
Ahmad Faiz tiba-tiba memeluk tubuh Haya dengan erat, Haya terdiam sesaat
Bukan kah sudah lama Haya merindukan pelukan dari seorang Imam. Namun kembali lagi Haya mengontrol imajinasi dan khayalan yang terkadang hadir tanpa salam.
"Mas____, di depan ada Nahla."
"Nahla____!" Ahmad Faiz merasa terkejut, dengan apa yang di ucapkan Haya. Terlihat dari raut wajah Ahmad Faiz dengan raut terkejut luar biasa. Ahmad Faiz mengira Haya hanya membual. Mana mungkin mendatangi kediaman nya. Tapi, tunggu. kenapa Nahla sampai datang ke kota.
"Nahla_____?" Ahmad Faiz menyakinkan ucapan Haya.
"iya."
Ahmad Faiz pun duduk dan menghadap ke arah Haya, sebuah genggaman Ahmad Faiz hadirkan untuk Haya yang terus diam menunduk.
"Ayo mas kita keluar, Nahla butuh bantuan mas. Nahla menunggu kita diluar," ujar Haya sambil membenarkan jilbab instan pemberian ibu Ahamd Faiz, saat pulang ke kampung tempo hari.
"Bantuan apa, dik?" Ahmad Faiz menaruh selimut di pinggir ranjang.
"Nahla kabur dari rumah karena di jodohkan, dan Nahla memilih pergi kerumah kita. Sesungguh nya, aku khawatir jika orang tua Nahla akan ikut menyalahkan mu mas dalam kasus kepergian Nahla ini," Haya memejamkan mata mencoba menetralkan khawatir yang hinggap, masalah demi masalah silih berganti hadir menunggu giliran.
"Sekarang dimana Nahla, masih berada di ruang tamu?" Ahamd Faiz menangkup wajah Haya dengan kedua tangan.
"ya, ada di ruang tamu."
Ahmad Faiz berdiri dan mengandeng tangan Haya.
"ayo kita temui Nahla," senyum tergambar di wajah Ahmad Faiz yang masih terlihat sedikit mengantuk.
Haya mengekori Ahmad Faiz dari belakang sambil melirik tangan yang terus di gandeng Ahmad Faiz. Haya merasa senang karena genggaman tangan tersebut membuktikan dan sedikit mengurangi cemburu yang mulai merasuki hati Haya.
"Nahla____," Seru Ahmad Faiz.
Nahla yang tengah memainkan kuku dengan gelas berisi teh pun, menoleh ke arah Ahmad Faiz dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku mas, aku menganggu tidur malam mas? Aku enggak tau harus pergi kemana lagi," seru Nahla dengan terisak merasa takut.
"Duduk lah___" Ahmad Faiz menyuruh Nahla duduk, karena dengan kedatangan Ahmad Faiz, Nahla gegas berdiri.
__ADS_1
Nahla pun duduk dengan mata yang berembun dan air yang mengunung itu hampir jatuh dari kelopak mata indah nya.
"Sebenarnya ada apa, kenapa malam-malam begini bisa sampai ke rumah mas, sendirian pula!" tanya Ahmad Faiz lembut.
Nahla menjawab dengan menundukan pandangan, namun terlihat dengan jelas air mata yang sudah jatuh di kedua pipi tirus nya.
"aku enggak mau di jodohkan dengan lelaki pilihan Abah, mas."
Ahmad Faiz menghela nafas panjang dan menghembuskan pun secepatnya. Ahmad Faiz sendiri bingung dan masih sedikit belum mendapat ide karena baru saja bangun dari tidur malam nya.
"Tenangkan hati mu dulu, kamu boleh menenangkan pikir disini. tapi setelah pikiran tenang, kamu harus membicarakan masalah ini sesegera mungkin. Mas enggak ingin kedua orang tua mu khawatir dan salah paham, Nahla. Mengerti."
"Terima kasih banyak, mas!"
Bagaimana pun jua Nahla adalah keponakan almarhumah Khadijah, jadi mau tidak mau Ahmad Faiz harus membantu Nahla untuk saat ini.
"Seandainya almarhumah mba Khadijah masih hidup, pasti mba Khadijah akan melakukan hal yang sama, seperti yang mas Faiz lakukan padaku saat ini, sekali lagi terimakasih banyak mas, sudah mau mengijinkan ku untuk tinggal di rumah mas Faiz?"
"Iya Nahla. Ada atau tiada almarhumah dik Khadijah, aku tetap akan berbuat baik pada setiap orang yang membutuhkan bantuan, tak terkecuali kamu Nahla____," Ahmad Faiz menatap wajah ayu Haya yang terlihat sedikit murung, entahlah apa yang di pikir wanita berjilbab instan tersebut.
"Istirahat lah di kamar!" titah Ahmad Faiz.
