
"Haya_____, siapa perempuan di rumah mu tadi? tanya Evan begitu penasaran dan ingin tau.
"Oh dia, namanya Nahla, mas."
"Saudara kamu?" Evan begitu keppo. Terlihat dari wajahnya yang begitu menunjukkan gelagat ketertarikan pada Nahla.
"Hem____, Nahla adik keponakan mas Ahmad Faiz. jadi, otomatis saudaraku juga." Haya ragu mengucapkan kalimat itu. Tapi, demi kebaikan, Haya mengatakan kalimat itu jua.
"Masih single apa sudah punya suami?" Tanya Evan bak detektif cinta.
"Single mas. Kenapa, mas Evan naksir ya?" Tebak Haya, karena yang Haya lihat Evan begitu antusias ingin tau tentang Nahla. bahkan terlihat begitu menggebu-ngebu.
"Hehehe bisa saja kamu, Haya!" Evan tertawa malu.
"Ya bisa lah mas kenapa tidak. Nahla masih single, mas Evan juga single, jadi enggak ada yang salah dong. Manusiawi jika tertarik dengan lawan jenis. Kalau yang tertarik dengan sesama jenis itu baru aneh!"
"ih amit-amit____!" seru Evan cepat menimpali.
"Kira-kira menurutmu, Nahla itu orang nya gimana." Evan masih mencerca Haya dengan banyak pertanyaan.
"Baik sih____, cantik____,pinter masak lagi, dan yang paling utama, Nahla gadis yang selalu menjaga pandangan terhadap lawan jenis mas, gadis yang insyallah sholehah."
"Benarkah?" Sorot mata Evan begitu senang dan bahagia. Haya hanya menggeleng, apa kah kiranya seorang Evan jatuh hati.
Wajar dan normal namanya juga belum ada pasangan, kan.
"Boleh minta nomor handphone nya enggak?" Evan begitu terlihat lebih agresif rupanya.
"Maaf mas, kalau untuk masalah itu mas harus tanya sama Nahla langsung. Aku enggak berani, itu ranah nya sudah masuk kedalam privasi Nahla."
"Aku enggak berani Haya. Itu masalah pribadi sih, tapi melihat wajah Nahla, aku merasa gemetar. Biasanya aku mudah mendapatkan nomor cewek-cewek diluar sana. Tapi, dengan Nahla aku merasa berbeda." sambung Evan lagi dengan tegas. Evan seorang lelaki pemberani, bahkan menghadapi musuh sekalipun. Tapi, sekedar memandang wajah Nahla bisa membuat seorang Evan bergetar, hebat sekali Nahla.
"Itu Niko kan, ya?" Evan menunjuk seseorang yang sedang berdiri di depan sebuah toko mainan anak. Wajah tampan dan rapi, jika di lihat dari kejauhan seperti lelaki baik tanpa cela. Lelaki yang begitu mengagumkan. Bahkan Haya mampu dibuat bodoh karenanya, sebegitu cintakah Haya pada lelaki seperti Niko.
"Sepertinya iya, mas." Haya memperhatikan secara seksama dan benar itu adalah Niko. Niko sedang memilih mainan untuk Attar, begitu banyak Niko mengambil mainan yang di masukkan kedalam troli.
"Kenapa mas Niko tidak berangkat kerja, apa mas Niko sedang cuti?" Selidik Haya dalam hati. Kenapa aku memikirkan Attar, ada apa dengan anak ku?
"Tidakkah kamu mau menemui Niko, Haya?" Tanya Evan menghentikan laju mobil.
"Mungkin, bisa di bicarakan dengan baik-baik. kasihan Niko jika skandal dalam rumah tangganya mencuat ke publik." bujuk Evan pada Haya.
__ADS_1
"Mas Niko____, pasti tidak mau, mas." jelas Haya dengan nada lemah dan merasa tidak mungkin.
"Baik lah, kalo seperti itu." Evan melajukan mobil kembali.
******
Setelah menyelesaikan beberapa kebutuhan dokumen pengajuan. Evan segera mengantar Haya pulang, karena hari juga sudah siang.
Masih banyak tugas Evan, di tempat kerjanya.
Pun Haya sesungguhnya tidak enak, pergi berdua saja dengan Evan. Tapi, ini demi sebuah kepentingan.
"Makasih ya mas, sudah mau bantuin aku menyelesaikan beberapa berkas yang benar-benar aku butuhkan?" Terang Nahla.
"Iya sama-sama, Haya. Aku sendiri sebenarnya tidak begitu tertarik dengan masalah orang lain, tapi entah kenapa aku merasa miris saat melihat masalah mu dengan Niko." Evan duduk di atas mobil nya sendiri.
