Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Resmi menikah


__ADS_3

"pak tolong dengarkan penjelasan kami dong, pak?" Pinta Haya. Haya memang ingin segera menikah dengan Ahmad Faiz, kemudian meminta cerai dari Ahmad Faiz.


Tapi tidak begini caranya. Ini sangat merugikan Ahmad Faiz, bagaimana pun hati dan perasaan Haya masih waras. Tidak mungkin Haya melakukan kejahatan yang double pada Ahmad Faiz.


Ini sungguh kejam!


"Kalian sudah terbukti berduaan di dalam rumah. Kalian bukan saudara dan juga bukan pasangan suami istri. Untuk meredam emosi warga, sebaiknya kalian menikah sekarang juga," titah pak RT mencari jalan tengah.


"Tapi pak, sungguh kami tidak melakukan perbuatan zina pak."


"Walaupun tidak melakukan, tapi bukti sudah di depan mata. Kalian tertangkap di dalam rumah dan hanya berdua saja. Dari pada memancing emosi warga yang lebih bar-bar, mari ikut kami?" Pak RT mengajak Haya dan Ahmad Faiz menuju balai desa.


Brugh___


"Dik___, Bangun dik?" Ahmad Faiz mengusap pucuk kepala Haya. Ahmad Faiz khawatir dengan kondisi Haya yang baru saja keluar dari rumah sakit.


"Ini akting kali! Tadinya sehat-sehat saja, tiba-tiba pingsan, ini mah fix action!" Keluh seseorang ibu-ibu julid.


"Iya betul, lagu lama." Jawab yang lain nya.


"Astagfirullahal adzim," Ahmad Faiz menghela nafas kasar. Betapa kejam nya mereka semua. Dengan sigap Ahmad Faiz membawa Haya dalam gendongan nya menuju rumah pak RT.


Karena Haya yang tiba-tiba pingsan, membuat mereka semua memutuskan keduanya ke rumah pak RT saja. Karena rumah pak RT jauh lebih dekat dari pada rumah pak Lurah.


Ahmad Faiz dan beberapa Ibu yang masih di buka kan pintu hati, membantu menyadarkan Haya dari pingsan nya. Di oles-oles kan nya minyak kayu putih di hidung dan beberapa bagian tubuh Haya.


"Telepon kedua orang tua mu dan orang tua dari kekasih mu. Karena bagaimana pun cara pernikahan kalian, wali untuk sang perempuan harus di hadirkan."


"Orang tua dik Haya sudah lama berpulang ke pangkuan sang Khalik pak. Jadi saya mohon maaf tidak bisa menghadirkan nya."


"Baik kalau begitu, silahkan tanda tangani dokumen ini?" Dengan bergetar Ahmad Faiz mengambil dan mulai menanda tangani berkas yang sudah di persiapkan oleh pak RT, kertas pernikahan siri dari desa.


Kenapa semua dokumen sudah lengkap dan siap. Bahkan pak RT tidak terkesan mondar mandir untuk mengurus data lembaran kertas nikah. Bahkan penghulu juga sudah siap di hadirkan.


Ahmad Faiz tidak akan berkata apapun, karena warga terlihat sangar dan arogan. Bisa-bisa mati tak berguna jika melawan, sedang fitnah akan selalu ada.


Apa kata orang, jika harus berakhir mati karena di gerebek. Itu tidak etis.


"Pernikahan ini hanya pernikahan yang di sah kan secara Agama, bukan secara hukum. Jadi, jika ingin mengesahkan secara Hukum ajukan saja surat ini ke pengadilan Agama."


Ahmad Faiz memandangi surat pernyataan tersebut. Hati nya sakit bukan kepalang. Bagaimana mungkin kedua orang tua nya tidak akan kecewa pada nya, anak yang di banggakan menggores luka di hati kedua orang tua Ahmad Faiz.

__ADS_1


"Pak boleh tunggu sebentar, boleh kah saya menghubungi keluarga saya dahulu?" Tawar Ahmad Faiz.


"Silahkan!"


"Terima kasih, pak?" Ahmad Faiz segera Menghubungi nomor telepon orang tua nya, namun tidak aktif.


"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan coba kembaliz" suara operator membuat Ahmad Faiz panik.


"Pak, Bu, kenapa nomor nya tidak aktif?"


Akhirnya Ahmad Faiz mengirim pesan pada orang tua nya. Meminta restu, walau Ahmad Faiz tau kemungkinan orang tua nya akan sangat kecewa.


"Mas, ayo.. pak penghulu sudah menunggu, jangan membuat orang menunggu terlalu lama?" pak RT memanggil Ahmad Faiz yang masih berdiam diri sambil memegang handphone milik nya.


"Ayo mas sudah siap?" Pak penghulu bertanya ramah, Ahmad Faiz hanya diam saja dan mengangguk.


