Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
rumah sederhana


__ADS_3

"ini rumah siapa, mas?" Tanya Haya sambil melihat ke depan. Tampak sebuah rumah sederhana, dengan pagar bambu dan sedikit tanaman bunga yang tidak begitu terurus.


"Ini rumah mas. Tempat dimana mas tinggal mas. Yah, walau sederhana tapi mas sudah cukup bahagia. Mas masih harus memikirkan dan membayar setiap bulan dengan hasil jerih payah mas sendiri, dan insyallah rumah ini akan segera menjadi milik kita, doakan ya?" Haya pun mengangguk. Sebenarnya Haya ingin terkejut, tapi itu tidak boleh. Mungkin rumah sederhana seperti ini, rumah yang sangat berarti bagi Ahmad Faiz.


Kemampuan setiap orang berbeda-beda. Mungkin segini lah kemampuan Ahmad Faiz. Tidak bisa di bandingkan dengan Niko.


"Mas tinggal sendirian di rumah ini?" Haya penasaran, karena rumah terlihat sepi.


"Iya. Masuk yuk?" Ahmad Faiz mengandeng tangan Haya untuk masuk kedalam rumah sederhana namun begitu Asri tersebut. Haya menoleh ke arah tangan yang tiba-tiba di gandeng.


Ahmad Faiz membuka pintu dan mempersilahkan Haya untuk masuk.


Haya masuk dan menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Rumah yang sangat sederhana?" Gumam Haya memperhatikan setiap penjuru rumah, tidak ada yang mencolok.


"Duduk lah, pasti dik Haya capek?"


"Iya mas, capek. Bukan hanya capek tapi sangat capek. Rasanya baru saja sehat dan sembuh dari sakit, eh ada saja cobaan yang harus di cobain," Haya duduk di kursi anyaman bambu, dengan rileks dan menselonjorkan kaki.


Tring______tring____


"Sebentar ya, mas," Haya ijin untuk mengangkat telepon.


"Hallo Attar, kenapa sayang nya ibu? Kenapa pelipis nya di perban?" Haya melihat luka di pelipis Attar, dari balik layar video call.


"Attar tadi jatuh Bu, jadi sedikit luka di pelipis nya, dan sekarang minta di teleponin ibu, padahal bibik sudah bilang ini sudah malam. Pasti Ibu sudah bobok. Eeh Attar enggak percaya, Bu!" Bik Pina berbaring di samping Attar, menjaga dan mengusap lengan Attar.


"Atal angen ibu, apan Ibu ulang!"


"Ya Allah Attar. Ibu juga kangen sama Attar, tapi_____, Ya Allah nak. Maafkan Ibu, nak?" Hati Haya bagai di sayat sembilu, sakit tidak tertahan kan.


"Ibu kok angis, ibu angan angis, atal ayang ibu." Suara permata hati Haya, memberi sebuah semangat untuk Haya.


"Ibu juga sayang Attar, sangat sayang." hiks____ hiks____


"Ibu____!" Suara bik Pina panik di seberang sana namun Haya masih setia dengan tangis nya tanpa menjawab.


Hiks


Tes____tees


Ahmad Faiz mengambil ponsel milik Haya yang terjatuh di atas kursi, dan mengarahkan pada nya namun terburu sambungan terputus.


Panggilan terputus.


Haya hampir merebut ponsel, sebab Haya takut Ahmad Faiz segera mengenali bik Pina.


"Dik___, Sabar dan tenang kan pikiran dulu." Ahmad Faiz mengusap punggung Haya. Ahmad Faiz benar-benar tidak tau apa yang tengah Haya rasakan?


Hiks... Hiks....


Haya menutupi wajah nya dengan air mata yang terus menganak tanpa ampun dan tanpa permisi.


"Istirahat lah agar hatimu tenang, ayo?" Ahmad Faiz menuntun Haya menuju kamar.

__ADS_1


Sebuah kamar kecil dengan kasur busa yang tidak tebal, namun ruangan kamar kecil ini terlihat rapi dan bersih, harum.


