
"Ya Allah bagaimana ini. Kenapa pijakan yang menumpu ku, perlahan mulai mulai terkikis air laut?" Haya terlihat panik.
Menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari bantuan namun nihil tak ada seorang pun yang terlihat.
"Tolong____, Siapa pun tolong aku? bagaimana ini, aku enggak mau jatuh ke dalam air laut."
Haya sudah hampir limbung karena sedikitnya pijakan yang tersisa. Haya tidak mengerti mengapa tiba-tiba dirinya berada di tengah lautan, dan hanya berpijak pada sebongkah batu karang yang pelan tapi pasti mulai terkikis dan akan segera habis.
"Ya Allah____, apakah umur ku hanya sampai disini. Aku belum siap ya Allah," Haya semakin panik dan gelisah. Tatapan nya menyisir ke seluruh penjuru. Haya merasa terancam akan segera tenggelam.
Byur_____
Hap.. hap....
Air laut mampu membuatnya kedinginan, meneguk beberapa air laut yang masam dan asin.
Haya berusaha sekeras mungkin, untuk berenang mencari tepian. Namun rasanya tidak lah mungkin, Haya tidak tau kemana harus mengayuh tangan dan kaki untuk menjumpai permukaan daratan. Tepian tidak dapat terjangkau oleh penglihatan mata Haya.
"Kemana harus aku mencari tempat untuk mendarat? Sedang aku tidak tau arah," Haya menangis dan hampir pasrah, karena selain tubuh yang melemah karena lelah, Haya sudah hampir putus harapan. Rasanya semua ini akan berujung sia-sia, semuanya akan hilang dan lenyap.
Byur___
Arkh___
Gelombang air laut yang mengayun-ayunkan tubuh Haya membuat hati Haya bergetar. Rasa takut akan kematian tiba-tiba masuk dan hinggap di hati Haya.
"Jangan ambil nyawa ku ya Allah! Aku belum siap, masih banyak dosa dan salah dalam hidup ku ini," Haya merintih pelan karena merasa takut yang kian mencekam. Air laut yang terus bergelombang, tubuh Haya yang semakin lemah dan lelah terombang ambing di tengah lautan lepas.
"Ya Allah____!" Haya panik luar biasa.
"Ya Allah, tolong aku?" Rintih Haya lagi semakin ketakutan.
"Ya Allah, aku takut, ya Allah____!"
Bismillahirrahmanirrahim.....
Samar-samar terdengar lantunan ayat suci meluluh lantakan hati Haya. Suara merdu yang menggetarkan jiwa siapa saja yang mendengarnya. Apalagi dalam keadaan berharap menunggu keajaiban, seperti yang Haya rasakan saat ini.
Setetes air mata jatuh tes____ Di susul lagi dan lagi tes____Tes___
Kenapa baru saat ini Haya merasa sakit dan perih saat mendengar lantunan ayat Allah? kemana saja dirinya selama ini, kenapa Haya lupa dan tidak mau tahu tentang agama apa yang di anut nya? Kenapa hanya surat di atas kertas yang menjadi identitas kepercayaan yang di genggam nya?
Lalai dan lupa karena kemewahan. Mengejar dunia yang fana, belum tentu dunia akan berduka saat kehilangan Haya.
"Astagfirullahaladzim____ Astagfirullahaladzim____ Astagfirullahaladzim____"
Dalam tangis Haya mengharap dan meminta Allah menolong kesusahan hati, dan hidup yang berada di ambang kematian. Haya memejamkan mata dan sudah pasrah jika umur dan hidupnya berakhir sampai disini, semoga ini adalah akhir hidup yang indah.
"Naik lah____" Haya mendengar seseorang memanggil nya untuk naik ke atas kapal. Sebuah tangan yang mengenggam tangan dingin nya menuju naik ke atas kapal kecil, namun begitu indah nan lengkap oleh kerlap KerLiP lampu yang bersinar terang di atas kapal.
Seluruh kapal dan segala ruang bernuansa putih dan bersih serta indah, banyak benda antik nan unik berwarna putih bersih, semua serba bercahaya.
sungguh indah sekali.
"Mas____ Ahmad Faiz," Lirih Haya mengigil kedinginan. Ahmad Faiz mengambil sebuah minyak angin, sebuah handuk dan baju ganti.
"Ganti pakaian mu! Pakaian mu basah dik, harus di ganti dengan yang kering agar dik Haya tidak kedinginan dan jatuh sakit. Ini handuknya," Ahmad Faiz menyerahkan handuk dan baju kerangan Haya.
"Terimakasih, mas?" Lirih Haya pelan dan mengambil handuk pemberian Ahmad Faiz.
"Iya sama-sama," sebuah senyum jelas tergambar di wajah Ahmad Faiz yang bersih lagi berseri-seri. Wajah yang menenangkan, tidak ada ekpresi menyeramkan ataupun menakutkan. Wajah yang terlihat membuat hati tenang dan adem.
Tidak memerlukan waktu lama Haya sudah Menganti pakaian basah dengan pakaian kering yang Ahmad Faiz sediakan. Ahmad Faiz memberikan secangkir minuman hangat.
