
Tring___tring___
suara ponsel Haya berdering. Haya mengambil ponsel di atas meja, lalu melihat pesan dari siapakah? Biasanya dari operator ponsel membuat Haya malas. Kenapa hanya operator nomor yang perduli pada Haya, operator nomor selalu mengingatkan, masa aktif, masa tenggang, promo, diskon, dan lain sebagainya.
"Mas Niko," Haya cepat membuka pesan dalam ponselnya.
klik..
"Sudah hampir seminggu kamu Menikah dengan Ahmad Faiz, tapi kenapa belum ada tanda-tanda kalian akan segera bercerai. Jangan lupa akan janji awal kita Haya, ingat ada Attar di antara kita, jangan pura-pura lupa atau jangan-jangan kamu menikmati peran baru mu sebagai istri Ahmad Faiz!"
Deg__
Haya mengenggam ponsel dengan sekuat hati. Raga hampir lolos jatuh tersungkur ke lantai. Namun kekuatan yang masih bersisa sedikit menolong Haya dari kerapuhan.
Mengapa Niko begitu mudah mengatakan hal demikian? Apakah Niko tidak memikirkan akan ada banyak hati yang kecewa dan terluka? Hanya karena ke egoisan yang telah di rencanakan dan di susun rapi.
kenapa harus hidup bahagia diatas penderitaan orang lain?
"Aku belum melakukan hubungan badan dengan mas Ahmad Faiz!" Balas Haya dengan tangan bergetar.
Terkirim.____ tring
"Jangan bohong! Jangan-jangan belum melakukan untuk yang kesekian kali," Dengan E-motion kecewa.
"Sungguh mas! Buat apa aku bohong."
"Cepat lakukan! Rayu, goda dan lakukan apa saja asal Ahmad Faiz segera mau melakukan nya dengan mu. Pastikan Ahmad Faiz meminta hak nya sebelum satu bulan pernikahan," sebuah kalimat pesan yang di kirim Niko mampu membuat Haya membanting ponsel ke lantai.
Pyar___
Arkh___
"Kamu pikir aku perempuan apa mas? Aku bukan perempuan gatal. Mana mungkin aku bisa melakukan itu semua tanpa cinta? Aku bukan wanita penggoda. Aku punya perasaan!" Haya mengusap kasar air mata yang luruh dari pelupuk mata.
"Mudah sekali mas Niko berkata demikian. coba saja keadaan nya di balik, di balik____, Hah lelaki di sajikan wanita cantik paling juga lupa dengan ku, cih____!" Haya mengepak kaki ke depan .
"Stop Haya, stop____! Jangan menangisi mas Niko lagi. Sudah cukup air mata yang terbuang sia-sia selama ini," Haya bergumam sendiri sambil mengelap air mata yang masih ngeyel turun dari rongga mata.
Haya menghentakan bokong di atas kasur, jujur dada Haya begitu sesak. tangan Haya memukul-mukul kasur dengan penuh kekecewaan.
"Please, don't be cry again, Haya."
Klik____
Mata Haya segera menoleh ke arah pintu kamar yang telah di buka. Tampak seorang lelaki yang sedang tersenyum menatap wajah Haya sedang masuk kedalam kamar.
"Mas Faiz...?" Haya kikuk dan mencoba menetralkan deguban jantung yang kian menggila. Antara takut, khawatir dan gelisah jika Ahmad Faiz tau niatan hati Haya yang jahat.
"Mas pikir, dik Haya sudah tidur. Makanya mas masuk enggak ketuk pintu dulu."
"Oh___ " Haya menunduk. Menyembunyikan mata yang hampir lepas saja dari tempat tinggal nya.
"Kenapa ponsel nya di banting? Ponsel kan enggak salah. Kasihan enggak salah tapi dapat kehancuran. Lihat pecah kan!" Ahmad Faiz memungguti ponsel yang sudah pecah tersebut dan menaruh di atas meja kecil.
"Ada apa, coba katakan sama mas?" Lirih Ahmad Faiz lalu duduk di samping Haya.
"Tidak ada apa-apa mas, aku hanya sedikit sedih saja. Aku ingat Attar, aku rindu Attar mas," Haya berkata dusta.
"Jika rindu kita temui Attar besok okay? Jangan ngamuk dong! Kamu harus bisa mengontrol amarah mu dik, Amarah salah satu tipu daya bujuk rayu syetan yang akan membawa kita dalam jurang penyesalan, jadi kontrol amarah mu."
