
"Bik, tolong panggil kan Haya untuk kemari?" Pinta pak Firman pada bibik yang bekerja di rumah nya. Bik Ijah pun gegas menemui Haya.
"Baik Tuan," bibik pun undur diri dan menuju kamar Haya.
Tok___ tok____
Bibik Ijah mengetuk pelan pintu kamar Haya. Haya yang terlelap pun tidak mendengar ketukan pintu tersebut.
"Ibu___" Bibik memanggil dan kembali mengetuk pintu karena tidak mendapat jawaban.
Tok___tok___
Haya mendengar suara ketukan pintu, dengan membuka mata dan mendengar siapa di balik pintu.
"Ibu___" Suara bibik masih memanggil nama Haya. Haya bangkit dari ranjang.
"Iya sebentar," Haya dengan pelan menlonggarkan pelukan nya pada Attar. dengan perlahan Haya turun dari kasur dan membuka pintu.
klik___
"Iya bik ada apa?" Haya menebar senyum pada bik Ijah.
"Ibu di tunggu Tuan besar, di ruang keluarga," jelas bik Ijah.
"Ok baik lah, makasih ya bik. Oh iya___ bik, boleh minta tolong panggil kan bik Pina untuk menemani Attar, takut Attar bangun dan enggak ada orang di samping nya."
"Baik, Bu."
"Terima kasih bik," sekali lagi Haya mengucapkan rasa terimakasih. Haya keluar dari kamar menuju ruang keluarga.
Hening__
Di ruang keluarga tidak ada suara apapun. Haya dengan cepat melangkah ke balkon rumah yang menghadap ke area taman langsung.
"Haya!" lirih Niko dengan mata berkaca.
"Mas Niko!" Haya pun dengan mata berembun menatap Niko dengan penuh rasa yang berjuta. Ingin marah tapi Haya tidak mampu melakukan nya.
"Duduk lah Haya!" Titah pak Firman yang berada tak jauh dari area taman.
__ADS_1
Bu Astri datang mengandeng tangan Haya dan mengajak nya duduk di kursi rotan. Haya terkesiap melihat ada seorang ustadz sudah duduk rapi disana.
"Niko, Haya perkenal kan ini pak Ustad Malik, beliau adalah guru spritual Ayah," terang pak Firman.
Niko dan Haya menatap pak Ustad Malik dengan senyum yang masih mengembang sebagai salam dan hormat.
"Pak Ustad, ini Niko anak lelaki saya. Dan ini anak menantu Saya, Haya. Jadi saya minta saran dari pak Ustad bagaimana tentang nasib pernikahan anak Lelaki saya ini?"
"Jadi masalah nya bagaimana, pak?" Pak Ustad Malik tampak santai.
"Saya menceraikan istri saya, pak."
Tampak Niko menjawab dengan nada penuh penyesalan.
"Jika mas Niko dan mba Haya ingin kembali bersama, kalian boleh rujuk. Tentu dengan syarat dan rukun nikah."
"Tapi masalah nya, saya sudah menjatuh kan talak sebanyak tiga kali pada istri saya pak," lirih Niko dengan air mata berlinang penuh sesal.
"Astagfirullah hal adzim___" Pak Ustad menatap Niko dalam. Ada rasa bimbang bercampur kecewa di wajah pak Ustadz Malik.
"Kenapa sampai bisa menjatuhkan talak sebanyak tiga kali mas Niko? Kenapa mas Niko begitu mudah mengatakan kata Talak, jika sesungguh nya mas Niko masih mencintai dan mengharapkan untuk tetap bersama mba Haya?"
"Lalu rencana mas Niko sekarang bagaimana?" Tanya Ustad Malik.
"Saya tidak mau bercerai dengan istri saya pak. Saya masih ingin mempertahan kan rumah tangga saya. Saya sungguh menyesal telah mengucapkan kata talak pak, saya berjanji tidak akan mengucapkan kata itu lagi, saya janji pak."
Niko berkata dengan penuh keyakinan dan bersungguh-sungguh.
