Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Tinggal di rumah pak Firman


__ADS_3

Hiks___hiks___


"Haya____!" Niko mengejar mobil pak Firman. Haya menatap Niko yang berlari mengejar mobil tersebut dengan berlari tergopoh-gopoh.


Haya dapat melihat dengan begitu jelas saat Niko jatuh terjerambab jatuh dan tersungkur. Niko terus berlari memohon maaf.


"Maafkan aku, mas?" gumam Haya. Haya tidak habis pikir Niko akan berlari dan sampai terjatuh sedemikian. sebegitu menyesalkan Niko? tapi kenapa Niko bisa berkata talak? bahkan dengan sangat mudah.


"Ayah___" Lirih Haya dilema. Mata Haya terus memandang Niko yang masih berlari di belakang mobil.


"Biarkan lelaki kurang ajar itu merenung dan menyesali kesalahan yang telah di perbuat nya. Aku sebagai Ayah nya pun tidak menyukai sifat nya tersebut. Kenapa begitu mudah mempermainkan sebuah pernikahan. Aku kecewa dengan sikap Niko."


"Sudah yah. Jaga emosi Ayah, nanti penyakit Ayah kambuh," Bu Astri mengusap punggung suami nya yang wajah nya sudah menyiratkan kebencian pada putra nya sendiri. Bu Astri berusaha menenangkan pak Firman.


Bik Pina masih diam dan bingung tidak mengerti apa yang terjadi. Tau-tau keluarga majikan nya ribut dan menyuruh nya bersama Attar untuk masuk ke dalam mobil dan pergi kerumah pak Firman.


"Kita au mana, bik?" tanya Attar mendongakkan wajah nya. Attar bingung melihat suasana tidak kondusif.


"Kita mau main ke rumah kakek dan nenek sayang," bik Pina mengusap pucuk kepala bocah dua tahun tersebut dengan lembut. Untung Attar adalah anak yang cerdas dan tidak mudah rewel. anteng dan anak yang baik.


Sampai di rumah pak Firman*****


"Masuk dan istirahat lah?" Titah Bu Astri pada Haya pelan.


"Terima kasih, Bu."


Haya menunduk berusaha menetralkan hati yang berkecamuk.


"Ayah dan ibu mengingkin kan yang terbaik untuk kalian. Ayah tidak mau kalian bersama tanpa ikatan pernikahan yang sah. Bagaimana hukum pernikahan kalian setelah talak untuk ketiga telah terucap. untuk sekarang, tenangkan dirimu, kita akan cari jalan keluar nya."


"Baik Ayah" Pak Firman dan Bu Astri meninggalkan Haya yang masih mematung di dalam kamar.


Haya menangis kembali. "ya Allah kenapa jadi rumit begini? bagaimana sekarang, apa yang harus aku lakukan?"


"Attar dimana Attar? Kenapa aku sampai melupakan anak ku. Aku ceroboh sekali. Sangking sedih nya menangisi nasib pernikahan ku dan mas Niko, aku lalai menjaga Attar anak ku. Dimana Attar?"

__ADS_1


Haya keluar dari dalam kamar dan mencari keberadaan Attar. Haya menoleh ke kanan dan ke kiri tidak terlihat sosok bik Pina dan Attar.


Rumah pak Firman begitu luas. sedikit melelahkan jika harus mengelilingi rumah tanpa tau niat dan tujuan.


"Ibu nyari siapa?" Seorang bibik yang bekerja di rumah pak Firman menegur Haya yang celingukan.


"Attar bik, dimana Attar, apa bibik melihat nya?" Haya bertanya dengan celingukan.


"Oh iya Bu. Tadi bibik lihat ada di ruang keluarga sama nyonya dan Tuan, Bu."


"Terima kasih, bik" Haya gegas menuju ruang keluarga dimana Attar berada. Dengan perlahan menapaki lantai marmer klasik.


"Jadi bagaimana yah? Jangan kamu gegabah dalam mengambil keputusan, kita masih butuh jawaban dari Niko dan Haya. Kita tidak bisa memutuskan secara sepihak."


