Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Guardian Angel cosmetics


__ADS_3

Haya dan Bu Meca menuju sebuah cafe untuk meeting. Sesekali Haya melirik ke arah Bos Meca yang terus saja menatap ponsel nya dengan serius.


"Hello bu, Meca?" Seru seorang lelaki bertubuh tegap dan brewok. Menjabat tangan bos Meca.


"Hello pak Basir, sudah lama menunggu?" Tanya Meca ramah.


"Belum, baru lima menitan."


"Mari duduk pak Basir?" Ajak Meca pada pak Basir. Meja dengan kursi yang nyaman dan sangat privasi, menjadi tempat meeting tidak bising dan nyaman.


Haya duduk di sebelah Meca, Haya mengikuti setiap kata dan perintah yang di arahkan oleh Meca.


Meca adalah orang yang perfect di setiap kesempatan, dan Haya adalah orang yang paling di percayai oleh Meca, jelas cara kerja Haya pun bisa di andalkan, tangkas, rapi dan disiplin.


Setelah hampir 1 jam tiga puluh menit bernegosiasi, akhir nya meeting pun selesai. Dengan cepat Meca mengajak Haya kembali ke kantor.


"Aku senang deh ya. Setiap apapun bisnis yang aku usahakan pasti berhasil. orang-orang seakan terhipnotis oleh setiap kata ku, aku hokki dalam berbisnis. Apapun perkataan ku, dengan mudah dapat di cerna oleh klien."


"Ibu memang berbakat" puji Haya.


"Benar ya. Tapi sayang jodoh ku jauh sekali ya? Nakat bisnis dan nasib percintaan yang beda seratus delapan puluh derajat," Meca meyesali nasib percintaan nya.


"Sabar, Bu." terang Haya, sebab usia Meca jauh lebih tua dari Haya. Mungkin terpaut sekitar sepuluh tahunan.


"Apa aku terlihat tidak sabar. Aku di cerai kan oleh suami ku sendiri, dengan kasus penyebab perselingkuhan, dan kini aku menanti jodoh ku datang, tapi entah sampai kapan?"


"Semoga Tuhan segera menghadirkan jodoh terbaik untuk, Ibu." Haya tersenyum tipis.


"Aamiin____Bagaimana, apa kamu mau menjadi model untuk produk kakak Ipar mu? gaji nya lumayan gede loh. Paling seharian juga kelar, lumayan duit banyak, jangan di tolak."


"Iya sih Bu. tapi, aku kan belum mahir dalam berpose gaya, apalagi di ambil gambar nya, pasti sangat kikuk."


"Nanti kan di Arahin sama fotografer nya, ya."


"Entah lah Bu. jalani dan boleh saja di coba dulu kan yah?"


"Lumayan loh ya gaji nya. buat nambah-nambah isi dompet kamu."


"Ah ibu bisa saja!"


"Pokok nya ambil, harus di ambil, sayang rejeki di tolak."


"Iya Bu, demi Ibu deh."

__ADS_1


"Bagi dua ya gaji nya?" goda Meca dengan tertawa.


Mereka pun tertawa berdua.


*****


"Hello Attar anak ibu, gimana kabar nya?" Haya memeluk dan mencium putra kesayangan nya dengan penuh kerinduan.


"Atal aik Bu, kenapa ibu dak puLang?


"Maaf ya sayang. Ibu repot dan banyak kerjaan. Ibu sedang ngumpulin uang buat ajak Attar jalan-jalan ke luar negeri, Attar mau tidak?" Haya berkata dusta.


"Mau, buk."


"Anak pintar, ibu sayang Attar." Haya memeluk Attar begitu erat. Ada guratan sedih di wajah Haya.


"Ya___" Suara Niko membuat Attar dan Haya menoleh.


"Mas Niko, ada apa mas?" Haya menatap Niko penuh harapan.


"Gimana kabar mu, apakah semalam tidur mu nyenyak?" Niko mengenggam tangan Haya.


"Aku enggak bisa tidur mas. Aku rindu Attar. mas ,Attar ikut aku saja ya mas? Jangan pisahkan aku dengan Attar!" Pinta Haya memohon.


