
Ahmad Faiz menatap Haya yang sedang tertidur pulas.
"Kenapa kamu tidak bilang dik? Jika memang ada maksud terselubung. Kenapa ada niatan demikian, tanpa memberitau mas terlebih dahulu. Tapi Alhamdulillah Allah memberi bantuan, Allah mengirim bik Pina sebagai pengingat. Allah punya rencana yang lebih Indah di balik rencana mu, dik."
Ahmad Faiz mencoba meredam amarah dan emosi yang membuncah. Ada secerca harapan, Haya akan membatalkan niatan nya.
"Mas akan berusaha mempertahankan rumah tangga yang kau ingin kan dik. Mas akan menghadirkan kenyamanan hingga membuat mu lupa akan misi awal mu, dik." Ahmad Faiz membatin nyeri.
Merebahkan diri di kasur yang sama tanpa bersentuhan. Ahmad Faiz dan Haya adalah orang dewasa bukan anak kecil lagi, apalagi Ahmad Faiz sudah di tinggal lama oleh istri tercinta, sudah tentu Ahmad Faiz merindukan sentuhan itu, apalagi ini hubungan yang halal.
Rasa ingin menyentuh muncul sangat kuat, rasa hadir dalam hati yang mulai terikat oleh Cinta. Perasaan ingin mencuat luas muncul dalam hati, bukan mesum, bukan maksiat, ini halal tapi harus di pending terlebih dahulu.
"Aku kuat, kok!" Desis Ahmad Faiz menyemangati diri.
Ahmad Faiz lelaki dewasa. Bagaimana jika di sugguhkan pemandangan yang menciderai mata, tubuh yang hanya di balut baju tidur berbahan satin pendek dan menampilkan bentuk tubuh sang pemilik nya yang menonjol?
"Bagaimana aku bisa tahan, tentu aku bisa!" Ahmad Faiz pergi meninggalkan Haya yang tertidur, Ahmad Faiz pergi untuk tidur di kursi bambu di ruang tamu saja.
Ahamad Faiz bisa saja menahan keinginan, tapi takut setan dan teman-teman nya memporak porandakan tujuan dan niatan untuk berusaha mempertahankan pernikahan nya bersama Haya.
Ahmad Faiz tertidur saat angin malam mulai berhembus dan membuat pori-pori siapa pun bergidik sangking dingin nya.
Haya yang tidur dengan baju terbuka dan tidak menggunakan selimut pun terbangun dari lelap nya malam.
"Mas Faiz kemana?" Haya bangkit dari kasur untuk mencari keberadaan Ahmad Faiz.
"Rumah ini tanpa AC tapi kenapa bisa dingin banget sih, mungkin AC alami kali ya?" Haya bergumam dan mencari keberadaan Ahmad Faiz. Berjalan mencari-cari.
"Ngapain mas Ahamd Faiz tidur disitu?" Seorang lelaki tampan yang sedang tertidur pulas dengan meringkuk menahan dingin.
Haya memandang wajah yang meneduhkan tersebut, dengan seulas senyum dan dalam.
"Terkadang aku ingin jatuh cinta lagi. Merasakan kasmaran lagi, di cintai seseorang yang benar-benar tulus, seseorang yang akan menjaga ku dengan segenap jiwa raga. Tapi aku pikir itu hanya impian bodoh yang ku bangun," Haya masih duduk dengan menatap lelaki di depan nya.
"Aku tau suatu hari nanti, saat engkau tau pasti engkau akan terluka. Maafkan atas keegoisan ku, mas?" Lirih Haya dan mengusap air mata yang lolos dari pelupuk mata. Haya membenarkan selimut yang sudah turun di bawah, dan menyelimuti Ahmad Faiz yang meringkuk menahan dingin.
"Apa engkau merasakan keanehan padaku, sehingga kamu memilih tidur di luar, mas?" Haya menatap wajah Ahmad Faiz.
Drt....
Suara getaran ponsel mengangetkan Haya yang tengah melamun, tuh kan orang kalau lagi melamun dengar getaran ponsel saja sudah kalang kabut sangking terkejut, Haya sangat kaget.
Haya Sudah hendak lari, karena terkejut.
