Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Rumah baru bagi Nahla


__ADS_3

Hari ini hari Minggu, Ahmad Faiz mengambil libur di hari Minggu. Bukan tanpa alasan Ahmad Faiz mengambil Minggu sebagai hari off day.


Jika tidak mengambil libur setiap Minggu, pasti Haya akan curiga jika pekerjaan Ahmad Faiz sedang tidak baik-baik saja. Yang jelas Ahmad Faiz tidak ingin membuat Haya sedih dengan pekerjaan yang di jalani Ahmad Faiz kini. Apalagi pemecatan Ahmad Faiz dari kantor ada sangkut pautnya dengan Haya.


Begitu pula dengan Haya, Haya akan meliburkan toko setiap hari Minggu. Selain untuk family time dengan meliburkan diri di hari Minggu juga bisa untuk mengistirahatkan pikiran, meregangkan otot yang setiap hari lelah bekerja dan berpikir.


Lain hal nya dengan Nahla yang hanya tidak ada hari libur kecuali hari libur nasional. namun Minggu ini Nahla mencari kontrakan untuk tempat tinggal sementara selama berada di kota. Jadi, Nahla meminta cuti sehari pada sang bos untuk mencari dan bebenah di rumah kost.


"Kamu yakin Nahla, apa tidak sebaiknya kamu tinggal disini saja?" Haya membantu Nahla membereskan pakaian kedalam tas. Ada keraguan di hati Haya.


"Aku yakin, mba. Aku tidak ingin berlama-lama merepotkan mba Haya dan mas Faiz."


"Jangan bilang begitu Nahla, entah kenapa aku merasa bersalah padamu. Jangan berkata merepotkan, rasanya aku tidak merasa di repotkan."


"Mba Haya____, mba tidak bersalah jadi jangan bersedih. Ini murni kemauan ku sendiri. Aku mohon mba, biarkan aku menikmati masa lajang ku dengan caraku. Aku tau aku salah, tapi aku mohon biarkan aku mendapat pengalaman, ya contoh nya dengan bekerja di toko bunga seperti ini."


"Aku janji, aku bisa menjaga Marwah ku sebagai seorang perempuan. Mba Haya jangan berpikir aku pengen kebebasan. Itu sama sekali tidak benar, aku hanya ingin mencari pengalaman itu saja." tekan Nahla, takut Ahmad Faiz dan Haya berpikir yang aneh-aneh.


Haya pun mengalah dengan keyakinan yang Nahla tunjukan. Haya tau Nahla menyukai suaminya, namun disini Haya bangga dengan sikap dan cara Nahla menanggulangi perasaan cinta nya.


Nahla tidak sedikit pun menunjukkan cinta nya pada Ahmad Faiz. Nahla tidak mencari perhatian pada Ahmad Faiz, Nahla benar-benar bisa menjaga diri sebagai perempuan baik-baik. Haya begitu kagum dengan sosok Nahla yang benar-benar bisa menjaga sikap dengan penuh kedewasaan.


Namun Haya merasa curang, sebab Haya tidak mau memberi peluang untuk Nahla mengejar cinta nya pada Ahmad Faiz. Haya tidak memberi kesempatan pada Nahla untuk mengungkapkan perasaan nya. Haya tidak memberi ijin untuk Nahla, walaupun sekedar ijin untuk bisa menatap wajah Ahmad Faiz.


"Jadi kapan pastinya Hari sidang pengugatan, hak asuh Attar akan di laksanakan mba?" Tanya Nahla penuh rasa perduli.


"Dua hari lagi Nahla, doakan aku ya? Semoga aku bisa mendapatkan hak asuh Attar, aku sangat merindukan Attar. Aku ingin hidup bersama Attar, ah rasanya sedih banget Nahla saat jantung hati harus dipisahkan," terang Haya menahan kepedihan.


"Iya, mba. Semoga Allah memberikan keputusan yang terbaik. Semoga Attar akan segera berkumpul dengan mba dan mas Faiz. semoga hidup kalian selalu bahagia FII Din wal akhiroh."


"Aamiin______, terimakasih Nahla." Haya menepuk pundak Nahla dan membawa tas Nahla menuju ruang tamu, di iringi Nahla yang berjalan di samping Haya.


Srt...

__ADS_1


"Sudah siap?" tanya Ahmad Faiz sambil menutup lagu sholawat di smartphone milik nya.


"Iya, mas." jawab Nahla lirih. selirih perasaan yang ia simpan sedalam mungkin.


"Ayo, taksi online sudah menunggu kita di depan." Ahmad Faiz mengambil alih membawa tas milik Nahla dari tangan Haya.


"terimakasih_____" goda Haya pada Ahmad Faiz, yang terlihat begitu perduli pada beban barang yang ada di genggaman tangan Haya. Padahal tidak berat juga.


Ahmad Faiz mengusap pucuk kepala Haya dan berjalan mendahului. srkkkk ada hati yang di remas-remas, bak di tusuk belati yang tajam. Rasanya hati tersebut bagai hancur berkeping-keping berhambur dan terurai berantakan.


Nahla mati-matian menahan air mata agar tidak jatuh membasahi kedua pipi. Namun sekuat apapun hati Nahla, tetap Nahla juga wanita yang butuh sandaran. air mata lolos begitu saja tanpa bisa ditahan lebih lama lagi.


Tes....


Tes...


Haya yang melihat pemandangan itu pun tekejut, dan memandang mata Nahla yang menunduk kebawah dengan air yang menganak dari sudut matanya.