"Mas, aku merasa kesepian di rumah itu sendirian, aku butuh Attar?" Haya menunduk menahan kecewa.


"Apa perlu aku ambil kan seorang pembantu, untuk menemani hari-hari mu agar tidak sepi?"


"Tidak perlu mas. Yang aku butuh kan Attar, bukan pembantu" tegas Haya menolak.


"Terserah kamu. Pokok nya Attar akan tetap tinggal disini sampai kamu bisa ku halal kan lagi."


"Egois kamu, mas!"


"Up to you, Haya!" Niko melepas genggaman tangan nya. Bangkit membawa Attar masuk kedalam rumah. Haya terlihat seperti seorang pengemis, mengharap belas kasih.


Haya mengepalkan tangan nya. Bagaimana ini, apa yang harus di lakukan nya? Haya merasa ini tidak lah adil, tapi karena kebucinan yang hakiki, Haya terlihat bodoh.


Tring___


"Cepetan datang, saya sudah nungguin kamu!" Seru Angel di balik pesan.


"Iya, kak." balas Haya, cepat.

__ADS_1


"Tunggu mama akan segera datang lagi, Attar" lirih Haya dan pergi menuju kantor suami Angel.


Beberapa kali Haya memukul setir mobil, hati yang gundah membuat daya pokus nya berubah-ubah tidak stabil. Situasi yang sulit terasa seolah-olah Haya ingin menyerah saja.


Haya berjalan begitu cepat, mencari Angel yang sudah lama menunggu.


"Hey___, kamu tau letak taman. Antarkan aku kesana?" Titah Haya tanpa melihat wajah. Malah sambil menerima panggilan masuk dari angel.


"iya kak___, aku sudah sampai. Tunggu saja!" panggilan terputus.


"Haya___"


Haya pun menatap suara tersebut. Ahmad Faiz. Ngapain muncul sih, bikin ribet saja! Kelamaan, kan lagi buru-buru.


"Haya. Lain kali jika butuh bantuan orang, tolong biasakan untuk mengatakan kalimat, tolong___" tegur Ahmad Faiz. Sepertinya wanita seperti Haya mengampangkan orang lain.


Haya terdiam dan menatap Ahmad Faiz dalam. Merasa Ahmad Faiz sangat keterlaluan. Sedang seorang yang di tanyai Haya, berkata.


"Tidak apa-apa, mas?" Seru seorang yang memakai setelan office boy tersebut.


"Jangan gitu, maafkan teman saya ya, pak?" Jika di lihat dari usianya, mungkin office boy yang bekerja di perusahaan sang kakak Ipar bukan a boy lagi deh tapi udah menjurus ke grand pa.


"Haya mari aku antar ke taman?" Ahmad Faiz bergegas menuju sebuah lorong, dan Haya mengikuti dari arah belakang Ahmad Zein. "Sok banget jadi orang!" gumam Haya, tidak suka.


"Ini minum. Sepertinya kamu kehausan, lihat lah keringat mu membanjiri wajah mu," Ahmad Faiz yang tiba-tiba membalikan badan membuat Haya terkejut.


"Gak usah sok baik kamu!" ketus Haya. Sesaat kemudian Haya sadar.


"Maksud ku___, Maaf kan aku, dan terima kasih, jangan terlalu memperhatikan ku?" lanjut Haya.


"Iya enggak apa-apa, aku mengerti." Ahmad Faiz pergi meninggalkan Haya sebelum Haya masuk ke dalam taman yang Indah.


Banyak bunga yang berwarna warni, ada ya sebuah perusahaan mempunyai taman seindah ini.


"Haya cepat lah!" Seru Angel.


"Iya, kak." Haya setengah berlari.


"Make up in dia, jangan terlalu menor, bikin se flawlles mungkin."


"Siap bos!" Seorang perias yang sudah stand bye disana dengan cepat memoles wajah Haya yang memang dasar nya sudah cantik.


"Kamu memang sudah cantik, jadi enggak terlalu sulit menjadikan mu terlihat lebih cantik," lirih sang perias sambil menyisir

__ADS_1


Rambut Haya.


__ADS_2