Haya di tuntun orang dan di jejerkan di samping Ahmad Faiz. Air mata Haya tidak berhenti mengalir, hati nya ingin menolak namun keadaan memaksa. Sungguh bukan jalan seperti ini yang Haya ingin kan. Haya ingin pernikahan yang baik-baik, bukan pernikahan paksaan seperti ini.


"Saya terima nikah dan kawin nya Zahrana Haya binti Sucipto dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai." Jawab Ahmad Faiz tegas.


"Bagaimana para saksi sah?" Tanya pak penghulu.


Sah.....


Ahmad Faiz mengambil pucuk kepala Haya dan mendoakan kebaikan di sana, walau sungguh pernikahan ini sangat membuat mereka terpukul. Air mata Haya kembali luruh tiada terkira.


Hiks... Hiks....


Haya dan Ahmad Faiz pergi dari rumah pak RT dengan membawa surat keterangan, bahwa mereka sudah sah menikah secara Agama, Haya masih diam tak ada kata walau sepatah pun.


Hatinya hancur___


Sangat hancur___


Jalan beriringan namun terasa seperti berat sebelah. Berpijak di bumi namun terasa melayang. Haya sulit untuk Fokus pada masa depan yang di mimpikan nya, masa depan yang mengharuskan raga, jiwa dan segenap hati nya tergores bara api.


Seandainya Ahmad Faiz tau, entah lah apa yang akan di lakukan Ahmad Faiz pada nya? Hanya Allah yang maha tau .


"Aku malu, mas?" Lirih Haya tiba-tiba.


Ahmad Faiz menatap Haya yang menunduk dan terus terisak.

__ADS_1


"Sudah garis nya harus begitu. Kita bisa apa? Semua terjadi begitu tiba-tiba, tapi tunggu dulu. Kemana bik Ijah, kenapa tidak terlihat dari tadi? Tiba-tiba bik Ijah menghilang begitu saja." Ahmad Faiz ingat bik Ijah, rasa penasaran begitu mengebu.


Haya mendongak kan kepala dan teringat sesuatu. Kenapa Haya bisa melupakam bik Ijah, jangan-jangan___. Haya mulai berpikir negatif tentang Bik Ijah, mungkin kah....?


"Apa mungkin, ini adalah skenario mas Niko?" Haya membatin begitu terluka.


Bisa-bisanya Niko melakukan ini, apa tidak cukup dengan memisahkan Attar darinya.


"Haya, kemana bik Ijah kok enggak ada di saat kita di gerebek tadi?" Kembali Ahmad Faiz berucap, ada yang menganjal di hatinya.


"bik Ijah ambil paket baju di dekat Janmart, mas. Dan aku juga heran, kenapa bisa pas banget waktunya." Haya menjawab lirih.


"Kenapa harus ambil disana, bukan nya kurir bisa masuk ya?" Ahmad Faiz merasa, ada yang tidak beres.


"Iya sihz mas. Apa jangan-jangan____, Bik Ijah yang melakukan kejahatan ini, mas?" Haya menebak asal.


"Dik___, Jangan berucap tanpa bukti. Itu jatuh nya Fitnah, dan apakah adik tau, Fitnah itu kejam, sangat kejam, dosanya Fitnah lebih buruk dari dosa membunuh orang."


Haya mengangguk pelan dan menatap Ahmad Faiz ragu.


"Bik Ijah itu apakah masih saudara mu kan, dik?"


Haya menggeleng pelan.


"Lalu siapa mu, dik?" Selidik Ahmad Faiz.


Haya bingung bagaimana cara menjelaskan. Pasti Ahmad Faiz akan semakin membenci nya. Haya terdiam dan mematung, rasanya tubuh nya seperti tersengat listrik, jika suatu Hari Ahmad Faiz tau yang sesungguh nya Haya yakin akan di benci Ahmad Faiz.


Ahmad Faiz memandang Haya yang diam dan menunduk dan mendekat.


"Apa ini semua ulah mas Niko?" Haya membatin ragu dan berdecak sebal sambil menoleh kesamping .


"Dik____" Lirih Ahmad Faiz.


"Iya, mas___" Haya menyahut sebal hingga wajah kedua nya berdekatan. Haya menatap wajah Ahmad Faiz lebih dekat, ternyata wajah Ahmad Faiz lebih tampan dari dekat, tanpa jerawat, tanpa luka, benar-benar wajah polos.


Ciut... Hidung Haya di cubit oleh Ahmad Faiz.


"Kenapa bengong!" Seru Ahmad Faiz terkekeh.


"Enggak mas, siapa yang bengong," Haya mencari pembenaran dan terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"Maaf ya mas. Ini semua salah ku. Tapi aku berani bersumpah, ini bukan tak tik ku. Sungguh aku tidak merencanakan pengrebekan ini, bahkan aku sendiri begitu terpukul akan ini semua."


"Astagfirullahaladzim, sudah lah dik. Mas percaya ini musibah yang harus di ambil hikmah nya. Tetap sabar dan ikhlas ya, dik?"


__ADS_2