__ADS_1
"Minum lah, setidak nya dengan minum air susu hangat bisa membantu kelelahan serta rasa takut yang baru dik Haya alami, ayo minum?" titah Ahmad Faiz dan menyuguhkan gelas di depan bibir Haya.
Pelan tapi pasti Haya menyeruput air susu hangat yang Ahmad Faiz berikan.
"Ulurkan tangan mu, dik!" ucap Ahmad Faiz dan Haya pun menurut, mengulurkan tangan, dengan lembut Ahmad Faiz mengusap minyak angin untuk menghangatkan suhu tubuh Haya yang kedinginan dan sudah keriput karena kedinginan.
"Bagaimana apa sudah lebih baik, keadaan mu, dik?" Ahmad Faiz berkata begitu penuh rasa keperdulian.
Haya pun mengangguk Mengiyakan, bahwa keadaanya jauh lebih baik dari sebelum nya. Haya sungguh takjub dan bahagia bisa bertemu dengan Ahmad Faiz disaat kesusahan, padahal tadi Haya berpikir bahwa dirinya akan mati tenggelam di tengah lautan.
Tiba-tiba segelintir rasa bahagia, dan ingin terus bersama membersamai hati Haya yang rindu akan di cintai dan di sayangi. Haya ingin sekali mengatakan, jika dirinya kini menginginkan Ahmad Faiz untuk terus bersama nya.
Sungguh Haya tidak adil.
Namun Ahmad Faiz perlahan mundur dan pergi. Entah lah, kapal yang di tumpangi terlihat sangat kecilz tapi saat Ahmad Faiz berlalu, Haya lari tergopoh-gopoh mengejar Ahmad Faiz. kapal yang terlihat kecil namun sanggup membuat Haya lelah berlari mengejar Ahmad Faiz yang terus berjalan, dan lama kelamaan pergi menghilang.
"Mas Faiz tunggu____!" Pekik Haya tidak mau di tinggal.
Namun teriakan Haya tidak mampu menghentikan langkah kaki Ahmad Faiz. Ahmad Faiz terus saja berjalan tanpa menoleh ke arah Haya, seolah-olah Haya tidak terlihat, dan panggilan Haya pun tidak terdengar oleh Ahmad Faiz.
"Mas tunggu___!" Sekali lagi Haya berteriak dengan sekeras mungkin. Namun tetap sama, Ahmad Faiz sama sekali tidak mendengar nya.
Mas____!
Tiba-tiba Ahmad Faiz memutar tubuh nya, menghadap Haya yang tersungkur di bawah karena tersandung. Haya memengangi kaki nya yang terluka dan berdarah, entah benda apa yang melintang sehingga mampu membuat kaki Haya berdarah dan teramat perih, menyakitkan!
Tut Tut Tut
Tut____
Sebuah kapal besar, indah lagi megah menghampiri kapal yang di tumpangi Haya dan Ahmad Faiz.
Haya menyipitkan mata, kapal yang megah dan indah dengan bola api di tengah-tengah nya. Apakah mereka semua tidak kepanasan, Haya hanya mampu menyimpan berjuta pertanyaan di dalam hati belum jua mengatakan nya.
"Kemana bik Pina, kenapa bik Pina membiarkan Attar sendirian disana? bagaimana jika Attar jatuh ke lautan?" Haya meronta dan meraung-raung, ketakutan dan begitu histeris.
"Attar jangan bergerak-gerak ya nak. Nanti Attar terjatuh, Attar diam ya nak, ibu akan meminta bantuan agar Attar bisa turun?" teriak Haya dan bingung mencari tempat bantuan.
Haya berlari kesana kemari di kapal mungil tersebut. Mencari keberadaan Ahmad Faiz, Haya berlari terpelanting kesana kemari, dengan derai air mata Haya menangis terisak, panik yang luar biasa.
hiks... Hiks....
Di tengah kesulitan seperti ini tidak ada yang bisa Haya mintai bantuan. Bagaimana ini, bagaimana jika Attar jatuh kelautan. Haya berlari kembali menuju tempat dimana dirinya bisa melihat Attar.
Dan kini Attar berada di dalam gendongan Niko, ayah kandung Attar.
"Mas aku mohon, jangan biarkan Attar duduk di tepian kapal lagi? Aku takut Attar jatuh ke lautan mas, aku mohon?" Teriak Haya memohon.
"Baik lah, tapi apa syarat yang kita ajukan dan kita sepakati tempo hari, sudah kamu tepati." Sarkas Niko penuh ketegasan.
"Syarat, mas kamu ini apa-apaan sih__!
jangan libatkan anak dalam masalah kita. Attar itu anak kandung kita, jangan membahayakan nyawa nya, hanya demi keegoisan kita. Kita lah yang telah membuat hidupnya seperti ini.
aku harus jauh dari anak kandung ku sendiri, itu menyakitkan."
"Kembali lah ke kapal megah ku. Maka aku tidak akan menaruh Attar di tepian lagi, karena aku pun menyayangi Attar, dan aku tidak mungkin membahayakan nya."
