Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Sholat lah sebelum di sholat kan


__ADS_3

Tok___tok___


Klik


"Bagaimana, apa kamu suka rumah ini?" tanya Niko dan langsung mencium kening Haya.


"Entah lah___, inti nya terima kasih sudah memberikan aku sebuah rumah. Walaupun aku tidak begitu menyukai ide mu, mas."


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu Haya. aku mohon mengertilah, jangan pergi dari hidup ku lagi."


Niko mengambil ponsel dan menunjukan pada Haya.


"Aku sudah mentransfer uang ke rekening mu. Kamu bisa menggunakan uang tersebut untuk biaya hidup mu, karena mulai besok kamu harus resign dari tempat mu bekerja."


"Loh enggak bisa gitu dong mas. Aku masih akan tetap bekerja, aku penat jika harus nganggur dan diam diri di rumah, lagian mau apa aku di rumah seharian!" jawab Haya tak setuju.


"Haya___"


"Mas aku mohon. Aku sudah susah payah mendapatkan pekerjaan tersebut, dan di saat aku sudah mendapatkan nya, masa iya aku harus melepaskan. Tolong lah, mas."


"Baik. Tapi ingat kamu harus bisa membagi waktu antara bekerja dan mendapatkan suami Muhallil untuk kita, dan sesekali mengunjungi dan menjaga Attar."


"Apa kamu bisa melakukan itu semua, Haya?" Selidik Niko dengan senyuman licik. Karena Niko tidak yakin, Haya bisa membagi waktu.


"Aku bisa!" sarkas Haya dongkol, dan merasa terpojok.


"Baik lah. Aku akan selalu menunggu waktu dimana kita bisa kembali bersama lagi. Aku harap tidak lama lagi akan datang masanya. "


"Sekarang istirahat lah. Aku mau pulang dulu, ingat berjuang lah demi Attar anak kita," bisik Niko dan pergi meninggalkan Haya di rumah minimalis itu sendiri.


Selepas Niko pergi Haya menjatuhkan diri di atas sofa.


"Ya Allah aku rapuh, dan aku tidak sanggup jika harus terus menerus menerima cobaan hidup yang begitu rumit. Ya Allah, tolong lah hamba mu ini?" Haya menangis dengan terduduk.


Air mata yang terus turun membasahi pipi, Haya mengusap menggunakan sapu tangan pemberian Ahmad Faiz.


"Apa kah dia Ahmad Faiz, lelaki yang baik yang Allah kirim. Aku takut jika Ahmad Faiz lelaki yang lebih egois dan lebih jahat dari mas Niko," lirih Haya merasa sesak.


"Apa yang akan ku lakukan ini sebuah dosa. ya Allah tolong lah hamba mu ini?" Haya memejamkan mata.


Haya mengambil ponsel dan menelpon Attar. Bagaimana mungkin mulai malam ini Haya akan tinggal dan tidur tanpa Attar. Niko begitu kejam, memisahkan seorang Ibu dari anak nya, Niko jahat. sangat jahat.


Tut___


Panggilan masih belum di jawab.


"Hallo Assalamualaikum, Bu," suara bik Pina di seberang sana.


"Walaikumsalam, bik mana Attar aku kangen?" Lirih Haya.


"Attar sudah tidur Bu, ini anak nya," bik Pina mengarahkan kamera ponsel ke arah Attar yang sedang terlelap di atas kasur.

__ADS_1


"Attar, ibu kangen nak. Mimpi yang indah sayang nya, ibu" ucap Haya sambil mengusap layar handphone nya.


"Bik___"


"Iya Bu, ada apa?"


"Kenapa baru jam segini Attar sudah tidur?"


"Tadi kami habis jalam-jalan ke sebuah tempat wisata Bu. Jadi mungkin Attar kecapekan."


"Apa Attar rewel?"


"Tidak Bu. Attar sangat anteng dan senang sekali tadi."


"Bik, tolong jagain Attar dengan baik ya untuk sementara waktu ini. Aku ada kepentingan yang sangat mendesak hingga mungkin aku tidak akan kembali kerumah sampai waktu nya memungkinkan," terasa tercekat tenggorokan Haya walau hanya sekedar mengatakan sesuatu.