"Ponsel mas Faiz bergetar?" Haya meraih ponsel, dan jelas disana ada pesan masuk, Haya membuka nya.
Klik..
"Ih kok enggak di pakai in sandi sih! Gampang banget buka nya," Haya membuka pesan di ponsel Ahmad Faiz, sambil tersenyum. Jarang sekali orang jaman sekarang yang tidak memakai sandi untuk ponsel mereka. Semua serba privasi, bahkan untuk kode ponsel Niko saja, Haya tidak begitu paham.
"Jadi surat Ar rahman itu bagus artinya mas, dan aku mau Mahar surat Ar Rahman, saat nanti ada yang mengkhitbah ku," Nahla.
__ADS_1
"Nahla___, siapa dia?" Haya penasaran, dan membuka pesan Nahla sebelum nya.
Nahla
"Iya mas, enggak apa-apa, ibu yang suruh."
"Siapa sih?" Batin Haya penasaran, semakin penasaran Haya saat membuka Poto profil di nomor telepon Nahla.
"Menghadap ke belakang tak menampakkan wajah si pemilik nama Nahla ini?" Haya menaruh ponsel kembali di atas meja.
"Siapa Nahla? Apa jangan-jangan, Nahla ini___" Haya mengusap wajah.
Drt____
"Besok mas harus pulang, Ibu sakit!" Haya tidak membuka pesan di ponsel Ahmad Faiz. Haya hanya melihat notifikasi yang muncul di layar ponsel.
"Siapa sih perempuan ini, kayak akrab banget sama mas Faiz?" Haya hendak membalas namun tidak jadi. Ngapain repot-repot ngurusin hidup orang lain coba, toh Ahmad Faiz hanyalah suami Muhallil nya bukan!
"Aku lancang sekali, berani buka ponsel orang lain tanpa permisi," Haya membatin merasa bersalah lalu menaruh ponsel kembali.
"Is kebelet pipis lagi!"
Haya gegas pergi, dengan cepat masuk kedalam kamar mandi untuk buang air kecil, dengan santai Haya merenung di atas closet wc.
"terkadang hidup itu tidak sejalan dengan yang kita harapkan!"
"Mau di bawa kemana hubungan ini?" Keluh Haya sambil diam diatas closet.
"Arkh____" Pekik Haya saat pintu terbuka tiba-tiba dari luar sangking terkejut nya.
"Maaf, mas enggak tau dik Haya sedang di dalam?" Ahmad Faiz menahan senyum malu.
"Kan bisa di ketuk dulu!" Sinis Haya dari dalam.
"Kan mas sudah bilang, mas enggak tau kalau di dalam ada orang, ya maaf?"
"Huh____" Haya melengos pergi masuk kedalam kamar tanpa menoleh kebelakang. Haya tidak dapat menyembunyikan rasa malu dan sebal di dalam hati. Bagaimana bisa Haya sedang asyik buang air kecil tiba-tiba ada orang masuk.
"Memalukan!" Haya menyelimuti tubuh nya hingga tak terlihat.
*****
"Dik, bangun!" Sebuah tangan yang tidak lah halus mengusap pucuk kepalanya dengan begitu lembut.
Haya membuka mata perlahan, Haya tersentak dan langsung terduduk, ada seorang lelaki tersenyum kepadanya.
"Aada apa?" Cerca Haya spontan.
"Ibu memyuruh mas buat pulang ke rumah, dik Haya ikut ya?" Jelas Ahmad Faiz.
"Hah___" Haya bingung mau menjawab apa. Bukan seperti ini yang Haya mau. Jika Haya benar-benar masuk kedalam hidup Ahmad Faiz. Haya takut akan banyak hati yang di sakiti nanti nya, bahkan bukan tidak mungkin Haya akan menyakiti hati Ibu Ahmad Faiz.
__ADS_1
"Ibu sakit karena mas, dik." Lirih Ahmad Faiz, dengan raut wajah sedih.
"Apa karena pernikahan mendadak kita mas, benar begitu?" Tanya Haya tidak enak.
"Iya. Darah tinggi ibu kambuh dan sekarang lagi di rawat di puskesmas."