Ahmad Faiz mendudukkan Haya di atas kasur dan terus mengusap lengan nya. "minum lah____" sebuah air di dalam gelas Ahmad Faiz berikan pada Haya, dan Haya meneguk air tersebut beberapa kali tegukan.


Seorang Ahmad Faiz lelaki hebat dan sabar, Ahmad Faiz tidak langsung menodong pertanyaan pada Haya, sebab apa yang jelas sudah membuat nya menangis seperti itu. Namun Ahmad Faiz emberikan ketenangan dan kenyaman, dan akan di tanyakan nanti jika semuanya lebih dingin.


Haya membaringkan tubuh nya, rasanya Haya ingin Ahamd Faiz melakukan nya sekarang Juga.


Haya ingin segera bisa kembali dengan Attar dan Niko dalam ikatan keluarga yang utuh. Namun Haya malu untuk mengatakan nya, apakah bisa Haya melakukan hal itu, sedang hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Istirahat lah___!" Ahmad Faiz memberikan selimut pada Haya, dan Ahmad Zein duduk di tepi kasur membiarkan Haya menenangkan pikiran nya yang kacau. Ahmad Faiz mengusap pucuk kepala Haya.


Pelan tapi pasti Haya tertidur saat Ahmad Faiz mengusap pucuk kepala Haya berulang dan melantunkan lagu Sholawat Syifa.


Haya begitu menghayati lantunan sholawat yang di senandung kan Ahmad Faiz. Hati Haya perlahan mencair dan tenang, rasa nyaman dan aman tiba-tiba mampu membuat nya tertidur lelap, padahal akhir-akhir ini Haya sering tidak bisa tidur.


Hatinya sering gelisah dan kacau tidak menentu. Setidaknya biarkan malam ini aku terlelap dalam alunan lantunan doa mu.


****


"Selamat pagi, mas?" Haya menemui Ahmad Faiz yang sedang membuat Kaligrafi.


"Pagi dik. Gimana tidur nya semalam, apakah nyenyak?" Tanya Ahmad Faiz yang sudah rapi, lain dengan Haya yang terlihat kusut dan pucat.


"Iya mas, nyenyak banget. Makasih ya, mas?"


Ahmad Faiz mengangguk.


"Alhamdulillah kalau nyenyak, mas senang dengar nya."


"Mas Faiz bikin apa?" Tanya Haya sambil menatap lekat lukisan Ahmad Faiz.


"Wah bagus ya mas. Aku jadi pengen di buatin?" Seru Haya sambil memandang Kaligrafi buatan Ahmad Faiz yang begitu Indah.


"Boleh___, Nanti kalau ada waktu pasti mas buatin."


"Makasih ya, mas?"


"Iya dik." Senyum yang mampu membuat Haya ingin terus melihatnya.


"Apaan aku ini!" Haya menggerutu ketidak kuasanya.


"Mas masih punya adik?" Tanya haya.


"Adik ponakan. Mas anak tunggal."


Hah__ Haya tersenyum dan menggelengkan kepala. Bisa ya, antara dirinya dan Ahmad Faiz sama. Sama-sama anak tunggal.


"Oh___h iya, dik. Mari kita sarapan pagi dulu? Mas tadi sudah bikin nasi goreng dan telor ceplok," lirih Ahmad Faiz.


Haya mengikuti Ahmad Faiz menuju dapur untuk sarapan pagi. Disana sudah tersedia sebuah piring berwarna putih lengkap dengan nasi goreng, telor ceplok dan sambal di atas saset di atas piring.


"Ayo makan?" Ahmad Faiz duduk di lantai yang di alasi tikar anyaman, sambil melambai ke arah Haya yang masih diam memaku.


"Hah makan disitu, mas?" Tanya Haya ragu.

__ADS_1


"Iya dong. Ayo duduk sini, kita makan bersama?" Ahmad Faiz menepuk tempat di sebelah nya sebagai pertanda agar Haya duduk di samping nya.


"Loh kok diam, ayo di makan? Tidak suka nasi goreng ya?" Sesal Ahamd Faiz tampak sedih.


"Tidak mas, bukan begitu. Aku hanya merasa aneh saja "


"Aneh____, aneh kenapa?"


