
"Uang ku habis... Bahkan aku tidak tau, bagaimana caranya aku bisa membayar tagihan angsuran biaya rumah bulan ini?" Haya menatap kartu ATM yang tak berisi dengan tatapan bingung.
Haya duduk di tepi sebelah sisi tempat pengambilan uang. Bahkan, ingin rasanya Haya menangis, tapi itu tidak akan merubah apapun. Raga Haya sedang lemah, jiwa nya pun masih rapuh dalam perjalanan menuju kuat serta tegar.
Haya tak dapat menampik, Kenyataan nya uang bukan segalanya, namun apapun di di dunia ini pasti memerlukan uang. Jadi, mau tidak mau, uang tetaplah yang merajai dunia yang Fana ini.
Hah_____!
Haya menghela napas kasar. Attar tertidur dalam gendongan nya, bocah kecil yang kini hampir berusia tiga tahun itu begitu lelap dalam tidurnya, wajahnya begitu manis, dengan raut wajah polos tanpa dosa. Haya bersyukur Niko menghentikan sidang perkara atas hak asuh anak, membiarkan Haya bersama Haya walau dengan waktu yang terbatas.
"Haya...," dengan kikuk bik Pina memanggil nama Haya. Bagaimana tidak kikuk, dulu Haya adalah majikan nya. Apapun yang Haya perintahkan, pasti bik Pina kerjakan. Bik Pina begitu menghargai Haya.
Tapi tidak dengan sekarang, kini telah berubah. sekarang bik Pina dan Haya adalah saudara, tidak ada yang menyuruh atau di suruh, semuanya di kerjakan karena rasa perduli dan mengerti karena kini antara bik Pina dan Haya adalah saudara. Sudah sepantasnya untuk saling mengerti satu sama lain tanpa rasa sungkan.
Haya menoleh kesamping, dimana bik Pina duduk dengan begitu kalem.
"Apa kiranya yang membuat mu cemas?" Bik Pina menangkap dari raut wajah Haya yang pias, cuaca yang sedikit terik membuat wajah Haya berkeringat. Wajah yang begitu sayu.
"Tidak apa-apa, bik." Haya tersenyum lebar.
"Sini biar bibik gendong Attar," bik Pina mengulurkan tangan hendak mengendong Attar yang masih lelap dalam tidur.
"Tidak bik, tidak apa-apa biar aku saja. Aku masih ingin terus begini, aku sangat merindukan nya bik selama ini. Momen seperti ini yang paling aku tunggu-tunggu."
"Baik lah kalau begitu. jika nanti Haya lelah, berikan Attar pada bibik. Haya harus selalu ingat, ada nyawa di dalam kandungan yang perlu di perhatikan dan di jaga, Haya gak boleh terlalu capek."
Haya menunduk dalam.
Nyawa yang Allah titipkan kepadanya. Seorang bayi yang akan Allah anugerahkan, hasil dari buah cinta nya dengan Ahmad Faiz, seorang lelaki yang mampu membuat Haya lebih sabar dan ikhlas dalam cinta.
Namun lelaki itu pergi, disaat yang tidak tepat.
Bukankah bahagia, jika saat ini mereka bersama, akan ada satu keluarga yang utuh dan saling mencinta. Haruskah anak nya akan menjadi anak yatim, bahkan saat belum terlahir kedunia?
Haya memejamkan mata, sekelebat bayangan dilema menatap masa depan menari-nari di memori Haya. Haya kemudian tersenyum bangga, mungkin Haya adalah wanita yang pilihan, Haya yakin Allah akan memberikan cobaan karena Haya mampu. Haya yakin ada banyak hikmah dari semua masalah yang tercipta.
"Bik, mari pulang. kasihan Attar.. ini hari semakin siang."
Bik Pina mengiyakan dan ikut Haya untuk segera pulang kerumah.
Sampai di rumah, Haya melihat banyak bahan masakan yang kosong. Bahkan, makan siang kali ini hanya di temani oleh tahu dan tempe goreng, tidak ada sambal atau sayuran apapun.
"Bik, tidak apa-apa kan, jika hanya makan memakai lauk seperti ini?" Haya yang sudah meletakkan Attar dalam buaian ayunan, memberikan makan siang untuk bik Pina.
"Haya..., bagi bibik ini sudah biasa dan sangat lumrah terjadi. Bahkan saat di desa bibik terkadang hanya makan dengan garam. Tidak apa-apa Haya, kita harus selalu bersyukur, setidaknya kita masih punya nasi, di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih susah dari kita."
Ucapan bik Pina terasa menenangkan, Haya menjadi rindu dengan Bu Malik. Bu Malik pun pasti akan berkata demikian saat tidak ada apapun di rumah. Mereka orang baik.
"Bibik hanya khawatir," bik Pina menghentikan ucapannya.
Haya menatap bik Pina, Haya merasa heran kiranya apa yang akan di katakan oleh bik Pina. Kenapa bik Pina mengkhawatirkan nya.