"Astaga kok bisa sampai begitu. Maafkan aku ya mas, semua salah ku?" Haya merasa menyesal.
"Astagfirullah dik jangan pakai kalimat astaga deh. Kok mas enggak suka dengar nya, ya? Biasakan Pakai kalimat yang lain nya saja ya, jangan astaga lagi!" Pinta ahmad Faiz.
Haya menoleh dan menatap Ahmad Faiz yang murung dan mengangguk paham.
"Baiklah, kita pergi ke rumah ibu mas sekarang juga!" Haya sengaja membuat Ahmad Faiz senang, itung-itung permohonan maaf dan rasa terimakasih karena kemarin sudah mengantarnya menemui Attar.
"Kita sholat subuh dulu dik. Baru setelah itu kita berangkat."
Haya menatap mata Ahmad Faiz malu. Kenapa bisa Haya malu, Haya tidak membawa mukena, kok bisa sih enggak bawa mukena? Haya kan sholat jika ada mau nya saja, jadi mukena milik Haya di simpan rapi di dalam lemari.
"Ayo___, Wudhu dulu. Mas sudah mandi sudah wudhu, tapi batal karena dik Haya pegang-pegang!" Ahmad Faiz tersenyum.
"Apaan sih! Tapi mas itu loh, itu?"
"Tapi kenapa?" Selidik Ahamd Faiz curiga. Apa Haya sedang mendapat tamu bulanan?
"Lupa enggak bawa mukena," Haya berkata dengan raut wajah malu dan menunduk sangking malu nya. Mencoba menyembunyikan wajah yang selalu pongah di depan para karyawan, terlihat bar-bar di hadapan kaum sosialita tapi Malu di depan Ahmad Faiz, sungguh tidak masuk akal.
"Kok bisa sih, seorang muslimah enggak bawa mukena saat bepergian. Apa jangan-jamgan dik Haya enggak pernah sholat ya?" Ahmad Faiz menebak asal.
"Ih ngomong apaan sih, ya enggak lah. Idih main nuduh aja."
"Syukur lah kalau enggak. Sebab holat itu kewajiban setiap muslim, dik. Kalau bisa jangan di tinggalkan, hidup hanya sementara. Masa iya, di dunia sudah hidup susah, di akhirat malah tambah susah. Hoh sungguh manusia yang paling rugi."
Haya mengangguk lalu menoleh.
"Mas ada nyimpam mukena?" Haya bertanya malu-malu.
"Buat apa, mas kan tinggal sendirian? Lagian Ibu juga belum pernah kesini, jadi mas enggak ada menyimpan mukenah. Tapi bukan kah waktu menikah kemarin, mas sudah memberikan mahar seperangkat alat sholat yah walau murah dan dadakan, sih!"
"Oh iya mas, aku lupa." bisik Haya dan gegas mengambil mukena dari dalam lemari dengan setengah berlari.
Ahmad Faiz menggelengkan kepala, lihat lah mukena rapi terlipat di dalam lemari, begitu bilang nya selalu sholat, dasar Haya.
Untuk pertama kali nya Haya melakukan sholat bersama seorang lelaki yang di sebut suami. Air mata Haya jatuh karena merasa terharu dan bahagia, karena inilah impian Haya saat masih gadis dulu.
"Ya Allah kenapa engkau mengirim kan mas Faiz, di saat seperti ini? Disaat waktu yang tidak tepat." Haya membatin saat Ahmad Faiz sedang berdoa dan Haya mengamini di belakang Ahmad Faiz.
"Loh kok malah menangis?" Ahmad Faiz yang sudah mengakhiri doa dan berbalik kebelakang melihat Haya yang menangis terisak. Sedang Haya sama sekali tidak menyadari Ahmad Faiz sudah menatap wajahnya.
"Dik___Kenapa?" Ahmad Faiz memeluk tubuh yang sejatinya ringkih dan rapuh.
Haya menggelengkan kepala, dan menghapus air mata yang terus membanjiri kedua pipinya.
__ADS_1
Ahmad Faiz mengusap lengan Haya dan memberi semangat untuk Haya agar tidak kembali menangis. Ahmad Faiz akan berusaha menenangkan hati Haya yang pilu dan sedih.