Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Ahmad Faiz Haydar


__ADS_3

"Ini nomor lelaki, Yang bernama Ahmad Faiz haydar tersebut. Keponakan nya bik Pina. Aku sudah menyimpan di kontak telepon di dalam ponsel mu," seru Niko, dan memberikan ponsel pada Haya.


"Apa yang harus ku lakukan, mas?"


"Dekati lelaki itu, dan minta lelaki itu untuk menikahi mu. Aku yakin keponakan bik Pina lelaki yang sehat, dan yang paling penting lelaki itu tidak begitu punya banyak harta, jadi itu memudah kan rencana kita."


"Bagaimana aku bisa menemui lelaki, yang bernama Ahmad Faiz Haydar tersebut mas. kenal saja tidak!"


"Aku sudah melakukan pelacakan, melalui kiriman sinyal di nomor telepon tersebut. Aku ada salah satu temen yang bekerja di bidang IT, dan ternyata lelaki bernama Ahmad Faiz Haydar itu bekerja di perusahaan suami kak Angel" Niko tersenyum senang. Alam merestui tingkah laku nya.


"Hah___Bekerja disana?" Haya terperangah. Bukan kah itu akan sulit, bagaimana jika Angel tau.


"Iya. Itu semakin memudah kan mu bukan, mulai besok kamu harus mulai gencar mendekati nya, jika perlu ajak nikah lelaki itu secepat mungkin."


Haya mendengkus sebal, bagaimana mungkin Haya bisa melakukan itu semua, itu bukan bakat nya? Haya bukan wanita gampangan, lalu bagaimana mungkin seminggu ketemu langsung ngajak nikah, kan aneh dan luar biasa.


"Aku mohon, jagalah Hati mu. Jangan sampai kamu jatuh hati pada lelaki tersebut, dan rahasiakan tentang masalah rumah tangga kita. Katakan jika kita sudah resmi bercerai secara hukum dan Agama."


"Mana mungkin aku bisa mencintai lelaki lain, selain kamu mas. Memang nya aku wanita apaan, mudah jatuh cinta!" sanggah Haya yakin. Haya benar-benar lelah.


"Bagus, aku percaya itu!" Niko membelai pucuk kepala Haya.


"Sebenar nya ini juga berat untuk ku. tapi mau bagaimana lagi, kita harus memilih jalan ini agar kita bisa bersama kembali."


"Dari sini maka belajar lah untuk tidak se enak jidat sendiri jika sedang berbicara, pikirkan dampak baik dan buruk nya," ketus Haya.


"Iya Haya, sayang ku," Niko mencubit gemas pipi Haya.


"Is, apaan sih! gak lucu dan gak usah sok imut."


Haya meninggalkan Niko yang menatap Haya dengan tatapan berbeda dan Haya tau tatapan apa itu?


*****


Keesokan hari, Haya di antar oleh Niko ke lokasi perusahaan suami Angel, kakak dari Niko. mereka berdua pergi menggunakan mobil keluaran terbaru.


Apa Haya terpukau oleh harta Niko, atau memang Haya benar-benar mencintai Niko dengan tulus?


Niko memarkir kan mobil, di sebuah restoran di dekat kantor tersebut.


Niko yakin pada siang hari, lelaki yang bernama Ahmad Faiz Haydar itu akan makan siang di restoran yang telah di sediakan oleh perusahaan suami kakak nya.


"Mas, aku takut dan aku enggak yakin bisa melakukan nya," Haya merasa ragu akan tindakan yang di ambil.


"Kamu harus bisa Haya. Demi aku dan Attar," lirih Niko setengah memohon.


"Ini menyakitkan mas. Aku merasa seperti penghianat, aku menghianati mu, dan juga menghianati lelaki itu."


"Haya___ dengarkan aku, Haya Aku mohon." Niko mendekatkan tangan nya di bahu Haya.


Niko mengusap pucuk kepala Haya, nampak keringat membasahi kening Haya, sebagai pertanda bahwa Haya sangat was-was dan gelisah. Haya merasa permainan kali ini tidak menyenangkan.


