Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Berbaik sangka


__ADS_3

"mba, makan ya?" Nahla menawari Haya makan, untuk yang kesekian kalinya.


Namun lagi dan lagi menerima penolakan.


Haya tetap menggeleng tak mau makan.


"Aku akan makan, setelah mas Faiz pulang. Kita akan makan bersama-sama."


Nahla berdiri, membuka tirai jendela, hujan di luar masih sama, deras.


"Apa mas Faiz terjebak hujan ya?" Nahla mencoba menenangkan hatinya sendiri. Padahal Nahla juga sangat khawatir, jam di dinding terus berputar, tapi Ahmad Faiz tak kunjung pulang.


Haya teringat, pertama kali mengodai Ahmad Faiz, saat itu hujan, dan dirinya berdua hujan-hujanan, karena motor Faiz mogok.


"Pasti montor mas Faiz mogok, mas Faiz sedang berteduh di rumah orang." gumam Haya, tersenyum mencoba berpikir jika Ahmad Faiz baik-baik saja di luar sana, hanya sedang terjebak hujan sahaja.


Sekarang Bu Malik duduk di kursi, sambil memijit pelipis. "ibu sakit kepala?" Nahla mendekati Bu Malik dengan membawa minyak kayu putih.


"Ah tidak, Nahla. ibu cuma cemas, biasanya kan Faiz pulang jam lima sore, paling lambat sebelum Maghrib. Ini apa lembur di kantor ya? Kok sampai selarut ini belum pulang," jawab Bu Malik dengan raut wajah menahan rasa sakit kepala.


Haya terdiam, memaku mendengar kalimat, demi kalimat yang Bu Malik katakan.


Haya menahan air mata agar tidak jatuh. Sungguh hatinya ingin mengatakan Ahmad Faiz baik-baik saja, tapi keraguan berhasil menguasai pikiran.


"Bagaimana jika ibu mengetahui semuanya!" Haya membatin dan sangat takut.


"Haya___, Coba nak, telpon kerabat Ahmad Faiz. kira-kira kenapa Ahmad Faiz pulang terlambat, jadi kita tidak cemas begini?" Ujar Bu Malik mencoba mencari petunjuk.


"Aku tidak punya nomor telepon teman-teman mas Faiz, Bu." sesal Haya.


"Ya Allah... Mudah-mudahan Faiz tidak kenapa-napa."


"Aamiin... " Jawab Nahla sambil mengusap lengan Bu Malik.


"Sudahlah Bu, jangan panik begitu. Nanti tekanan darah tinggi ibu naik. Sabar, mungkin Faiz masih berteduh karena hujan yang begitu deras," pak Malik menasehati Bu Malik yang tampak cemas.


Semalaman mereka berempat tidak tidur, bolak-balik melihat luar rumah. Berharap Faiz pulang, nyatanya sampai sinar mentari bersinar Ahmad Faiz tak kunjung datang.


Nahla sudah membuat sarapan, tapi tak ada yang menyentuh sarapan itu. Semua mogok makan, hanya pak Malik yang mau memakan sarapan paginya.


"Haya, kamu mau kemana nak?" Tanya Bu Malik, karena melihat Haya begitu terburu-buru sepagi ini.


"Aku mau ke kantor polisi, Bu. aku akan melaporkan kehilangan orang. Mas Faiz sudah pergi sejak jam lima tiga puluh, sampai sekarang belum juga pulang." Terang Haya tergesa-gesa.


"Ibu ikut nak?" Bu Malik pun tak kalah cemas dan ingin pergi menemani Haya.


"Tidak, Bu. ibu dan bapak di rumah saja. siapa tau saat Haya berada di luar tepatnya di kantor polisi, mas Faiz malah pulang," Haya menyemangati diri.


"Benar apa yang di katakan Haya, Bu." pak Malik pun menasehati Bu Malik, setuju dnegan usulan Haya.


"Baik lah, pergi lah nak." Bu Malik sangat berharap Ahmad Faiz akan segera pulang pagi ini.


"Ibu makan ya, ibu harus makan. Jika mas Faiz tau ibu tidak makan, pasti mas Faiz nanti bakalan sedih dan marah sama aku, karena aku bukan menantu yang baik?" Haya mendekati Bu Malik sebelum Haya benar-benar pergi ke kantor polisi.


"Iya... Nanti ibu makan ya. kamu juga harus makan, nanti beli lah makanan apa yang bisa mengganjal perut ya, nak. Kita harus tetap sehat," ucap Bu Malik.

__ADS_1


Haya mengangguk dan mencium tangan ibu dan bapak mertuanya, dengan langkah berat, Haya menuju kantor polisi.


******


"Haya kamu jangan khawatir, laporan mu akan di segera di proses," terang Evan, di halaman kantor polisi.


"Iya. makasih banyak ya mas, sudah banyak membantuku?" Haya tersenyum pias.


"Iya, Haya. by the way bagaimana kabar Nahla? Tanya Evan terdengar sangat penasaran.


"Main saja kerumah, biar bisa ketemu langsung sama orang nya." Jawab Haya.


"Aku...ah, nerveous banget tau, Haya."


Evan kikuk.


