
Niko hari itu check up ke klinik, memeriksakan gigi Attar pada dokter spesialis dental.
Tidak sengaja Niko melihat Haya, Haya sedang duduk di kursi taman, yang ada di bagian tengah klinik rumah sakit. Wajah Haya terlihat pucat sekali.
Niko heran, Haya memakai baju khas pasien pesakit di klinik tersebut.
Niko perlahan mendekati Haya, walau Niko begitu sakit hati karena Haya enggan kembali padanya, tapi tetap rasa khawatir Niko masih ada, rasa takut Haya kenapa-napa.
"Haya____!" Niko memanggil nama Haya, lengkap dengan Attar dan bik Pina di belakang nya.
"Attar, anak ibu."Haya langsung berdiri, dan memeluk Attar, walau dengan badan sempoyongan menahan lemah.
"Ibu___!" Lirih Attar merasa rindu pada sang ibu.
Bik Pina terharu melihat pemandangan di depan matanya. Betapa kerinduan jelas ada disana, Haya menciumi Attar dengan begitu kalut.
"Anak ibu, ibu selalu merindukan mu nak. Jangan pergi lagi ya, tetaplah bersama ibu, nak."
"Ibu___," Attar masih saja memanggil nama Haya berulang-ulang.
"Kamu kenapa bisa sampai ada disini?" Tanya Niko begitu tegas. Karena Haya terlihat duduk sendirian, di rumah sakit pula.
Haya diam dan menunduk, tak memperdulikan ucapan Niko.
"Kembalikan Attar!" Niko yang merasa di cueki segera mengambil kembali Attar, dari pelukan Haya dengan memaksa.
Niko geram dengan sikap Haya yang dingin. Niko rindu Haya yang dulu, Haya yang menceritakan apapun tanpa Niko pinta, tapi saat ini semua berubah total.
"Jangan ambil anakku!" Teriak Haya tak rela Attar direbut paksa dari gendongan nya.
"Sini Attar, kita pulang sekarang," ajak Niko. Attar masih diam dan tangan nya memeluk Haya erat tak mau lepas.
"Attar___!" seru Niko dan berusaha mengambil Attar dari pelukan Haya dengan sekuat tenaga.
Bik Pina hanya bisa terdiam menyaksikan pemandangan di depan matanya, sungguh pemandangan yang miris dan menyedihkan.
Kenapa harus memperebutkan anak, apakah tidak bisa di bicarakan secara baik-baik. kenapa tidak bergantian menjaga Attar, itu jauh lebih baik, kasihan mental Attar. melihat kedua orang tuanya memperebutkan nya.
"Tidak, ini anak ku. Jangan pisahkan aku darinya!" sekali lagi Haya meronta tak menerima perlakuan Niko.
Nahla pun berlari, dan mendorong Niko. "jangan sakiti, mba ku!"
Nahla yang pergi untuk membeli air minum, dan setelah kembali di kejutkan dengan tingkah seorang pria yang tidak mempunyai rasa malu. Bisa-bisanya bertengkar dengan wanita di depan umum, sangat kasar pula.
"Kamu siapa?" Niko menatap nyalang ke arah Nahla yang membantu Haya.
"Aku adiknya mba Haya, dan aku tidak suka kamu berlaku kasar pada mba ku, ngerti!"
__ADS_1
"Adik, adik dari Hongkong. Haya ini tidak punya keluarga lagi, bisa-bisanya ngaku adik, mimpi kamu."
"Kata siapa mba Haya tidak punya keluarga, kami semua keluarganya. Kami saling menyayangi."
"Awas minggir perempuan kampung!" Niko hendak mengambil Attar dalam gendongan Haya, karena Nahla ada di depan Haya, mencoba melindungi Haya Attar.
"Nahla___," bik Pina berkata lirih.
"Bik Pina, ayo bantuin aku bik. Kita hajar orang ini, orang tidak punya sopan santun. bisa-bisanya mengajak seorang perempuan yang tengah lemah untuk bertengkar."
Nahla baru sadar, anak, anak, anak.
Nahla menoleh ke belakang menatap Haya dan Attar. Lalu menatap ke arah Niko, lalu bik Pina.
"Apa lelaki ini mantan suami, mba?" Tanya Nahla ragu pada kenyataan.
"Baru sadar, kemana saja kamu. Katanya keluarga, adiknya malah. Tapi, tidak tau apapun tentang Haya, menyedihkan!" Hardik Niko.
"Oh jadi kamu yang namanya mas Niko. Jadi, kamu yang telah membuat mba Haya menderita. Dan kamu sekarang ingin menambah derita untuk mba Haya lagi. padahal mba Haya sekarang masih ada di tengah kepedihan nya. Jahat sekali kamu!"
Niko tidak menggubris ocehan Nahla, yang tidak penting.
"Apa kamu tau, mas Faiz hilang dalam tragedi robohnya jembatan. Dan apa kamu mau membuat luka di hati mba Haya dengan cara mengambil hak asuh Attar dari mba Haya, jahat kamu. Tak punya perasaan!" teriak Nahla.
Bik Pina pun bergetar, sesak dan perih.
"Mas Faiz ... Mas Faiz... " Nahla mengusap air matanya.
