Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Adil kah ini untuk ku


__ADS_3

Hari ini, hari dimana sidang kedua di gelar. Nahla mengandeng tangan Haya. Tampak di belakang Haya, berdiri Bu Malik dan pak Malik untuk menemani Haya, memberi kekuatan dan support.


"Kenapa dengan wajah mu?" Sarkas Angel penuh tanya dan tawa, Angel melihat wajah Haya begitu buruk dan menyedihkan. Bahkan kantung mata, begitu tampak di wajah ayu Haya.


"Apa jangan-jangan suami baru mu, memukul mu sampai babak belur, eitz apa malah gak mampu membelikan mu skincare lagi. upsss____!" Angel tampak menyudutkan bibir.


Bu Malik menatap wanita cantik di depan Haya, cantik, modis terlihat berpendidikan tapi tidak beradab.


"Apa dia pergi meninggalkan mu? Yah, lagian mana ada lelaki jaman sekarang yang betah sama perempuan kusut kayak kamu!" ledek Angel.


"Apa kamu tidak tahan hidup miskin. Kamu meratap dan mengamuk, lalu suami mu marah dan terjadi pertengkaran hebat, lalu kamu menangis sampai sembab dan bengkak seperti ini, duh-duh kasihan!"


"Aku sudah pernah mengingatkan mu, begitu juga suami miskin mu. Tapi, kalian berdua tidak membuat hatiku senang, dan sekarang kalian rasakan. Kamu tau kan, siapa suami baru mu, suami tidak guna dan tidak ada sepucuk kuku nya jika di bandingkan dengan Niko. Kamu nya saja perempuan gat**"


Plak____


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Angel, mata Angel memerah. Ini pertama kalinya Haya menampar Angel. Selama ini, Haya selalu sopan terhadap Angel, tapi kali ini lisan nya sudah keterlaluan.


"Berani kamu, jala**" teriak Angel dan mendorong Haya dengan penuh emosi.


Haya hampir jatuh tersungkur, tapi ada Bu Malik dan pak Malik di belakang nya, dengan sigap menangkap Haya dan menopang tubuh Haya.


Tangan Angel berusaha menarik dan menghajar Haya. Ada Bu Malik dan pak Malik, juga Nahla yang berusaha melindungi Haya dari terkaman Angel yang membabi buta.


"Dasar perempuan gat**!" Hardik Angel sambil mencari kesempatan untuk menghajar Haya. Karena ada tiga orang yang melindungi Haya dari amarah Angel.


Bu Astri yang baru dari toilet pun berlari, mendekati Angel yang kalang kabut.


"Jangan main keroyokan dong!" Teriak Bu Astri marah.


"Tolong anaknya di ajarkan sopan santun, ibu?" Nahla berucap tegas.


"Hey anak kampung! Siapa kamu berani berbicara seperti itu dengan keluarga Syah, apa kamu tidak tau siapa saya?" Bu Astri ikut terbawa emosi.


"Saya berani berbicara seperti itu, karena saya tau anak ibu ini benar-benar berkata kasar, kepada mba saya. Anak ibu tidak bisa berkata hal yang baik-baik saja kah?"


"Oh jadi kamu adik dari perempuan tidak tau diri ini. Kamu ini benar-benar perempuan bodoh, berani kamu sama saya!"


"Kenapa saya harus takut sama ibu. Kita sama-sama ciptaan Allah, apa bedanya saya sama ibu, kita sama-sama makan nasi kan?"


"Diam kamu anak ingusan!" Kali ini Angel yang hendak berjalan menghajar Nahla.


"Ada keributan apa ini, Mohon untuk menjaga sikap, ini bukan tempat untuk bertengkar, bisa di selesaikan di tempat lain. Jangan membuat kegaduhan disini," Evan datang menghadang Angel yang akan menyerang Nahla.


"Mereka ini Evan, mereka yang menganggu kami. Dua perempuan miskin ini yang tak tau diri," adu Angel.


Nahla memicingkan mata.


"Sudahlah, saya minta jangan ada keributan disini. Lebih baik kalian bubar," seru Evan.

__ADS_1


"Ah, sudahlah bu. Ayo kita pergi dari sini?" Ajak Angel pada Bu Astri.


Bu Astri dan Angel pergi meninggalkan keluarga Haya, pun dengan keluarga Haya yang sudah siap berada dalam ruang sidang kedua.


Nahla menengok ke sembarang arah, acara sidang akan di mulai, tapi tidak ada tanda-tanda Niko datang membawa Attar. Bahkan Niko sendiri tak ikut hadir dalam sidang ini, yang ada hanya perwakilan pihak keluarga.


Dalam hati Nahla sungguh khawatir dan takut. Nahla takut Haya akan kembali kecewa. setidaknya Haya harus bahagia hidup bersama Attar.


Hem____


Haya merintih dan memengang perut.


"Mba, kenapa?" Nahla mengenggam tangan Haya yang mengeram di perut.


Haya menggeleng pelan, tapi tanggan nya masih memegang perut yang kian sakit, dan kepala yang sangat pusing tak tertahan.


"apa mba sakit, keringat mba banyak begitu," tanya Nahla, Haya masih saja menggeleng.


Terlihat keringat yang membasahi badan, tak dapat menyembunyikan rasa sakit yang Haya tahan.


