Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Keputusan Haya


__ADS_3

Selesai makan malam, pak Firman menanyai Niko. Bagaimana keputusan yang akan di ambil setelah pencerahan yang di beri oleh pak Ustad Malik, kemarin malam?


Bahkan Niko masih sangat ragu dan bimbang, akan mengambil keputusan tersebut. Tapi keinginan untuk tetap bersama dengan Haya begitu kuat. Niko benar-benar sedang berada di posisi sulit dan menyakitkan.


Dengan menghela nafas berat, Akhir nya Niko mengambil keputusan terberat yang harus di lalui nya dalam hidup.


Yakin dengan Haya dan menerima semua keputusan, itu lah yang Niko pilih Sekarang.


Semua kesalahan nya, karena sifat egois nya lah, kini Haya harus menerima keputusan ini.


Sakit, luka, dan derita itulah yang akan Haya terima, setelah kata terima Haya ucapkan kelak.


"Lalu selanjut nya, bagaimana rencana mu Nik?" Pak Firman menekan putra terkasih nya, agar segera mengambil keputusan. Kasihan Haya, memiliki status yang tergantung tidak jelas.


Bagaimana tidak tergantung, status pernikahan di kantor urusan Agama, di atas kertas Haya dan Niko jelas masih sah sebagai suami istri. Tapi nyata nya mereka bukan sepasang suami istri yang sah lagi secara Agama. Sungguh menyedihkan!


Orang tidak akan tahu, jika pernikahan mereka berdua batal atau sudah tidak sah lagi, hanya mereka dan Allah yang tahu. Dan Niko sendiri akan berjanji tidak akan memberi tahu siapapun juga.


Sampai kapan pun Niko akan memperjuangkan cinta Haya.


"Pilih lah keputusan yang tidak akan memberatkan hidup mu, dan hidup Haya," tegas pak Firman. Pak Firman sungguh menyerahkan, masalah ini kepada kedua pelaku yang akan menjalani biduk rumah tangga seperti apa yang mereka inginkan.


"Iya yah, Aku sudah mengambil keputusan, untuk memilih tetap bersatu dengan Haya. Walaupun Haya harus menikah dengan seorang pria dan harus bersama suami Muhallil, untuk beberapa waktu," Niko memejamkan mata, perih!


Rasa sakit mengubur Niko hidup-hidup. pria mana yang rela melihat orang yang di cintai menikah dengan pria lain.


"Tidak mas!" Pekik Haya spontan. Haya benar-benar tidak terima.


"Haya___" Bu Astri melirik ke arah Haya, dan mengedipkan mata, berharap Haya bisa bersikap tenang.


"Maafkan aku Bu. Tapi aku tidak bisa menerima keputusan ini," Haya menunduk kalem.


"Apapun keputusan mu Haya, aku akan tetap mempertahan kan pernikahan kita. Kamu harus menikah dengan lelaki Muhallil pilihan ku!" tekan Niko sekali lagi dengan tegas, penuh penekanan, layak nya persis sebuah paksaan.


"Aku tidak mau mas. Bagaimana mungkin aku akan menikah lagi, itu mustahil, kamu jangan gila, mas."

__ADS_1


"Haya dengar, ini demi kebaikan kita. Please menurut lah ini hanya sementara. Setelah semua berakhir, Kita akan hidup bahagia bersama lagi."


"Mas, aku enggak mau!" Haya meneteskan air mata, tanpa ampun.


"Haya, jangan terburu-buru. Ingat lah kamu sudah menjadi seorang Ibu nak. Pikir kan nasib dan masa depan Attar. Apa kamu mau Attar mengalami kurang kasih sayang dari kedua orang tua nya? Setiap anak korban perpisahan itu akan merasakan kesedihan, Attar butuh kamu dan Niko nak," Bu Astri.


"Tapi, Bu!" Haya menatap mata Bu Astri dalam. Bukan kah Bu Astri seorang perempuan, apakah Bu Astri tidak mengerti betapa sakit menjalani ini semua.


"Apa susah nya sih ya, ini hanya sementara. Setelah kamu menikah dan lelaki itu menggauli mu pada malam hari, pagi nya buat lelaki itu marah, hingga minta cerai dan setelah itu hubungan kita bisa kembali di sah kan, Haya. Aku akan langsung membangun Nikah, dengan mu?" Niko memelas sambil berkaca.


"Mas, mana mungkin aku bisa melakukan itu semua dengan lelaki lain, membayangkan nya saja aku tidak bisa?" lirih Haya begitu pilu.


"Karena itu aku mencintai dan mempertahan kan mu Haya. Aku tau kamu wanita yang baik, istri yang baik, kamu Ibu yang baik. Aku enggak mau kehilangan kamu Haya. akan ku pastikan kamu akan kembali ke pelukan ku lagi," Niko berusaha menyakinkan Haya dengan sepenuh hati.


"Mas____" Haya begitu bimbang.


"Aku mohon Haya, demi Attar dan aku?"Pinta Niko dengan memelas.


