
Seminggu berlalu...
"Bro, besok kita bakal pindah, ke tempat kerja kita yang baru," seru sabar teman kerja Ahmad Faiz dengan wajah begitu sumringah.
"Iya sih, tapi lumayan jauh ya dari rumah kita."
"Berangkatnya lebih pagi lah. Pembangunan jembatan kali ini lumayan besar loh upah nya, yang aku dengar sih, pemilik usaha seorang wanita karir yang banyak duit, alias tajir, kaya raya gitu."
"Apa yang harus ku katakan, jika istri ku bertanya. Kenapa berangkat sepagi ini, karena aku bekerja sebagai kuli bangunan, tanpa sepengetahuan nya. Yang istriku tau, aku masih kerja di kantor bro. Biasanya aku berangkat kerja jam tujuh pagi, terus jika aku berangkat kerja jam lima lebih tiga puluh menit, alasan apa yang harus aku katakan padanya?"
"Apa____, Jadi kamu berbohong, bro!" Sabar terpana dengan kejujuran Ahmad Faiz.
"Tidak begitu, bro. Aku hanya tidak mau dia bersedih," terang Ahmad Faiz.
Sabar memicingkan mata, mencari jawaban dari wajah Ahmad Faiz yang bimbang.
"Istri ku tidak tahu jika aku di pecat dari kantor tempat ku bekerja dulu. Tidak lama setelah aku pulang dari desa, aku mendapat pemecatan karena suatu pilihan yang tak masuk akal. jika aku memberinya tau, aku takut membuatnya sedih, aku di pecat karenanya, bro."
Sabar tampak lebih bingung.
"Kok bisa begitu, bro. kamu bicara tidak sesuai porsi ku, sulit ku mengerti. Maklum lah, masih polos."
Ahmad Faiz menepuk lengan sabar, karena Sabar menggodanya, apalagi dengan gaya sok keren nya.
Mereka pun tertawa lepas.
"Sadar bro! anak sudah tiga jangan godain ciwi-ciwi." Ahmad Faiz berkata saat Sabar bersiul, tepat ada seorang cewek seksi lewat di depan matanya dengan gaya menggoda.
"Tidak apa-apa bro. Yang pertama istri tidak tau, kedua aku hanya menggodanya tidak berniat serius, bercanda bro, bercanda, hidup itu jangan terlalu serius. Bikin pusing jika terlalu serius mah," Sabar tersenyum jahil.
Ahmad Faiz tersenyum mendengar ucapan sabar yang sok bijaksana.
Kumpul-kumpul, seru salah satu karyawan kuli bangunan. Mereka pun segera berkumpul dan berbaris.
"Ini gajih kalian Minggu ini," mandor membagi uang gajian mereka yang bekerja di pembangunan.
Para pekerja bangunan antri, menunggu giliran menerima uang gajian.
"Ini gaji punya mu, Sabar. Aku memotong nya langsung."
"Jangan langsung di potong dong, pak!" Pinta sabar dengan ekpresi meminta.
"Ya sudah. Aku tidak jadi memotong nya, tapi ingat Minggu depan harus di bayar!"
"Iya-iya pak, terimakasih." Sabar begitu lega, mendengar ucapan pak mandor yang mengerti permintaan nya.
"Ahmad Faiz, ini gaji kedua mu. ambil ini!" seru pak mandor memberi amplop pada Ahmad Faiz.
"Terimakasih, pak?" Ungkap Ahmad Faiz.
"Bekerja lebih giat lagi. Besok kita akan bekerja untuk pembangunan jembatan. Kamu akan ikut mereka untuk tinggal di mess yang dekat dengan jembatan, atau kamu akan melaju dari tempat tinggal mu, sebab jaraknya lumayan jauh darisini. Jadi, pertimbangkan saja!"
"Aku belum tau, pasti pak. Besok setelah hari pertama bekerja baru aku akan memastikan, untuk tinggal di mess atau melaju."
"Baik lah" Ahmad Faiz pun undur diri.
"Ikut tinggal di mess saja kenapa, bro?" Ajak Sabar.
"Lihat besok saja, bro!" Ahmad Faiz tampak menimang.
"Jauh loh, satu jam an kalau gak malah lebih perjalanan nya dari sini ke tempat kita bekerja, hemat uang transportasi dan waktu istirahat mu."
__ADS_1
"Kita bicarakan besok lagi bro. Aku mau pulang dulu, Assalamualaikum." Ahmad Faiz gegas berlalu.
