Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Ketika asa menemui jalan nya


__ADS_3

Tut______


Panggilan berdering namun tak kunjung di jawab. Haya terus menelpon hingga berpuluh-puluh kali, namun Niko enggan untuk mengangkat panggilan telepon Haya.


"Angkat dong, mas!" Bisik Haya dengan begitu cemas nya. ada khawatir yang menyeruak, rasa sedih dan takut kehilangan Attar. sosok anak yang sangat Haya cintai.


Tut____


Nihil, tidak di jawab kembali oleh Niko. Haya berbalik terduduk di lantai dan memengangi kedua lutut nya dengan hati teriris, Haya benar-benar kalut. Niko benar-benar membuat hatinya sakit dan berdarah-darah.


"Apa sih mas yang kamu inginkan, apa yang sedang ingin kamu tunjukkan. Kenapa kamu begitu senang membuatku menangis, kenapa kamu selalu memaksaku."


Tring.. tring...


Suara ponsel membuat Haya langsung menengok pada layar. Niko.. Nama yang terpampang di layar ponsel.


Dengan cepat Haya menjawab panggilan tersebut.


"Mas apa maksud mu membawa Attar ke negara tetangga? Mas tolong jangan lakukan hal yang tidak baik pada ku," Sarkas Haya langsung dengan cercaan yang ber intonasi cepat.


"Kamu sudah tau ya. Bagus lah, kalau sudah tau. Aku tidak perlu repot-repot memberi tau mu, seharus nya kamu bersyukur aku tidak memecat bik Pina, dan masih membiarkan bik Pina untuk bekerja dengan ku. Dengan bik Pina masih bekerja disini, itu kan memudahkan mu, agar bisa tetap berkomunikasi dengan Attar."


"Apa yang kamu katakan, mas!" Haya benar-benar tidak percaya Niko akan benar-benar memutuskan mengambil langkah ini.


"Bagaimana lagi rasanya jika aku memecat bik Pina? Apa kamu bisa yakin dan percaya tentang pengasuh Attar yang baru, hal apa coba yang akan kamu lakukan, jika sampai bik Pina ku pecat? kamu bisa apa!" Hardik Niko di seberang telepon.

__ADS_1


Niko tertawa penuh kemenangan.


"Jahat kamu, mas!" teriak Haya keras menggema penuh kekecewaan.


"Terus lah bermonolog pada dirimu sendiri, coba tanyakan pada dirimu sendiri, dalam masalah kita siapa yang lebih jahat? Aku atau kamu."


"Aku menjadi seperti ini karena ulah mu mas. kamu menganggap enteng setiap masalah, sampai kata talak pun dengan begitu mudah mas lontarkan dengan gaya tidak bersalah. Kenapa sekarang seolah-olah aku lah yang paling bersalah," jawab Haya begitu marah.


"Nyata nya memang kamu lah yang paling bersalah Haya ku sayang. Dengar kan aku baik-baik, saat ini hanya ada dua pilihan, lepaskan Ahmad Faiz dan kembali padaku. atau kamu tidak akan melihat Attar lagi. Tidak akan pernah bisa."


"Hentikan pilihan konyol mu itu mas. Aku tidak akan memilih, karena yang aku mau, aku akan bahagia bersama Attar dengan orang yang benar-benar menyayangi Attar dengan tulus dan ikhlas."


"Ya benar, orang yang tulus dan menyayangi Attar dengan sepenuh hati itu hanyalah ayah kandung nya dan itu aku. Maka cepat lah kembali atau aku akan membawa Attar pergi lebih jauh. ke Australia di rumah kak Angel misalnya. Jadi, pikirkan baik-baik setiap langkah yang akan kamu pilih Haya ku sayang."


Panggilan terputus.


Haya meremas ponsel dengan hati yang perih bak di robek-robek. Semakin kesini, Haya semakin sadar jika Niko adalah pria yang egois dan mementingkan kesenangan nya sendiri, tanpa menilik banyak hati yang tersakiti.