__ADS_1
"Tapi kan kita harus merawat Ibu mas? Ibu kan belum terlalu sehat betul, apa Ibu enggak akan marah jika kita pulang ke Kota besok?"
Haya ragu akan meninggalkan Bu Malik ke kota.
"Ibu sudah lebih sehat. Kalau soal Ibu, dik Haya jangan khawatir, Ibu adalah Ibu yang baik dan mas yakin Ibu bakal ngerti dengan kondisi kita."
Haya terdiam, Haya tau bagaimana sikap Bu Malik yang baik. Pasti Bu Malik akan mengerti keadaan Haya, tapi Haya tidak mampu untuk menyakiti hati wanita sebaik Bu Malik.
Ahmad Faiz mengenggam tangan Haya. "percaya lah semua nya akan baik-baik saja," Ahmad Faiz pun pergi keluar, berlalu meninggalkan Haya dengan pelan.
"Mas_____, Mas mau kemana?" Tanya Haya.
"Mas mau ke tempat Abah di pondok pesantren bersama bapak. Dik Haya lekas tidur jika sudah mengantuk, mungkin mas akan pulang sedikit larut?"
Haya berdiam saat pintu kembali tertutup dari luar. Haya menatap ponsel yang sudah hancur dan pecah.
"Kamu hancur dan aku bisa membeli mu dengan uang ku lagi. Lalu bagaimana dengan hati ku yang hancur, siapa yang akan mengembalikan nya kembali?" Haya meremas ujung jilbab dan menarik hingga rambut nya terurai berantakan.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku bimbang dan aku sakit! Sungguh aku lelah!" Haya menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
Tok_____tok___
"Haya___, Apa kamu sudah tidur, nak?" Suara sang Ibu terdengar dari balik pintu.
"Belum Bu, masuk saja!" Jawab Haya dengan terus mengusap air mata yang membuat sembab kedua bola matanya.
Haya tidak boleh terlihat lemah dan cengeng si depan Bu Malik.
Klik___
"Ibu kira sudah tidur, kok sepi enggak ada suara nya. Ayo keluar temani Ibu minum teh hangat? Ibu belum bisa tidur, ibu pengen ngobrol sama kamu," Ajak sang Ibu.
"Minum lah, tadi Ibu buat dua cangkir, satu untuk Ibu dan satu nya lagi khusus untuk mu."
"Terima kasih Bu, harus nya aku yang buatkan Ibu teh, ini malah kebalikan nya," Haya tampak malu mengucapkan hal itu.
"Tidak apa-apa, jangan sungkan, Ibu suka dan Ibu senang jika kamu pun senang, nak."
"Ibu___, Entah kenapa Haya rasa, Haya tenang dan senang saat bersama dengan Ibu?"
"Sukur alhmadulillah nak, ibu juga senang ada kawan ngobrol seperti nak Haya."
"Hehehe____," Senyum manis tergambar jelas di wajah ayu Haya yang kian sayu. Bu Malik pun tersenyum dengan penuh ketulusan.
"Nak____, boleh ibu minta tolong?" Lirih Bu Malik.
Haya mengangguk.
"Jangan tinggalkan Faiz anak Ibu, apapun keadaan nya kelak. Sayangi Faiz, cintai Faiz dukung dan semangati Faiz dalam setiap langkah kaki nya."
"Ibu___,bicara apa? kenapa ibu berkata demikian?" Haya sungguh tidak enak hati. Kenapa Bu Malik tiba-tiba berkata seperti itu.
"Tidak selama nya Ibu akan selalu berada di sisi Faiz nak. Ada saat nya akan ada jarak, ya contoh kecil nya Faiz dan Haya ada di kota sedang ibu tinggal di desa, iya kan?"
"Iya sih Bu, benar juga."
"Maka dari itu jadikan sebuah pernikahan sebagai Ibadah, dan nak Haya tau Ibadah terpanjang ya menikah, dengan menikah maka sempurna lah sebuah agama. Jadi, ibu harap jangan permainkan sebuah pernikahan, walau di awal tanpa Cinta, tapi percayalah Allah maha membolak-bolikan hati manusia."
"Ya, Bu. Haya akan mencoba menjaga pernikahan Haya dan mas Faiz, sebisa yang Haya mampu "
__ADS_1
"Berjanjilah nak! Berjanji akan menjadi seorang Istri yang baik dan setia untuk suami mu?" Pinta Bu Malik sambil memegang tangan Haya, mata Bu Malik mencoba masuk kedalam pandangan mata Haya yang melemah.
Jelas tergambar kebimbangan disana. Sebuah kesedihan tampak nyata oleh sorot mata bening yang berembun.
