
"Bagaimana aku sanggup melanjutkan pernikahan ini? Sedang aku tahu seluruh penghuni rumah adalah orang yang sangat baik. Aku takut berdosa dan mendapat karma karena telah mendholimi mereka semua," Haya memegang selimut yang menutupi tubuh sang Ibu.
"Aku adalah butiran debu, sedang almarhum Khadijah adalah butiran mutiara. Ini terlihat menyedihkan!" Haya bergumam dan memainkan jemari lentik nya.
"Butiran debu yang akan menyiram mutiara dengan gumpalan debu yang basah dan mengering, percuma saja. Aku si debu akan terhapus oleh rintikan hujan. Debu akan hilang dan tetap mutiaralah yang bersinar."
Tok... Tok....
Haya menoleh ke arah pintu, tersadar akan lamunan, Haya menampilkan senyum palsu.
"Hey___, ada apa?" Haya kikuk.
"Apa Ibu sudah tidur?" Ahmad Faiz mendekat dan melihat sang ibu sudah tertidur begitu lelap.
"Iya mas, Ibu sudah tertidur. Mungkin pengaruh obat yang di minum."
"Ikut aku keluar yuk? Masa mau di dalam kamar ibu terus. Dik Haya kan belum berkenalan dengan saudara mas yang lain."
"Mau kemana, mas? Tapi aku malu."
"Ayo ikut, kenapa harus malu?" Ahmad Faiz mengenggam tangan Haya. Jujur ada rasa tidak percaya diri yang menguasai separuh jiwa Haya, rasa sungkan dan rasa asing menyergap jiwa Haya.
Jika dulu Haya merasa bangga, akan siapa dirinya. Kini Haya merasa rendah, siapa status nya?
Haya merasa terkejut di bawa ke dapur.
"Bantuin masak yuk, dik? Kita akan buat makanan untuk sedekah, dengan berkah sedekah kita mengharap semoga Ibu segera sembuh dan sehat kembali. Ini juga bentuk rasa syukur ibu, karena kita sudah resmi menikah. Yah walaupun dengan insiden seperti itu, sih!"
"Hem___" Haya terperanjat bukan kepalang. Bagaimana mungkin Haya bisa memasak? Seumur hidup Haya akan masak mi instan, bahkan memasak air itupun jika terdesak. Apa yang harus Haya lakukan? lagipula kenapa harus di adakan acara sedekahan, sih?
"Kenal kan, ini Bude mas, dik. Namanya bude Dina."
"Hey bude," Haya meyapa, mengajukan tangan sebagai tanda perkenalan. Bude Dina pun menyambut tangan Haya dengan lembut dan sebuah senyuman.
"Jadi anak nenek dan kakek mas itu ada tiga orang. Yaitu bude Dina, Ibu dan bik Pina," terang Ahmad Faiz, menjelaskan saudara dari sang ibu.
Haya tersenyum simpul dan mengangguk tanda paham.
"Dan ini Nahla, masih saudara kita semua."
Nahla menjabat tangan Haya dan memberi seulas senyum.
"Hay____, aku Haya." Sapa Haya dan membalas senyum dengan hati gamang
__ADS_1
Setelah menjabat tangan Nahla.
"Faiz, belikan bude gula merah. Tadi Nahla lupa membeli gula merah, mana gula merah di toples sudah habis. Kalau masak bumbu tanpa gula merah, kurang lengkap rasanya itu ya kurang mantap," terang bude Dina membutuhkan gula merah.
"Baik bude, biar Faiz beli ke warung." Ahmad Faiz segera pergi ke warung untuk membeli gula merah. Selalu begitu, Ahmad Faiz bukan tipe lelaki yang malu untuk belanja apapun, tak terkecuali sayuran.
"Haya kamu bisa membersihkan Ikan gurame? Jika bisa tolong bersihkan ya? Ikan nya masih segar dan ada di dalam ember hitam itu," bude Dina menunjuk ember hitam di luar dapur.
Haya celingukan. Habis lah sudah, tamat lah riwayat Haya jika keluarga Ahmad Faiz tau dirinya tidak bisa memasak walau sekedar membersihkan Ikan.
"Mati aku, bagaimana caranya membersihkan ikan?" Batin Haya. Dengan wajah celingukan mencari bantuan.
Haya mendekati Ikan di dalam ember hitam, dan mencoba mengambil satu ikan untuk di bersihkan. Ikan malah meloncat dan membuat Haya terkejut, sangking terkejut Haya mengeluarkan suara.
Blubuk.. blubuk...
Arkh____
Nahla berlari mendekati Haya, Nahla takut Haya terkena pisau.
"Kenapa mba Haya, apa yang terluka?" Tanya Nahla lembut dan khawatir.
"Tidak, tidak ada apa-apa! Aku cuma takut sama Ikan. Aku belum pernah memegang ikan hidup sebelum nya, aku enggak bisa membersihkan nya, Nahla." lirih Haya setengah malu dan menunduk.
