
Subuh datang membangunkan Ahmad Faiz. sungguh Ahmad Faiz masih ingin larut memandang wajah ayu Haya, namun sekali lagi waktu subuh sudah tiba menghampiri.
"Mas masih enggak menyangka dik, kisah rumah tangga kita di awali oleh rencana dan misi hawa nafsu belaka mu. Namun ternyata Allah mengijin kan kita untuk tetap bersama tanpa harus melukai, dan mas sangat menginginkan dik Haya bisa lebih bahagia dan tentram saat hidup bersama mas," batin Ahmad Faiz sambil mengusap kening Haya.
Klik...
Sebuah pintu kamar utama di buka, Nahla menghampiri dan tersenyum lebar.
"Pagi mas_____?" Sapa Nahla begitu renyah.
"Pagi, Nahla," jawab Ahmad Faiz sambil membalas senyum Nahla.
"Bagaimana tidur mu apakah nyenyak?" tanya Ahmad Faiz kepada Nahla.
"Hem____, Alhamdulillah nyenyak mas. mungkin karena lelah, habis perjalanan jauh, jadi aku benar-benar tertidur begitu pulas."
"Syukur lah."
"Mas sholat subuh dulu gih, ini sudah masuk subuh. Adzan juga sudah berkumandang dari tadi," Nahla tau tempat sholat ada di dalam kamar, jadi susah bagi mereka untuk sholat sebelum Nahla keluar dari kamar.
"Iya Nahla, ini juga mas mau membangunkan dik Haya," Ahmad Faiz mengusap lembut pucuk kepala Haya.
Ada sesak yang tiba-tiba menghimpit hati Nahla. Entah kenapa, sakit itu bisa tiba-tiba datang. Bukan kah memang itu seharus nya yang dilakukan Ahmad Faiz dan Haya, mereka sepasang suami istri. Lalu kenapa separuh hati Nahla merasa sesak dan sakit bagai di tusuk seribu duri?
Banyak seandainya dan andai saja hadir membayangi pikiran Nahla yang sudah mengabur. Sakit itu kian terasa dan nyata, rasanya seperti banyak rasa di dalam asa.
Di lain sisi Nahla merasa sangat merepotkan Ahmad Faiz. menganggu rumah tangga Ahmad Faiz dan Haya karena kehadiran nya yang tak di undang dan tidak di harapkan. dengan mata yang berkaca-kaca, Nahla berlalu ke dapur dengan menahan perih yang terus di gores semakin dalam.
Untuk menghilangkan kepedihan, Nahla mengalihkan dengan merebus air minum di dalam panci.
"Kenapa hatiku begitu sakit ya Allah, ini tidak boleh. Aku tidak boleh mencintai suami orang, astagfirullahaladzim____!" Nahla masih memegang knop kompor karena merasa hati kian di gerogoti rasa cinta yang terus di pendam tanpa mampu di ucapkan.
Nlkutik... Blukudtuk...
Klik, kompor dimatikan..
Nahla merebus tiga cangkir air dan menyeduh teh kedalamnya, sembari melihat ke arah dalam kamar, Ahmad Faiz dan Haya tak kunjung usai menjalankan sholat subuh.
Nahla mengambil beberapa genggam beras lalu menanak nya di panci. Niat hati Nahla ingin membuat bubur ayam untuk sarapan pagi mereka.
"Hey Nahla, lagi masak apa?" Haya menghampiri Nahla yang tengah memasukan beras kedalam panci dan memberinya air.
__ADS_1
"Aku mau buat bubur ayam mba, oh iya itu teh nya di minum dulu mba, mumpung masih hangat," Nahla menunjuk ke arah atas meja yang ada di ruang tamu. dua cangkir teh sudah siap.
"Wah terimakasih, Nahla. lah, punya mu mana teh nya?" lirih Haya merasa senang.
"Iya, mba sama-sama. itu teh ku." Nahla menunjuk teh yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Nahla menoleh ke kanan dan ke kiri. "mba, enggak punya daun bawang ya?" tanya Nahla sambil mencari-cari.
"Enggak ada. Aku hanya ada bumbu dasar saja, bagaimana apa kamu mau beli Nahla? jika iya, ayok aku temanin kamu membeli daun bawang, kita akan beli bahan masakan yang kita butuhkan, di gang depan."
"Boleh, mba," Nahla dan Haya berjalan beriringan. Menuju ke pertigaan yang tak jauh dari rumah, untuk membeli beberapa sayur mayur.
Cuaca yang masih pagi membuat udara masih terasa segar dan bersih. "jauh enggak sih, mba?" tanya Nahla begitu antusias dan menikmati perjalanan bersama Haya.
"Enggak kok, Deket," Dan benar saja apa yang di katakan Haya, hanya butuh sekitar tujuh menit mereka sampai di dasaran penjual sayur mayur.
Nahla begitu antusias melihat banyak nya sayuran hijau dan beraneka ragam.
"Ya Allah mba, sayuran nya masih seger-seger banget," ucap Nahla sumringah.
"Iya dong mba, sayuran disini selalu baru dan fresh," jawab penjual sayur sambil melempar senyum.
Nahla pun memilih bahan apa saja yang akan di masak untuk bahan bubur ayam, dan sekalian untuk makan siang.