"Bu, apa ibu baik-baik saja?"


"Iya bik. Aku baik-baik saja disini, tolong jagain Attar untuk ku ya bik? Aku sayang Attar bik, jujur aku enggak mau seperti ini bik tapi aku bisa apa?"


"Iya Bu. Ibu tenang saja, tanpa di pinta pun pasti bibik akan menyayangi Attar layak nya anak bibik sendiri. Ibu yang semangat dong kerja nya, bibik saja semangat kerja untuk putra bibik yang di pondok."


"Terimakasih banyak ya bik. Sampaikan maaf ku pada Attar bik, jangan katakan dan jangan ajarkan Attar untuk membenci ku."


"Ibu ngomong apa sih?"


"Sudah lah, aku ngelantur bik. Hanya satu pintaku aku titip Attar bik, jagain Attar."


Panggilan terputus.


Haya beralih ke atas ranjang di dalam kamar nya, iseng Haya menekan nomor Ahmad Faiz.


Tut___


"Mampus!" pekik Haya dan menekan tombol off.


Panggilan di akhiri.


"Ngapain aku telepon dia, apa yang akan aku bahas coba!"


Ahmad Faiz yang baru pulang dari kantor, baru saja akan mengambil dan melihat siapa penelpon eh sudah di matikan saja.


Ahmad Faiz tersenyum, saat melihat foto seorang yang menabrak nya siang tadi


"Haya, ngapain dia nelpon?" Ahmad Faiz tersenyum.


"Ada apa?" Send.


Tring


Haya mengambil ponsel nya "mampus, ngomong apa aku?"

__ADS_1


"Enggak ada apa-apa." balas Haya.


Lama hampir sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit sampai satu jam.


"Dasar! kayak gitu saja enggak di buka-buka pesan ku. Dasar sok laku kamu tu Ahmad Faiz. tapi bukan kah memang aku yang merendahkan diri!" pekik Haya lagi saat mendapati pesan nya belum juga di baca oleh Ahmad Faiz.


Haya menutup mulut nya, untung saja di rumah ini enggak ada siapapun selain dirinya, jadi tidak akan ada yang tau Haya marah-marah tidak jelas.


"Kirain ada apa?" tring sebuah jawaban pesan masuk.


Haya membiarkan pesan tersebut, malas dan sebal terhadap lelaki sok ganteng dan sok jual mahal seperti Ahmad Faiz.


Tunggu___


Memang benar Haya yang seperti mengejar-ngejar bukan, apa karena sangking butuh nya.


"ya Allah, kenapa sekarang aku jadi wanita seperti ini?" lirih Haya merasa kasihan pada diri sendiri.


Tring__


"Sudah sholat belum?" Ahmad Zein mengirim pesan lagi.


Deg__


Sholat, kapan terakhir Haya sholat? Bukan kah sholat Id lebaran tahun kemarin, bahkan mukena nya saja entah berada dimana.


"Sholat lah sebelum di sholat kan, sesama teman harus saling mengingatkan dalam kebaikan!" pesan Ahmad Faiz.


"Aku tahu, pak Ustad!" sebuah jawaban Yang Haya lontarkan membuat Ahmad Faiz tersenyum tipis.


"Wanita unik dan aneh," lirih Ahmad Zein dan melanjutkan mengikuti kajian di salah satu rumah tetangga nya.


"Kamu dimana, ketemuan yuk?" Kirim.


Tring


Sebuah foto sedang ada pengajian Ahmad Faiz kirim kan pada Haya.


"Maaf aku enggak bisa, maaf ya lain kali saja" balas Ahmad Faiz.


"Ini akan bakalan susah," Gumam Haya dan melempar ponsel ke sembarang arah.


Haya memejamkan mata, melepas penat yang memenuhi rongga dada dan isi kepala nya.


Sebuah desakan yang mengharuskan, sebuah drama dimana Haya tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang di cintai nya.


Haya menghentak-hentakan kaki nya beberapa kali, sebelum benar-benar terlelap di dalam tidur.


Sungguh perih, sangat sedih menyiksa batin ini.


"arkh___ Aku benci semua ini, aku ingin bahagia ya Allah!" Haya melempar bantal ke sembarang arah.

__ADS_1


__ADS_2