
"Hello Ibu___" Senyum Attar menghiasa layar ponsel Haya.
"Hey Attar sayang. Attar lagi ngapain nak?" Haya melakukan video Call dengan Attar untuk melepas rindu yang kian mengikat dan membelenggu.
"Mainan Bu, ibu au mana?" Tanya Attar dengan senyum yang terus mengembang.
"Ibu mau ke supermarket , mau beli belanjaan sayang." Haya berkata dusta.
"Attar sudah sarapan belum sayang?" Tanya Haya dengan sumringah.
"Dah dong, Bu."
"Anak pinter, ibu sayang Attar."
"Atal uga ayang ibu," senyum Attar mengembang dan menghiasai layar ponsel Haya yang mendung seketika menjadi cerah dan berwarna terang.
Attar begitu nampak riang saat mendengar dan melakukan video call dengan Haya. Hati Haya kian sakit saat Niko begitu keras melarang Haya untuk tidak menemui Attar. Sampai Haya bisa benar-benar bercerai dari Ahmad Faiz. Bahkan sampai detik ini, Ahmad Faiz belum menyentuhnya.
Tempo hari Haya mengajak Ahmad Faiz untuk berkunjung kerumah sang mertua yang tak lain adalah orang tua Niko. Dan apa yang terjadi? Niko marah besar dan mengancam akan membawa Attar ke luar negeri jika Haya melakukan hal itu kembali.
Niko dengan lantang mengucapkan tidak rela jika Ahmad Faiz dekat dengan Attar. Haya serba dilema, bukan tidak mau segera mengakhiri, namun Ahmad Faiz belum mau menyentuh nya hingga kini. Lalu bagaimana mungkin Haya bisa minta cerai dari Ahmad Faiz, selain itu Haya merasa berdosa dan bersalah saat melihat wajah meneduhkan milik Ahmad Faiz.
Sebuah mobil merk xxx membawa Haya dan Ahmad Faiz menuju di tempat orang tua Ahmad Faiz tinggal. Mobil yang mereka tumpangi adalah mobil travel bukan mobil Haya.
Ahmad Faiz menolak saat Haya menawarkan mobil milik nya. Ahmad Faiz selalu berkata.
"Biarkan aku mengajari mu, tentang cinta dengan kesederhanaan."
Haya tersenyum tipis saat mengingat kalimat tersebut. Seorang lelaki pendiam seperti Ahmad Faiz bisa berkata demikian untuk menggoda Hati Haya, sungguh lucu!
Perjalanan tidak begitu jauh namun terasa begitu cepat. Aneh kan, karena tidak jauh makanya cepat.
"Turun lah, kita sudah sampai," bisik Ahmad Faiz di tepat di telinga Haya.
Haya membenari posisi duduk nya dan menengok ke samping, sebuah rumah mungil nan asri berdiri tegak disana.
"Sudah sampai, ya?" Tanya Haya. Ahmad Faiz mengangguk.
"Ayo____! " Ahmad Faiz memegang tangan Haya untuk segera turun dari mobil. Tidak banyak bawaan yang mereka bawa, hanya beberapa stel pakaian dan beberapa kantong plastik camilan.
Haya mengekori Ahmad Faiz di belakang nya. Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, Haya memandang sebuah pohon belimbing yang sangat lebat buah nya.
"Kenapa, apa dik Haya suka buah belimbing?" Tanya Ahmad Faiz menyadari Haya memandang buah belimbing.
"Iya mas. Aku suka buah belimbing. Manis enggak buah belimbing itu?" Haya menunjuk buah yang menggantung dan menggoda di atas pohon berwarna kuning segar.
"Manis dong, tapi____ Lebih manis senyum dik Haya," Ahmad Faiz malu-malu sambil berlalu. Haya pun tak kalah merasa tersipu oleh godaan yang di ucapkan Ahmad Faiz barusan, pipinya memerah karena merona menahan malu.
Tok___tok___
"Assalamualaikum____?" Salam Ahmad Faiz sambil mengetuk pintu.
"Walaikum salam" seorang wanita cantik berjilbab panjang membuka pintu dengan senyum yang cerah dan lebar.
