
Malam ini sunyi, sepi, hanya berdua dan udara terasa dingin menyelimuti karena di luar hujan sangat deras. Angin berhembus semilir dengan suara dedaunan yang saling bersahutan.
Ahmad Faiz baru saja selesai membuat kaligrafi. Sedang Haya baru saja selesai beberes bekas makan malam, dan di lanjut dengan Menganti pakaian malam, atau baju tidur.
"Kok tumben, malam-malam bibir nya merah?" Tanya Ahmad Faiz bingung. sebab selama ini, jika mau tidur biasanya Haya membersihkan bekas make up, tapi kali ini malah memakai make up. Bukan kah itu pemandangan yang baik.
"Kata Bu ustadzah... Kita harus rapi, wangi dan tampil cantik di depan suami. Karena banyak di era sekarang tuh yang kebalik, di depan suami tampil apa adanya, tapi jika tampil di depan umum, wuih cantik, wangi dan mempesona." jelas Haya malu-malu.
"Iya sih____, Tapi... Ya sudah lah. tidak apa-apa, mari kita tidur?" Ajak Ahmad Faiz pada Haya. Ahmad Faiz mengambil selimut dan menutupi badan nya. jujur, Ahmad Faiz merasa seperti kesetrum cinta. apalagi melihat Haya secantik dan seseksi itu. lelaki mana yang tidak terpesona, Ahmad Faiz masih normal.
Haya mematung memandang tingkah Ahmad Faiz. Padahal, Haya Berharap Ahmad Faiz memujinya, eh malah tidur duluan. dengan cepat Haya pun melakukan hal yang sama, menyelimuti tubuhnya.
Entah sudah tidur beneran tau bohong, Haya sendiri tidak tahu. karena tak ada suara dengkuran, atau aktivitas lain nya. masa iya, orang tidur setenang ini.
Yang jelas Haya ragu menawarkan diri, malam ini.
Ingin Haya mengatakan, tapi bibirnya enggan berkata, rasanya tidak mampu mengatakan. antara malu dan takut ditolak, Haya mengumpulkan keberanian untuk menawarkan diri, tapi lagi-lagi Haya tak berdaya.
Haya membolak balikan badan, tidur menyamping kanan lalu balik ke kiri, bimbang.
gelisah dan bingung menjadi satu.
Haya Lalu membuka mata dan mendengkus sebal.
Haya membuka jepit di rambut nya.
"Mas____!" Panggil Haya lirih dengan nada yang berbeda.
"Iya, ada apa?" Jawab Ahmad Faiz begitu polos tanpa dosa. menjawab tanpa membuka penutup selimut diwajahnya.
"Mas____, Sekali lagi, Haya mengatakan nama panggilan sayang.
Sedang di luar cuaca benar-benar syahdu, hujan yang deras, begitu dingin dan menenangkan untuk beristirahat dalam buaian.
Haya memejamkan mata, lalu menghembuskan napas kasar.
is dem...
"lelaki kok tidak peka," batin Haya sebal bukan main.
seperti ada hembusan nafas menerpa pori-pori kulit Haya.
Haya begitu terkejut, saat membuka mata. wajah Ahmad Faiz sudah sangat dekat dengan wajah nya.
"Kenapa, Hem___?" Ahmad Faiz bertanya, sampai hembusan napas itu terasa di wajah Haya.
"Dik Haya, ada apa. tadi memanggil mas, ada perlu apa?" tanya Ahmad Faiz pelan sekali.
"Mas, aku... Aku... " Bibir Haya terkatup rapat, tak dapat mengatakan apapun. jantung Haya berdetak lebih cepat. keringat dingin membasahi pelipis Haya. padahal, cuaca sangat dingin diluar.
__ADS_1
"Apa harus malam ini?" Tanya Ahmad Faiz dengan mata berkaca-kaca. Ada ketakutan dalam diri Ahmad Faiz. takut, Haya pergi meninggalkan nya setelah kejadian ini.
Haya memejamkan mata tanpa berkata apapun.. memberi signal pada Ahmad Faiz, jika dirinya sudah siap secara lahir dan batin.
Dan malam itu terjadilah hal, yang memang semestinya di lakukan oleh Ahmad Faiz dan Haya.
******
"Hari sudah selarut ini, tapi Bella belum juga pulang, mana di luar hujan sangat deras." Nahla mondar mandir di dalam kamar menunggu kedatangan Bella.
Tok...
Tok..
Nahla lekas membuka pintu, Bella terlihat basah oleh air hujan.
"Mandi lah dulu, bell?" Nahla memberikan handuk pada Bella.
Bella tersenyum dan mengambil handuk tersebut dengan begitu senang.
"terimakasih, Nahla."
Lima belas menit kemudian, Bella sudah siap dari mandi malam nya.
"Kamu kerja apa sih, Bell?" Tanya Nahla.
"Aku bekerja di sebuah cafe. jam kerja aku, selepas jam tiga sampai jam sepuluh malam."
