Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Keponakan bik Pina


__ADS_3

"Haya___" Bu Astri menepuk pundak Haya.


"Eh___, iya Bu!" jawab Haya terbata karena terkejut.


"Bagaimana, apakah kamu mau menemani Niko mencari seorang lelaki yang mau menjadi suami Muhallil mu?" tanya Bu Astri begitu tenang.


"Haya, jika kamu ragu maka urung kan niat mu nak? Ayah tidak memaksa kan kehendak Niko. Ayah akan menyetujui apapun keputusan mu, termasuk jika kamu memilih untuk berpisah, dan tidak ingin mempertahan kan rumah tangga mu lagi dengan Niko." pak Firman menyakinkan keputusan apa yang Haya pilih, adalah keputusan yang terbaik.


"Jujur aku takut, yah!" lirih Haya.


"Apa yang kamu takut kan, nak?" Pak Firman mencari jawaban atas ketakutan apa yang di cemas kan oleh Haya.


"Aku takut jika lelaki yang akan kita pilih, lelaki Jahat yah. Bagaimana mungkin aku bisa hidup, dengan lelaki yang tidak ku cintai, yah? walaupun itu hanya sementara, tapi keraguan ku begitu kuat, yah. Bagaimana kalau laki-laki itu menyakiti ku?"


"Haya kita tidak akan memilih lelaki secara random. Kita akan benar-benar memastikan lelaki itu baik untuk menjadi lelaki Muhallil mu. Tenangkan lah diri dan hatimu nak, Ayah tidak akan membiarkan mu tersakiti lagi."


"Tapi aku takut menyakiti nya, yah. Aku takut lelaki itu akan kecewa dan terluka nanti nya. Aku takut lelaki itu akan marah saat tau, jika dirinya hanya di jadikan perantara suatu hubungan, yah. Apakah aku bisa melalui itu semua, yah. Sedang aku akan menghancurkan hidup orang itu, yah?"


"Hey___kita tidak akan merugikan lelaki itu, Haya. kita akan membayar nya," seru Niko.


Haya menoleh ke arah Niko. Membayar sebuah drama apalagi ini? Ya Allah hati Haya benar-benar sakit, saat mendengar dengan mudah Niko mengatakan begitu mudah dengan kata bayar. Apakah di pikiran Niko, semua nya bisa di beli dengan uang dan harta, tega sekali Niko.


"Kenapa ya, apa kamu pikir jaman sekarang ini masih ada orang yang mau membantu kita tanpa imbalan. Siapa sih manusia yang akan menolak jika di hadap kan dengan uang."


"Aku nurut saja," balas Haya cepat.


Bagi Haya Percuma jika menyangkal dan menjawab, pasti ucapan Niko enggak mau salah dan selalu benar. Memang itu yang Niko mau selalu merasa benar.


"Terimakasih, Haya." Niko begitu bahagia.


"Ayah apakah Ayah punya kenalan lelaki baik dan sehat, yang akan di nikah kan dengan Haya, yah? Karena aku enggak mau, pernikahan Muhallil yang akan di lakukan Haya terungkap ke publik itu bisa menjatuhkan reputasi ku, yah."


"Nanti Ayah akan coba cari. Tapi kamu tau, teman Ayah rata-rata orang high class. Apa kamu pikir mereka akan mau menjadi suami Muhallil untuk mu dan Haya. Ayah takut mereka menjadikan semua ini sebagai ajang pemerasan. Ayah tidak yakin."


"Ibu punya Ide," seru Bu Astri.


Niko dan sang Ayah menoleh ke arah Bu Astri. Haya tidak bergeming, dengan siapa pun nanti nya dia akan menikah, tidak lah mengubah rasa pedih tersebut.


"Apa kira nya Ide, ibu?" Niko terlihat sangat antusias.

__ADS_1


"Kita cari orang di bawah rata-rata kita saja. toh, kita hanya butuh pernikahan itu sementara kan. Jadi jangan mempersulit keadaan, dia punya apa untuk melawan kita?"


"Tapi siapa, Bu?" Niko meminta jawaban.


"Tunggu sebentar!" Bu Astri pergi dengan setengah berlari.


Hening____


Tap____tap______


"Attar, Hay sayang." pak Firman mengambil Attar dari genggaman tangan bik Pina, dan menggendong nya menuju balkon depan.


"Duduk, bik?", titah Bu Astri sambil mendudukkan bokong di sofa dekat pak Firman yang sudah berdiri di balkon.


"Terima kasih, bu." bik Pina duduk di tepi sofa.


"Bik, ada sesuatu hal yang ingin kami tanyakan sama bibik?" Bu Astri terlihat serius.


"Silahkan kan nyonya. Apa kah kira nya salah yang pernah saya lakukan nyonya?" Bik Pina merasa dirinya akan di interogasi atas suatu kesalahan.


"Tidak ada bik. Jangan tegang gitu dong! santai saja," Bu Astri melempar senyum sumringah.