"Masuk mas, mba. Ibu ada di dalam," titah nya dengan segera membantu barang bawaan Ahmad Faiz dan Haya yang tidak seberapa itu.
"Tidak usah mba. Biar aku saja!" Haya menolak bantuan wanita cantik tersebut.
"Enggak apa-apa mba, mari____?"
Ahmad Faiz mengandeng tangan Haya menuju kamar sang Ibu. Disana nampak sang Ibu sedang duduk menatap ke arah pintu.
"Ibu____" Ahmad Faiz mengambil tangan sang Ibu dan mencium nya dengan takzim. kemudian memeluk sang Ibu yang ringkih dengan pelukan penuh kerinduan.
Sang Ibu meneteskan air mata sambil mengusap punggung sang anak.
"Kenapa sampai bisa terjadi hal demikian, nak?" Sang Ibu bertanya sambil terus mengusap punggung Ahmad Faiz.
Sorot mata sang ibu, menggambarkan bahwa hatinya kecewa.
"Maafkan aku, Bu?" Lirih Ahmad Faiz masih dengan merengkuh sang Ibu. Sang Ibu pun tersenyum dan menatap Haya.
"Ibu kenalkan, Zahrana Haya. Dialah orang nya, bu. Dia ini istri ku Bu," lirih Ahmad Faiz memperkenalkan Haya.
Haya pun mengambil dan mencium tangan sang Ibu dengan penuh takut dan gelisah. Sungguh khawatir bercampur aduk di relung hati Haya. Haya takut sang Ibu akan marah dan mengusir nya pergi untuk meninggalkan Ahmad Faiz sebelum misi Haya tercapai.
__ADS_1
"Duduk lah, nak?" Titah sang Ibu sambil menepuk ranjang di mana sang ibu berusaha untuk duduk.
"Maafkan aku Bu? Karena perbuatan memalukan yang aku lakukan, ibu sampai sakit seperti ini."
"Sudah tidak apa-apa. Ibu hanya kecewa dan sedih. Kenapa sampai bisa anak yang ibu banggakan dan ibu cintai bisa melakukan kemaksiatan di luar sana?"
"Ibu, percayalah semua itu terjadi karena salah paham Bu____, Ibu harus percaya pada Faiz."
"Ibu berusaha percaya padamu nak. Karena jauh di lubuk hati ibu yang paling dalam, ibu tau, kamu anak yang insyallah Sholeh dan bisa menjaga sikap serta perilaku mu, sekalipun itu tanpa pengawasan ibu."
"Terima kasih, Bu?" Ahmad Faiz kembali memeluk sang Ibu karena terharu oleh ucapan sang Ibu yang yakin terhadap sikap dan perilaku nya.
"Ibu sudah makan, sudah minum obat, sekali lagi maafkan aku, Bu?" Sesal Ahmad Faiz.
"Sudah lah Faiz. Jangan khawatir, ibu sudah lebih baik. Nahla merawat ibu dengan sangat baik dan telaten."
"Nahla" Haya kembali membatin, siapa wanita itu, apa hubungan Nahla dan keluarga Ahmad Faiz?
"Nak Haya___!" Lirih sang Ibu.
"Iya, Bu."
"Hm___, Ibu boleh minta tolong, jangan nak Haya menyakiti perasaan dan hati anak Ibu, anak Ibu insyallah akan mampu menjaga dan menjadi Imam yang baik untuk nak Haya," terang ibu Ahmad Faiz.
"Ibu___" Ahmad Faiz menggelengkan kepala. Ahmad Faiz tidak menyangka sang Ibu akan mengatakan kalimat itu pada Haya.
"Iya___B__u." Haya terbata. Sungguh kali ini Haya semakin gelisah, kenapa tiba-tiba sang Ibu bicara demikian?
"Usia mu berapa, nak?"
"Dua puluh lima tahun, Bu."
Sang Ibu mengusap lengan Haya sambil menebar senyum hangat dan Cinta.
"Apa nak Haya pernah menikah sebelum nya?"
"Iya Bu. Aku pernah berumah tangga sebelumnya, namun akhirnya gagal."
