
"Jadi ini rumah mu, dik?" Ahmad Faiz ikut turun dari taksi online yang di pesan nya tadi. Dan segera beranjak di halaman rumah minimalis milik Haya.
"Iya mas. Apakah mas mau mampir terlebih dahulu?" tawar Haya.
"Terima kasih dik, lain kali saja. Ini sudah malam, waktunya untuk istirahat."
"Kamu tinggal dengan siapa dik, di rumah ini? kok kayak sepi sekali?" Ahmad Faiz heran.
"Sendiri." jawab Haya cepat.
Ahmad Faiz pun mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin Haya tinggal di rumah yang lumayan besar walau bergaya minimalis sekali pun, seorang diri?
"Ayah dan Ibu ku, sudah lama berpulang ke pangkuan sang Ilahi, mas."
"Maaf____" Lirih Ahmad Faiz.
"Iya enggak apa-apa mas. Mungkin sudah takdir nya harus begitu, kita sebagai manusia harus ikhlas."
"Ya sudah kalau begitu, aku pamit dulu dik. Takut jadi fitnah malam-malam berduaan. Yah walaupun hanya di teras rumah, kan dik Haya tinggal sendirian."
"Mas___?"
Ahmad Faiz mendengar panggilan Haya, lalu menoleh ke belakang, memandang wajah sayu Haya.
"Mau kah, mas Faiz menikah dengan ku?" Lirih Haya to the point, dengan mata yang memanas dan menganak.
Sungguh Haya merasa malu, namun apalah daya, Haya ingin segera berkumpul dan hidup bersama Attar. rasanya hancur saat Haya harus berpisah dengan Attar walau dengan dalih kata sementara.
"Dik Haya bicara apa, kita baru kenal mungkin baru seminggu. Bertemu pun baru dua kali, kok sudah ngajak nikah. Nikah itu bukan untuk main-main, loh dik. Baik dik Haya maupun mas belum tau sifat masing-masing kan?"
"Aku, tidak perduli, mas" tekan Haya.
"Dik Haya, jangan gegabah dalam mengambil suatu keputusan. Karena Menikah itu mempunyai arti tanggung jawab yang besar. jika kita belum siap memikul nya, harap di pertimbangkan terlebih dahulu, apalagi mas sudah pernah menikah!"
"Mas___ Aku mohon?" pinta Haya dengan air mata berlinang.
"Dik Haya, pikir kan kembali ucapan dik Haya. Bagaimana kalau aku ternyata lelaki jahat dan kejam, dan bisa di pastikan hidup dik Haya Tidak akan tenang dan bahagia."
"Mas, aku takut___, Aku butuh pertolongan tanpa bisa ku katakan apa masalah ku. Tapi aku mohon nikahi aku segera mas?" Haya memohon dan berlutut di bawah kaki Ahmad Faiz.
"Maaf dik, aku belum bisa. Aku pamit pulang, Assalamualaikum?" Ahmad Faiz mendirikan Haya yang berlutut lalu berlalu pergi.
Ahmad Faiz pulang kerumah kontrakan nya, dengan berjalan kaki tanpa menoleh ke belakang lagi.
Haya terduduk di halaman rumah, yang di tumbuhi rumput berwarna hijau segar. Apalagi bumi baru saja di guyur hujan, menambah warna rumput menjadi hijau terang.
Hiks___hiks___
Tes
Tes
Air mata Haya tumpah, Haya tidak menyangka akan mendapat penolakan dari Ahmad Faiz.
Walau sebenar nya, disini Haya lah yang salah. Tidak sepatut nya Haya mengatakan kata Nikah padahal baru seminggu bertemu.
Lelaki mana yang mau, dan akan menjawab "Iya aku bersedia" Haya yakin, Ahmad Faiz bukan tipe lelaki yang mudah jatuh hati pada wanita cantik dan banyak harta.
Haya tau diri, jika Ahmad Faiz bukan lelaki penggila harta. Jika Ahmad Faiz tidak tertarik oleh rupa, jika Ahmad Faiz lelaki kurang baik sudah bisa di pastikan Ahmad Zein akan langsung menjawab Iya.