Sebuah kecupan Niko daratkan di kening Haya. Haya begitu menikmati kecupan tersebut, hingga lupa, apa misi mereka awal.


"Haya, seperti nya itu lelaki yang bernama Ahmad Faiz Haydar," bisik Niko mengalihkan pandangan.


Jantung Haya berdetak lebih cepat, lutut dan persendian melemas. Haya masih menghadap ke arah Niko tanpa mau menoleh, Haya begitu khawatir dan begitu gugup.


"Lumayan sih, enggak jelek-jelek amat!" lirih Niko dan memegang dagu sang istri untuk melihat lelaki yang bernama Ahmad Faiz haydar tersebut.


"Mas___" Lirih Haya pelan.


"Ayo Haya, jangan takut!"


"Wajah nya seperti lelaki yang baik, tanpa dosa, dan___" Haya membatin nyeri.


Perlahan Haya pun berjalan dengan mata yang berembun, saat lelaki yang bernama Ahmad Faiz Haydar tersebut berjalan dan membawa makanan di dalam nampan, dengan akting yang luar biasa Haya menabrak nya, seolah-olah itu bukan sandiwara.


Brak___


Tring___


Nampan terjatuh ke lantai, makanan pun berserakan berhambur kemana-mana, Haya pura-pura panik.


"Maaf___" lirih Haya, dan berusaha membersihkan pecahan bekas gelas tersebut.


"Tidak apa-apa. Sudah lah biar pelayan saja yang membersihkan menggunakan sapu. jangan menggunakan jari, nanti jari tangan mu terluka oleh serpihan kaca," lirih Ahmad Faiz Haydar yang berjongkok berhadapan dengan Haya yang terlihat begitu baik.

__ADS_1


Baru saja Lelaki tersebut berucap, eh tangan Haya berdarah terkena serpihan pecahan kaca kecil tersebut.


Arkh___desis Haya, kesakitan.


"Kan aku bilang juga apa. Baru saja berhenti aku bicara. Eeh___ udah luka saja. Sini ikut aku, aku akan mengobati luka di jemari mu?" lelaki tersebut menyuruh Haya duduk dan meminta obat luka pada pelayan restoran.


"Luka di jemari ku tidak lah sakit, namun luka di hatiku kian mengangga dan perih, dapatkah kau menyembuhkan nya juga?" Haya membatin getir.


Lelaki yang bernama Ahmad Faiz Haydar mengobati luka di jemari Haya dengan sangat hati-hati dan pelan. Semua di lakukan seolah penuh ketulusan.


"Sudah ini tidak apa-apa. Masa kayak gini saja nangis, cengeng amat sih!" goda Ahmad Faiz Haydsr yang melihat air mata Haya turun.


Haya gegas mengusap air mata secepat kilat.


"Lihat lah, aku jadi lancang menyentuh tangan mu. Padahal kita baru saja bertemu, iya kan?" lelaki itu berkata lagi dengan kekehan kecil.


Padahal Haya menangis, bukan karena rasa sakit dari serpihan pecahan gelas. Tapi sakit karena harus berusaha memainkan drama, agar bisa kembali bersama Niko dan Attar, demi mereka berdua.


"Terima kasih, ya?" lirih Haya.


"Iya sama-sama. Ini buat menghapus air mata mu, aku ikut sedih melihat nya," Ahmad Faiz Haydar memberikan sebuah sapu tangan pada Haya.


"Maaf ya, gara-gara aku kamu enggak jadi makan siang?" Haya berusaha mencairkan suasana.


"Enggak apa-apa. Kan bisa beli lagi," Jawab Ahmad Faiz Haydar dengan senyuman.


Haya tersenyum dan menghapus sisa air mata yang jatuh di kedua pipi nya.


"Mau makan apa, biar aku pesan kan?" Tawar si Ahmad Faiz Haydar.


"Tidak, terimakasih. Aku sudah makan."


"Oh__ baik lah" Ahmad Faiz Haydar kembali tersenyum.


"Mas Faiz, ini pesenan yang mas minta," seorang karyawan menyodorkan sebuah bungkusan lagi pada Ahmad Faiz Haydar.


