Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
penanaman iman sejak dini


__ADS_3

"Tidak ada gunanya, kamu memarahi Bella sekarang. Bahkan, nyawanya di dalam sana pun sedang berjuang antara hidup dan mati. Kamu selalu bersikap kasar pada Bella, tidak bisakah sekali saja kamu menurunkan ego mu dan mengalah," tegur nenek Bella, pada bapak Bella yang tampak begitu marah dan kecewa pada Bella.


"Ibu selalu saja membela Bella, dan lihat lah anak itu sekarang. Sifat nya sudah amburadul tidak jelas, terkesan seperti anak dengan pergaulan bebas. Aku nyerah sebagai seorang bapak, aku tidak tau lagi bagaimana caranya menghadapi Bella?" jawab bapak Bella dengan memelankan suara.


Nahla terdiam.


Kenapa nenek dan bapak Bella, malah beradu pendapat di saat Bella sedang berjuang antara hidup dan mati. Seharusnya mereka berdoa untuk kesembuhan Bella. Nahla memejamkan mata, berharap ada keajaiban.


"Bella sadarkan diri," ucap seorang perawat mendekati keluarga Bella.


Bapak dan nenek Bella hendak masuk kedalam, namun dokter mencegah. "Bella bilang, dia ingin bertemu sahabat nya, yang bernama Nahla," ucap sang perawat memberi pengertian.


Bapak dan nenek Bella saling menatap, memandang Nahla penuh rasa heran.


"Terimakasih sus, saya permisi, pak, nek." Nahla lekas masuk kedalam ruangan dimana Bella terbaring lemah tak berdaya. Namun nenek dan bapak Bella ngeyel tetap ikut masuk, mereka khawatir akan keadaan Bella.


"Bell...," Nahla mendekat dan mengamit tangan Bella dengan mengusapnya perlahan. Mata Bella melihat nenek dan bapaknya mendekat ke arah ranjang.


"Nahla, maaf aku tidak bisa menepati janji ku, untuk belajar menjadi orang yang lebih baik, seperti dirimu. Aku sudah tidak kuat lagi, Nahla." lirih Bella begitu lemah.


"Bell..* jangan bicara seperti itu. Kamu akan segera membaik, dan kita bisa belajar bersama-sama. Persis seperti janji kita," Nahla mengusap jemari Bella penuh harapan.


"Di kartu identitas ku, aku beragama muslim. tapi, aku tidak tau kapan aku harus berdoa dan beribadah. Bahkan aku berpikir, saat aku mati nanti, apakah aku akan seperti di film-film, aku akan gentayangan, karena aku tidak tau, siapa Tuhan ku yang sebenarnya?" mata Bella tampak berkaca-kaca.


Nahla mengusap lengan Bella, dengan penuh kelembutan.


"Jika suatu hari aku mati, doakan aku ya Nahla. Minta pada Tuhan kita, agar Tuhan memaafkan dan mengerti kondisi ku yang seperti ini."


"Bell____!" lirih Nahla dengan terisak.


"Mereka tidak tau, betapa hancurnya hidup ku. mereka hanya melihat dari luar, aku perempuan yang tidak bisa di kendalikan, bahkan aku terkenal perempuan Lia*. begitu kan yang terlihat."


"Sekali lagi, aku pun sama seperti kamu dan mereka. Aku punya perasaan dan cinta, Nahla."


"Jika nanti aku sembuh, ajari aku menjadi wanita baik seperti mu, Nahla. Aku ingin menjadi seperti mu, aku lelah menjadi aku yang sekarang. mungkin ini teguran dari sang maha pencipta, karena aku telah berbuat banyak salah. untuk sekarang aku tidak ingin mati, Nahla. aku masih ingin bertaubat."


Nit..


Nit...


"Bella... Bell....!" pekik Nahla.


Nahla begitu panik, karena Bella memejamkan mata dengan meninggalkan air mata yang mengalir dari sudut matanya.


Tolong....