"Ya Allah___ Aku enggak kuat lagi? aku ingin menyerah ya Allah. ini terlalu rumit dan terasa berat untuk ku jalani," Haya merintih dan Menepuk dada nya berulang.
"Kenapa, mencintai ciptaan mu sesakit ini?" Haya kembali berkata.
Hujan mulai kembali turun, pelan lambat laun semakin deras dan deras.
Haya masih berdiam diri di tempat.
Haya berharap air hujan akan membasuh luka di hati nya, melunturkan dan jatuh bersama air yang terus mengalir.
"Siapa yang perduli terhadap hidup ku, siapa ya Allah?" Pekik Haya marah.
"Untuk apa aku hidup? jika harus menderita seperti ini. Aku harus menjalani hidup dan hubungan yang rumit, aku enggak bisa ya Allah?" Haya benar-benar duduk di halaman rumah, membiarkan hujan terus menyapu tubuh nya.
"Hujan___ aku mohon Jangan pergi! temani aku yang sendirian ini." lirih Haya sambil mengusap air mata yang bercampur air hujan.
Berjam-jam lama nya, Haya berada di bawah guyuran air hujan. Haya tidak perduli lagi akan kesehatan raga, bahkan jiwa nya pun mulai terguncang.
Air mata nya sudah tidak bisa keluar lagi, namun luka di hati nya masih sama, belum juga reda.
Tiba-tiba perut Haya terasa mual, kepalanya pusing begitu hebat, pandangan mata nya berkunang-kunang.
Gelap.. gelap dan lebih gelap.
Brugh___
Tubuh Haya terjatuh ke tanah, dengan hujan yang tak kunjung reda. insan mana yang sudah selarut ini akan melihat tubuh Haya yang lemah di atas pijakan bumi?
Tengah malam dengan guyuran hujan, pasti akan indah jika di gunakan dengan memejamkan mata, dan menjemput mimpi.
__ADS_1
Haya seorang wanita lemah, yang merasa kan kehampaan di dalam hidup. terbujur lemah di atas bumi yang terus basah oleh derai air hujan.
"Dad berhenti, seperti nya ada orang yang membutuh kan bantuan kita?" Seseorang perempuan menghentikan laju mobil suami nya.
Sepasang suami istri tersebut turun dari mobil, datang memeriksa kondisi Haya yang sudah lemah dan memejamkan mata.
"Wanita ini pingsan!" Lirih seorang perempuan memakai baju kedokteran tersebut.
Sang suami dari dokter yang bertag nama Erin tersebut, langsung membawa tubuh Haya yang pucat menuju mobil.
Dengan cepat mobil melesat menuju klinik terdekat untuk memberikan pertolongan pertama pada Haya.
"Tolong sus?" Dokter Erin memanggil suster untuk menyiapkan tempat untuk pasien yang di bawa nya.
Dokter Erin mulai memeriksa keadaan Haya yang melemah.
"pasang Infus sus, pasien begitu kekurangan tenaga dan sangat lemah!"
"Baik, dok!"
Suster memasang selang infus di pergelangan tangan Haya.
"Bagaimana, mom?" Sang suami dokter Erin mendekat.
"Tidak apa-apa dad. Wanita ini sepertinya kehilangan kesadaran akibat terlalu stres dan kelelahan. Sudah begitu malah hujan-hujanan, suhu tubuh nya begitu tinggi. Tapi aku sudah memberikan obat pada selang infus nya, semoga besok dia sudah lebih baik."
"Ayo pulang?" Ajak sang suami.
"Tunggu sebentar dad, mana ponsel wanita ini, yang tadi mengantung di tas selempang nya?"
"Itu, ada di atas nakas," dokter Erin berusaha membuka pola pada ponsel Haya namun terkunci.
"Pakai sandi apa, kira-kira kata kunci yang di gunakan oleh nya?"