"Terima kasih, ini uang nya." Ahmad Faiz Haydar menerima dua mangkuk mi yang ada di balik gelas Pok mie.


"Kok jadi makan pok mie, apa karena tadi aku___, Maaf ya?"


Haya merasa tidak enak. Bukan tanpa alasan Haya merasa tidak enak. Haya tau berapa gaji karyawan biasa seperti Ahmad Faiz Haydar dalam sebulan. Jadi jika mau menabung harus pandai berhemat, tentu dengan cara meminimalkan makanan, tidak boros.


Ahmad Faiz Haydar memberikan satu bungkus Pok mie mini pada Haya "makan lah, mumpung masih hangat. Maaf hanya Pok mie, gajian masih lama, tanggal tua."


"Terima kasih," Haya mengambil cup pok mie dengan iya atau tidak.


"Sudah lah jangan mengucapkan banyak terima kasih. Lihat lah, sampai kebanyakan gini terimakasih nya. Aku tidak kuat membawa ucapan terimakasih mu," Ahmad Faiz Haydar bercanda.


"Oh iya kita belum kenalan, nama kamu siapa?" Haya memberanikan diri bertanya dan mengulurkan tangan. Seumur-umur baru kali ini, Haya mengajak seorang lelaki untuk berkenalan.


"Nama ku___?" Ahmad Faiz Haydar menunjuk dirinya, Ahmad Faiz Haydar tampak mengerutkan dahi.


"Iya lah, siapa lagi," ketus Haya.


"Perkenalkan, nama ku Ahmad Faiz Haydar. panggil aku Faiz saja. Tapi kalau mau memanggil nama lengkap juga boleh" Ahmad Faiz menjabat uluran tangan Haya.


Haya tersenyum, bidikan nya tepat sasaran, entah akan terluka atau akan mati nantinya si mangsa Haya tidak mau tau, yang jelas misi berhasil.


"Nama kamu siapa?" tanya Ahmad Faiz balik.


"Aku___ Aku, Zahrana Haya."


"Panggilan nya?" celetuk Ahmad Faiz.


"Terserah kamu mau manggil aku apa, bebas." jawab Haya.


"Biasanya orang manggil kamu siapa?"


"Haya"


"Nah gitu dong, nanti aku manggil kamu Zahra enggak ada yang kenal."


"Oh iya boleh minta nomor ponsel nya enggak?" Tiba-tiba Haya berucap demikian, padahal Haya sudah punya nomor telepon Faiz, namun demi keamanan Haya harus pura-pura bukan!


Faiz menghentikan aktivitas makan nya dan menatap mata Haya "untuk apa?" tanya nya penasaran.


"Yah, siapa tau nanti kita ketemu lagi. YA buat nambah kontak nambah temen gitu, bisa jadi temen kalo lagi gabut kan"

__ADS_1


"Jangan dulu deh" Ahmad Faiz.


"Ih narsis kayak artis saja, sok jual mahal." Haya bergumam sebal, merasa di permalukan.


"Apa__" Lirih Faiz samar-samar mendengar.


"Enggak." dusta Haya.


"Handphone ku terlalu jadul untuk menyimpan nomor orang lain, selain nomor sahabat dan orang tua ku."


"Siapa perduli, aku kan hanya ingin kita berteman. Emang harus banget ya teman pilih-pilih. Lagian kan cuma teman, tidak lebih!"


"Biasa nya juga begitu, apalagi ini kota, kebanyakan ya harus gitu kan, pilih-pilih."


"CK___" Haya bergumam kembali.


Susah banget mengambil hati Ahmad Faiz. bahkan hanya meminta nomor ponsel nya saja begitu susah. Dasar sok yes, selama ini lelaki selalu mengemis meminta nomor ponsel Haya, lah ini malah menolak di ajak tukaran nomor ponsel.


"Ya sudah aku permisi, jam masuk ke kantor sudah mulai, jam istirahat sudah hampir selesai" pamit Ahmad Faiz.


"Ya!" balas Haya cepat, merasa terhina dan merasa di permalukan .