"Nahla___!" bik Pina meminta Nahla berucap lagi, bik pina merasa lemas pada kedua lutut nya.
Bik Pina terduduk di tanah, tangan bik Pina memegang dada, rasa sesak menyeruak hebat. kenapa bisa seperti ini, kenapa secepat ini, bik Pina sungguh merasa sedih.
Nahla memeluk bik Pina erat. "aku pun sama bik, aku merasakan kepedihan. Tak ubahnya ibu dan mba Haya, tapi kita harus kuat dan terus mendoakan mas Faiz," terang Nahla.
"Kapan kejadian itu terjadi, Nahla?" Bik Pina merasa sangat kecewa.
"Seminggu yang lalu, bik."
"Kenapa tidak memberi tahuku. Kenapa tidak satupun dari kalian yang memberi tahu ku, apa aku tidak penting buat kalian, sehingga kalian tidak ada yang memberi kabar Faiz padaku?" Bik Pina merasa hancur karena dilupakan, padahal masalah besar sedang berayun di depan matanya.
"Aku sudah menghubungi bik Pina, tapi tidak bisa. aku sendiri merasa kesedihan karena ibu jatuh sakit, mba Haya juga seperti itu, aku bingung bik. Aku sangat bingyng," sesal Nahla.
"Ya Allah Faiz," bik Pina benar-benar tidak menyangka.
"Lalu apakah jasad Faiz, sudah di temukan?"
"Belum, bik. hanya dompet nya saja, dan tim masih mencoba mencari, kita doakan saja ya bik, semoga di mudahkan proses pencarian mas Faiz. Apapun keadaan nya saat di temukan nanti," Nahla dengan tegar mengatakan hal yang paling menyakitkan.
__ADS_1
Ada rasa senang di hati Niko, setidaknya harapan untuk bisa kembali dengan Haya, masih ada malah semakin lebar.
"Tidak ada salahnya, aku menurunkan ego ku," Niko membatin menyusun starategi.
"Dimana mba ku, Nahla?" tanya bude Pina pias menahan sebah.
"Ada di ruangan melati bik. Ibu masih down sekali keadaan nya, begitu juga dengan mba Haya. Tadi aku pikir aku akan mengajak mba Haya keluar untuk melihat-lihat udara luar ruangan, eh malah jadi begini."
"Itu akan membuat mba Haya lebih rileks dan lebih tenang," imbuh Nahla dan menatap Haya yang masih memeluk Attar begitu erat.
"Baiklah Haya. aku rasa kita tidak perlu melanjutkan perdebatan kita di pengadilan. aku akan menghentikan proses yang sudah berjalan," Niko berkata secara tegas penuh keyakinan.
"Tidak bisa seperti itu mas. Semuanya masih berjalan, kita tidak bisa menghentikan semuanya secara seenak kita sendiri."
"Kalau bisa di permudah, kenapa harus di persulit!"
"Apa maksud dari perkataan mu, mas?" Haya ragu, pasti ada niat terselubung di balik semua ucapan Niko.
"Aku akan memberikan Attar padamu, tapi dengan syarat. Kamu tinggal dirumah yang ku berikan dulu padamu. aku tidak bisa membiarkan Attar tinggal di tempat yang buruk, dan dengan asupan gizi yang buruk."
"Maaf aku tidak bisa", tegas Haya lantang
"Kenapa tidak, ini tidak akan menyulitkan mu. semua fasilitas disana sudah lengkap, dan aku tidak akan mengkhawatirkan Attar, jika kamu tetap tinggal di rumah mu yang itu, aku tidak bisa tenang sama sekali.
"Kamu ragu mas, iya. kamu ragu aku tidak bisa merawat anak ku dengan baik. Padahal kamu tau kan mas, seekor ayam saja bisa melindungi anak nya, apakah aku yang di ciptakan lengkap dengan akal tidak bisa menjaga anak ku."
"Haya mengertilah!"
"Kamu masih sama mas, egois dan maunya menang sendiri."
"Baik.. baik jika kamu mau mengasuh Attar. kita bagi dua periode, selama Senin sampai Jumat Attar akan tinggal di tempat mu, selanjutnya Sabtu dan Minggu Attar akan menginap di rumah ku, bagaimana?" usul Niko.
Haya terdiam sejenak.
"Ini mudah Haya, bagaimana?"
Haya menatap wajah Niko, wajah yang dulu selalu Haya rindukan, wajah yang dulu Haya kagumi.
"Lalu, bagaimana dengan uang pribadi ku, yang dengan sadar mas ambil dariku!"
"Masalah itu mudah Haya. Aku akan mengembalikan semua uang mu," terang Niko .
Nahla menyipitkan mata, kenapa Niko berubah baik, kenapa dengan mudah Niko mengembalikan uang milik Haya, dan kenapa dengan mudah Niko memberikan Attar pada Haya.
Padahal selama ini mati-matian Haya memperjuangkan hak itu.
Bik Pina menangkap hal yang tidak beres, pasti ada maksud di balik kebaikan Niko kali ini, pasti Niko merasa ada ruang baginya, sebab kini Zein sudah tidak bersama Haya lagi.
__ADS_1