
"Sudah selesai makan, sekarang tinggal minum obat," Ahmad Faiz bertanya pada suster, obat apa saja yang harus di konsumsi oleh Haya. Dengan telaten suster menjelaskan, step by step pada Ahmad Faiz.
"Suhu tubuh dik Haya, sudah tidak begitu panas, kemungkinan nanti sore sudah boleh pulang. OH iya, suster bilang semalam dik Haya di antar oleh orang, siapa mereka?" Ahmad Faiz penasaran.
"Aku sampai lupa mas. Siapa yang membawa ku kesini? Aku hanya ingat kepala ku pusing dan aku kira aku tertidur di tengah deras nya air hujan. ya Allah siapa ya orang nya? aku ingin ngucapin terimakasih, aku yakin mereka orang baik."
"Lagian kenapa hujan-hujanan, bukan kah semalam kita sampai rumah sudah tidak hujan lagi, kan?" Selidik Ahmad Faiz.
"Aku sedih karena mas, mas tidak mau membantu ku. Jadi aku hujan-hujanan saja!"
"Membantu____, apa? dik Haya tidak mengatakan apapun pada mas kan, malam itu."
"Apa mas Faiz lupa! Aku bilang, aku mau menikah dengan mas, secepat nya!" ketus Haya kemudian, sudah tidak punya harga diri. seumur-umur Haya tidak pernah menekan seorag pria untuk menikahinya.
"Kenapa begitu ngebet pengen nikah? apa sudah begitu kebelet?" Goda Ahmad Faiz tersenyum mengejek.
Haya melirik, wajah nya memanas menahan malu dan amarah.
"Iya______iya___Maaf?" Ahmad Faiz tau, Haya sedang membatin dirinya. kemungkinan sedang mengomel.
"Mas, maukah mas menikah dengan ku?" Sekali lagi Haya meminta.
"Apa dik Haya sedang hamil, sehingga menginginkan menikah dengan mas dengan segera?" Ahmad Faiz berkata dengan penuh kehati-hatian.
"Tidak. Mas ini bicara apa? Mana mungkin aku menaruh pulut pada orang yang tidak memakan nangka nya. aku tidak sejahat itu, aku bukan penjahat!"
" Lalu, Berikan satu alasan kenapa dik Haya begitu ingin mas yang menjadi suami dik Haya? kan di luaran sana banyak lelaki yang lebih sempurna di banding mas?"
Haya menatap wajah Ahmad Zein yang meneduhkan. Namun Cinta belum ada di hati, demi kepentingan pribadi, akan kah Haya mengorban lelaki sebaik Ahmad Faiz?
Haya menimang untuk mengatakan satu kalimat, yang akan Haya sampaikan pada Ahmad Faiz. Bukankah kenyataan itu hanya akan menjadi duri.
"Mas, saat ini aku dalam keadaan rumit. Saat ini aku belum bisa menjelaskan. Aku mohon menikah lah dengan ku, aku mohon?" pinta Haya memelas.
"Sungguh pernikahan bukanlah hal yang bisa di permain kan dik Haya. Karena menikah itu mengikat janji suci di hadapan Allah dan kita harus sudah siap lahir dan batin."
"Mas, aku mohon?" Air mata luruh dari pelupuk mata Haya. Entah bagaimana Haya bisa yakin, Haya yakin jika Ahmad Faiz adalah lelaki yang begitu baik, dan mau menolong nya.
Tes
Tes
"Katakan, apa masalah mu, dik?" Ahmad Faiz berkata lembut.
"Aku sedang di kejar mantan suami ku mas. Dia selalu menyakiti ku, dan aku akan di jadikan istrinya kembali. dan___ aku, dan aku enggak mau, mas." Haya sengaja berkata dusta, agar Ahmad Faiz mau menerima nya.
"Apa suami mu, sudah menjatuh kan talak atas dirimu, dik?" Ahmad Faiz berkata pelan, takut Haya tersinggung.
__ADS_1
"Sudah, mas." Jawab Haya. Haya memejamkan mata membatin nyeri, bahkan sudah tiga kali Niko mengatakan kata talak.
"Sudah berapa lama kalian berpisah?" Ahmad Faiz terlihat mulai mencari tau tentang kehidupan asmara Haya.
"Kenapa mas, tanya begitu?" Haya menatap wajah Ahmad Faiz yang tampak tenang. Padahal Ahmad Faiz sendiri sudah lima tahun berpisah dari istrinya.
"Kita tidak akan menikah sebelum masa Iddah mu selesai dik. Jika masa Iddah dik Haya selesai, pasti kita akan segera menikah." janji Ahmad Faiz dan membuat Haya tersenyum menang.
"Sungguh mas, sebentar lagi masa Iddah ku selesai, mas janji akan segera menikahi ku kan?" Haya begitu senang. Tanpa di sangka Ahmad Faiz mengiyakan permintaan nya.
"Insyallah jika kita jodoh, insyallah semuanya akan di mudah kan, walau mas belum begitu yakin pada dik Haya." AhmadFaiz kembali menggoda.
"Sekarang minum lah obat terlebih dahulu, dan istirahat, nanti pulang akan mas antar?" Ahmad Faiz membantu Haya, meminum obat pereda rasa sakit dan penurun demam.