"Woy.... " Teriak Sabar sambil tersenyum senang. yah Sabar begitu senang bisa berteman dengan Ahmad Faiz. Bagi Sabar, Ahamd Faiz banyak memberi saran untuk masalah hidupnya, bahkan Ahmad Faiz sangat membantu Sabar, sering kali Ahmad Faiz memberikan bekal lauk pauk nya untuk sabar bawa pulang.
Dalam perjalanan pulang, Ahmad Faiz mampir kesebuah toko Fashion muslim dipinggir jalan.
Ahmad Faiz pernah berjanji, akan membelikan sebuah mukenah baru untuk Haya, dan hari ini Ahamd Faiz akan membelinya. sebab Ahmad Faiz baru saja mendapat uang dari gajian.
"Yang ini harganya berapa, mba?" Tanya Ahmad Faiz menunjuk sebuah mukenah baru berwarna pink muda, dengan lasercut di bagian bawah renda.
"Ini harganya tiga ratus ribu, mas." jawab sang pemilik toko ramah.
"Harga pas ya, mba?" Tanya Ahmad Faiz, sebab bagi Ahmad Faiz, uang tiga ratus itu tidak lah sedikit. Dengan tiga hari bekerja sebagai kuli, baru Ahmad Faiz bisa mendapatkan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah.
"Ehm iya, mas." jawab pemilik toko masih dengan senyuman mengiyakan.
"Sebab ini bahan nya bagus, halus dan yang pasti cantik modelnya. Tren kekinian banget lah mas, gak bakal nyesel beli mukenah ini." sang pemilik berkata lagi dengan penuh keyakinan.
"Baik lah, aku ambil yang ini mba." Ahmad Faiz mengeluarkan uang tiga lembar berwarna merah dengan hati yang bahagia dan senang. Akhirnya Ahmad Faiz bisa membelikan mukenah untuk Haya.
"Terimakasih, mas?" sang pemilik toko memberikan mukenah yang sudah di wadahi plastik kepada Ahmad Faiz.
Ahmad Zein lekas pulang kerumah dengan mengendarai motor tua nya. sesampainya dirumah, Ahmad Faiz celingukan sebab di rumah tidak ada siapa-siapa.
"Pada kemana?" Ahmad Faiz gegas membersihkan diri, dan sesuai kebiasaan, Ahmad Faiz mencuci baju bekas kerjanya yang tersimpan rapi di dalam jok motor. Biasanya Ahmad Faiz akan mencuci jika malam telah tiba, setidaknya saat Haya sudah terlelap dalam tidur malam.
Karena baju tersebut, sangat kotor, dan jika Haya melihat baju tersebut, pasti Haya akan curiga sebab bajunya ada noda kotor tidak seperti pada baju karyawan kantor.
Selesai mandi, Ahmad Faiz celingukan kayak orang bingung. hendak ngapain, akhirnya Ahmad Faiz menulis secarik kalimat untuk Haya.
Ahmad Faiz ingin memberikan Haya kejutan. Jika langsung mengucapkan pada Haya, jujur Ahmad Faiz Tidka pandai berkata-kata. Yang ada malah belepotan dan berakhir di tertawakan.
Untuk istri ku yang cantik
Semoga kita selalu bersama Fii Dunya wal akhiroh
dari suami mu yang tampan, Ahmad Faiz.
Ahmad Faiz tertawa membaca tulisan nya sendiri. ide yang muncul secara tiba-tiba, mampu membuatnya malu. Ahmad Faiz menyelipkan kertas tersebut kedalam plastik mukenah, dan menaruhnya kedalam lemari pakaian Haya.
"Kok masih belum pulang juga sih!" Ahmad Faiz mulai gelisah.
Drt..
Tring..
"Aku pulang agak malam mas. Sebab orderan banyak banget. Bapak sama Ibu ada bersama ku, mereka membantuku, jangan khawatir kami sudah makan. Aku juga sudah memesan makanan untuk mas, di makan ya, love you."
Ahmad Faiz tersenyum membaca pesan dari Haya. Entah kenapa setelah membaca pesan dari Haya, hati Ahmad Faiz seperti taman yang berbunga-bunga.
"Love you too," balas Ahmad Faiz singkat,jelas dan padat.
Gegas mengambil wudhu, dengan ponsel yang terus bersenandung sholawat penyejuk hati.
*****
Perlahan Ahmad Faiz membuka mata, mendengar suara orang berbicara.