"Sekali lagi terimakasih ya, mas?"
Haya pun masuk kedalam rumah dengan kunci cadangan tanpa menawarkan Evan untuk masuk ke rumah.
"Haya___, kamu tidak menawari ku, untuk mampir ke rumah mu?" teriak Evan merasa di abaikan.
"Ohh mau mampir ya, mari silahkan masuk lah, mas?" balas Haya masih melanjutkan jalan menuju kamar mandi, tanpa menghiraukan Evan yang memang mencari perhatian Nahla.
Tak di duga Evan sungguh masuk kedalam rumah tersebut. Jujur saja, Evan sangat ingin mengobrol berdua dengan Nahla. Haya sendiri enggan untuk ikut bergabung dengan Evan maupun Nahla. mereka anak muda, wajar jika hanya sekedar mengobrol.
Namun terlihat jelas sekali, jika Nahla terlihat menghindar dan tidak menanggapi Evan. Jika di pikir-pikir Evan pria kaya dan punya pekerjaan yang bagus di kantor pemerintahan. Namun lihat lah, Nahla tidak tertarik akan hal itu semua.
Itu menunjukan jika Nahla memang perempuan yang baik. Nahla tidak haus akan harta dunia. Haya semakin meronta, melihat sifat Nahla yang begitu sempurna.
"Aku tau Nahla menyimpan rasa untuk mas Ahmad Faiz. sebegitu baik dan bijak Nahla menyimpan cinta nya untuk mas Ahmad Faiz." lirih Haya sambil terus mengaduk alpukat yang ada di tangan.
"Apa aku bisa melalui ini semua. Disaat aku mulai yakin akan belajar hidup bersama mas Ahmad Faiz. aku di hadapkan dengan kenyataan, bahwa ada perempuan lain yang teramat mencintai mas Faiz. Bahkan perempuan itu jauh lebih sempurna dibanding diriku."
"Aku dan perempuan itu sangat jauh kualitas nya. Ibarat buah, aku buah salak dan Nahla bagai buah persik. Dimana-mana juga bakal mahalan harga Nahla di banding aku," Haya masih terus membatin hal konyol yang ada di pikirannya saat itu.
Tring..
Ponsel Haya berdering.
"Bik Pina," Haya melihat pesan masuk di ponsel milik nya, lalu perlahan mengusap dan melihat pesan apa yang di kirim oleh bik Pina.
__ADS_1
Klik
Kunci telepon terbuka.
"Maaf kan saya, Bu?" tulis bik Pina.
Deg
Hati Haya terasa kalang kabut, apa kiranya yang membuat bik Pina mengatakan hal itu.
"Ada apa, bik?" Balas Haya begitu cemas.
"Ada kabar penting, Bu."
"Kabar tentang apa, bik?"
"Oh iya bik mulai hari ini jangan panggil saya ibu lagi ya bik. Saya sudah bukan majikan bibik lagi melainkan keponakan bibik. panggilan selayak nya saudara memanggil saudara yang lain nya saja, aku tidak mau di panggil ibu lagi, kecuali Attar yang memanggil ku, bik." Kirim...
"Baik, Haya." balas bibik dan di lanjut dengan pesan kedua.
"Hari ini, pak Niko mengantar saya dan Attar beserta Bu Astri menuju Singapura, untuk tinggal disana beberapa bulan, lamanya."
Deg..
Jantung Haya terasa lepas, raganya luruh ke lantai.
Terasa ada yang hilang dari diri Haya. benarkah demikian, kenapa bisa begini, Niko sudah mulai benar-benar berusaha memisahkan antara Haya dan Attar.
Itu tidak lah benar!
"Ya Allah____!" Air mata Haya meluruh tanpa bisa di bendung. apa yang bisa Haya lakukan sekarang, jika kekuatan uang sudah bicara? kita sebagai makhluk tak berpunya hanya bisa berusaha dan berdoa, maka kekuatan Allah lah yang akan bergerak.
Niko
Haya mencoba mencari nama dalam daftar kontak di ponsel nya. Haya menghubungi nomor ponsel mantan suaminya tersebut, untuk memastikan kenapa Niko sampai bisa berbuat sejauh ini, kepadanya.
Haya akan menanyakan kenapa Niko bisa Setega ini padanya. Kenapa Niko menjadi orang yang tidak bisa menjaga hati nya lagi, kenapa Niko berlaku curang?
Jika apa yang Haya lakukan, adalah sebuah kejahatan. maka bunuh lah dirinya, bukan menyiksanya seperti ini.
Ini tidak adil bagi Haya.
__ADS_1