"Terima kasih banyak, mas."
Allahu Akbar Allahu Akbar
Terdengar suara adzan dari ponsel Ahmad Faiz, ya Ahmad Faiz telah menyeting jadwal adzan sholat lima waktu di ponsel milik nya, jadi setiap jadwal sholat Adzan akan otomatis berkumandang.
"Mas pergi sholat ke mushola dulu, istirahat lah, nanti mas akan kembali lagi." Ahmad Faiz berlalu meninggalkan Haya, yang menatap kepergian Ahmad Faiz dengan berjuta asa.
"Akan kah aku akan menyakiti lelaki sebaik mas Ahmad Faiz? harus kah aku meneruskan misi gila ku ini? Itu ku lakukan, hanya demi bisa kembali bersama Attar dan mas Niko." Haya membatin.
"Bagaimana, jika aku jatuh cinta padanya?"
Haya memekik.
Bik Ijah yang menunggu di kursi ruang depan pun, segera masuk kedalam saat mendengar teriakan Haya.
"Ibu___ Ada apa?" Bik Ijah tergopoh-gopoh.
"Tidak ada apa-apa, bik." bik Ijah pun menatap wajah istri majikan nya yang sayu tersebut. Biasanya wajah sang majikan akan terlihat rapi, wangi dan modi. Tapi kali ini sungguh berbeda. Apalagi mata Haya berembun, dengan napas yang tersendat.
"Kenapa ibu teriak, bibik pikir ada sesuatu hal. Bibik khawatir terjadi sesuatu hal pada ibu?" Bik Ijah memegang dada nya merasa bersyukur, lega Haya tidak apa-apa. Jika terjadi suatu hal dengan Haya, bisa mampus dirinya.
"Maaf bik, membuat bibik terkejut?" Sesal Haya.
"Iya tidak apa-apa. OH iya Bu, boleh bibik tanya sesuatu hal?"
"Bibik mau tanya apa?"
"Siapa lelaki yang berkunjung tadi, Bu?"
"Oh, namanya Ahmad Faiz, bik."
"Apakah lelaki tersebut saudara, apa kerabat ibu, kok kayak nya perhatian banget sama ibu?" Bik Ijah begitu keppo. Karena sepengetahuan bik Ijah, Haya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali keluarga Syah.
__ADS_1
"Iya, bik."
Bik Ijah enggak maksud ucapan Haya yang mengatakan kata iya. Iya apa maksud nya? Bik Ijah hanya menuruti apa perintah Niko, sebab Niko membayar mahal bik Ijah.
"Bibik sudah makan apa belum?"
Bik Ijah menggeleng pelan.
"Pergilah ke kantin, untuk membeli makan siang bik. Aku sudah lebih baik, jangan khawatir," Haya.
"Baik Bu, terimakasih sudah di ijinkan buat makan siang, bibik memang lapar," Haya tersenyum dan mengangguk.
Haya mengambil ponsel dan mengirim pesan pada nomor Niko.
"mas aku ada kabar baik, mas Ahmad Faiz akan menerima menikah dengan ku, mungkin seminggu lagi."
Send
Semenit, dua menit tiga menit, lima menit, bahkan sampai hampir dua puluh menit, jawaban tak kunjung di dapatkan Haya.
"Sibuk kah mas Niko sekarang?" Lirih Haya dan menaruh ponsel di atas nakas.
"CK kenapa enggak di balas sih, mas?" Haya merasa sebal pesan nya tidak kunjung di balas Niko.
Haya mengambil dan mengusap layar ponsel nya, namun tetap kosong.
"huh____" Haya mendesis sebal.
"Wah syukur deh ya, aku harap waktu akan segera berlalu. Seminggu lagi bukan waktu yang cukup lama, semangat Haya sayang?"
Sebuah pesan masuk setelah hampir tiga puluh menit Haya menunggu.
"Iya mas, pasti!" balas Haya cepat, bukan kah hampir beberapa waktu Haya dan Niko tinggal bersama, bahkan dosa zina mereka pilih, lalu kenapa sekarang ingin semuanya berubah?
Haya meletakan ponsel kembali di atas meja, hati yang lumayan tenang membuat Haya sedikit ingin memejamkan mata dan waktu.
Haya menarik selimut sampai atas bahu, dan memejam kan mata yang mulai terasa mengantuk, mungkin sebagian efek obat yang baru saja di minum.
"Ayah____" Haya memeluk sang Ayah yang tersenyum ke arah nya.
"Kenapa Ayah kemarin meninggalkan Haya? Haya panggilin Ayah, tapi Ayah enggak denger. Haya sayang Ayah, Ayah jangan benci dan jangan marah sama Haya ya? Ayah jangan pergi lagi?" Haya memohon.
Sang Ayah mengusap pucuk kepala Haya dengan lembut, Haya merasa tenang dan nyaman.
Ibu pun membelai bahu sang anak, Haya merasa seperti anak kecil, yang sedang di manja dan di sayang kedua orang tua nya. Haya tidak ingin buaian itu lepas dari dalam dirinya.
Dengan kelembutan, dan kasih sayang, Haya ingin hidup lebih lama lagi.
__ADS_1