"Lalu bagaimana dengan mba Haya. Apakah mba Haya masih ingin memperjuangkan dan ingin kembali bersama dengan mas Niko?" Kali ini pak Ustad menatap Haya yang sudah terisak.
"Haya katakan nak, jangan takut! Jika hatimu berkata iya, maka jawab lah iya. Namun jika tidak, maka katakan tidak," Bu Astri masih mengusap punggung Haya.
"Haya jawab lah nak!" pak Firman menatap mata Haya, ada tatapan memelas yang meminta jawaban melalui sorot mata nya.
"Bagaimana mba Haya?" Pak ustad bertanya lagi untuk yang kedua kali nya.
"Maafkan aku Haya? Aku janji akan berubah, aku akan menjadi lelaki yang tidak gegabah dan ceroboh, aku mohon beri aku kesempatan Haya!" pinta Niko memohon.
"Sa__ya__ masih___ Menging___ingin__kan pernikahan ini bersatu lagi pak!" Haya menunduk dan semakin terisak.
__ADS_1
Niko menatap bahagia atas jawaban yang di ucapkan Haya. Sungguh Niko tau dan Niko bisa merasakan bahwa hati dan Cinta Haya masih bersama dan masih milik nya selama nya.
"Lalu bagaimana ini pak. Apa jalan yang harus kami tempuh, apa mereka harus kembali membangun nikah yang sudah rusak tapi bagaimana apa itu masih bisa?" Pak Firman berucap ragu.
"Ini rumit pak, sangat rumit. Memang ada jalan nya, tapi saya ragu mereka mau mengambil jalan ini."
"Apa pak, katakan saja saya siap pak. Apapun jalan nya, asal saya dan istri saya bisa bersatu kembali," Niko berujar penuh rasa yakin.
"Apa mas Niko pernah mendengar tentang pernikahan Muhallil?" Pak Ustad bersuara.
"Pernikahan macam apa itu pak?" Kali ini pak Firman yang menjawab.
"Seorang wanita jika sudah jatuh talak nya sebanyak tiga kali, dan jika si suami mau kembali bersama sang istri kembali, maka sang istri harus menikah dengan lelaki lain terlebih dahulu."
"Apa__ menikah dengan lelaki lain. Apa enggak ada jalan lain pak?" Seru Niko tak puas atas jawaban pak Ustad. Niko merasa janggal dengan penjelasan pak Ustad Malik.
"Memang ini lah jalan nya mas Niko, maka tadi saya bilang ini berat."
"Semua salah mu Niko. Maka nya jadi lelaki jangan mudah mengatakan kata talak, kalau sudah begini mau apa kamu!" Seru pak Firman sewot.
"Bagaimana mas Niko!" Tanya pak Ustad.
"Saya tidak bisa mengambil langkah itu pak. saya tidak mau, bagaimana mungkin saya membiarkan orang yang saya cintai menikah dengan pria lain, itu hal gila."
"Niko___" bentak pak Firman.
"Ayah, apa enggak ada jalan lain. Ayah aku mohon" lirih Niko.
"Hanya itu jalan nya mas Niko, jika mas Niko tidak sanggup maka saya mohon mas Niko segera mengajukan gugatan surat cerai yang resmi ke pengadilan Agama. Karena demi apapun, kalian sudah tidak sah lagi untuk menjadi pasangan suami istri. Bahkan jika kalian melakukan hubungan badan itu dosa dan jatuh nya zina."
Haya membelalakan mata dan tersentak, hati kecil nya bagai di iris-iris sembilu, berarti mimpi itu, mimpi yang hadir di di dalam tidur nya bukan suatu kebetulan tapi itu pengingat.
"Ya Allah___" Gumam Haya.
"Sabar nak" Bu Astri menenangkan Haya yang kian terisak sampai badan nya bergetar.
Niko terdiam dan memegang kepalanya dengan begitu erat.
Tidak ada kata yang di bahas lagi setelah penolakan dengan keras yang Niko lontarkan.
__ADS_1
Pak Ustad sendiri pun sudah pergi kembali ke rumah nya.