"Haya.. kamu harus kuat ya nak?" Bu Malik megusap punggung Haya. Haya memandang Bu Malik dan menyandarkan kepalanya di pundak Bu Malik penuh harap.


"Tidak seharusnya aku membawa keluarga mas Faiz untuk ikut serta dalam sidang ini, ya Allah____, aku membuat mereka susah!" Haya membatin nyeri.


Luka, perih yang kian mengangga. Rasanya untuk membawa kaki untuk melangkah Haya hampir tidak sanggup lagi.


Ada banyak kekuatan yang menguatkan Haya, padahal mereka juga tak kalah rapuh dari Haya.


Setelah beberapa jam sidang.


"Sidang keputusan kita tunda dua hari lagi," jelas ketua hakim.


Walaupun pengacara yang Haya sewa merasa keberatan, tapi pengacara xxxxc bisa apa. Pihak dari keluarga Niko benar-benar tangguh dan sulit dilawan. Inikah yang dinamakan hukum?


"Bukti dan saksi sudah ada, tapi entah kenapa banyak bantahan, dan seolah-olah kita berlaku rekayasa. Bukan kah, mereka yang merekayasa ini semua." Tegas sang pengacara xxxxc merasa tidak puas.


"Aku sendiri tidak habis pikir. Kenapa Niko tega melakukan ini padamu, Haya." Evan sungguh merasa menyesal pada rumah tangga Niko dan Haya.


Haya semakin tertunduk, jika misi kali ini gagal, maka hancurlah sudah hidup Haya.


Attar tak dapat di asuh nya. Ahmad Faiz pergi untuk selama-lamanya, hutang akibat memperebutkan hak asuh attar menjerat dan mencekik lehernya. Tamatlah riwayat Haya.


Bahkan untuk sekedar berjalan, Haya harus di papah oleh pak Malik dan Nahla.


Sungguh terlihat menyedihkan.


"Lihat bu, karma menghampiri perempuan sombong seperti Haya!" Angel mengambil gambar dan mengirimkan nya pada Niko. Angel merasa senang dan puas melihat Haya lemah tak berdaya seperti itu.


Drt...

__ADS_1


Ponsel Angel bergetar.


Tak lama kemudian, Angel tertawa membaca tulisan Niko atas jawaban pesan pribadinya.


Evan memperhatikan, sikap yang Angel ditunjukkan dari belakang mereka berdiri sekarang.


Angel yang menertawakan kesedihan orang lain pun, membuat Evan menyayangkan sikap seorang bos besar seperti Angel. Dimana letak kemanusiaan nya, bukan kah dia juga seorang wanita, dan seorang ibu juga.


Bagaimana jika posisi Angel, sama seperti Haya saat ini.


Dengan keberanian, Evan dari arah belakang menyodorkan kertas di hadapan Angel dari arah belakang. Angel harus belajar mengintropeksi diri.


"Hey.. apa-apaan kamu, Evan!" Angel merasa sebal, karena Evan membuat kesenangan nya berlalu dan tak terlihat lagi.


"Lihat lah!" Suruh Evan sambil bernada santai, menyodorkan sebuah kertas.


"Apa sih, Van?" Bu Astri mengambil kertas tersebut.


Mata Bu Astri terbelalak sempurna. Mungkin akan lepas dari rongga nya, bahkan bisa jadi serangan jantung tiba-tiba terjadi saat melihat kertas tersebut.


"Bu, ada apa?" Angel keheranan.


Dengan cepat, Angel mengambil alih kertas dari ngenggaman Bu Astri.


Tragedi kematian seorang gadis berusia dua puluh tahun, di kamar mandi kost tempat nya tinggal dengan bermandikan darah.


"Apa maksudnya ini, gak jelas deh kamu!" Angel merasa apa yang Evan berikan, adalah hal tidak penting. tidak nyambung dan salah arah.


"Baca sampai bawah," tekan Evan memberi petunjuk.


Angel kemudian melihat ada nama suaminya, Vincent.


"Apa-apaan ini, kamu jangan ngasal ya, Evan. Aku bisa melaporkan mu atas pencemaran nama baik kepada atasan mu. Jangan main-main dengan saya kamu, Evan. mulai berani mengulik hidup ku, kamu!" Angel merasa murka pada Evan.


"Tidak terbalik!" Evan tersenyum smirk.


"Apa maksud kamu?" Angel tak terima dan meremas kertas tersebut.


"Aku sendiri bingung, kenapa kasus suami mu itu, bisa berhenti di tengah jalan. Bahkan, hasil penyidikan pun masih di rahasiakan dan samar."


"Karena suami ku tidak bersalah." tegas Angel membela Vincent.


"Kamu yakin?" Evan menautkan alis mencari kebenaran.


"Angel, ayo pulang?" Bu Astri merasa kepalanya akan pecah sangking bingung nya.


"Tapi, Bu." Angel keberatan akan ajakan Bu Astri untuk pulang.


"Kita bicarakan ini dirumah, mana kertas tadi." Bu Astri mengambil kertas dan membawanya pulang. Angel berlalu meninggalkan Evan dan mengejar langkah kaki Bu Astri dengan perasaan yang campur aduk.

__ADS_1


__ADS_2