Haya merasa sedikit kalah dalam hal urusan masak memasak. Nahla begitu pandai, sedang Haya masih belajar. lihat lah betapa lihai Nahla memimilih dan memilah bahan apa saja yang akan di gunakan untuk memasak bubur ayam, lengkap dengan daging.
Dan Haya sendiri baru bisa masak telor dadar, tumis dan sop itu pun masih sering keasinan. Untuk memasak aneka olahan dari daging, jujur Nahla angkat tangan karena tidak pandai, dan belum hapal apa bumbu dan bagaimana cara memasak nya.
Setelah memilih beberapa bahan masakan. Haya dan Nahla kembali pulang kerumah, sesampainya di rumah Haya langsung gegas pergi untuk mandi, tidak bisa membantu Nahla untuk memasak. Karena memang ada keperluan.
"Nahla, aku mandi dulu ya? maaf aku tidak bisa membantu mu masak," Pamit Haya sebelum pergi.
"Iya, mba tidak apa-apa," Nahla pun kembali melanjutkan memasak untuk sarapan dan untuk bekal makan siang Ahmad Faiz dan Haya, serta dirinya juga.
Dengan lihai Nahla memasak bubur Ayam lengkap dengan toping telur rebus, suwiran ayam goreng, daun bawang, ah komplit pokok nya dan menjadikan tatanan mangkok menjadi lebih menggoda, di pandang mata.
Haya yang melihat dari balik pintu pun menunduk sedih.
"perjuangan cinta baru akan di mulai, tapi ini membuat ku minder tak percaya diri," Haya segera masuk kedalam kamar untuk mengambil baju ganti, perasaan sedih hadir di dalam hati Haya tanpa di pinta.
Tok... Tok...
__ADS_1
"Assalamualaikum____"
Suara seseorang membuyarkan lamunan Nahla. Nahla menghentikan adukan masakan chicken kari yang menguarkan Aroma nikmat itu dengan mengecilkan api kompor.
"Biar aku saja, Nahla," seru Haya yang sudah rapi dan terlihat anggun serta cantik, modis dan fashionable begitulah batin Nahla.
"Aku tidak akan ada sepucuk kuku mba Haya. Jika antara aku dan mba Haya di bandingkan. okay aku pandai masak, tapi mba Haya pandai di segala bidang. Cantik, wanita karir dan wanita luar biasa," batin Nahla merasa rendah.
"Bagaimana mas Evan, apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Haya, dengan penuh kepastian.
"Boleh! karena memang jadwal ku hari ini rada sibuk, lebih pagi lebih baik." jawab Evan. rencananya hari ini Evan akan menemani Haya menyelesaikan beberapa dokumen penting tentang pengajuan gugatan cerai yang akan di layangkan untuk Niko.
"Mba_____,Tunggu." suara Nahla terdengar memotong ucapan antara Evan dan Haya.
Haya menoleh dan menatap nahla heran.
"mba harus sarapan dulu, aku sudah masak buat mba loh," lirih Nahla dengan raut wajah cemas masakan nya akan di abaikan. Sebab Nahla sudah membuatnya dengan sepenuh hati, masa iya malah tidak dimakan.
"Tapi teman mba sudah datang," Haya tampak bingung. Jika menolak Nahla, kasihan Nahla, sudah dari pagi Nahla berkutat di dapur.
"Ayo lah mba_____, sayang kan mubazir. aku juga sudah masak spesial buat mba Nahla dan mas Faiz. aku sedih nih!" seru Nahla dengan nada kecewa.
"Baik lah___, Aku akan sarapan." Haya menoleh ke arah Evan termangu, Evan memandang Nahla tanpa berkedip.
"Sarapan bareng yuk, mas?" Ajak Haya ramah.
"Tapi aku sudah sarapan, Haya. yah, walaupun hanya segelas coffe," jawab Evan gamang.
"Ayolah sedikit saja," tawar Haya ramah, dan sedikit memaksa.
Ahmad Faiz yang baru keluar kamar pun ikut gabung untuk sarapan pagi bersama. Karena ada seorang lagi, maka Nahla menyiapkan bubur ayam juga untuk Evan, dengan porsi yang sama.
"Bagaimana, mba. Enak tidak?" tanya Nahla pada Haya tentang penilaian masakan bubur ayam yang di masak oleh tangan Nahla.
"Enak____, Ini enak sekali. Aku perlu banyak belajar cara memasak darimu, Nahla." Haya benar-benar merasa bodoh di depan Ahmad Fais. istri tidak sempurna, bahkan membuat selera makan suami saja tidak becus. Haya membatin merasa bodoh
"Alhamdulillah kalau mba suka," jawab Nahla, begitu senang. apalagi Ahmad Faiz terlihat begitu menikmati masakan Nahla.
Evan sesekali melirik manja ke arah Nahla. namun Nahla sedikit pun tidak tertarik untuk membalas tatapan atau sekedar melirik Evan, Nahla tidak perduli. Benar-benar tidak perduli.
Selesai sarapan pagi, Ahmad Faiz berangkat kerja ke kantor, sedang Haya dan Evan pergi untuk mengurus masalah antara Haya dan Niko. Nahla sendiri berkutat di rumah untuk membersihkan rumah dan beberes.
__ADS_1