"Baiklah, aku permisi pamit pulang dulu, mas. aku akan menunggu kabar informasi tentang mas Faiz, tolong sesegera mungkin hubungi aku jika ada informasi tentang tentang mas Faiz. Assalamualaikum?"


"Walaikumsalam"


"Pak Evan, di minta bos untuk masuk kedalam," seru teman seprofesi Evan.


Evan pun segera masuk kedalam.


"Kita akan mendatangi lokasi kejadian, mari bersiap, kita gegas ke tempat perkara kejadian."


"Siap Ndan!" dua unit mobil police, menuju tempat kejadian pembangunan jembatan roboh.


Polisi segera memasang garis police.


"Bawa kerumah sakit, segera berikan pertolongan!" Mereka menyadaeri korban masih syok dengan kejadian yang menimpa di depan matanya.


Hari itu banyak petugas, yang turut serta membantu, baik dari tim SAR dan dari tim damkar, TNI dan kepolisian, serta anggota masyarakat dan pihak-pihak terkait


Warga pun banyak yang datang, untuk sekedar menyaksikan bagaimana kejadian jembatan roboh, yang di gaungkan menelan banyak nyawa.


Lima orang mandor di tanyai keterangan, ada berapa jiwa yang bekerja saat proyek pengerjaan berlangsung.


"Mandor ke empat, ada siapa saja anggota anda?" Tanya Evan dengan tegas.


"A,B,C sampai Z" mandor menyebut nama-nama pekerjanya.


"Sudah ini saja?" Tanya Evan menyakinkan Mandor.


"Bentar, pak. oh iya ada satu orang lagi, dia pekerja baru, namanya Ahmad Pais kalau tidak salah."


"Ahmad Pais atau Ahmad Faiz?" Tegas Evan mencari kebenaran.


"Entah lah, pak. Mungkin begitu kira-kira. Saya masih rada suka lupa-lupa ingat dengan nama-nama karyawan saya." pak mandor berkata sedikit ragu.


Astaga...


"Baik pak, terimakasih atas informasinya. kami akan melanjutkan pekerjaan kami," Evan gegas membantu orang-orang.


"Mayat... " Teriak seorang tim SAR.

__ADS_1


Astaga


"Disini juga ada," teriak pihak tim pencari yang lain nya.


Memberi tahu.


"Ini masih ada denyut nadi nya, tapi begitu lemah, cepat suruh ambulance mendekat dan membawanya kerumah sakit!"


View..


View...


"Kaki... Ada kaki?" Seorang TNI menemukan potongan kaki yang mengapung tersangkut jaring.


"Jam berapa ambruknya jembatan ini?" Seorang warga berbincang dengan warga yang lain nya.


Mereka riuh ramai melihat kondisi mengenaskan di depan mata.


"Sekitar jam lima sore, pas mulai hujan lebat itu." Jawab warga yang lain.


"Jam lima sore ya, bukan nya jam lima lebih tiga puluh menit," satunya lagi berbicara.


"Yang penting jam lima sore."


"Ya iyalah, masa jam lima pagi, ya mereka belum mulai lah kerjanya!"


"Ya Allah... Kasihan banget. ah gak tega lihatnya," seorang warga memilih pulang karena tak kuasa melihat tragedi tersebut.


"Hay gaes, ini ada musibah. Jembatan yang mulai di bangun ambruk gaes, dan banyak menelan jiwa, ikuti aku yuk?" Seorang warga ala-ala youtuber membuat konten di media sosial miliknya.


Hujan kembali membasahi bumi, dan itu menyulitkan tim untuk melakukan pencarian.


Hawa yang dingin, di tambah cuaca yang tidak bagus, itu sangat membuat tim kepayahan.


Sudah ada lima jasad yang di temukan, ada sebuah potongan kaki, dan sebuah potongan tangan.


Sabar duduk di tepi jembatan, sambil melihat kebawah.


"Bro, apakah kamu baik-baik saja, maafkan aku bro?" sesal Sabar teman Ahmad Faiz.


"Bar____!"mandor sabar menepuk pundak sabar.


"Ini benar-benar tragis, pak." Sabar merasa prihatin akan musibah yang menimpa proyek pembangunan jembatan.


"Aku pun tidak menyangka nya, bar. Ini pertama kali proyek yang aku kerjakan mengalami musibah."


Mereka berdua menatap sungai, yang berubah menjadi lautan manusia, karena banyak tim yang mencari dan melakukan pembersihan.


Ada sebersit perasaan beruntung di hati Sabar. Allah masih menyelamatkan nya, jika saja Sabar tertimbun dari reruntuhan jembatan dan sampai meninggal, apa yang akan terjadi selanjutnya.


Masih ada istri yang sedang hamil, anak tiga orang, kedua orang tua yang sudah sepuh. Lalu siapa yang akan menghidupi mereka, sedang tulang punggung berada di pundak sabar.


"Faiz, kamu dimana. Ya Allah iz Faiz. Kenapa tadi kamu tak ikut aku berak di WC. Pasti kejadian ini tak akan terjadi padamu. Kamu sih, rajin banget. Baru selesai sholat ashar langsung nyemplung lagi."


Ada beberapa alat berat, yang mengambil reruntuhan cor dari jembatan runtuh tersebut.

__ADS_1


__ADS_2