
"bagaimana kalau hari ini, kita bersama mengunjungi Attar. Apakah dik Haya setuju?" Ahmad Faiz memberi usul.
"Apakah mas Zein yakin?" Haya begitu senang.
"Kenapa tidak. Hari ini mas libur, lagi pula mas enggak mau melihat dik Haya sedih."
"Terima kasih ya, mas, tapi____" Haya begitu antusias, hingga Haya lupa, pernikahan apa yang mereka jalani. Bagaimana jika kolega atau saudara Niko melihatnya berduaan dengan lelaki lain.
Ahmad Faiz mengangguk.
"Sekarang lebih baik dik Haya bersiap-siap, kita berangkat sekarang juga," dengan penuh kelembutan, sikap Ahmad Faiz mampu membuat Haya semakin terluka.
Haya pun begitu antusias dan segera mengambil tas di atas meja.
Dress berwarna merah maroon selutut dengan rambut yang terurai, membuat penampilan Haya kian memesona.
Lipstik berwarna nude tak lupa Haya poles kan pada bibir mungil nya, make up tipis Haya aplikasikan pada wajah nya yang memang sudah cantik sejak lahir.
Jika tas selalu di bawa kemana-mana, lalu bagaimana dengan baju-baju Haya. Sebelum datang kerumah Faiz, Haya dan Zein sudah terlebih mengambil beberapa pakaian milik Haya. Karena ada peran Niko disana
"Dik____!" Ahmad Faiz tertegun beberapa saat.
Dalam hati Haya ingin tertawa, bagaimana tidak, cara melihat ekspresi Ahmad Faiz yang begitu tegang dan terlihat sangat lucu. Apakah aku secantik ini, isi hati Haya memuji diri.
"Boleh tidak mas minta, di mulai hari ini jika keluar rumah, dik Haya harus membiasakan untuk menutup aurat. Mas tidak menyangkal dik Haya cantik sekali memakai dress ini, tapi mas pengen kecantikan dik Haya hanya untuk mas. Jangan biarkan lelaki lain tau betapa cantiknya istri mas ini."
Haya menatap Ahmad Faiz yang memberi sebuah nasehat. Nasehat yang lucu dan belum terpikir oleh pikiran Haya.
"Dik Haya tau jika seorang perempuan yang tidak menjaga aurat nya sebelum menikah, maka Ayah nya yang bertanggung jawab. Namun jika sudah menikah seperti kita ini, maka mas lah yang bertanggung jawab, dunia akhirat mu, dik."
"Bagaimana apa dik Haya setuju?" Tanya Ahmad Faiz dengan senyuman.
Haya masih diam, kenapa Ahmad Faiz ini banyak menekan nya untuk menutup aurat. Jujur saja Haya tidak sanggup, maksud nya Haya belum siap untuk saat ini.
"Tidak bisa nanti-nanti, atau lain waktu ya mas?"
"Menutup aurat itu kewajiban, setiap muslimah loh, dik!" Ahmad Faiz mencoba mencari jawaban dari cara Haya memandang.
"Mas, aku belum siap. Lihat lah akhlak ku, aku juga minim pengetahuan agama, aku masih canggung jika harus menutup aurat," keluh Haya merasa belum siap secara mental.
"Siap atau tidak siap harus belajar siap. Menutup aurat wajib bagi setiap muslimah, jangan di kait kan dengan akhlak, mereka berdua jelas berbeda, jangan menilai orang dari pakaian nya, yah terkadang ada yanh benar juga sih. Tapi lebih benar lagi, jika menjaga pakaian dan menjaga akhlak juga."
"Percuma kan mas, jika menjaga aurat tapi kelakuan masih buruk, masih suka hal-hal yang negatif dan tidak bisa menjaga lisan, hati juga masih kotor," Haya merasa belum pantas.
"Tidak ada yang percuma, menjaga aurat dan menutup nya itu kewajiban seorang muslimah. Sedang perilaku itu kan sudah masuk akhlak orang dik, jangan mengukur dari jilbab nya tapi dari hati dan niat. Pelan-pelan karena terbiasa, lisan juga bisa menjaga nya dari keburukan," Ahmad Faiz memegang dada nya sendiri.
"Aku belum siap mas, aku takut di tertawakan teman-teman aku?" Haya masih ngeyel.
"Malu sama teman, tapi enggak malu sama Allah!" Ahmad Faiz tersenyum, jawaban Haya masuk akal.
"Mas, jangan paksa aku, sekarang! Lain kali saja ya?" Pinta Haya.
"Dik, ini juga demi kebaikan mu. Enggak salah kan jika mas mengingatkan dik Haya dalam hal kebaikan? Apalagi sekarang kan kita suami istri, wajib hukum nya mengingatkan dan memberi nasehat. Apalagi istri sendiri, sebab seorang suami akan ikut menanggung dosa istri."
