Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kedatangan Nahla


__ADS_3

"Di, percaya akan ada kemudahan di balik kesulitan. Percaya jika Allah begitu menyayangi dik Haya."


"Kenapa Allah menyayangi ku dengan cara menguji ku seperti ini, mas? Ini terasa berat, dan aku hampir tidak mampu lagi. Aku benar-benar rapuh?" Haya merasa lemah tiada daya.


"Allah ingin tau kualitas Iman di Haya. Semakin ujian seorang hamba berat, maka akan semakin di angkat derajat nya di sisi Allah. Jika Allah memberikan kehidupan yang mulus dan sesuai dengan apa yang dik Haya inginkan. Apakah dik Haya bisa menjamin akan tidak lupa untuk selalu bersyukur?"


"Tapi ini terasa berat, mas!" Haya masih saja merasa lemah.


"Percayalah Allah menguji dik Haya, karena Allah tau jika dik Haya mampu. Sabar dan ikhlas ya dik. Akan banyak hikmah di balik ujian yang harus di cobain oleh dik Haya," Ahmad Faiz tersenyum menyemangati.


Hiks____hiks____


Haya memeluk Ahmad Faiz sambil terisak. Haya tidak tau lagi, dimana akan membawa hati yang rapuh untuk bersandar mencari kenyamanan, selain kepada Ahmad Faiz.


Bukan kah teman sosialita semasa hidup bersama Niko dahulu, hanya akan memandang kualitas harta. Jika saja mereka tau kini Haya hidup seperti ini, tidak lah mungkin mereka mau berteman dengan Haya. Bahkan, mungkin mereka akan memandang Haya hanya sebelah mata tak perduli lagi.


Haya merasa kian pilu, saat menyadari jika orang yang akan selalu ada disaat dirinya rapuh dan hancur telah berpulang kepangkuan sang Ilahi Robbi. Yah, kedua orang tua Haya sudah bahagia di surga nya Allah. Haya sudah benar-benar kehilangan permata hati.


Bahkan orang yang Haya percaya dan Haya puja, Niko. Kini telah berlaku curang padanya, membuatnya menangis, membuatnya bersedih, membuatnya menderita.


"Mas jangan tinggalkan, aku?" Lirih Haya di sela isakan nya sambil mengeratkan pelukan tersebut. Ada rasa khawatir jika saja, semua orang yang Haya sayang akan pergi dari kehidupan nya.


Ahmad Faiz masih mengusap punggung Haya untuk memberikan kekuatan energi. Agar Haya jauh lebih kuat dan tegar dalam menghadapi semua masalah yang tercipta, Ahmad Faiz memejamkan mata merasa jika ujian ini terasa lebih berat, dari apa yang di bayangkan. mungkin lisan berkata, sabarlah. tapi, sungguh sabar adalah suatu hal yang luar biasa.


"Mau kan mas berjanji!" Lirih Haya lagi. Meminta jawaban dari Ahmad Faiz.


"Insyallah, dik. Jika Allah mengijinkan, insyallah kita akan selalu bersama fii Din wal akhiroh."


"Terima kasih ya mas. Mas orang yang baik, mas tidak marah saat tau aku, dan mas Niko mencoba memanfaatkan kebaikan mas. Mas, orang baik. karena mas mau menerima segala kekurangan ku. Sekali lagi terimakasih banyak mas, dan sekali lagi aku ucapkan maaf, maafkan aku ya mas?" Sesal Haya.


"Mas bukan orang baik, dik. Mas juga cuma manusia biasa yang banyak salah dan khilaf. Hanya saja mungkin Allah menutupi segala aib mas. jadi, dik Haya tidak tau borok nya mas."


"Tapi bagi ku, mas adalah seeprti seorang Malaikat bernyawa. Aku sayang mas Faiz, dan aku berjanji akan belajar menerima segala kekurangan dan kelebihan mas Faiz. aku akan belajar menjadi wanita yang baik, dan aku akan belajar mencintai mas Faiz tanpa syarat," Haya menatap mata Faiz yang begitu meneduhkan, Haya berkata dengan penuh kesungguhan.


Haya kembali memeluk Ahmad Faiz dengan begitu nyaman. Selama hampir satu bulan mereka bersama dan selama itu pula benih-benih cinta mulai tumbuh, seiring waktu bunga yang tengah tumbuh selalu di siram oleh kasih sayang serta perhatian. hingga Cinta itu kian kuat dan saling menguatkan.


