupakan istri sah nya saat ini"
"Gila!! Gilaaaa!!"
Ros menghancurkan beberapa barang yang ada dalam kamar inap itu. Dengan keributan itu, semua perawat berlari ke kamar inap itu dan mencoba menghentikan perbuatan Ros itu.
"Cepat cairkan uang itu! Hey kau anak Andhika, jika kau mau terus seperti ini, baiklah...Apa kau tahu rahasia orang tua mu? Kenapa Andhika dan Nissa bisa bercerai, lalu anak siapa William sebenarnya, kau ingin tahu?"
"Cukup!! Jangan ganggu kami, kau akan menyesal jika berani menyentuh kakak ku! Aku akan pastikan kau kembali ke sel tahanan lagi!!" Bentak Collin.
Collin segera menggandeng tangan Adel dan membawa Adel keluar dari kamar inap itu. Collin segera membawa Adel pulang ke Paris secepat yang ia bisa.
"Collin, biarkan kakak disini lebih lama, kakak mohon padamu, lalu apa kamu tahu sesuatu? Kenapa kamu tidak membiarkan kakak mendengar Tante itu bicara?"
"Kak, aku sudah menyuruh orang untuk mencari William, disana juga ada paman John, lalu soal Tante itu....dia orang gila kakak nggak perlu bertemu nya lagi, jika melihat Tante itu, segera kabur atau hubungi aku, kakak paham?"
__ADS_1
"Baiklah"
Kakak akan terluka jika tahu yang sebenarnya, sampai saat nya tiba....yang bisa kulakukan hanyalah menyembunyikan rahasia itu rapat - rapat.
Esoknya.....
"Sayang, kamu udah bertemu Adel?" Tanya Nissa kepada Ben.
"Belum, mungkin dia masih tidur, biarkan saja dia tidur, Collin dan Adel baru pulang berapa jam yang lalu mungkin mereka masih lelah"
"Sebenarnya, kenapa mereka ke Swiss? William juga disana, sebenarnya apa yang terjadi?"
Ben tahu bahwa William disana untuk operasi, Ben tidak bisa memberitahukan Nissa sampai Adel sendiri yang akan bercerita. Tak lama kemudian, Adel pun turun untuk menemui papa dan mama nya.
.
.
.
.
.
.
"Masih berani kamu pulang?! Setelah membuat Collin keluar dari Asrama tanpa kabar! Dan juga kenapa dengan wajah itu?!! Kamu terlihat kurus dan pucat!! Sebenarnya apa yang kamu lakukan di Swiss Adelaide?!!!"
Ben tahu akan jadi seperti ini, makanya ia memilih untuk menyimpan rahasia Adel lebih lama.
"Ma, bisakah kita bicarakan ini nanti? Adel benar - benar lelah"
"Mama perlu tahu Adel, kenapa sampai papa kamu menutupi keberadaan kamu di Swiss, Papa dan Collin tidak akan pernah melakukan sesuatu tanpa alasan, Papa dan Collin cuma berkata mama harus dengar dari kamu"
Adel menatap ke arah Ben, Wajah sedih Ben dan senyuman yang dipaksakan. Belum pernah Adel melihat papa nya memasang wajah seperti itu kepada nya. Ia tahu bahwa pilihan yang ia buat telah menyakiti orang tua nya,dan sekarang mama nya belum tahu hal itu sama sekali.
"Baik ma, tapi kita bicarakan ini nanti ya"
"Baiklah, kalau begitu makan lah dulu"
Nissa menyiapkan roti bakar dan susu kehadapan Adel.
"Ma, Adel nggak lapar"
"Nggak lapar! Nggak lapar! Wajah kamu pucat begitu! Collin juga bilang kamu belum makan apapun selama perjalanan pulang, makan ini sedikit habis itu kamu istirahat lah"
__ADS_1
Adel pun mau tidak mau mengambil roti itu, namun roti itu anehnya membuat perutnya bergejolak hebat.
"Uuhhhbbbb" Adel menutup mulutnya dengan tangan.
"Kenapa? Apa kamu sakit? Mual?"
"Uhhhhbbbb" Gejolak dari perutnya kembali datang.
Gejolak terakhir tak bisa Adel tahan dan Adel berlari sekuat yang ia bisa menuju ke kamar mandi.
"A...apa itu barusan?" Nissa terlihat panik.
Ben berdiri dari duduk nya dan terlihat sangat - sangat marah. Nissa tak mengerti tapi Ben terlihat begitu marah dan mencoba untuk menahan nya.
"Panggil Collin sekarang" Ucap Ben.
"Kenapa? Kenapa memanggil Collin?"
"Panggil Collin sekarang juga!!!" Teriak Ben.
.
.
.
"Ueeekkkk" Adel tak bisa menahan mual nya.
Semua yang ia lihat seperti bergoyang, perut nya terus berkedut sejak tadi dan ia merasakan mual yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Nona muda, anda tidak apa - apa?" Tanya pelayan nya.
"Tolong ambilkan aku air hangat,Silvia"
"Baik nona"
Tok....tok....tok....
"Adel, kamu tidak apa - apa? Kamu baik - baik saja nak?" Nissa begitu khawatir sekali.
"Adel tidak apa - apa mama" Jawab Adel dari dalam kamar mandi.
"Bisakah kamu cerita apa yang telah terjadi? Papa kamu saat ini sangat marah besar, papa sedang menemui Collin dan terlihat sangat marah, ada apa sebenarnya?"
Adel membuka pintu kamar mandi dan keluar dengan wajah ketakutan.
"Ma, Adel akan cerita tapi sebelumnya mama harus janji, jangan salahkan siapa - siapa ya, ini semua salah Adel, marah lah sama Adel, jangan marahkan yang lain nya"
__ADS_1
-bersambung-