"Aku belum siap mas. Aku masih muda, nanti saja lah menutup aurat kalau sudah tua, ya?" Haya tersenyum senang. Pasti kali ini alasanya di benarkan.
"Apa dik Haya yakin.. bakal hidup sampai tua?" goda Ahmad Faiz memberi jawaban atas semua jawaban Haya.
"Ih mas nih apaan sih! Kok doa nya begitu."
"Hehehe___, Syarat mati enggak harus tua loh dik. Bisa yang muda bahkan bayi sekalipun."
__ADS_1
"Mas, jangan nakut-nakutin deh!"
"Mas enggak nakut-nakutin, hanya mengingatkan."
"Satu lagi semua kebaikan jika tidak di mulai dengan kata paksa. Kebiasaan baik tidak di coba, maka akan terasa berat dan malas, jadi mulai hari ini ayo di biasakan?"
"Ya sudah aku pakai baju panjang!" Haya memberengut dan mencoba mencari baju panjang.
Ahmad Faiz serasa ingin tertawa melihat sikap Haya yang begitu unik, bahkan saat marah sekalipun.
"Akan kah cinta dapat hadir secepat ini? Bukan kah seorang wanita Sholehah yang ku mimpikan, kenapa sekarang malah menikahi wanita demikian?" Ahmad Faiz kembali tersenyum.
Tidak lama kemudian, Haya keluar dengan celana panjang dan baju kemeja lengan panjang yang di lipat setengah siku. Lengkap dengan hijab yang hanya di lilit kan ke belakang. Jangan tanya gamis, tentu Haya tidak punya, jilbab pun pasmina pendek.
"Cantik!" Puji Ahmad Faiz. Namun Haya tidak berniat menanggapi, rasanya Haya belum percaya diri.
"Cantik banget istri mas ini." sekali lagi Ahmad Faiz memuji, sontak membuat Haya tersipu malu, dan mencebik merasa terhina.
"Jangan meledek please!" Seru Haya dan mampu membuat Ahmad Faiz tersenyum geli. Memang pakaian Haya perlu di benahi, dengan tidak menonjolkan area tertentu misalnya. Namun Ahmad Faiz tidak ingin langsung membabat habis mental Haya.
Islam itu indah dan mudah, tinggal bagaimana cara kita mengaplikasikan nya. Pelan-pelan pasti Haya akan mengerti, bagaimana cara menutup aurat yang seharusnya. Ahmad Faiz tidak ingin terkesan memaksa.
Akhirnya Haya mengikuti Ahmad Faiz keluar rumah.
"Mas kita naik motor?" Haya terlihat terkejut.
"Iya dong. Kan mas punya nya motor. Tinggal beli bensin bisa jalan deh, tapi motor tua, dik Haya tidak malu, kan?" Tanya Ahmad Faiz melihat Haya terkejut.
"Malu sih tidak, tapi kan panas. Nanti kalau hujan gimana?"
Ahmad Faiz terdiam dan menghela nafas berat.
"Dik, maaf, mas bukan enggak mau memakai mobil dik Haya. Tapi mas pengen memulai hidup dengan dik Haya itu benar-benar dari nol, mau kan dik Haya hidup bersama mas dan memulai nya dari awal?"
"Mas___!" Haya kembali ingat misi awal dirinya menikahi Ahmad Faiz dan Haya menunduk dalam. Haya berusaha untuk mengerti kondisi Ahmad Faiz.
"Mas tau, dik Haya tidak terbiasa. Namun mas mohon dan mas harap dik Haya mengerti ya? Mas sayang dik Haya, jadi mas harap dik Haya jangan memaksa mas untuk menggunakan hasil jerih payah dik Haya, mas tidak bisa."
"Mas, jangan bicara gitu dong!" Haya merasa tidak enak telah menyinggung perasaan Ahmad Faiz.
"Uang suami ada hak istri, sedang uang istri ya milik pribadi istri. Iya kalo istri benar-benar ridho lilahita'ala, lah kalo di ungkit-ungkit kan jadi ladang dosa buat, mas." Ahmad Faizmengusap lengan Haya.
Kini Haya yang menghela nafas kasar.
"okay mas, demi mas aku akan belajar memulai hidup yang baru, kita star dari nol!"
Haya membayangkan akan segera kembali pada Attar. Tak apa Haya harus bisa, hanya hidup sederhana, toh tidak akan mati juga kan.
"Sip__, Ayo naik?"
Haya pun membonceng di jok belakang motor Ahmad Faiz. Matanya menoleh ke segala arah, ternyata naik motor juga ada data tarik tersendiri, bisa menikmati hembusan angin dengan langsung.