Nahla berteriak memanggil, meminta bantuan.


Nahla berlari menghampiri dokter yang berjaga.


Dokter, suster dan segera masuk, untuk melihat kondisi Bella. Setelah mendengar teriakan Nahla.

__ADS_1


Bella..


Bella..


Dokter dengan cepat tanggap, memacu detak jatung Bella yang hampir down. Tapi takdir berkata lain, masa Bella telah berakhir.


Nahla benar-benar tidak habis pikir, kenapa hidup Bella harus berakhir seperti itu? kenapa Bella harus pergi secepat ini, kenapa Bella pergi dengan membawa luka dihati?


Dokter menutupi tubuh Bella menggunakan selimut rumah sakit, Bella telah di ambil sang maha pencipta.


Nenek Bella, meratapi kepergian Bella dengan menangis hingga jatuh pingsan.


Bahkan jasad Bella akan di bawa pulang, ke kampung halaman Bella.


Berita duka yang sampai masuk kedalam berita televisi nasional, itu sangat menyedihkan.


Apa hikmah yang di dapat, dari hidup Bella. kecuali rasa syukur dan selalu menempatkan iman di hati.


"Beristirahatlah dengan tenang bell, semoga kamu menemukan kebahagiaan disana, di surganya Allah."


Ini bukan salah Bella sepenuhnya, peran andil keluarga sebagai penguat pertama pun perlu di pertanyakan.


Bella merasa kesepian, sendirian, bahkan Bella merasa tidak ada orang yang benar-benar perduli padanya.


Pendidikan ilmu Agama pun di perlukan, agar hal demikian tidak terjadi. MBpenumbuhan iman di dalam hati, sehingga menjadi jiwa yang kuat dan sabar


****


Sedang jaksa penuntut dan jaksa pembela masih beradu argumen.


"Inikah akhir dari sebuah pernikahan ku, dengan mas Niko, impian yang hancur lebur. Seperti serpihan puing-puing hati yang kian terasa menyesakkan."


"Apa yang aku dapatkan, dari ini semua ini? akan kah anak yang seharusnya di jaga dan di beri kasih sayang seutuhnya, harus di perebutkan, dan harus menghabiskan berpuluh-puluh juta uang demi ambisi kedua orang tuanya. Bahkan, itu mungkin bisa saja menjadi trauma bagi anak ku, Attar."


Ahmad Faiz mengusap pundak Haya, memberi kekuatan.


Namun di tengah kekuatan yang Haya ciptakan. nyatanya keputusan puncak masih saja di tunda, dalam dua Minggu kemudian.


Apa-apaan ini, kenapa harus di tunda, kenapa tidak langsung di putuskan? Kenapa perlu pertimbangan padahal bukti dan saksi sudah ada, jelas nyata adanya.


Satu persatu orang pergi, Haya dan Ahmad Faiz pun pergi dengan bergandeng tangan. Ahmad Faiz terus menerus memberikan sedikit kekuatan kepada Haya.


"Dasar wanita gatal!" Bu Astri tiba-tiba menghadang dan menghardik Haya. padahal selama ini, Bu Astri tidak pernah berkata kasar pada Haya.


hari ini bu Astri hadir, di persidangan perceraian Niko dan Haya. Bahkan Bu Astri mengecam sikap Haya yang menurutnya berlebihan dan tak tau di untung.


"Bukan kah kamu sudah mendapatkan lelaki ini, lalu kenapa kamu masih membutuhkan hak asuh Attar? serakah kamu, Haya."


Haya masih diam, enggan menjawab pertanyaan Bu Astri.


"Kamu pikir, lelaki ini bisa membahagiakan cucu ku. Mata pun bisa melihat dari wajahnya saja sudah terlihat dia orang tidak mampu, bangun lah dari tidur mu, Haya."

__ADS_1


"Maafkan aku, Bu?" Sela Haya dan berlalu pergi tanpa mau berdebat dengan Bu Astri jauh lebih panjang lagi.