Bik Pina pun tersenyum lega, sungguh bik Pina takut melakukan kesalahan hingga membuat keluarga besar Syah menjadi marah pada nya.


"Anak laki-laki." bik Pina merasa terkejut atas pertanyaan Bu Astri. pertanyaan macam apa ini?


"Iya, anak lakk-laki apa saudara laki-laki juga boleh," kali ini Bu Astri terlihat begitu berharap mendapat jawaban yang membuat hatinya lega.


"Jika anak ada nyonya, tapi masih sekolah. Jika keponakan saya juga punya, nyonya."


"Sekolah kelas berapa? Lalu Keponakan mu itu masih sekolah juga kah?" tanya Bu Astri.


Bik Pina mengernyitkan kening dan menatap Bu Astri penuh selidik dan seribu pertanyaan. kenapa tiba-tiba bertanya demikian?


"Bik, bagaimana kok diam saja!" kali ini Niko yang bersuara, rasa tak sabar menyergap pikiran Niko.


"Anak saya masih berusia hampir sepuluh tahun nyonya. Dan Keponakan saya itu bekerja di kota ini juga nyonya, bekerja di salah satu perusahaan Asing katanya."


"Jadi anak bik Pina masih kecil ya? Lalu keponakan bik Pina itu bagaimana perangai nya?" Tanya Bu Astri lagi. dan pertanyaan Bu Astri membuat bik Pina bertanya-tanya.

__ADS_1


"keponakan saya itu orang nya insyallah baik, nya." bik Pina sedikit bingung dengan pertanyaan keluarga Syah, pertanyaan macam apa ini?


Namun Bik Pina tak berburuk sangka. Bik Pina pikir mungkin saja jika keluarga Syah tersebut akan memberikan pekerjaan yang bagus pada keponakan nya, mudah-mudahan saja begitu adanya.


"Apakah keponakan bibik sudah punya pacar atau kekasih?" Niko langsung mengajukan pertanyaan yang begitu sensitif.


"Semenjak istri nya meninggal karena kecelakaan lima tahun silam, saya sebagai bibik tidak tau masalah pribadi nya, pak."


"Huh___" Niko menghembuskan napas kasar, rumit dan sulit, tapi ini malah lebih mudah seorang duda, kere pula.


"Terimakasih bik. Bibik boleh kembali bekerja. oh iya boleh bagi nomor keponakan bibik?" Niko kembali mengajukan permintaan.


"Maaf tapi buat apa, pak?" Bik Pina heran dengan perkataan Niko, tidak biasanya Niko bersikap begitu.


"Ya buat di simpan lah bik. Sebab di kantor kayak masih ada lowongan, jadi siapa tau cocok kan lumayan bik. Gajih nya lumayan besar dengan posisi yang menjajikan."


"Bo___Leh, pak." bik Pina sumringah.


"Ingat jangan katakan pada keponakan bibik, apapun itu. Keponakan bibik tidak boleh tau, jika suatu hari ada yang menelpon nya, sebab aku tidak mau keponakan bibik merasa mendapat pekerjaan karena promosi dari bibik?" Tegas Niko.


"Baik, pak." dengan mudah nya bik Pina, percaya begitu saja.


"Berapa nomor nya?"


"Ini, pak," bik Pina menyodorkan sebuah nomor telepon dan dengan cepat Niko menyimpan nomor tersebut.


"Ini ada sedikit uang untuk anak bibik yang masih sekolah. Buat biaya pendidikan nya," Niko menyodorkan amplop coklat lumayan tebal


"Tapi, pak?" bik Pina ragu menerima pemberian Niko.


"Rejeki jangan di tolak! Itu buat biaya pendidikan anak bibik," seru Bu Astri dengan sebuah senyum. Bik Pina begitu senang, ini bonus atas pekerjaan, begitu batin bik Pina.


"Terimakasih pak, terimakasih nyonya, terimakasih buk?" Haya tersenyum saat bik Pina menatap dan mengatakan ungkapan terimakasih, hati Haya terasa nyeri, permainan akan segera di mulai.


Bik Pina kembali bekerja, dengan perasaan penasaran dan gelisah, bik Pina takut, cemas dan bimbang.


Kenapa bisa begitu? karena bik Pina tidak tau maksud dan tujuan apa yang akan keluarga Syah lakukan pada keponakan nya tersebut. Apalagi keluarga Syah, langsung memberi bik Pina uang, dan tidak sedikit jumlah yang di berikan.


Bik Pina menjaga Attar sangat tidak pokus, tapi tidak apa-apa bik Pina tau dan paham, jika keluarga Syah bukan orang jahat.

__ADS_1


Siapa tau benar jika keponakan nya, akan di promosikan di perusahaan milik pak Firman, atau akan di pindahkan di perusahaan tempat Niko bekerja kan lumayan sekali.


Berpikir yang baik-baik, insyaallah yang datang pun yang paling baik, itulah kata mutiara yang di pilih bik Pina.


__ADS_2