Suara Bu Astri menghentikan langkah kaki Haya. Haya diam mematung mendengarkan obrolan kedua mertua nya tersebut.


"Aku akan menemui Ustad Malik, aku akan minta pendapat nya. Tapi sebelum aku menemui ustad Malik, akan ku pastikan untuk mendapat jawaban dari Haya dan Niko. Aku pengen dengar dari lisan keduanya."


"Boleh di coba yah, dan memang itu penting. Jika bisa di pertahankan, kenapa tidak kita coba."


"Sabar yah. Bagaimana pun juga aku tidak akan membiarkan Attar ikut Niko atau pun Haya sekali pun. Aku takut yah jika mereka belum mampu memberikan kasih sayang yang penuh untuk Attar, aku ngeri tentang orang tua tiri," jelas Bu Astri tidak suka.


"Ibu bilang apa sih! kita akan cari solusi, Jangan sampai pernikahan Niko berakhir. Siapa korban nya jika harus ada perpisahan, yah pasti si anak."


Tak jauh dari tempat Bu Astri dan pak Firman bicara, ada sepasang telinga yang mendengar.


Haya memegang dada nya. rasanya sakit, bagaimana mungkin Haya akan di pisah kan dari putra yang telah di lahir kan nya? Apa pun alasan mertua nya, mereka tidak berhak memisah kan ikatan ibu dan anak.


Attar harus selalu bersama Haya. Haya merasa berhak atas Attar.


Haya menghapus air mata nya, merilekskan deguban jantung. perlahan mendekati kedua mertua nya yang sudah beralih ke tema lain. Dengan sikap seolah-olah tidak terjadi apapun. tidak mendengar pembicaraan apapun.


"Haya... Kenapa kamu tidak istirahat saja?" keluh Bu Astri. wajah Haya pucat, dan itu membuat Bu Astri khawatir.


"Aku tidak bisa tidur atau apa pun Bu. Aku merindukan Attar dan ingin mengendong nya," Haya menghampiri Attar yang sedang bermain dengan bik Pina di bagian taman atas, tidak jauh dari Bu Astri dan pak Firman ngobrol.

__ADS_1


"Bik, Attar biar sama aku saja ya?" Haya mendekat dan mengangkat kedua tangan untuk mengendong Attar.


"Baik, Bu."


"Attar sayang, kita main di kamar yuk?" Ajak Haya.


Attar pun mengangguk dan berjalan di samping sang Ibu dengan mengenggam jemari sang Ibu. Senyuman terbit di wajah Attar.


"Kakek enek Attar ain di amal ya? Attar nyengir dan menampilkan gigi-gigi kecil nya.


"Iya sayang," jawab Bu Astri melambaikan tangan.


Haya mengendong Attar dan mengusap pucuk kepalanya sampai Attar tertidur.


Sedikit pun Haya tidak melepaskan pelukan Attar, Haya memeluk dengan begitu erat dan penuh kasih sayang


"Ibu mencintai mu, nak," lirih Haya menahan perih.


"Ibu akan berusaha agar keluarga kita kembali utuh. Ibu enggak mau Attar mempunyai Ayah tiri atau ibu tiri. Ya Allah Attar, ini begitu rumit untuk mu, nak." Haya kembali terisak.


Cinta yang membelenggu dan rasa tidak akan pernah sanggup berpisah itulah kenyataan nya. sebegitu mencintai kah Haya? tentu tidak. Lalu apa namanya?


"Apapun yang akan kita lalui nanti, Attar tetap anak Ibu yang hebat dan Ibu sayangi," Haya mengusap lembut punggung Attar yang masih dalam pelukan nya.


Haya menguap "hoam....hoam....."


Haya menutup mulut nya yang terus menguap.


"Ngantuk sekali sih!" Haya memejamkan mata tanpa melepas dekapan Attar.


Dengan memeluk Attar luka di hati Haya yang mengangga sedikit mendapat penawar.


Bukan hanya dirinya yang tersakiti, namun Attar adalah korban dari ke egoisan hati kedua orang tua nya.


Harus nya mereka selalu bahagia, namun ujian ini datang mendera keluarga kecil nya.

__ADS_1


__ADS_2