"Baru saja beberapa bulan di talak, Haya sudah gatal dengan lelaki yang jauh lebih buruk dari pada Niko. Dasar, selera rendahan." sergah Bu Astri merasa meradang karena sikap Haya yang memilih diam tak mau meladeni amarahnya.


"Sudah lah, Bu. Tenang, nanti ibu yang jatuh sakit karena memikirkan masalah keluarga Niko dan Haya." Angel menasehati sang Ibu, yang terus meronta ingin marah.


"Rasanya aku ingin, mencabik-cabik Haya. apa dia tidak berpikir bagaimana perasaan Niko sekarang. Dia malah enak-enakan dua-duaan sama lelaki gembel itu!" ketus Bu Astri penuh amarah.


"Bapak mu juga, mana mau belain Niko. Selalu saja membela Haya." Angel membawa sang ibu untuk segera naik mobil, berharap Bu Astri mereda emosinya.


Dalam perjalan pulang, Haya mengusap air mata di pelupuk matanya, dan menatap Ahamd Faiz begitu dalam.


"Sudah lah dik, jangan bersedih lagi." Pinta Ahmad Faiz yang melihat istrinya tampak murung.


Haya mengangguk dan memeluk Ahmad Faiz. begitu erat.


"aku telah kehilangan semuanya, aku mohon jangan pergi dari ku, mas?" Haya memejamkan mata, menahan perih di hati yang kian hari semakin menjadi.


"Iya... Mas akan selalu berada di dekat dik Haya, selalu di hati dik Haya. Insyallah."


"benar ya, mas!" Haya menautkan jemari nya dengan jemari Ahmad Faiz. Ahmad Faiz tersenyum simpul.


"Apakah dik Haya, benar-benar yakin akan keputusan yang dik Haya ambil?" tanya Ahmad Faiz meminta kejelasan Haya.


Haya menatap mata Ahmad Faiz mencari jawaban, atas pertanyaan yang di lontarkan.


"Jika dik Haya ragu, dan dik Haya mau bersatu lagi dengan Niko, agar dik Haya bisa merawat dan mengasuh Attar lagi. Maka mas akan melakukan nya untuk mu, dik."


Deg


"Mas, melakukan itu semua karena mas tidak ingin memiliki dik Haya, jika hati dik Haya masih tertinggal disana. Mas hanya ingin yang terbaik, melihat dik Haya selalu bahagia tentunya."


"Apa yang mas bicarakan!" Haya merasa tidak suka dengan kalimat Ahmad Faiz.


"Jangan bilang seperti itu lagi, aku tidak mau mendengar nya. Berjanjilah untuk tidak mengatakan hal konyol itu lagi?" Imbuh Haya berharap Ahmad Faiz tidak berpikir untuk meninggalkan Haya.


Ahmad Faiz tersenyum dan mengusap pipi Haya yang basah. kriek...


"tangan mas kenapa?" Haya merasa tangan Ahmad Faiz terasa tidak seperti biasanya.


Haya mengambil dan melihat jemari Ahmad Faiz. banyak kapal tangan yang tumbuh, ada luka lecet dan warna kulit terlihat lebih gelap dari sebelum nya.


"Mas, kenapa tangan mas seperti tangan pria yang suka bekerja kasar, menggunakan otot misalnya. Bahkan, banyak luka. apa mas sekarang kerja di lapangan?"


hehehe


"tidak, dik." jawab Ahmad Faiz dengan berusaha tersenyum dalam kebohongan.


"Bahkan akhir-akhir ini, mas suka mencuci baju setelah pulang bekerja?" Haya merasa heran dengan sikap Ahamd Faiz yang berbeda dari biasanya.


"Hem..., Sudahlah jangan pikirkan hal itu. mungkin itu hanya perasaan dik Haya saja, mas kan ingin meringankan pekerjaan rumah. Mungkin efek dari mas mengepel lantai," Ahmad Faiz berkata ngawur.

__ADS_1


tidak mungkin


__ADS_2