"Sidik kan saja, pada jari nya." Usul suami dokter Erin.
"Jari wanita ini terlalu mengkerut, habis kehujanan berjam-jam jadi kedinginan, dad." dokter Erin tersenyum dan suaminya pun ikut tersenyum geli.
"Pakai pola wajah, honey."
Klik___
"Yes, bisa!" lirih Dokter Erin.
"Maaf ya, aku lancang!" Dokter Erin membuka aplikasi berwarna hijau, dan melihat di nomor mana yang akan di hubungi.
"Selamat malam menjelang pagi, apakah ini dengan keluarga wanita yang memiliki ponsel nomor ini. Saya dokter Erin ingin mengabarkan bahwa kerabat atau saudari anda sekarang ada di rumah sakit Bunda sehat di ruang melati nomor 7, terimakasih."
Dokter Erin, mengirim pesan tersebut ke tiga nomor, yang di rasa dokter Erin keluarga dekat dari si pasien wanita.
Nomor yang di hubungin dokter Erin yakni, Ada Niko, Attar, dan Ahmad Faiz.
Selepas pergi dan menitipkan barang yang di bawa oleh Haya pada perawat, dokter Erin pergi undur diri.
*****
Niko saat pagi menjelang dan mendapat pesan dari nomor Haya, langsung on the way menuju ke rumah sakit Bunda sehat, tanpa membawa Attar ikut serta.
Mobil yang di tumpangi Niko, ia jalan kan begitu kencang. Hampir saja menabrak pagar pembatas sangking ngebut nya.
"Ruang melati, nomor 7 sebelah mana?" Tanya Niko pada seorang perawat.
"Mari pak, saya antar?" Niko mengikuti langkah suster.
Suster pun berhenti, dan menoleh ke arah Niko. "itu pak ruangan nya, saya permisi?"
"Yah. Terimakasih."
Niko segera berjalan mendekati ruangan melati nomor 7. Pelan sekali Niko membuka pintu dan tampak lah Haya sedang terbaring dengan wajah pucat.
"Haya___, Kamu kenapa bisa sampai sakit?" Niko begitu panik. Di sentuh kening Haya. Niko memdengkus penuh penyesalan.
"Aku rindu Attar, mas," lirih Haya lemah.
"Jika rindu, cepat lakukan misi kita. Jangan menunda nya lebih lama lagi. Aku pun sudah merindukan mu Haya. Kamu tidak boleh lemah Haya, kamu harus kuat!"
"Mana Attar, mas?" Ucap Haya getir.
"Aku tidak membawa nya. Hari ini Attar pergi ke Bali bersama Ayah dan Ibu."
"Aku rindu Attar mas, aku mohon pertemukan aku dan Attar sebentar saja?" Haya memelas.
"Aku enggak bisa Haya. Ayah dan Ibu juga sudah berangkat, jika kamu rindu kamu kan bisa menelpon nya saja?"
"Kamu jahat! Kamu berusaha memisahkan aku dan Attar mas!" Desis Haya.
Niko menghela napas berat, tak berniat menjawab atau beradu argumen pada Haya.
"Sudah makan apa belum?" tanya Niko mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
Haya tak menjawab bahkan menggeleng saja tidak.
"Makanlah. Biar cepet sehat, ayo makan!"
"Aku tidak mau makan mas. Biarkan saja aku sakit dan mati. Toh sudah tidak ada yang perduli dengan ku lagi kan?"
"Haya kamu ini ngomong apa sih! aku perduli dengan mu. Aku sayang sama kamu ya. Aku ingin kita segera bersama kembali, tapi kita butuh lelaki itu. Haya jangan egois, ini demi Attar juga kan!"
Tes___
Buliran bening lagi-lagi jatuh tanpa di minta.
"Aku mencintai mu, ya!" Sebuah kecupan Niko daratkan di kening Haya.
Tring___
Niko mengusap layar di ponsel, lalu sedikit muram.