"Sudah pulang?" Tanya Ahmad Faiz dan mengusap wajah bersih nya, yang kini terlihat lebih gelap dari warna aslinya.
"Iya, mas.. " Haya merebahkan diri di pangkuan Ahmad Faiz.
__ADS_1
"Pasti capek ya, sini mas pijitin!" Ahmad Faiz menawarkkan diri.
"Tidak... Tidak usah mas, makasih. Capek sih iya, tapi gak papa. Hari ini aku senang banget, orderan banyak masuk. Apalagi ada bapak sama ibu, aku makin semangat bekerja."
"Terimakasih ya dik, dik Haya menyayangi orang tua mas, seperti layaknya orang tua dik Haya sendiri."
"Itu sudah pasti mas. bapak dan Ibu snagat baik kepadaku, dan aku menyayangi mereka seperti aku menyayangi kedua orang tua ku sendiri. Mas kenapa bicara begitu?" Haya tersenyum dan mencubit pipi Ahmad Faiz. Karana tatapan Ahmad Faiz terlihat berbeda.
Tatapan mata Ahmad Faiz mampu menghipnotis Haya, tatapan yang begitu tajam dan memabukkan. Lalu Haya tersenyum dan mengusap dada Ahmad Faiz.
Lama-lama Haya tertidur di pangkuan Ahmad Faiz dengan begitu nyaman.
"Faiz, kamu tidak tidur, nak?" sapa Bu Malik, saat akan ke kamar mandi mendapati Ahmad Faiz masih membuka mata
"Faiz tidak bisa tidur Bu. Tadi setelah isya sudah tidur, mungkin itu penyebabnya, jadi sekarang Faiz sama sekali tidak mengantuk."
Bu Malik melihat Haya begitu lelap dalam tidur, berada di pangkuan anak nya.
Bu Malik tidak akan berkomentar apapun. Tidak mau menganggu tidur menantunya, Bu Malik tersenyum dan gegas ke kamar mandi.
Beberapa jam kemudian____
Allahu Akbar_____
Allahu Akbar____
Haya menguap.
Huam
Huam
"Hem.. ,mas Faiz!" Haya kaget dong.
"Berarti semalam aku ketiduran, maaf ya? karena aku, pasti mas jadi tidak bisa tidur semalaman," sesal Haya.
"Tidak apa-apa, mas tidak mengantuk. Mas senang bisa jagain kamu dik, disaat bangun dan dalam lelap tidur mu, dik."
"Hehe sudah lah. ayo sholat, sudah di tungguin bapak," ajak Haya begjtu senang.
Mereka pun melakukan sholat jamaah bersama. hati Haya sangat bahagia, Haya tidak ingin momen seperti ini berakhir, inilah hal-hal yang selalu Haya rindukan setiap waktu, setiap saat.
Seandainya almarhum bapak nya masih hidup. Mungkin bapak Haya akan sangat bahagia melihat Haya begitu bahagia, hidup dalam kesederhanaan yang luar bjasa.
"Faiz____, Mau kemana?" Bu Malik yang sedang menyiram bunga, di halaman pun bertanya pada Ahmad Faiz yang begitu sibuk mau berangkat kerja.
"Faiz pamit berangkat dulu, Bu?" Ahmad Faiz mengambil tangan sang ibu dan mencium nya dengan takdzim.
"Sepagi ini?" Tanya Bu Malik penasaran. Biasanya Ahmad Faiz akan berangkat jam tujuh pagi, tapi kali ini kenapa sepagi ini.
"Iya, bu. hari ini ada kepentingan khusus di tempat Faiz bekerja." dusta Ahmad Faiz.
"Tapi Haya belum pulang dari beli sayuran. Apa tidak sebaiknya kamu menunggunya dulu Faiz."
"Tolong sampaikan pesan ku Bu, maaf aku pergi kerja tidak pamit, oalnya buru-buru, takut terlambat." Pinta Ahmad Faiz.
"Baik lah, nanti ibu sampaikan." Bu Malik memahami, jika Ahmad Faiz benar-benar sibuk dan harus pergi sepagi ini.
Lima menit setelah kepergian Ahmad Faiz, barulah Haya dan Nahla pulang dari belanja sayuran.
"Mari bu, kita masak enak. hari ini aku mau masakin mas Faiz sambal merah saos udang, eh apa Bu terbalik ya?" Haya senang karena ada Bu Malik. Haya akan meminta Bu Malik mengajarinya berbagai menu masakan kesukaan Ahmad Faiz.
__ADS_1
Nahla dan Bu Malik pun tertawa.