Ahmad Faiz pamit ijin keluar untuk menemui sang Ayah yang ada di kolam samping rumah. Ahmad Faiz ingin memberi ruang, untuk sang ibu dsn Haya untuk bercerita lebih dekat lagi. Sedang Haya masih termangu di atas ranjang bersama sang Ibu Ahmad Faiz.
"Apa nak Haya sudah punya anak?"
"Iya, Bu." lirih Haya kini air mata berlinang dan berenang di kelopak mata Haya.
"Usia berapa tahun, nak?"
"Dua tahun lebih, Bu."Haya menghela nafas kasar dan mencoba menetral kan asa dan rasa dalam gejolak jiwa.
"Apa anak nak Haya, kini tinggal sama ayah nya?"
"Iya Bu. Anak ku tinggal dengan mertua dan juga mantan suami ku."
"Kenapa bisa sampai pisah dengan mantan suami mu, nak?"
"Dia____Dia___Hiks___Hiks___" Sungguh untuk saat ini Haya tidak mampu membohongi ibu Ahmad Faiz. Ingin rasanya Haya lemah dan tak kuasa menghadirkan suatu kebohongan.
Sang Ibu mengusap punggung Haya dan memberi sebuah kehangatan dengan pelukan.
"Sudah lah, jangan ceritakan apapun kejadian rumah tangga yang membuat hati mu kembali sakit nak. Ibu percaya, jika Allah memberi pilihan dan Ibu yakin Faiz memilih mu karena kamu perempuan baik."
Hiks____hiks___
Haya kembali menangis terisak di dekapan sang Ibu. Sudah lama sejak kepergian sang Ibu tercinta, Haya tidak lagi mendapat kehangatan itu dan kini Haya merasakan kehangatan cinta yang begitu tulus dari ibu Ahmad Faiz.
"Hapus air mata mu, tidak baik menangisi sesuatu hal terlalu berlebihan. Allah tidak menyukai itu, nak."
Sang Ibu mengusap air mata yang berderai di pipi Haya, menggunakan jari tangan yang sudah keriput, namun dengan begitu mampu membuat Haya tersentuh.
"Senyum lah___, buang lah masa lalu yang menghimpit hati dan jiwa. Ibu yakin Anak ibu akan membantu mu, mendapatkan hak asuh anak yang kini di kuasai oleh mantan suami mu?"
Deg___
Haya menoleh dan menatap sang Ibu, yang begitu mudah nya percaya akan sandiwara yang Haya tampilkan. Nyata nya sang Ibu teramat percaya dan mendukung agar Haya kembali bangkit dan ceria. Sebegitu perdulikah, hingga dukungan beliau nyatakan.
Tes
__ADS_1
Tes
Air mata kembali luruh, membasahi hati yang gersang dan jiwa yang dahaga. Cinta dan kasih yang ibu Ahmad Faiz tawarkan, begitu mampu membuat hati Haya seketika porak poranda?
"Loh, kok masih nangis?" Sang Ibu kembali mengusap air mata Haya.
"Sudah lah, jangan bersedih lagi. Anggap Ibu sebagai Ibu kandung mu. Ceritakan dan katakan apapun yang membuat hatimu sakit nak, ibu akan selalu ada untuk nak Haya."
"Terima kasih, Bu." Haya memeluk sang ibu penuh rasa cinta dan senang.
Tok... Tok...
Ibu Ahmad Faiz melonggarkan pelukan pada Haya dan menoleh ke arah pintu di ketuk.
"Nahla, ada apa nak?" Sang ibu tersenyum saat menyadari kedatangan Nahla.
"Maaf menganggu, Nahla cuma mau nanya Bu, bumbu pindang apa saja ya?" Nahla malu-malu menanyakan hal itu.
"Bawang merah, bawang putih, serai, tomat, jangan lupa pakai daun kemangi biar wangi."
"Jahe dan kunyit pakai enggak, Bu?"
"Pakai dong jangan terlalu banyak ya?" Jawab sang ibu.
"Baik bu, terima kasih? Nahla mau masak dulu," Nahla pun berlalu.
Haya menoleh ke arah sang Ibu yang masih tersenyum simpul.
"Nama nya Nahla. Nahla ini masih saudara jauh keluarga kami, Nahla tinggal tidak jauh dari rumah Ibu, dan karena Ibu sakit Nahla lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah, sampai masak untuk Ayah dan Ibu."