"Aku ada meeting di luar kota. Aku akan mengirim bik Ijah kesini, untuk menemani mu. Jaga dirimu baik-baik. Harus makan, dan jangan lupa minum obat, aku pergi dulu?"
Sebuah kecupan yang cukup lama, Niko hadiahkan untuk Haya.
Tes___
Haya meremas selimut, yang membantu nya menghangatkan tubuh dalam kedinginan.
"Kenapa, mencintai manusia itu sesakit ini?" keluh Haya mengiba dan minta di kasihani.
Tak berapa lama, benar apa yang di ucapkan Niko. Bik Ijah datang untuk menemani Haya.
"Ibu___, jika Ibu perlu sesuatu apapun itu, boleh panggil bibik ya, Bu?" tawar bik Ijah ramah.
Haya mengangguk tanda paham.
Bik Ijah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan pesakitan tersebut, dengan membuka aplikasi Tut Tut, yang membuat nya tersenyum dan tertawa. Haya mengambil ponsel dan melihat foto Attar dan dirinya.
"Sayang ibu, sedang apa disana? semoga Attar selalu sehat ya. Ibu sayang Attar," lirih Haya sambil mengusap Poto tersebut dengan hati kacau.
Haya melirik ke jam di ponsel, sudah jam Sebelas siang.
Haya merebahkan diri ke kasur sambil berdecak sebal, sebal dengan siapa Haya sebal, entah lah!
Tok___tok___
Bik Ijah berkata. "masuk saja."
Pintu terbuka, nampaklah seorang lelaki memakai celana panjang dan kaos masuk kedalam ruangan dimana Haya di rawat.
"Assalamualaikum___"
"Walaikumsalam" bik Ijah menjawab dan berdiri dari duduk nya.
"Eh saya permisi Bu, pak. Bibik mau ke toilet sebentar?" pamit bik Ijah dan pergi meninggalkan majikan perempuan nya tersebut.
"Dik, kamu sakit?" Ahmad Faiz duduk di kursi sebelah ranjang.
Haya hanya diam. Entah apa yang harus Haya katakan.
"Maaf ya baru datang, ponsel ku rusak terkena hujan semalam, dan baru ku bawa ke tukang servis pagi ini?"
"Iya, enggak apa-apa mas." jawab Haya.
"Pasti sakit karena kehujanan semalam ya? Kan sudah ku bilang, jangan main hujan-hujanan. Jadi sakit beneran kan. Kalau aku mah sudah biasa terkena air hujan."
"Iya___." Jawaban enggak nyambung yang Haya lontarkan, membuat Ahmad Faiz bertanya-tanya, ada masalah apa dengan Haya?
"Sudah makan apa belum, dik?"
Haya menggeleng.
"Nah kebetulan tadi, aku Beli nasi uduk di samping tempat servis. Lumayan enak ini ayo makan?"
Haya menggeleng pelan.
"Lah kalau tidak mau makan, kapan sembuh nya? Katanya mau menikah dengan ku."
Haya mendongak kan wajah nya, ada raut senang, sedih, kecewa, marah, terluka semua berhambur menjadi satu.
"Makan dulu gih, nih aku suapin ak____ Buka mulut nya, ayo?"
Haya pun mau menerima suapan dari tangan Ahmad Faiz.
"Bissmilah dulu dong, jangan asal makan saja! Ayo biasakan membaca bismillah saat akan memulai sesuatu?" Lirih Ahmad Faiz dengan senyuman.
"Bissmilah__" Lirih Haya dengan senyum senang. Haya mengatupkan senyum saat menyadari ada senyum yang terbit di pipi nya.
"Kamu enggak kerja mas, nanti kena sanksi lagi?" Haya khawatir.
"Tadi sih sudah berangkat kerja, lalu mampir untuk servis handphone. Pas handphone nyalan, eh___ ada pesan dari kamu dik. Jadi mas langsung ambil motor di bengkel dan menuju kesini, semoga cepat sembuh ya?"
__ADS_1
"Terimakasih ya mas, sudah menyempatkan waktu mengunjungi ku?"
"Iya, sama-sama, dik."