"Masalah Attar, Haya."
Haya tertunduk, Haya paham apa maksud bik Pina saat ini.
"Attar selalu makan, makanan yang berkualitas tinggi. Bahkan milk yang di minum Attar pun memiliki harga yang begitu expensive. Sedang bibik tau, ekonomi mu sedang tidak baik-baik saja."
Haya kian termenung, bahkan membayangkan bagaimana kedepan nya Haya pun bimbang. Langkah apa yang harus Haya ambil.
"Haya, jangan khawatir. Attar akan tetap sehat meski memakan makanan yang kita beli di pasar, yang penting kita memasaknya dengan bersih dan yang pasti bahan makanan nya kita beli yang masih benar-benar fresh."
Bik Pina berusaha menenangkan Haya, bik Pina tau jika Haya benar-benar pusing akan hal ini.
__ADS_1
"Terimakasih ya, bik. Bibik udah mau ngertiin keadaan ku," Haya menatap bik Pina dengan seulas senyum. Bik Pina mengangguk mengiyakan.
"Aku masuk ke kamar dulu, bik. Aku ingin istirahat, bibik istirahat lah!" dengan langkah gontai, Haya masuk kedalam kamar.
Bik Pina hanya memandang langkah kaki Haya, sampai Haya benar-benar masuk ke kamar. Ada perasaan kasihan pada hidup Haya.
"Dulu hidup mu bagaikan di syurga, dengan harta yang melimpah hidup mu dengan berfoya-foya. Kini kamu harus merasakan pedih dan sulitnya hidup. Semua terbanding terbalik. Tapi aku yakin kamu bisa. kamu mampu, kamu sanggup, aku bangga dengan mu, Haya."
Bik Pina tersenyum dengan penuh kegetiran di dalam nya.
*****
"Nahla... ?" Sapa ibu kost melihat kedatangan Nahla.
"Aku datang untuk mengambil beberapa barang ku yang tertinggal, Bu. Bolehkan?"
"Boleh dong. mari ibu temani?" tawar ibu kost, begitu ramah.
"Terimakasih ya, bu." Nahla begitu senang, karena ibu kost begitu baik. Mau menerimanya dan mau menemaninya masuk ke kamar dimana dia dan Bella dulu tinggal bersama.
Tok...
Tok...
Penjaga kost pun membuka gerbang, tampak seorang wanita begitu cantik dan fashionable datang.
Bapak penjaga kost pun bertanya pada perempuan cantik di depan matanya.
"Cari siapa, kak?"
"Apa benar ini adalah tempat kost, ehm maksud saya dimana Almarhum Bella pernah tinggal?" tanya Angel begitu tegas.
"Bella ya," Pak penjaga pun kaget mendengar nama Bella di sebut.
"Almarhum Bella yang meninggal di kamar mandi itu maksud kakak?" tanya penjaga dengan nada khawatir.
"Iya.." Jawab Angel lagi.
"Kakak mau masuk, biar saya antar untuk bisa bertemu dengan pemilik kostan ini." tawar sang penjaga begitu ramah.
"Tidak, aku hanya ingin tau saja, apa benar Bella pernah tinggal disini?"
"Iya, kak. Bella tinggal disini sudah lama. mungkin sekitar tiga tahunan lah, semenjak Bella masuk kuliah."
"Apa bapak pernah melihat Bella, maksud saya, Bella pernah pulang di antar oleh seorang teman lelakinya?" Angel mulai menyelidik.
"Maaf kak, saya tidak tau," jawab penjaga tersebut.
Pluk...
Sebuah amplop mendarat di meja pak penjaga. Mata pak penjaga kost pun terbelalak melihat amplop setebal itu, apalagi pak penjaga memang lagi butuh duit.
"Di dalam amplop itu ada uang sepuluh juta rupiah, tolong katakan apa yang bapak ketahui?" jelas Angel merasa tidak ada waktu lagi.
Pak penjaga melirik ke arah amplop berisi uang, tidak di ambil sayang, kan lagi butuh uang, di ambil bagaimana..?
"Katakan!" Sarkas Angel menekan.
Pak Penjaga pun menunjukkan sebuah foto mobil dari ponsel genggam miliknya.
"ini ada foto, beberapa kali mobil ini mengantar Bella pulang. Tapi, saya tidak tau siapa pemilik mobil tersebut, itu teman lelakinya atau bukan. Karena memang kost ini tidak menerima tamu lelaki," terang pak penjaga.
Angel mengambil ponsel milik pak penjaga, lalu kemudian mengambil foto mobil yang pak penjaga berikan.
__ADS_1
"Okay, thanks!"
Dengan langkah cepat, Angel meninggalkan pak penjaga tanpa berkata apapun lagi.
Angel hampir merasa murka terbakar api amarah.
Benar saja, mobil Dengan plat yang sama, dan itu mobil rental an. Tapi Angel paham, siapa pemilik mobil rentalan tersebut, tak lain adalah milik manager perusahaan yang bekerja di kantor Vincent.
arkh....