Kisa sebuah pernikahan berambisi. lalu, bagaimana hukum nya? yang jelas, dari awal menikah, Ahmad Faiz meniatkan menikah karena ibadah. bukan karena hal lain. terlepas dari niat Haya. Niat Ahmad Faiz sangat baik. jadi, bagaimana nasib pernikahan Haya dan Faiz? tentu masih sah lagi halal.


Sungguh Ahmad Faiz mengerti, bahwa ada sebagian ulama yang melarang pernikahan Muhallil. karena niat dari pernikahan ini masih di perdebatkan.


bahkan Rasulullah tidak menyukai pernikahan seperti ini. Karena tujuan orang menikah itu untuk mencapai bahagia. Sakinah, mawadah warohmah. Jika pernikahan di landasi dengan niat yang demikian, itu sudah jelas bertentangan dengan rukun sah pernikahan.


Tapi, semua kembali pada pedoman apa yang kita pegang. Jika niat nya baik, karena menjadi Muhallil demi menyelamatkan sebuah rumah tangga dari kehancuran. hati ikhlas, mungkin ada poin-poin khusus dari itu.


Ahmad Faiz menghela napas panjang.

__ADS_1


"Semoga Allah selalu menjaga hati, pikiran dan badan kita dari perbuatan jahat, dik."


"Aamiin____," Balas Haya yakin.


Ahmad Faiz dan Haya pun mengistirahatkan tubuh yang lelah. Pikiran yang terkuras dengan cara tidur, mungkin setelah bangun tidur badan akan kembali bugar dan hati sedikit lebih baik.


Haya selalu memandang wajah Ahmad Faiz dengan tatapan penuh Cinta. Padahal Ahmad Faiz sudah tertidur, dan mungkin sedang berkelana ke alam mimpi. Haya masih setia memandang wajah yang menyejukkan itu dengan seksama.


"Terkadang cinta aneh. Cinta datang terlambat dan tidak bisa ku bayangkan bahwa cinta terakhir itu ada. Memang mas Niko itu cinta pertama ku, namun mas Faiz adalah cinta terakhir ku. Tidak akan ada suami baru lagi dalam hidup ku. Tidak akan!" Haya bergumam lirih sambil memegang tangan Ahmad Faiz penuh cinta.


Haya berpikir akan terus berjuang untuk mendapatkan hak asuh Attar. Apalagi Evan telah memberikan bantuan berupa semangat dan dukungan penuh, agar Haya bisa mendapatkan hak-hak yang telah di rampas oleh Niko.


"Alangkah baik nya Allah telah mengirimkann seseorang yang mau membantu ku dalam kesulitan. Aku yakin aku bisa berkumpul lagi bersama Attar!"


"Meski ini terlambat, tapi mungkin begini cara Allah memberikan pengalaman hidup. Akan banyak makna yang bisa ku ambil dari masalah ini," Haya tersenyum penuh kegetiran.


Tok... Tok...


"Assalamualaikum_____?" Suara seorang perempuan dari balik pintu utama, membuat nyali Haya menciut, rasa takut hadir di dalam hati Haya yang baru saja mulai membaik.


"Siapa malam-malam mengetuk pintu. Apa itu hantu, tapi masa hantu mengucapkan salam," Haya menebak dan enggan membukakan pintu. Selain takut, Haya juga khawatir itu hanya perbuatan orang iseng, atau jangan-jangan malah perampok.


Perampok, Haya hampir tertawa lebar saat membayangkan ada perampok. Apa yang mau di ambil dari rumah sederhana mereka. Tidak ada barang berharga, kecuali nyawa pemberian dari sang maha pencipta.


Tok____tok____


Tok____tok____


"Assalamualaikum____?" Suara orang mengucapkan salam pun terdengar kembali. Haya menjawab salam pelan namun tak berani membuka pintu. Haya bangun hendak melihat dari celah, siapa kah gerangan orang yang bertamu di depan rumah nya malam-malam begini.


Jika membangunkan Ahmad Faiz, Haya merasa kasihan tidak tega. Biarkan lah sang suami berkelana ke alam mimpi, jangan di usik apalagi di ganggu Haya tau jika Ahmad Faiz begitu lelah dan penat.


"Maaf ya mas, aku membuat mu masuk dan ikut serta dalam kemelut rumah tangga ku yang dahulu," Haya memandang wajah yang berseri-seri milik Ahmad Faiz, lagi.