"Tunggu dulu, nomor telepon kamu mana?" Sarkas Haya menghentikan langkah kaki Ahmad Faiz. harga diri sudah hilang, sudah di injak-injak, tinggal di buang.


"Ih ngeyel amat sih" Ahmad Faiz menulis di layar handphone Haya sebuah angka yang sesuai dengan nomor ponsel nya.


"Terima kasih ya?" lirih Haya menahan malu. karena merasa merendahkan harga diri sebagai perempuan. Jika saja keadaan tidak memaksa, Haya akan menolak ini semua, Haya tidak Sudi melakukan nya.


Faiz mengangguk dan tersenyum tipis.


"Assalamualaikum, sampai juga lagi Haya."


Haya menatap kepergian Zein, dengan mata yang terus menatap punggung nya.


Awal dari babak baru, semuanya serba baru akan di mulai dan Haya sudah merasa jenuh dan lelah, baru memulai saja sudah lelah, lalu bagaimana nanti


"Haya___"


Niko menepuk pundak Haya dari belakang, Haya pun menoleh dan mendapati Niko di belakang nya.


"Ayo pulang, misi kita hari ini sudah cukup. Tinggal besok kita cari jalan lain untuk lebih mendekati Ahmad Faiz"


Haya pun menurut bagai Sapi yang sudah di keluh alias di cucuk hidung nya, nurut saja gitu.


"Jangan sedih, aku yakin kamu bisa menaklukan si Ahmad Faiz. Setidaknya dalam waktu kurun kurang dari seminggu."


"Entah lah mas. Jangan bahas dia, aku pusing." keluh Haya sambil memejamkan mata, apapun hasil, semua sama saja.


Mobil yang membawa Niko dan Haya berhenti di sebuah rumah minimalis berpagar dengan nuansa abu-abu.


"Ayo turun!"


"Mau ngapain, mas?"


"untuk sementara waktu kamu akan tinggal disini. Tidak mungkin kamu akan tinggal di rumah orang tua ku, dan tidak mungkin juga kamu tinggal di rumah kita."


"Lalu bagaimana dengan, Attar?"


"Attar akan tetap tinggal dengan ku, dan juga kedua orang tua ku. Jika tinggal bersama mu bagaimana jika kamu kerja, lagian ibu sangat menyayangi Attar jadi jangan khawatir."


"Mas aku mohon, jangan pisah kan aku dengan Attar! Kamu enggak bisa berlaku demikian, mas aku mohon jangan jahat dong!"


"Semakin cepat kamu bisa menikah dengan suami Muhallil mu itu, maka akan semakin cepat kamu tinggal dengan ku dan Attar."


"Mas___"


Niko mengusap pucuk kepala Haya dan Haya hanya diam saja menikmati perlakuan Niko, bahkan saat Niko melepas pa**ian nya, Haya juga menginginkan nya.


Namun belum sampai terjadi hal yang di ingin kan, Haya menghentikan aktivitas nya di dalam mobil tersebut. Haya ingat dosa


Karena hukum nya zina, karena mereka bukan sepasang suami istri yang sah lagi, itu dosa.


"Haya ayo masuk. aku akan menunjukan posisi rumah di dalam, dan kamu harus bisa membiasakan tinggal di rumah ini sendiri. Aku juga tidak bisa setiap hari datang kesini, karena Ayah dan Ibu pasti akan melarang nya. lagian aku selalu ingin saat melihat mu, aku rindu sentuhan mu, Haya" Niko setengah menahan amarah, karena hasrat nya belum terlaksana.


"CK... Menyedihkan sekali hidup ku, mas!" Haya membuka pintu mobil dan keluar menuju rumah minimalis tersebut.


"Haya ini hanya sementara, setelah kamu bercerai dengan suami Muhallil mu, kita akan kembali bahagia seperti dahulu okay" Niko berusaha menyakinkan hati Haya yang terpuruk oleh keadaan.

__ADS_1


"Semoga waktu cepat berlalu!" jawab Haya dan menutup pintu tanpa mempersilahkan Niko masuk kedalam.


__ADS_2