Angel megusap wajah dengan kasar Frustasi.
"Dasar pria brengsek!" Angel benar-benar marah.
"Bisa-bisanya dia berlaku seperti itu, apa kurang nya aku? Mana ada wanita sesempurna diriku di luar sana, kenapa Vincent melakukan ini padaku, Kenapa?" Angel tak terima Vincent menghianatinya.
Angel membuka handphone, mengusap akun gadis bernama Bella sweet dari akun media sosial miliknya.
Wajah Bella jelas tampak tersenyum ceria disana, banyak kemewahan yang gadis itu tampilkan.
Salah satunya berlibur ke Bali, dengan hotel ternama, tas yang ada brand nya, serta baju yang sangat fashionable. Angel memenjamkan mata merasa ingin membunuh Vincent sekarang juga!
"Kenapa Vincent memelihara seekor jal***, apa mau Vincent? apa Vincent gila, buta matanya. Dasar lelaki sama perempuan sama-sama ga***! bisa-bisanya mereka bermain api di belakang ku," Angel mengamati foto demi foto gadis bernama Bella dengan tatapan marah dan kecewa.
"Dasar gadis yang malang, nasib mu berakhir tragis. Itu karena karma mu Bella, kamu telah menyakiti ku," Angel tertawa sinis. lalu menaruh ponsel kedalam tas, tak sengaja Angel melihat Nahla keluar dari gerbang kost putri seorang diri.
Angel menegelamkan diri ke belakang, berharap Nahla tidak melihatnya.
"Bukan kah gadis itu, adik Haya?" Angel tersenyum miris.
"Ngapain dia kesini?" Angel mengikuti langkah kaki Nahla menuju toko bunga, dimana di toko itu Nahla bekerja untuk mengais rejeki dan menambah pengalaman.
"Oh.. jadi dia bekerja disini." Angel mengamati toko bunga tersebut, toko bunga recehan yg masih mengontrak pada ruko milik nya.
"Berhentikan seorang karyawan perempuan di toko mu, atau dengan sangat terpaksa kamu harus pindah beserta toko bunga mu. Silahkan kamu sewa ruko yang lain," send, sebuah pesan Angel kirim pada pemilik toko bunga.
Angel tersenyum miring, ada rasa senang saat akan menyaksikan gadis sok pemberani itu di pecat dari pekerjaan nya. itu terlihat menyenangkan bukan!
"Menderita lah kamu dan Haya, itu membuat ku senang dan puas. aku merasa ada hiburan disaat aku lagi bad mood seperti ini. Aku bisa membuat kalian sengsara melebihi penderitaan ku."
Pemilik toko bunga pun sangat terkejut mendapat pesan dari angel. Bagaimana caranya toko bunga menjelaskan pada Nahla, sebab pemilik toko sangat menyukai cara kerja Nahla.
Nahla begitu semangat, pekerja keras, tanpa di suruh sudah cekatan, Nahla rajin dan begitu disiplin, sikap nya pun baik, ramah dan lemah lembut.
"Apa yang harus ku katakan?" Pemilik toko menatap Nahla yang masih menaruh bunga dalam wadah, sebab ada beberapa orderan masuk lagi hari ini.
Mau atau tidak mau, pemilik toko harus menyelamatkan bisnisnya. Di tempat nya berjualan saat ini, sangat strategis dan banyak pelanggan yang sudah tau tempatnya berjualan, jadi dengan berat hati pemilik toko harus memperhentikan Nahla.
Setelah menjelaskan duduk perkara pemilik toko meminta maaf pada Nahla. Tapi, penjelasan Pemilik toko mengambang sulit di mengerti.
"Maaf.. Nahla."
"Tapi Bu, salah saya apa, tolong jelaskan? biar saya bisa memperbaiki cara kerja saya dan tidak stat pada kesalahan yang tidak saya ketahui. Jika ibu membiarkan saya sepeti ini, saya tidak akan pernah berkembang, Bu. karena saya tak tau letak dimana harus berbenah diri."
"Tidak ada Nahla, kamu baik dalam bekerja. Ibu suka cara kerja kamu."
"Lalu kenapa saya di berhentikan, sementara tidak ada yang perlu saya benahi. Bu tolong katakan, jangan buat saya bingung, Bu."
"Ibu benar-benar minta maaf, kamu baik dalam bekerja. Tapi, ibu tidak bisa memperkerjakan kamu lagi. Mudah-mudahan kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pada di tempat ini, Nahla."
Nahla pun merasa kecewa atas keputusan pemilik toko. Ini tidak lah adil, kenapa dirinya bisa di pecat tanpa sebuah alasan yang jelas.
Dengan penjelasan Setidaknya Nahla tau, apa salah nya hingga tidak bisa di maklumi, sampai jalan pemecatan terjadi.
__ADS_1
Nahla pun dengan langkah penuh rasa kecewa, meninggalkan toko bunga tersebut.