"Tapi___mas___" Haya mengusap air mata pilu. Kenapa jadi begini? bukan seperti ini yang Haya mau.


" Ya Allah___ aku takut mas. aku takut!" Haya mengusap air matanya lagi.


"Haya, maafkan aku? Kamu harus bisa Haya. kamu harus melakukan ini demi aku dan Attar. Demi keutuhan keluarga kita agar kembali Indah dan kita bisa kembali bersama mengukir bahagia."


"Haya, tidak ada pilihan lain. Bahkan semakin cepat kamu menikah dengan lelaki Muhallil maka kamu dan Niko akan semakin cepat bersama kembali. Ibu tau ini berat, namun ibu pikir, kamu wanita kuat jadi kamu pasti bisa nak!" tegas Bu Astri.


"Aku tau buk tapi___" Air mata Haya turun tanpa bisa di tahan lagi. Niko dan Bu Astri terus menyakinkan nya, sedang pak Firman hanya terdiam tanpa kata. Karena pak Firman menyerahkan semua pada Haya, apapun jawaban Haya, pak Firman akan menyetujuinya.


"Apa kamu ingin benar-benar berpisah, secara resmi Haya?" Pak Firman bersuara, memberi pilihan. pak Firman tidak ingin Haya tertekan.


Seketika Niko, Haya dan Bu Astri menoleh dan menatap pak Firman. Ucapan pak Firman nampak begitu tidak masuk di akal bagi Niko.


"Maksud ayah apa?" Bu Astri menjawab, tak suka.


"Ayah tidak akan memaksa dan memberatkan Haya Bu. Haya berhak memilih dan menentukan. Kita tidak punya hak memaksa nya untuk menikah dengan seorang Muhallil" tegas pak Firman.

__ADS_1


"Tapi yah___" Bu Astri menghentikan ucapan nya saat pak Firman menatap nyalang ke arah Bu Astri. Pak Firman tidak suka di bantah, setiap orang punya hak, begitupun dengan Haya.


"Yah, Niko enggak mau pisah dengan Haya, yah aku mohon?" Pinta Niko memohon, Niko berharap pak Firman mendukung nya.


"Semua keputusan ada di tangan Haya. Jika Haya mau, maka menikah dengan seorang lelaki Muhallil itu lebih baik, dan bisa mengembalikan pernikahan kalian yang rusak. Tapi___, Jika Haya tidak mau jangan di paksa.


Ayah akan mengajukan gugatan cerai untuk kalian, dan kalian bisa pisah secara resmi. Dan jika Haya memilih pisah dari mu Niko, kamu pun harus berbesar hati menerimanya Niko. Sebab itu salah mu yang tak bisa menjaga lisan, itu pelajaran bagi mu, untuk lebih berhati-hati dalam berkata," Tegas pak Firman.


"Ayah____" Lirih Niko merasa kecewa.


"Haya bagaimana, nak?" Pak Firman menatap Haya. Dapat di lihat wajah Haya yang sudah membengkak, apalagi di bagian mata Haya begitu kentara, akibat terus menerus menangis.


"Sudah lah jangan menangis terus, sayangi matamu." sekali lagi pak Firman tersenyum.


"Aku__, memang tidak mau benar-benar cerai dengan mas Niko yah. Tapi aku juga enggak bisa, jika harus menikah dengan pria lain. Tapi aku akan mencoba melakukan nya demi Attar, hanya demi Attar!" Tegas Haya lirih.


"Baik lah kalau begitu. Turuti kata Ayah untuk segera mencari dan mendapatkan seorang lelaki yang mau menjadi Muhallil mu," titah pak Firman serius.


"Kemana aku harus mencari nya, yah?" Tanya Niko gamang. Ada rasa takut dan khawatir yang menyelinap di sanubari Niko.


Takut Haya akan berubah pikiran, takut Haya akan di lukai, cemburu dan gelisah takut menyergap menjadi satu di hati Niko.


"Pilih lah lelaki yang baik, dan tidak mempunyai penyakit," titah sang Ayah.


"Haya___, Mau kah kamu menemani ku, mencari seorang lelaki yang akan menjadi suami Muhallil mu?" Ajak Niko hati-hati.


Tes__


Buliran bening kembali mengalir dari pelupuk mata Haya. Haya terdiam dan menatap mata Niko penuh arti.


Seperti sebuah permohonan, kenapa hidup bisa seperti ini? Ini begitu menyedihkan bagi Haya, terasa sakit____ sangat sakit.


Perih terluka bagai di robek-robek perasaan Haya saat ini.


Bagaimana kata "iya" akan terucap dari bibir Haya. Sedang hati Haya sendiri kacau tidak terkira. Sebuah keputusan besar harus di ambil nya. Siapa yang kuat dan sanggup jika harus menikah dengan seorang lelaki yang di pilih untuk menjadi perantara, agar hubungan pernikahan antara dirinya dan suami kembali Sah.

__ADS_1


__ADS_2