Haya menatap kapal yang penuh kobaran api, Haya melongo dan menjerit histeris, sebagian nyali Haya menciut saat melihat api yang melambung tinggi ke angkasa.
"Selamatkan attar. Api semakin membesar mas, aku mohon berikan Attar padaku, kapal ini kecil namun tidak berbahaya, karena tidak ada Api seperti di dalam kapal mu."
"Tidak usah sok tau kamu Haya. kapal ku lebih besar lebih indah dan lebih megah. Kalau ada api dan kawat berduri itu wajar, untuk melindungi kita dari musuh. Semua ini bentuk dari sebuah pengamanan bagi pemilik nya."
__ADS_1
"Tapi itu berbahaya mas. Bagaimana kalau Attar terkena bola api atau kawat berduri yang sudah di aliri listrik, aku takut mas!"
"Hahaha aku selalu memantau nya, dan disini semua mekanis nya tidak bisa di anggap remeh, jangan khawatir. Cepat lah kembali, agar kamu bisa merasa kan kemegahan kapal milik ku. Merasakan kenyamanan.
dan kamu pun pasti bisa, merawat dan menjaga Attar dari dekat, bukan kah itu keinginan mu."
"Tapi mas____!"
"Kembali lah padaku ya, atau aku akan melempar satu buah bola api ke dalam kapal kecil mu, dan kamu tau Haya ku sayang, jika satu saja bola api mampu membuat kapal mu dan seluruh isinya meledak dan hancur. Lalu tenggelam di tengah lautan, hahahaha"
"Jangan lakukan itu, mas!"
"Apa perduli ku. Aku hanya melakukan apa yang membuat hatiku senang. karena kamu menyakiti ku, Haya."
"Tapi kamu membuat orang lain terluka, mas," Haya keberatan akan penjelasan Niko.
"Tapi aku menikmatinya," lirikan Niko tidak seperti biasanya, Niko terlihat sedang tidak bermain-main.
"Jahat sekali kamu, mas!"
"Aku tidak jahat, aku hanya ingin kamu kembali padaku. Cepat selesaikan misi awal kita dan cepat pulang ke kapal Megah ku?"
"Aku tidak mau kembali lagi padamu. Aku nyaman tinggal di kapal ini, walaupun kecil namun sejuk dan damai. aku nyaman di tempat kecil begini, dan di tempat inilah aku mendapat ketenangan !"
"Oh benarkah___!" Niko tersenyum jahat.
"Lalu bagaimana jika_____," Niko menunjuk seutas tali yang menjerat kaki Ahmad Faiz.
Terlihat kepala Ahmad Faiz berada di bawah, dan kedua kaki di gantung di atas. Ada kobaran bola api di bawah kepala Ahmad Faiz.
"Jangan mas, jangan____, jangan seret mas Faiz dalam masalah kita. Mas Faiz tidak bersalah mas, kita yang salah, kita yang salah mas, aku mohon lepaskan mas Faiz!" Teriak Haya menggema dan histeris.
"Akan aku lepas... Jangan khawatir, tapi setelah dia mati hahaha."
"Tidak______jangan______!"
Hahahaha
Suara tawa Niko mengelengar hebat dan keras di seluruh penjuru, membuat pemandangan tiba-tiba gelap gulita dan di penuhi awan hitam yang menambah suasana semakin mencekam, mengerikan.
"Jangan___ Akh___, Aku mohon mas!" Haya teriak sekencang-kencang nya.
"Tolong lepaskan mas Faiz, tolong____ jangan sakiti dia?" Haya kian histeris dan panik, saat pelan tapi pasti kepala Ahmad Faiz hampir menyentuh bola api.
"Ya Allah aku mohon jangan____, Aku mencintainya ya Allah___," Tangis Haya kian pecah dan menjadi-jadi. Haya terhuyung kelantai dan berputar-putar karena bimbang dan ketakutan yang terus menyergap hati.
"Jangan. aku mohon lepaskan mas Faiz dari situ mas, aku mohon jangan sakiti dia," Haya terus menangis terisak dan kian pilu
Arkh...
Hem..
"Dik___ Dik___ Bangun dik. astagfirullahaladzim___," Ahmad Faiz memeluk Haya yang membuka mata dengan wajah sedih dan menangis terisak. wajah Ayu itu di penuhi air mata dan keringat.
Ketakutan jelas tergambar disana.
"Jangan tinggalkan aku, mas?" Bisik Haya pelan di telinga Ahmad Faiz dengan terisak.
Ahmad Faiz perlahan mengusap punggung Haya yang bergetar. Marena terisak menahan pilu yang menjadi mimpi buruk di malam hari nya.
"Aku mohon mas jangan pergi. Bantu aku mendapatkan Attar kembali, dan kita bisa hidup bahagia," lirih Haya dengan keringat yang terus bercucuran membasahi seluruh wajah ayu nya.
"Istigfar dik____" Ahmad Faiz masih berusaha menenangkan hati Haya. Ahmad Faiz tau pasti Haya mimpi buruk dan saat ini juga pasti masih terbawa pengaruh dari mimpinya tersebut.
__ADS_1