"Nahla gadis yang baik" lirih Haya.
"Iya___. Nahla memang gadis yang baik, selain cantik, insyallah Nahla juga gadis yang Sholeha."
"Pasti suatu hari nanti, lelaki yang bisa memenangkan hati Nahla, dan dapat menikahi nya adalah lelaki paling beruntung di dunia," ucap Haya pelan.
Ibu Ahmad Faiz tertegun, tidak mungkin sang Ibu mengatakan jika Nahla dan keluarga besar mengharapkan Nahla menjadi istri Ahmad Faiz. Selain karena sudah tau sikap dan akhlak, keluarga besar yakin mereka berdua teramat cocok.
Namun takdir berkata lain, tidak di sangka dan di duga Ahmad Faiz pulang dengan membawa seorang istri, sungguh itu kejutan dari Allah.
Apalagi sang Ibu sudah tau jika Nahla menyimpan perasaan khusus terhadap Ahmad Faiz. Namun Ahmad Faiz menolak tatkala sang ibu mengutarakan niatan nya kala itu, apa boleh buat rencana Allah jauh lebih Indah.
"Apakah Nahla sudah mempunyai kekasih Bu? Jika belum aku akan mengenalkan nya denga teman kantor ku?" Haya begitu antusias.
"Hehehe, Nahla tidak mau berpacaran nak. Jika sudah sama-sama cocok dan serius, Nahla akan langsung menikah dengan lelaki tersebut, sama hal nya dengan Ahmad Faiz."
"Mas Faiz?" Haya terheran.
"Iya... Dulu sebelum menikah dengan mu, Faiz pernah menikah dengan Khadijah, anak salah satu ustad di pondok pesantren Al Mulkilahi, dan mereka menikah tanpa pacaran.."
Haya menatap sang Ibu karena rasa penasaran akan cerita Ahmad Faiz. Entah lah Haya begitu tertarik untuk mendengar setiap kisah asmara Ahmad Faiz. Karena bagi Haya, cerita cinta Ahmad Faiz, layak untuk di dengarkan.
"Kenapa?" Lirih sang Ibu sambil tersenyum.
"Ibu ada foto almarhumah Khadijah?" Haya keppo.
"Ada. Boleh tolong ambilkan foto yang ada di dalam lemari hias itu" Ibu menunjuk sebuah lemari.
"Boleh, Bu." Haya begitu antusias saat membuka lemari dan mendapati sebuah album foto keluarga dan dengan gegas Haya memberikan foto tersebut pada sang Ibu.
"Coba Lihat, ini siapa?" Tanya sang ibu menunjuk seorang Poto lelaki, memakai sarung dan baju Koko. Wajahnya masih imut gitu.
"Mas Faiz___" Haya tersenyum saat melihat foto Ahmad Faiz beberapa tahun silam, masih imut dan terlihat menawan memang.
"Iya, betul."
"Ini foto ibu, ini Ayah dan ini almarhuma Khadijah," ibu menunjuk seorang wanita yang hampir mirip dengan Nahla, seorang wanita cantik berpakaian syar'i dan membuat Haya merasa minder dan tidak percaya diri.
"Cantik sekali ya, Bu?" Lirih Haya sungguh minder, dalam foto saja Khadijah terlihat begitu cantik, padahal dalam balutan baju syar'i dan tidak mewah.
"Cantik memang. Bukan hanya wajah nya saja yang cantik. Sifat dan akhlak nya pun sangat baik, namun sayang Allah lebih menyayangi khadijah."
Haya termenung beberapa saat, menyadari keluarga istimewa Ahmad Faiz. Haya merasa salah masuk ke dalam keluarga yang ternyata seluruh penghuni rumah adalah orang baik dan tulus.
Haya kembali berpikir untuk menyakiti Ahmad Faiz. Hanya demi ambisi yang ada di dalam rencana awal, rencana yang Haya bangun bersama Niko adalah rencana yang sulit bagi Haya, untuk saat ini.
__ADS_1
Tidak mungkin Haya melukai mereka semua, apa yang harus Haya lakukan sekarang? Haya benar-benar bimbang.