"Rumah nya sebelah mana?" Ahmad Faiz mencari petunjuk dari Haya.
"Itu mas, kita berhenti disitu?" Haya menunjuk sebuah rumah yang tampak begitu megah.
Sebuah rumah bercat putih menjulang tinggi, besar, megah dan sangat modern. Ahmad Faiz keheranan. Yang Haya tunjuk ini benar atau salah.
"Ini rumah nya siapa, dik?"
"Mertua ku, mas."
__ADS_1
"Mertua___." Ahmad Faiz teperangah bukan main. Lihat lah, rumah mantan mertua Haya yang menjulang tinggi bak Istana. Lain dengan rumah kedua orang tua Ahmad Faiz di kampung. Sungguh sangat berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Mantan mertua maksud nya," Haya membenarkan ucapan nya yang dirasa kurang pas di dengar.
"Mari masuk Bu Haya?" Pak satpam yang berjaga di halaman rumah mempersilahkan Haya untuk masuk kedalam rumah megah tersebut.
Jujur di relung hati Ahmad Faiz ada keraguan dan kebimbangan. Bagaimana mungkin Ahmad Faiz punya muka untuk datang ke rumah megah ini? Bisa di pastikan mantan suami Haya adalah orang yang sangat kaya, mampu kah Ahmad Faiz menghadapi keluarga mantan.
Ahmad Faiz jadi berpikir, akan kah Haya mampu hidup sederhana bersama nya? Sedang jika di lihat dari pakaian dan apapun yang di pakai Haya semua terlihat ber merk.
Sanggupkah Haya bertahan hidup dalam kesederhanaan?
"Ibu____" Attar berlari memeluk Haya, dengan penuh dramatis. Haya memeluk dengan erat serta menghujani putra tampan nya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Atal angen ibu."
"Iya sayang, ibu tau. Ibu juga kangen Attar, apa Attar baik-baik saja, apa nya yang masih sakit?" Haya mengeratkan pelukan, sampai Bu Astri datang dan menyuruh Haya duduk.
Attar menggelengkan kepala, memeluk seolah tidak mau lepas.
"Mari Duduk lah, Haya?" Bu Astri menyuruh Haya dan Ahmad Faiz untuk duduk.
"Terimakasih, Bu."
"Mau minum apa biar bik Ijah buatin?" Seru Bu Astri menawari keduanya.
"Tidak Bu, terimakasih."
Haya masih memangku Attar sambil mengusap-usap punggung nya, rasanya tenang dan bahagia saat bisa memeluk Attar demikian.
Ahmad Faiz terkejut mendengar nama bik Ijah.., jadi bik Ijah adalah asisten rumah tangga mertua Haya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Hal apa yang sengaja Haya rahasiakan? Ahmad Faiz curiga sesuatu hal, Ahmad Faiz akan mencari tau tentang kejadian aneh ini.
"Ibu, bagaimana kabarnya?" Bik Pina yang baru saja datang dari membuat jus buah untuk Attar, merasa terkejut akan kedatangan Haya yang tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.
bukan... Lebih tepat nya bik Pina menyadari siapa lelaki di samping Haya.
Dag Dig dug.
Mungkin Haya tidak menyadari keberadaan Ahmad Faiz. Tapi hati bik Pina langsung memberontak tidak terima.
Perasaan Mak deg.. menyergap relung hati bik Pina.
"Bibik____!" Seru Ahmad Faiz dan langsung mencium punggung tangan bik Pina.
"Bibik kerja disini?" Tanya Ahmad Faiz tanpa sungkan.
"Iya Faiz. kamu____?" Bik Pina menghentikan kalimat nya. Ahmad Faiz bukan tipe lelaki yang suka main perempuan, bahkan hanya sekedar pacaran. Bik Pina tau itu, lalu apa yang sebenarnya terjadi?
Ahmad Faiz menangkap raut keterjutan di wajah bik Pina. Namun bik Pina dengan sekuat tenaga menahan emosi untuk tidak meledakkan nya di tempat itu jua.
Mata bik Pina berembun, dan itu membuat Ahmad Faiz merasa ada sesuatu hal yang mengganjal.
"Apakah bibik baik-baik saja?" Tanya Ahmad Faiz kahwatir.
Bik Pina mengangguk dan mengusap lengan Ahmad Faiz. "Bibik baik Faiz, sangat baik, majikan bibik memperlakikan bibik dengan sangat baik."
"Alhamdulillah___" Ahmad Faiz sangat bersyukur dan kembali duduk.
"Biar aku saja bik yang memberikan nya pada Attar?" Haya meminta dot dari tangan bik Pina dan segera memberikan pada Attar.
__ADS_1