"Tapi___, Nahla. hm aku enggak enak sama kamu, itu kan tugas ku?" Haya masih duduk di samping Nahla.
"Sudah lah enggak apa-apa! Kan mba belum bisa. Tapi mba jangan khawatir, jika mba Haya mau belajar, aku yakin mba pasti bisa!" Nahla berkata dengan penuh semangat.
"Iya makasih, Nahla."
Bude Dina tampak memberengut menyadari ketidak bisaan Haya. Bagaimana mungkin seorang istri tidak bisa masak, lalu perut suami siapa yang akan mengenyangkan.
Perempuan itu bukan hanya pintar dandan, di ranjang, tapi juga di dapur, ekpetasi bude Dina.
"Bude maaf___, aku enggak bisa membersihkan ikan. Aku bantu yang lain nya saja ya, bude?" Lirih Haya menawarkan bantuan, padahal Haya benar-benar bingung mau ngapain.
"Baik lah. Sepertinya kamu mengoreng cabe saja, bude mau membuat sambal terasi."
Haya mengambil cabe yang sudah di bersihkan dan di cuci, lalu Haya dengan perlahan memasukan cabe kedalam penggorengan.
dor... Tup... Tup....
Arkh___
__ADS_1
Haya memekik saat minyak goreng meletup dan menciprat ke pergelangan tangan Haya.
Bude Dina melirik sekilas, Haya merasa tidak enak, dengan sambil memegang tangan yang terkena cipratan minyak Haya mencoba bersikap biasa saja, dan membalik cabe agar tidak gosong.
Akhirnya bude Dina mengambil alih mengoreng cabe. Lalu menyuruh Haya untuk bergeser.
"Dik Haya kenapa?" Lirih Ahmad Faiz sepulang dari membeli gula merah.
Haya menggeleng, namun tangan kiri memegang tangan kanan yang terkena minyak goreng.
"Sini biar mas lihat?" Tangan Ahmad Faiz langsung menyambar tangan kanan Haya, tanpa mendapat ijin dari Haya.
"Merah gini, kalau enggak di obati nanti bisa melepuh." Ahmad Faiz ke kamar mandi untuk mengambil sedikit odol lalu megusap di pergelangan tangan Haya yang terkena minyak panas.
"Terima kasih, mas?" Haya merasa tidak enak dan malu bukan main, niat hati ingin membantu tapi malah menyusahkan .
"Lain kali harus lebih berhati-hati?" Terang Ahmad Faiz dengan tersenyum.
"Iya, mas."
"Apa kamu enggak pernah masak di rumah mu sana, Haya?" Bude Dina bertanya dengan nada sedikit jutek.
"Tidak___ bu__de." Jawab haya.
"Lalu___?"
"Sekarang belum bisa, bude. Tapi nanti kan bisa belajar. Lama-lama pasti bisa juga." Ahmad Faiz dengan masih mengusap lengan Haya. Bagaimana pun Ahmad Faiz merasa kasihan melihat Haya menahan sakit di pergelangan tangan.
"Lantas mantan suami mu makan dimana? Makanya jadi istri itu harus bisa menyenangkan hati suami, harus pintar ngurus anak, pintar masak, pintar di ranjang dan pintar cari uang," sinis bude Dina sedikit ketus.
Haya menunduk dalam, mungkin apa yang di katakan bude Dina ada benar nya juga? Pantas selama ini hubungan rumah tangga Haya dan Niko berasa hampa, mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing dan sibuk mencari uang.
"Tidak begitu juga, bude!" Ahmad Faiz mencoba menenangkan Hati Haya. Bukan apa, Ahmad Faiz yakin jika Haya kali ini merasa sedih karena ucapan yang di lontarkan bude Dina.
"Itu fakta Faiz. Seorang perempuan juga harus pandai menjaga Marwah nya sebagai seorang istri, jangan____." Bude Dina sedikit memicingkan mata.
"Bude ini sudah selesai," potong Nahla. Nahla tau jika bude Dina akan bicara nerocos kemana-mana. Sungguh bude Dina adalah orang yang ceplas ceplos saat bicara, bude Dina tidak akan berpikir jika perkataan nya menyakiti hati siapa yang mendengar nya.
Nahla sudah paham dengan sikap bude Dina, tapi Haya? Dia kan baru saja datang, pasti keget banget lihat sikap bude Dina yang terkesan ceplas ceplos dan sensi. Bude Dina mempunyai riwayat hipertensi, kemungkinan itu pengaruh dari sakit darah tinggi nya.
Nahla berharap Haya tidak marah dan sebal dengan Bude Dina. Walaupun Nahla paham, kemungkinan besar Haya tidak menyukai bude Dina. begitupun dengan bude Dina.
karena selama ini, orang yang paling antusias menjodohkan antara Nahla dan Ahmad Faiz adalah bude Dina. Mungkin saat ini, bude Dina belum siap menerima kenyataan, bahwa Ahmad Faiz sudah menikah dengan perempuan lain.
__ADS_1