
Klik___
Haya membuka pintu rumah selepas pulang dari kerja. Rasa lelah menyergap sebagian tubuh mungil tersebut. Seharian melayani pelanggan baik via online maupun offline.
"Mas Faiz sudah pulang?" Haya terkejut dengan kedatangan Faiz yang sudah membawa secangkir teh manis untuk Haya. dengan senyum yang selalu menghias diantara bibir indah ciptaan sang khalik, Ahmad Faiz mendekat dan menyodorkan minuman hangat buatan nya.
"Ini di minum dulu teh nya, dik?" Ahmad Faiz menaruh teh di atas meja, lalu duduk di kursi sambil menepuk bagian kursi, sebagai kode agar Haya ikut duduk di samping Ahmad Faiz.
"Terimakasih mas, aku pikir mas belum pulang. Jadi, aku nyelonong saja masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan salam, hem hari ini aku letih banget mas," keluh Haya merasa begitu lelah sambil meregangkan otot menarik tangan ke atas.
Tangan Ahmad Faiz datang dan memijit betis Haya yang di tarik dan selonjorkan di atas pangkuan Ahmad Faiz.
"Mas jangan, mas kan juga baru pulang kerja, pasti mas juga capek!" tolak Haya sungkan, tidak sepantasnya Haya menerima pijitan dari Ahmad Faiz fikir Haya. Karena Niko jarang, atau malah di bilang tidak pernah melakukan hal demikian.
"Sudah lah, tidak apa-apa. Kalau mas kan sudah biasa bekerja keras. Jadi, sudah berteman dengan yang namanya rasa letih. nah, kalau dik Haya kan masih dalam tahap belajar menyesuaikan diri. Pasti lelah nya tuh terasa banget." Ahmad Faiz masih terus memijit kaki Haya dengan penuh ketulusan.
"Tidak, mas. Sudah lah_____, Hentikan. Aku tidak apa-apa, aku merasa tidak enak. nanti juga reda sendiri pegal-pegal nya, sudah ya?" Haya masih ngotot karena merasa tidak enak hati dan merasa sungkan.
"Sudah____, Jangan menolak!" Ahmad Faiz mengulurkan jari telunjuk di bibir Haya sebagai tanda agar Haya tidak menolak pijitan Ahmad Faiz. diam-diam Haya menatap mata Ahmad Faiz begitu dalam penuh kagum, ada rasa bahagia yang menyelinap di hati Haya.
"Selama tiga tahun menikah dengan Niko, tidak sekalipun Niko memijit Haya. Yang ada Haya yang memijit Niko," Haya membatin penuh rasa syukur.
Terkadang kebahagiaan itu punya porsi masing-masing. Ada yang bahagia walau hanya sekedar di beri pijitan, disaat lelah melanda, itu sebuah bentuk rasa perduli dan perhatian.
__ADS_1
Ternyata bahagia mudah sekali tercipta. Hanya hal kecil saja, mampu membuat hati seseorang menjadi berbunga-bunga.
"Oh iya bagaimana toko nya?" tanya Ahmad Faiz mengalihkan pembicaraan. Ahmad Zein tau, jika Haya terus memandang nya dengan tatapan mencurigakan. rasa malu dan grogi tentu ada di benak Ahmad Faiz. Ahmad Faiz lelaki dewasa, normal juga. Jadi, bisa di tebak lah ya bagaimana perasaan Ahmad Faiz saat ini.
"Alhamdulillah lancar dan rame mas. Banyak orang yang datang untuk sekedar melihat, tapi lebih banyak yang lihat-lihat dan akhirnya membeli."
"Selain ada yang datang langsung. Ada juga yang memesan lewat online mas, mungkin karena aku sudah memasukan toko ku kedalam platfrom marketplace sebuah online shop terbesar di Indonesia kali ya mas, jadi sekali pesanan datang tuh bertubi-tubi, aku sampai kuwalahan. Tapi ya itu kendalanya, handphone aku kan sudah kayak gitu!"
Haya menunjukkan ponsel nya yang retak. Haya ingat betul, ponsel nya retak karena di banting nya sendiri.