Niko akan melakukan apapun demi keinginan nya tercapai. Niko tidak mau kalah selalu ingin menang, dan sifat egois yang Niko miliki masih saja melekat pada diri itu. Sampai kapan, Niko akan terus berlaku seperti ini? kapan Niko bisa belajar merubah sikap egoisnya?


"Kenapa ayah Firman dan ibu Astri tidak memihak ku lagi. Mengapa mereka juga ikut memojokkan ku, seolah-olah akulah yang paling bersalah. Bukankah mereka juga tau, disini akulah yang paling hancur," lirih Haya semakin pilu, bukan kah dulu mereka juga turut andil dalam rencana ini.


Kenapa sekarang hanya Haya lah yang terlihat harus berjuang demi kalimat bersalah dalam kasus ini.


Penghianatan akan melekat pada diri Haya, jika Haya tidak segera menyelesaikan masalah ini. Haya yakin Niko akan membuat argumen jika Haya berselingkuh, itu sangat merugikan Haya dan Ahmad Faiz.

__ADS_1


nama baik Ahmad Faiz akan tercemar dengan cap perusak rumah tangga orang. Ahmad Faiz tidak bersalah, tidak sepatutnya Ahmad Faiz menerima masalah dan hinaan seperti ini. Haya merasa semua ini tidak adil bagi Ahmad Faiz. Ibarat kata, tidak makan nangka tapi terkena getah nya.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Gumam Haya sambil terus menekan ponsel yang tak bersalah tersebut. Ada harapan terbungkus dalam kepedihan yang Haya rasakan. Jika saja kedua orang tua Haya masih ada, Haya akan pulang dan menangis di pangkuan sang ibunda.


"Uang.. ya masalah nya adalah uang. Dulu dengan uang aku bisa melakukan apapun, dan lihat lah sekarang aku sedang di permainkan oleh keadaan karena ketiadaan uang. Yah, benar aku harus punya banyak uang," lirih Haya merasa tertipu oleh keberadaan uang.


"Menyedihkan, aku merasa di permainkan oleh keadaan. Tak seharusnya, aku menaruh hati pada mas Ahmad Faiz. tapi aku benar-benar mencintainya, mas_____, Maafkan aku melibatkan mu dalam kemelut rumah tangga ku sebelum nya. Aku membawa mas Faiz masuk kedalam badai rumah tanggaku dan mas Niko. Aku salah, akulah yang pantas disalahkan."


Haya masih duduk memengangi kedua lutut sambil terus terisak, sebuah ungkapan lirih pun Haya lontarkan dari bibir manis yang kini terasa hambar dan mulai layu.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku sendirian. Aku harus berjuang tertatih-tatih dengan kesakitan," Haya begitu menyesali jalan hidup yang teramat membuatnya menguncang.


"Haya.. aku pamit pulang dulu!" Dari kejauhan, Teriak suara Evan membuyarkan lamunan Haya. dengan ujung jilbab yang melekat di wajah, Haya menghapus sisa air mata yang menempel di pipi putih nya.


Haya tidak mau, orang lain tau betapa menderita dan tersiksa hatinya selama ini. Haya ingin selalu terlihat baik-baik saja dan selalu bahagia. tidak perduli kenyataan nya seperti apa.


Perlahan Haya menghampiri Evan dan Nahla yang sudah di depan teras rumah. Bagus lah, sejak tadi mereka ada di teras, jadi mereka tidak mendengar ocehan Haya pada Niko, melalui sambungan telepon.


"aku pulang dulu, besok main lagi kesini. Jangan bosan ya?" Evan tersenyum sambil melirik Nahla. Namun Nahla bersikap acuh dan tidak merespon dengan baik.


Haya hanya menjawab dengan tersenyum hambar. Haya sedang ingin menangis dan butuh sandaran. Perih dihati rasanya mempengaruhi jalan pikir Haya.


Diam-diam Nahla memperhatikan Haya. Benar Haya tersenyum, tapi lihat lah senyum itu hambar tak berasa. Mata yang cenderung menyembunyikan sesuatu, gestur wajah yang sedang berusaha menyimpan asa dalam balutan doa.


"mba____!" Nahla menepuk pundak Haya.

__ADS_1


__ADS_2