Drt.....


Haya megalihkan pandangan pada ponsel milik Ahmad Faiz yang bergetar. Suara getaran yang menandakan ada panggilan masuk. Haya pun mendekati handphone tersebut.


Nahla____


Ada nama Nahla, disana.


"Ngapain malam-malam begini, Nahla menelpon?" gumam haya khawatir, lalu menekan tombol jawab. Takut ada hal yang penting.


"Hallo____, Assalamualaikum mas Faiz?" Suara Nahla terdengar berat di ujung telepon sana.

__ADS_1


"Walaikum salam," jawab Haya cepat.


"Mba Haya, ya?" lirih Nahla bergetar.


"Iya. ada apa Nahla, mengapa malam-malam menelepon?" Tanya Haya khawatir.


"Mba bisa minta tolong bukain pintu di depan, aku sudah ada di depan rumah mba."


"Serius kamu, Nahla!" Haya sungguh terkejut bukan kepalang.


"Iya, mba." jawab Nahla serius.


Haya pun mematikan ponsel dan gegas keluar dari kamar menuju pintu utama. Rasa penasaran dan tidak mungkin Nahla bisa sampai kediaman nya, menyelimuti pikiran Haya kala itu.


Klik___


"Mba Haya____!" Nahla menunjukan wajah sendu dan langsung memeluk Haya dengan begitu erat.


"Ayo masuk?" Ajak Haya sambil membawakan tas ransel milik Nahla kedalam ruang tamu. tangan Nahla di gandeng menuju ruang tamu oleh Haya.


"Duduk lah!" Haya menyuruh Nahla untuk duduk, sedang Haya menyiapkan teh hangat untuk Nahla. Haya yakin Nahla pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari kampung menuju kota. dimana Haya dan Ahmad Faiz tinggal sekarang.


Nahla menoleh ke samping kanan dan kiri. Rumah sederhana hanya dengan dua insan dan berjenis kelamin berbeda. Seandainya, ini adalah rumah milik nya dan sang suami, pasti Nahla akan menjadi wanita paling beruntung. Namun sayang harapan tak seindah kenyataan, sekeras apapun Nahla mencoba, namun takdir yang bergaris kan jodoh berkata lain.


Dari dulu Nahla menyukai Ahmad Faiz, namun tak sedikit pun, Ahmad Faiz pernah merespon akan perasaan Nahla yang begitu dalam. Betapa bodoh nya Nahla menyimpan cinta untuk Ahmad Faiz, bahkan Nahla tak mengijinkan siapapun tau tentang perasaan nya itu.


Entah sampai kapan Nahla akan memendam rasa untuk Ahmad Faiz, yang jelas Nahla akan selalu menyimpan nya. Tak perduli jika kini Ahmad Faiz telah beristri, ya begitulah cinta terkadang tak sesuai dengan logika.


Nahla menghela nafas panjang, sambil meluruskan kaki menetralkan rasa pegal dan lelah karena beberapa jam naik bus, pindah ke taksi untuk menemui alamat rumah yang dulu Ahmad Faiz pernah berikan.


Beberapa bulan yang lalu sebelum Ahmad Faiz menikah dengan Haya. Ahmad Faiz pernah memberikan alamat rumah milik nya di kota pada Nahla.


Dulu Nahla berpikir jika rumah ini akan menjadi rumah milik nya dan Ahmad Faiz, namun nyata nya tidak!


Bukan dirinya yang tinggal disini tapi wanita lain, menyedihkan bukan..!


"Mba Khadijah, maafkan aku, sampai detik ini aku masih mencintai suami mu. Namun, tetap saja mas Faiz memang bukan lah jodoh ku. Nyata nya dari dulu sampai kini, aku tidak di beri kesempatan untuk hidup bersama mas Faiz. Sedikitpun tidak." Gumam Nahla sambil memijit kaki yang terasa pegal dan hati yang sakit.


"Ini aneh, aku datang kerumah orang yang aku cintai," batin Nahla tersenyum pias.


NB: Dalam bab ini maaf jika banyak kekeliruan tentang penjelasan pernikahan Muhallil. sebab, ilmu agama yang masih cetek dan perlu belajar lagi. Saya selaku penulis, menerima saran dan nasehat dari sahabat semua..


Terimakasih sudah membaca karya saya🥰


Salam sejahtera buat kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2