"Ada apa Nahla, kenapa kamu menangis? sudah ku katakan bukan, jangan pergi tetap tinggal lah disini Saja. nanti kita akan renovasi rumah, kita akan menambah ruangan untuk di buat kamar. Tapi, kamu harus sabar, nunggu keadaan keuangan kita kembali normal selaras sejalan."


"tidak, mba. aku hanya sedih. Aku akan belajar hidup mandiri, tanpa ayah, tanpa ibu ataupun sahabat, aku akan mandiri____, ya aku akan mencari teman baru, hidup yang baru. Sama seperti awal aku akan berangkat mondok. bedanya hanya ini untuk tujuan hidup di dunia."


Haya membalas pelukan Nahla, Haya sama sekali tidak tau jika tangis Nahla karena kekecewaan atas perasaan cinta pada Ahmad Faiz. perlahan rasa sayang terhadap Nahla muncul di sanubari Haya yang paling dalam.


Sedari kecil Haya merindukan seorang adik. namun sayang sang adik kembali kepangkuan sang Ilahi terlebih dahulu di bandingkan dirinya.


Tidak perduli bagaimana perasaan Nahla pada Ahmad Faiz suaminya, Haya bertekad akan menjadikan Nahla sebagai adik baginya. Nahla adalah perempuan baik dan bijaksana. gumam Haya dalam hati mencoba memahami keadaan Nahla.


"Sudah lah____, ayo kita berangkat. kasihan Abang sopirnya nunggu kita berlama-lama," Haya mengusap air mata Nahla, dan mengandeng tangan nya menuju mobil taksi yang sudah menunggu sedari tadi.


Di dalam perjalanan pun, baik Haya maupun Nahla tidak berucap lagi. Nahla fokus dengan jalan pilihan yang akan di tempuhnya. banyak pikiran berkecamuk di dalam sanubari yang menjadi penyumbat akal untuk berpikir sejernih mungkin. sedang Haya, jarinya terus mengusap layar handphone di genggaman nya. Ahmad Faiz sendiri memilih melihat keluar jendela mobil melihat pemandangan kota yang sudah menjadi tempat tinggal nya selama ini.


Setelah beberapa menit berkendara taksi pun memarkirkan mobil di sebuah pekarangan rumah yang lumayan besar. tampak rumah yang asri ada beberapa tanaman pohon berbuah menjuntai kebawah.

__ADS_1


Ahmad Faiz membawa tas berisi pakaian milik Nahla menuju kedalam rumah. sedang Nahla berjalan paling akhir dengan melihat kearah kanan dan kiri karena rasa dag Dig dug.


Ting... Tong...


Tapi tidak berbunyi.


"Sepertinya bell nya rusak, mas." jelas Haya dan mengetuk pintu.


tok_______tok______


Pintu pun terbuka lebar.


"Assalamualaikum____!" Seru Ahmad Faiz pada seorang Ibu berperawakan gembul. mungkin saja ibu ini adalah pemilik kontrakan tersebut. Bisa dilihat dari perhiasan yang dikenakan nya, mungkin saja ibu ini pemilik kost-an.


"Walaikum salam, mari masuk?" Tawar sang Ibu tersebut mempersilahkan ketiga tamunya untuk duduk di kursi ruang tamu. Benar saja, ini memang ibu pemilik kost.


Haya melihat ke sekeliling rumah yang begitu besar dengan banyak pintu.


"Jadi, yang mana ini yang mau ngekos disini?" Jelas ibu kost dengan senyum sumringah.


"Saya, Bu." ucap Nahla sambil melempar senyum manis.


"Gini ya dek, kalo mau ngekost disini banyak peraturanya. Selain tidak boleh bawa masuk lelaki, disini juga di larang pulang di atas jam sepuluh malam. Bagaimana apa kamu setuju?" Tanya ibu kost penuh kejelasan.


Nahla pun mengangguk setuju. Karena memang kost an seperti ini yang Nahla harapkan.


"Disini ada lima belas kamar kamar. Setiap kamar berisi dua anak. Jadi, nanti kamu tidur sama Abel teman sekamar mu. Untuk kamar mandi nya tidak tersedia di dalam kamar langsung ya. Tapi, ada empat kamar mandi di samping dapur, jadi kalian bisa antri kalo mau menggunakan nya."


"Di dapur umum, kalau mau masak boleh masak sendiri-sendiri, dan bisa beli bahan makanan di warung ibu. Karena ibu buka toko kelontong," ibu kost tersenyum sambil mempromosikan jualan nya.


Nahla pun mengangguk setuju tentang penjelasan ibu kos, yang memang Nahla anggap sesuai dengan keinginan nya.


"Anak-anak disini dilarang merokok, sebab suami saya pun tidak merokok," tambah ibu kost lagi penuh kejelasan.

__ADS_1


Haya pun tersenyum mendengar penuturan ibu kost. Haya sedikit mendapat kelegaan, setidaknya Haya tidak terlalu khawatir tentang privasi Nahla. bagaimana pun juga Nahla seorang perempuan cantik dan polos. Haya takut Nahla kenapa-napa, namun setelah mendengar penjelasan ibu kost, Haya merasa senang dan lega menghiasi relung hati akan keadaan Nahla kelak.


"Insyallah tempat ini, nyaman dan aman untuk mu, Nahla." Ahmad Faiz tersenyum bahagia.


__ADS_2