"Pakai ponsel mas saja!" Ahmad Faiz menyodorkan ponsel milik nya.
"Ah, tidak usah mas."
"Jangan menolak, kita kan suami istri sudah sepatutnya saling membantu dan mengerti."
Ahmad Faiz memberikan ponsel pada Haya. dan mengambil ponsel Haya sebagai miliknya, bertukar ponsel lah inti nya. Karena ponsel milik Ahmad Faiz masih jauh lebih layak untuk dipergunakan.
"Perlu bantuan lain?" Tawar Ahmad Faiz dengan masih menampilkan senyum. masyaAllah senyum nya, benar-benar seperti Angin surga. begitu menawan.
"Tidak, mas terimakasih. nanti biar aku cari orang yang mau bantu-bantu aku untuk jualan di toko. Untuk sekarang ini, mas fokus di pekerjaan mas saja dulu, nanti kalau aku butuh bantuan, pasti aku akan bicara sama mas. Don't worry!"
Ahmad Faiz mengangguk, namun dalam hati Ahmad Faiz bertanya-tanya. Bagaimana perasaan Haya kalau Haya sampai tau Ahmad Faiz sudah di pecat dari tempat nya bekerja?
__ADS_1
Bukan kah impian Haya begitu besar, Haya ingin menyewa pengacara agar dapat mengambil hak asuh Attar. Sedang Ahmad Faiz tau, untuk menyewa pengacara itu bukan biaya yang sedikit. Namun Ahmad Faiz yakin, tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau berusaha.
apapun hasilnya Ahmad Faiz akan berusaha bekerja keras, agar dapat membantu Haya, mewujudkan impian Haya untuk bisa merawat Attar kembali. Yah, yang perlu di lakukan saat ini adalah terus berikhtiar dengan terus bekerja di sertai doa.
Bukan kah sebuah kesakitan, jika seorang Ibu dan anak di pisahkan? Walaupun ada orang yang berusaha memisahkan antara anak dan Ibu, padahal itu ayah kandung nya sendiri.
Apalagi anak tersebut masih di bawah tiga tahun, anak yang masih butuh kasih sayang ekstra dari seorang Ibu. Anak yang perlu kasih sayang dari lengkap dari kedua orang tuanya.
Ahmad Faiz bisa memahami kepedihan di hati Haya melalui sorot mata. Mata yang memancarkan keindahan dan berselimut kepedihan yang jarang di katakan. Walaupun akhir-akhir ini Haya sering tersenyum, tapi siapa yang tau jika hatinya teramat terluka
Sejauh ini Ahmad Faiz menilai Haya adalah wanita yang baik. Haya wanita kuat dan tegar, Ahmad Faiz sendiri merasa bukan lah lelaki yang baik, maka dari itu Ahmad Faiz sangat mensyukuri di berikan jodoh lewat sebuah settingan.
Semua di setting oleh Haya dan mantan suami nya dulu, Niko. namun Allah mempunyai rencana sendiri hingga kini Haya tidak meneruskan misi awal mereka, dan memilih untuk tetap tinggal bersama Ahmad Faiz. Bukan kah itu sebuah keajaiban?
Bukan kah suatu kepayahan yang akan Haya dapatkan, jika masih terus memilih hidup bersama Ahmad Faiz? Ahmad Faiz bukan lah lelaki berharta dan mempunyai kedudukan, Ahmad Faiz hanyalah lelaki biasa dengan kesederhanaan.
Siapa bisa menjamin kehidupan Haya akan susah kedepan nya, siapa lagi kalau bukan Niko? Niko mengecap jika Haya tidak akan tahan hidup susah bersama Ahmad Faiz.
Namun di balik semua itu Haya secara diam pun, ingin membuat Niko menyesal telah berasumsi sedemikian. Haya ingin Niko menyesal telah menyakiti hati Haya berulang-ulang kali tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Kebutuhan dunia selalu di landasi dengan uang, no money don't talk.
Namun tidak selamanya uang bisa membeli everything what you want.
__ADS_1
Jadi bekerja lah lebih keras, selama raga masih sehat dan kuat.
Sebab harta juga penunjang ibadah.