Haya menggelengkan kepala tidak tahu kenapa.


"Mulai sekarang kalau di rumah kita sendiri, mas minta kita selalu makan dalam piring yang sama ya. Selain romantis, mempererat dan membangun cemistry diantara kita, dan satu lagi, ini juga Sunnah."


Haya menunduk meresapi setiap kata yang di ucapkan Ahmad Faiz. saat menikah dengan Niko, Haya tidak pernah makan bersama dalam piring yang sama, pernah sih dan itu hanya pas awal-awal menikah, selama masa pacaran.


"Baca doa dulu, dong!" Ahmad Faiz tersenyum simpul, sambil menutup mata karena menahan mata.


Haya pun mengucap "bismillah" pelan lalu mulai memakan nasi goreng dan telor ceplok buatan Ahmad Faiz.


"Mas enggak kerja?" Tanya Haya.


"Enggak tau dik. Tiba-tiba pihak perusahaan mengatakan mas dapat bonus cuti tahunan. Padahal mas kan cuma karyawan biasa, kok bisa ya dapat cuti tahunan, tiba-tiba dapat bonus juga, aneh!" Ahmad Faiz tampak heran dengan bonus cuti plus bonus uang yang di dapatkan.


Haya mulai berpikir apakah ini semua rencana Niko? Akan kah Haya menyakiti lelaki sebaik Ahmad Faiz. Rasanya Haya belum siap jika lelaki sebaik Ahmad Faiz membenci nya, bahkan Haya takut Ahmad Faiz mengutuknya. Dan karma kemungkinana berlaku.


"Dik___" Haya yang melamun pun, menoleh gugup.


"Ada apa, mas?"


"Mas boleh bertanya sesuatu, tentang kehidupan dik Haya sebelum ini?"


"Boleh, mas."


"Mas tau dik Haya bukan orang yang jahat, dan mas tau dik Haya orang baik. Jadi tolong berkata lah yang jujur sejujurnya."


Haya menunduk semakin dalam. Hati nya bergemuruh hebat detak jantung nya terasa mau loncat dan hilang. Apakah yang akan Haya sampaikan, akan kah Haya berkata jujur, tapi itu pasti akan menyakiti Ahmad Faiz. Haya belum siap. Sungguh tidak akan pernah siap.


"Kenapa, semalam dik Haya menangis. Ada apa?"


"Maafkan aku, mas."


"Iya. Mas selalu memaafkan, tapi boleh kan dik Haya berbagi rasa dengan mas. Kita ini sekarang sudah sah menjadi sepasang suami istri. Jadi mas harap enggak ada yang perlu di tutup-tutupi lagi."


"Anak ku mas, anak ku Attar jatuh, dan terluka di bagian pelipis. Aku benar-benar sedih mengetahui akan hal itu."


"Anak___, Jadi dik Haya sudah punya anak?" Ahmad Faiz kaget dong.


"Iya mas. Attar putra ku sudah berusia dua tahun lebih, mas. Aku selalu merindukan nya mas, aku rindu selalu. Tapi apa dayaku?"


"Lalu kenapa tidak mengambil nya? Kita kan bisa menemui nya, iya kan? Kenapa dik Haya tidak membawanya ikut serta dan kita bisa tinggal dan hidup bersama?"


"Maksud, mas?" Tanya Haya tidak maksud.


"Mas juga pengen dong mengakrab kan diri dan membiasakan hidup bersama Attar. Toh sekarang Attar juga anak mas, kan!"


"Mas ingin Attar sesekali tinggal bersama kita, bila perlu selamanya tinggal bersama kita." Imbuh Ahmad Faiz berkata begitu tulus.

__ADS_1


Haya semakin menunduk dalam dan sedih. Hatinya semakin pilu tidak terkira. Kenapa Ahmad Faiz tidak berlaku kasar saja padanya, jika Ahmad Faiz selembut ini maka Haya akan kian tersakiti.


Bukan pernikahan Muhallil seperti ini yang Haya mau. Haya pikir begitu mudah, namun faktanya nurani Haya memberontak.


__ADS_2