"Iya, aku tau. aku sudah menjelaskan pekerjaan ku pada ibu kost, dan ibu kost bisa memahaminya. Soalnya kan, aku kuliah sambil kerja part time, jadi ya beginilah. aku harus bekerja Nahla. karena biaya pendidikan itu tidak sedikit." jawab Bella.
"Ini.. tadi aku gajian, makan lah!" Bella memberi sebuah Apple pie, yang Bella simpan di dalam tas selempang nya.
"Terimakasih ya, bell?" Nahla menerima pemberian Apple pie Bella.
"Iya, Nahla. sama-sama."
Bella memakai baju tidur yang begitu seksi, menurut Nahla.
Bagaimana tidak seksi, hanya memakai tank top di atas pusar dan celana pendek tidak lebih dari satu telunjuk Nahla.
Bahkan saat mandi pun, Nahla akan malu jika harus mengunakan pakaian seperti itu.
"Kenapa, Nahla?" tanya Bella mengerti dari ekpresi wajah Nahla.
"Kamu heran ya?" tebak Bella dengan cepat.
"Tidak___!" Bohong Nahla takut menyakiti hati Bella. semua itu hak asasi masing-masing. sebuah pakaian tidak menjadi tolak ukur kepribadian seseorang.
Nahla melihat banyak bekas merah di area tertentu badan Bella. Namun Nahla tidak mau bertanya lebih jelas, Nahla memilih diam dan menikmati Apple pie pemberian Bella.
__ADS_1
"Apa kamu sudah punya cowok, Nahla?" tanya Bella tiba-tiba.
"Apa___!" Nahla terkejut oleh pertanyaan Bella tentang cowok.
Bella tersenyum melihat ekpresi Nahla yang berlebihan.
"Maksud ku, aku belum ada niatan buat pacaran, bel___" jawab Nahla setelah di tertawakan oleh Bella.
"Jadi.. kamu belum pernah pacaran?" tanya Bella dengan wajah serius.
"Tidak, aku tidak mau pacaran." tegas Nahla.
"Hebat, kamu Nahla. Aku bangga sama kamu, jaga prinsip kamu, Nahla."
Nahla menimpali ucapan Bella dengan senyum yang merekah.
"Jangan seperti aku," Bella menundukkan kepalanya.
Nahla memandang wajah Bella yang murung.
"Aku bahkan sudah tidak su********* di usia ku yang masih remaja. Dan kini aku sering melakukan hubungan itu dengan pacar ku yang sekarang. Aku tidak tau sebenarnya apa yang aku cari, Nahla." keluh kesah Bella mencurahkan isi hati.
"Kenapa kamu melakukan itu bell. Itu dosa, itu tidak boleh dilakukan sebelum hubungan kalian dihalalkan." terang Nahla.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Nahla. Bahkan orang yang pertama melakukan hal itu adalah orang yang teramat aku cintai, dia berjanji akan bertanggung jawab, nyatanya setelah aku hamil, dia pergi meninggalkan aku." Bella menangis menyesali takdir hidupnya.
"Kamu pernah hamil, bell?" Nahla begitu terkejut dengan ucapan Bella.
"Semenjak ibu meninggal, bapak ku menikah lagi. Dan semenjak itu hidup ku tidak berguna Nahla, aku hanya punya pacar, yang aku anggap sangat pengertian, sangat sayang dan sangat perduli padaku. Nyatanya itu tidaklah sepenuhnya benar."
"Bell_____, sabar ya?" Nahla mengusap pundak Bella.
"Bayi ku mati di dalam rahim ku, karena aku terus menerus berusaha menyakiti diriku sendiri saat itu. Karena bapak ku teramat marah saat mengetahui aku hamil, bahkan ibu tiriku terus menerus mengatakan aku pel*** tanpa henti."
"Lalu setelah aku hampir mati, aku di rawat oleh nenek ku. Aku di besarkan sampai aku lulus sekolah, dan kini nenek ku berjuang untuk bisa menguliahkan aku. Tapi, aku kasihan pada nenek ku, Nahla. beliau sudah sepuh, tak seharusnya beliau memberiku pendidikan sampai sejauh ini." terang Bella begitu terluka.
"Bertaubat lah bell, sungguh apa yang kamu lakukan, adalah dosa. Perbaiki dirimu, insyallah hidup mu akan jauh lebih baik." nasehat Nahla
"Aku butuh waktu, Nahla." jawab Bella.
"Aku akan menemani mu. Aku akan menjadi orang yang akan selalu bersama mu untuk hijrah menjadi orang yang lebih baik. Kita akan bersama-sama belajar, bel."
"Benar kah, Nahla?" Bella tampak gembira.
"Kenapa tidak!"
"Terimakasih, Nahla... " Bella begitu senang.
Nahla dan Bella pun berpelukan, setidaknya hari ini Nahla menemukan sahabat baru. walau seperti apa masalalu Bella, namun Bella berhak untuk memperbaiki diri dan hidup bahagia.
__ADS_1
Nahla begitu bahagia bisa berteman dengan Bella.
Astagfirullahaladzim... 1000x