Tangan yang kian bergetar di iringi sebuah lelehan air mata yang tanpa sopan menerjang.
"Bagaimana aku bisa berjanji, sementara aku paham, posisi ku sedang tidak di benarkan," Haya membatin nyeri.
"Haya, Nak____, Ada apa?" Bu Malik mengusap lengan Haya yang kian bergetar. Air mata Haya jatuh membasahi pipi mulus Haya.
Hiks___hiks___
Haya menunduk dan kian terisak, bahu bergetar menandakan jika Haya benar-benar merasa kesedihan menyelimuti setiap sanubari yang berkibar dan mencoba tenang.
"Maafkan aku Ibu, maaf____?" Lirih Haya terbata oleh suara isakan tangis.
"Maaf untuk apa, apa nak Haya melakukan sebuah kesalahan? Minta ampun kepada Allah dan bertaubat jika nak Haya melakukan suatu kesalahan."
"Hiks___Hiks___Maafkan Haya Bu? Haya enggak bisa menceritakan pada Ibu, Haya berharap tindakan Haya tidak akan membuat hati siapa pun terluka, yang pasti Haya bahagia bisa berjumpa dengan ibu. Haya menyayangi ibu "
Tes
Satu air mata lolos dari pelupuk mata tua sang Ibu, hati Bu Malik kembali bertanta-tanya tentang sebuah nasihat yang di ucapkan adik bungsu nya bik Pina tempo hari.
Tidak banyak kata yang bik Pina katakan tempo hari, melalui sambungan telepon pada Bu Malik. Hanya sebuah untaian kata agar keluarga Bu Malik dapat menerima dan memperlakukan Haya dengan baik.
Kata bik Pina Jika Haya adalah orang yang baik, dan sedang membutuhkan bantuan kekuatan mental dan hati. Dengan tegas, bik Pina meminta sekali lagi agar Ahmad Faiz mampu membuat dan membantu Haya agar Haya bisa mencintai Ahmad Faiz tanpa syarat.
Mencintai tanpa syarat, mencintai dalam kesederhanaan. Itu luar biasa, bukan!
Bu Malik teringat ucapan bik Pina. Bu Malik mengusap pucuk kepala Haya sampai Bu Malik bisa memastikan jika Haya sudah tenang dan tidak bersedih lagi.
Entah masalah apa yang di alami Haya, yang jelas Bu Malik yakin jika Haya adalah perempuan baik-baik. Sebab Bik Pina pun mengatakan jika Haya adalah orang baik, yang sedang membutuhkan kekuatan.
"Belajar lah untuk Ikhlas, dalam menghadapi sebuah masalah nak. Dengan Ikhlas masalah akan mencair dan mendapat jawaban atas masalah tersebut," Bu Malik masih mengusap punggung Haya.
"Ikhlas sampai nak Haya tidak merasakan sakit lagi. Karena hati yang tidak Ikhlas lah pikiran jadi tidak tenang dan gelisah, Ikhlas ya nak, ikhlas!"
Haya mengangguk dan memeluk erat Bu Malik, pelukan yang mampu memberikan kenyamanan dan kehangatan.
"Esok Haya dan mas Faiz akan kembali ke kota, Bu?" Lirih Haya rada takut Bu Malik kecewa.
Bu Malik menghentikan usapan pada pucuk kepala Haya.
"Apa Ibu kecewa, dengan keputusan kami, untuk segera kembali ke kota? Ibu, maafkan Haya?"
"Tidak nak. Tidak apa-apa, ibu tau kalian di kota punya urusan dan pekerjaan yang sangat penting, jadi kalian tidak bisa berlama-lama mengambil cuti. Ibu paham keadaan kalian."
"Terima kasih, Bu."
"Iya nak, yang penting kalian bahagia Ibu juga bahagia. Yah, walaupun ibu sebenar nya sedih sih, kalian akan kembali ke kota."
"Ibu____,Maaf!"
"Ibu maafkan. Tapi Haya janji jangan menunda kehamilan ya? Jika Allah kasih harus di terima dengan lapang dan penuh syukur. Ibu dan bapak sudah merindukan seorang cucu."
"Apa____!" spontan Haya berekpresi.
"Ekspresi nak Haya berlebihan deh!" Bu Malik mencubit hidung Haya yang memerah. Bu Malik masih berusaha mencairkan suasana namun Haya merasa, apa-apaan ini?
__ADS_1
"Arkh___ Tidak____, kenapa jadi begini?" Batin Haya meronta.