"Tidak mas. Mas tidak perlu repot-repot, biar aku saja yang tidur di sini. Aku merasa sungkan mas, bagi ku dapat ijin tinggal disini saja sudah Alhamdulillah."
"Siapa yang merasa di repotkan? Sudah lah, mas itu laki-laki, jadi mas harus bisa melindungi dan mengayomi perempuan toh, jadi tidur lah di kamar dengan dik Haya,"
Ahmad Faiz tau, mana lah mungkin Ahmad Faiz bisa tidur di dalam kamar dengan nyenyak sedang di luar ruangan ada seorang perempuan yang perlu di berikan privasi lebih.
"Terima kasih banyak ya mas? Maaf sudah sangat merepotkan, dan menganggu ketenangan istirahat Mas Faiz dan mba Haya?" lirih Nahla sambil menatap Ahmad Faiz dan Haya secara bergantian.
"Iya sama-sama, Nahla. Sekarang istirahat lah dulu pasti kamu capek kan?" Ahmad Faiz merebahkan badan di kursi sofa mini tersebut, sama seperti pertama kali tinggal dengan Haya. Ahmad Faiz tidur di atas sofa, karena belum terbiasa tidur sekamar dengan Haya. Namun setelah kini mulai beradaptasi, ada Nahla yang datang berkunjung.
"Ayo Nahla____?" Haya mengajak Nahla masuk kedalam kamar. Pasti Nahla kelelahan karena habis menempuh perjalanan yang lumayan panjang. Lagipula ini terlalu larut untuk ngobrol.
Klik....
Haya menaruh tas di atas meja rias, karena memang tas ransel yang di bawa Nahla tidak lah begitu besar.
__ADS_1
"Istirahat lah di kasur Nahla, aku mau mengantar selimut dan bantal buat mas Faiz," Haya membuka lemari sederhana di bagian atas dan mengambil sebuah selimut.
Nahla melihat kesekeliling kamar pengantin baru tersebut. Tidak ada yang istimewa, semuaya biasa saja. Hanya deretan buku Agama yang tersusun rapi dan mukenah yang mengantung lengkap dengan sajadah di sebelah kanan kamar.
"Aku keluar dulu, istirahat lah pasti kamu lelah," titah Haya sambil membawa selimut plus bantal untuk suami tercinta.
Haya menemui Ahmad Faiz yang sudah berbaring di atas sofa yang berada di ruang tamu.
"mas ini bantal dan selimut nya?" Haya memberikan bantal serta selimut pada Ahmad Faiz dan duduk di samping Ahmad Faiz dengan tenang.
"Terimakasih, dik?"
"Mas, aku tidur disini sama mas saja ya?" Pinta Haya.
"Loh kenapa?" Ahmad Faiz terkejut dengan permintaan Haya.
"Yah, aku mau nemenin mas. boleh ya?"
"Dik____, jika dik Haya tidur disini nanti Nahla merasa tidak enak. Nanti Nahla berpikiran yang tidak-tidak, contohnya seperti masa tuan rumah malah tidur di ruang tamu gitu, gimana coba?"
"Enggak apa-apa mas. Toh, kita kan suami istri, dari pada Nahla yang tidur di luar ya mending kita saja yang tidur di luar. Aku mau menemani mas, hitung-hitung berbagi rejeki, rejeki asupan makanan buat nyamuk."
Hehehe....
"Memang dik Haya beneran mau tidur di luar bareng, mas?" Selidik Ahmad Faiz mendekatkan wajah ke arah Haya.
Haya mengangguk malu menahan senyum yang memperlihatkan semburat merah di beberapa pipi putih bersih nya.
"Baik lah jika dik Haya maksa," Ahmad Faiz menarik tubuh Haya dan otomatis Haya terjatuh dan berada di atas tubuh Ahmad Faiz. seketika jantung mereka berpacu kuat.
Ahmad Faiz maupun Haya saling menatap mata masing-masing dengan dalam dan penuh arti.
Klik______
Nahla yang melihat pemandangan itu pun urung melanjutkan langkah nya. Awalnya, Nahla ingin bertanya dimana letak toilet, karena Nahla ingin membersihkan diri sebelum tidur. Tapi malah pemandangan yang membuat hati Nahla perih yang di pertunjukan di depan mata kepala Nahla.
Nahla kembali menutup pintu kamar dengan perlahan sambil terisak. Nahla sadar mulai detik ini juga, Nahla akan sering di perlihatkan kemesraan dan keromantisan pengantin baru tersebut. Namun kembali lagi Nahla tidak punya pilihan lain, dimana lagi Nahla akan berlari dan sembunyi dari perjodohan yang orang tuanya hadiahkan buat Nahla?
__ADS_1
"Apa yang harus ku lakukan ya Allah?" lirih Nahla di balik pintu kamar menahan sebah di hati.
"Kemana aku akan pergi. Sulit untuk mencari orang yang benar-benar perduli, padaku?" Nahla meronta menyalahkan diri sendiri.